
“Besok adalah pestanya Vendra, kau akan datang?”
Akbar terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu. Karena hubungan dirinya dan Vendra sangatlah buruk. Saat ini mobil Akbar berhenti tidak jauh dari masjid Al-husna dekat rumah Aisyah. Shalat maghrib baru saja terlaksana dan kedua teman sejoin ini baru sampai untuk melaksanakannya. Semua berkeluaran dari masjid karena sudah selesai dari shalat. Netra Akbar melihat seorang anak yang ia kenali sebelumnya. Pemuda ini menurunkan kaca jendela mobilnya dan memanggil anak tersebut.
“Iwan!” Anak itu menoleh dan menghampiri Akbar yang berada di dalam mobilnya.
“Iya, Kak?”
“Kamu udah makan?”
“Belum, Kak.”
Akbar mengeluarkan dompetnya dari saku celana, dan mengambil selembar kertas uang dengan nominal 100 ribu. Kemudian memberikannya kepada anak tersebut.
“Untuk apa ini, Kak? Tidak perlu, Iwan udah punya uang buat makan Iwan, Kak.”
“Udah ambil saja. Kamu lupa siapa Kakak?” Iwan mencoba mengingatnya.
“Ambil ini dan ajak teman-teman kamu makan bersama.” Setelah berucap demikian akhirnya Iwan ingat pria yang sering memberinya uang dulu.
“Terima kasih yah, Kak. Oh ya, nama Kakak siapa?”
“Akbar. Panggil Kak Akbar.”
“Baiklah, Kak.”
“Nah, satu lagi ambil ini. Datanglah ke pesta Kakak minggu depan. Kalian bisa makan sesuka kalian di sana.”
“Wah, beneran Kak? Baiklah, Iwan akan ajak teman-teman datang.”
“Iya. Datangnya ke rumah nomor 8 dari sini,” unjuk Akbar pada rumah kecil Aisyah.
Setelah berbagi dengan anak pemulung tadi. Kedua teman sejoli itu turun dan melaksanakan shalat maghrib bersama.
*-*-*-*-*
Pemuda ini kembali ke rumahnya dan langsung di hadapkan dengan Herman dan Reha yang menanti dengan raut wajah aneh. Dengan wajah penuh kekikukan Akbar mencoba bertanya.
“Ada apa? Kenapa kalian menatapku begitu?” tanyanya gugup.
“Apa yang kau lakukan sebenarnya dengan temanmu selama ini?” introgasi Herman serius.
“Ehh—itu ... aku ...,” Akbar berpikir sejenak kenapa Herman dan Reha kelihatan curiga kepadanya. Introgasi yang serius itu membuatnya takut seketika.
“Apa mereka tau siapa aku? Papa datang ke sini dan beritahu mereka?” batin Akbar bertanya-tanya.
“Aku pengantar pizza. Bukankah kemarin aku sudah bilang begitu?”
“Jika pengantar pizza, kenapa Aisyah bilang kalau kau bekerja menjadi pendekor pelaminan?” Akbar mendelikkan matanya dan terkejut bukan main. Ia lupa kalau profesi yang ia katakan terhadap Herman dan Aisyah berbeda.
“Ehh—itu .....” Akbar bingung harus jawab apa.
“Katakan yang sebenarnya, Bar. Apa yang kamu lakukan selama kamu sudah ingat? ”
“Yah---aku ... emm---pengantar pizza. Kemudian temanku bekerja di bidang pendekor plaminan. Dia mengajakku dan aku bekerja sebagai pendekor kalau datang jadwal dan libur dari ngantar pizza. Hanya paruh waktu, aku mengerjakan apa yang bisa aku kerjakan,” kilah Akbar. Sepasang suami-istri itu masih menatap curiga Akbar.
“Apa tidak melelahkan bekerja seperti itu?” tanya Reha.
“Lelah sih, Bu. Tapi mau bagaimana lagi, demi menghidupi diri sendiri.”
“Diri sendiri? Bukankah kau bilang ayahmu masih hidup?” tanya Herman.
“Ah---itu ....” Akbar kembali bingung harus jawab apa. Ia terdiam sejenak untuk berpikir.
“Baiklah! Aku akan jujur pada kalian,” ucap Akbar.
Pemuda itu menyuruh Reha dan Herman untuk duduk dan dia menjelaskan siapa dirinya sebenarnya.
*-*-*-*-*
“Aku bisa bilang apa lagi? Ya udah aku jujur saja semuanya.” Cecep terpelongo.
