My Love From The Sky

My Love From The Sky
Hurt


Jalanan yang dipenuhi dengan orang berlalu lalang. Pemuda tampan ini terus melihat Aisyah dari kejauhan tanpa mau mendatanginya. Kemudian ponsel miliknya berdering dan jarinya menggeser ikon hijau.


“Halo! Ada apa?” jawabnya.


“Kau masih lama lagi?”


“Kenapa?”


“Antar barang ke pelabuhan. Mereka sudah menunggu.”


“Baiklah, aku segera pulang.”


Akbar mengenakan helm miliknya dan menaikkan penyanggah motor untuk siap berkendara. Saat mesin hendak dihidupkan, matanya melihat mobil dengan plat nomor tidak asing berhenti di hadapannya. Pemiliknya keluar membuat Akbar terkejut. Mereka adalah Herman dan Rizka. Akbar terkesiap dan bergegas menghidupkan mesin motornya. Untungnya dia gunakan masker mulut, sehingga kedua orang itu tidak mengenali dirinya. Kejadian ini cukup membuat jantungnya berdetak ketakuan.


Pemuda jakung itu menunggu Cecep di luar sambil melamun. Cecep yang melihat itu pun menegurnya.


“Sampai kapan kau akan melamun dan membiarkan temanmu bekerja sendirian?” sindirnya dengan sedikit kekehan.


“Pak Herman tadi mampir ke toko bunga bibinya Aisyah.”


“Terus, apa hubungannya denganmu? Lagipula kau akan melupakan gadis itu, ‘kan?” ketus Cecep.


“Aku hanya belum bisa melupakan kebaikannya.” Cecep melihat keseriusan di mata Akbar.


“Bilang saja kau belum bisa melupakan rasamu?” sindir Cecep.


“Bukan.”


“Tidak usah mengelak! Matamu tidak bisa membohongi seorang ayah beranak dua, mengerti?!”


“Oh iya, aku kemarin malam mau bertanya padamu. Anakmu yang lajang itu sakit apa?”


“Kecelakaan motor. Awalnya di bawa ke rumah sakit cahaya, tapi disuruh rujuk ke rumah sakit Purnama, Jakarta Barat. Di sana kita ‘kan berjumpa,” jawab Cecep sedih.


“Kau tahu, kupikir aku akan kehilangan anakku saat itu.”


“Itu tidak mungkin. Apa anakmu juga kehilangan ingatan?”


“Tidak. Dia normal, hanya lukanya saja yang berat.”


“Ayo, pergi ke dermaga yang biasanya.”


Mobil itu berjalan menuju lokasi yang biasa dilakukan transaksi. Seperti biasa, Akbar hanya akan menunggu Cecep selesai transaksi sambil menghisap seputung rokok.


“Lama tidak melihat temanmu itu. Biasanya kepala kalian langsung yang mengirimnya,” ucap pengemdi kapal barang tersebut.


“Dia sedang sakit bulan lalu. Makanya Kepala kami yang terpaksa mengendarai mobil.”


“Kau tidak bisa naik mobil rupanya?”


“Bisa sih, hanya saja saya malas untuk mengurus SIM, Pak. Kemarin juga Boss suruh urus biar bisa pergi sediri. Boss saya juga kesal karena dia cukup lama sembuhnya.”


“Tapi sekarang sudah kelihatan baik-baik saja.”


Cecep tersenyum dan keduanya berpisah setelah transaksi berjalan mulus. Juga terdapat sebuah perjanjian tertulis yang harus ditanda-tangani oleh pihak kedua sebagai bentuk apresiasi. Bahwa mereka tidak akan melaporkan pihak terkait jika tertangkap basah oleh pihak berwajib. Itu sudah perjanjian lumrah yang sering mereka lakukan.


Pria itu menghampiri Akbar dan tersenyum.


“Apa saat amnesia kau juga merokok?” Akbar lantas menggeleng.


“Kau tahu, berasa surga yang datang padaku saat menghisapnya.”


“Lalu bagaimana rasanya saat kau tidak menghisapnya kemarin?”


“Sedikit terasa pahit di  bibir. Namun aku merasa itu pengaruh obat. Sehingga terbiasa tidak menyentuhnya.”


“Lalu sekarang mau tetap merokok? Bukankah enakan tidak merokok? Satu lagi, kau bisa berhemat,” saran Cecep.


“Saat lupa mungkin aku bisa tidak merokok. Tapi setelah ingat, rasanya jika tidak merokok aku tidak bisa tenang dan pikiranku terus kalut.”