“Kau juga bilang kalau kau penjual narkoba?” Dari raut wajah senyum berubah menjadi kesal karena ucapan Cecep.
“Kau ini bodoh atau bagaimana sih? Tentu saja tidak. Aku hanya bilang ....”
Herman dan Reha mendengarkan dengan seksama. Mereka sedikit terharu dengan ucapan Akbar yang menurut mereka korban broken home.
“Jadi yang kemarin datang dan nanya kamu itu, ayahmu?” Akbar mengangguk.
“Jadi kau sungguhan masuk Islam demi Aisyah?” sambung Reha. Lagi-lagi Akbar mengangguk pasti.
“Anak yang bijaksana. Cintamu memang tulus pada Aisyah.” Kedua orang tua angkatnya itu terharu dengan hidupnya selama ini. Ternyata Akbar menjelaskan semuanya, mulai dari dirinya yang tidak dianggap dan ditinggalkan. Namun ada juga sebagian cerita yang tidak ia ceritakan karena baginya itu privasi, seperti kematian sang ibu yang hanya disebabkan karena melahirkan adik perempuannya. Padahal kenyataan bukanlah seperti itu.
“Kau hebat, Bar. Memang seorang aktor yang hebat!” puji Cecep.
Akbar tersenyum sombong kar saat itu juga dirinya melihat seorang gadis berdiri tidak jauh dari tempatnya. Gadis yang tidak lain adalah Alisa, sang adik. Akbar kaget bukan main saat sadar Alisa datang ke markas tempatnya bekerja. Gadis itu menghampiri dan memeluk pria itu.
“Aku merindukanmu, Kak.”
Cecep yang sadar langsung masuk dan menghalau setiap pekerja yang bertugas mengangkat barang ke mobil.
“Ada orang lain di luar. Jangan keluarkan dulu.”
“Alisa, sebaiknya ayo bicara di tempat lain.”
“Kakak kerja apa di siberdy
“Tidak ada. Ayo pergi dari sini.”
Akbar dan Alisa pergi naik mobil pribadinya. Mereka pergi ke kafe untuk minum dan sedikit berbincang. Awalnya hanya ada suara tangis kerinduan dari bibir Alisa. Namun setelahnya Akbar ambil suara.
“Aku akan menikah, Lis. Dengan orang Islam,” ucap Akbar dan Alisa mangut-mangut seolah sudah mengerti.
“Papa udah jelasin sama Alisa, Kak. Oh ya, Alisa ngikuti Kakak karena mau mengatakan bahwa Papa itu sejujurnya merasa kehilangan Kakak selama ini. Dia mencoba seolah membenci Kakak agar Kakak bisa benci dia—“
“Kenapa begitu?” potong Akbar.
“Karena ....” Alisa menjeda ucapanya.
Pelupuk mata Alisa mengeluarkan bulir-bulir air mata. Dia pun mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi video. Memutar salah satu isi dari video tersebut.
“Awalnya Alisa cuma mau video dekorasi rumah teman Papa saja di New Zeland, tapi tidak sengaja mereka membahas itu dan aku mendengarkan dengan seksama. Aku biarkan saja video itu menyala dan lihat sendiri hasilnya,” suruh Alisa.
Akbar mengambil ponsel Alisa dan menelisik isinya. Aerphone itu tersambung ke telinganya dan dia mendengarkan dengan seksama. Tanpa disadari air mata mengalir saat mendengarnya. Akbar terdiam sejenak dan masih menikmati tangisnya sejenak.
“Ayo, aku antar pulang.”
“Aku ingin tinggal dengan Kakak!” tolak Alisa.
“Apa maksudmu?”
“Papa udah jahat sama Kak Akbar. Setidaknya jika Alisa ikut ninggalin Papa dia akan bicara sama Kakak dan minta Kakak untuk pulang,” ujar Alisa.
“Jangan lakukan itu. Sebaiknya jangan mencontoh prilaku buruk kakakmu. Bagaimanapun dia adalah papamu. Meninggalkannya bukanlah ide yang baik. Bahkan jika aku menjadi kau, aku lebih baik meninggalkan saudarku daripada orang tuaku. Jadi jangan tinggalkan Papa demi aku.”
“Tapi, Kak—“
“Jaga dia. Pulanglah sendiri. Aku rasa aku tidak bisa antar kau pulang. Jadi naiklah transportasi menuju rumah. Ambil uang ini.”
Akbar meninggalkan Alisa sendirian dengan uang yang cukup banyak.
~Bersambung~