“Terserah kau saja. Ayo pergi!”


*-*-*-*


Semburat merah merona tampil di langit senja. Di hamparan rerumputan yang di depannya terdapat juga hamparan danau dengan beberapa hewan hinggap di sana. Dalam diam itu, Akbar menyimpan sejuta rasa sakit di hati. Di kala mengingat kembali bagaimana ayahnya melupakan dirinya. Dengan sebatang mawar merah yang dibeli di pasar barusan. Mawar yang menjadi saksi bisu semuanya. Kepergian sang ibu, ayah, juga adiknya. Semua berawal dari mawar itu. Setiap kali mawar ikut serta, pasti Akbar harus kehilangan seseorang. Kini juga karena mawar, ia kehilangan Aisyah dan sebuah keluarga yang dulu sempat tercipta.


“Ini, minumlah,” tawar Cecep.


“Cep, menurutmu, apa yang kau lakukan saat ibumu terbunuh di depan matamu?”


“Kenapa bertanya seperti itu? Segala pertanyaanmu aneh, Bar. Jangan bilang setelah pertanyaan ini kau mau menghilang lagi,” ujar Cecep ketakutan.


Cecep begitu terkejut hingga tidak bisa berkata lagi. Sedangkan tangan Akbar meremas batang mawar yang berduri itu.


“Hei, Akbar, apa yang kau lakukan? Lepaskan mawar itu, tanganmu terluka—“


“Biarkan saja!” Akbar menepis tangan Cecep yang mencoba menolongnya.


“Rasa sakit ini tidak seberapa dari kehilangan seorang ibu.”


“Sekarang kau menakutkan, Bar?”


Akbar pun melepas mawar itu dan darah menetes ke rerumputan hijau. Matanya mulai berkaca-kaca, ingin rasanya menangis tapi itu sudah tidak pantas lagi dirasanya.


“Aku rasa kau salah paham. Tidak mungkin seorang suami membunuh istrinya, iya ‘kan? Aku rasa bencimu terlalu berlebihan pada ayahmu.”


“Aku tidak membencinya. Bahkan nyaris tidak pernah! Justru dialah yang membenciku,” tukas Akbar.


“Terus ...?”


“Kau tahu alasan kenapa dia membenciku?” Cecep menggeleng.


“Karena ibuku masuk islam di usiaku 6 tahun. Ayahku melarang saat itu dan dia juga mengubah namaku. Saat itu ibuku sedang hamil 5 bulan. Itulah mengapa kukatakan tempo hari aku mengingat serang wanita melantunkan sholawat padaku. Dia ibuku, Cep.”


“Iya, tapi kenapa jika dulunya kau islam sekarang—“


“Kau tuli? Bukankah sudah kutakan tadi bahwa ayahku membunuh ibuku?”


“Iya, tapi—“


“Aku masih ingat itu. Saat itu Alisa masih berusia 2 hari. Ayah memasukkan racun dalam miuman ibuku. Aku melihatnya, tapi dia mengatakan itu adalah obat. Saat itu aku masih polos dan tidak mengerti apa pun. Aku masuk setelah kudengar kegaduhan di dalam kamar Ibu, saat itu pula aku melihat ibuku berlumuran darah di mulutnya. Ayahku bersikap acuh dan dia malah menyuruh ibuku tenang selamanya.” Akbar menitikkan air matanya mengingat itu semua.


*-*-*-*-*


Seorang anak yang menangis karena melihat ibunya terpejam untuk selamanya. Anak umur 6 setengah tahun itu turun dari atas ranjang dan hendak pergi keluar, tapi tangan besar sang ayah menghentikannya.


“Apa yang mau kau lakukan?” geramnya pada anak polos itu.


“Aku akan panggil dokter, Pa. Mama harus diobati.”


“Apa kau gila! Mamamu sudah mati, mengerti?!”


“Tidak! Papa bohong! Biarkan Akbar panggil dokter dulu biar Mama dirawat.”


“Akbar! Mamamu sudah meninggal dan dia tidak akan pernah kembali. Kau harus bisa merelakannya!” bentak Hendrik.


Akbar terdiam dan terisak dalam kesedihan. Pegangan itu dilepas dan keheningan menyapa mereka.


“Tidak! Papa pembunuh! Papa meracuni Mama, iya ‘kan?!” jerit Akbar saat sadar perlakuan ayahnya.


“Kau!”


“Akbar akan laporkan Papa ke polisi!”


Anak itu berlari mencoba keluar kamar, akan tetapi tangan sang ayah sudah menghadangnya. Akbar pun meronta untuk melepaskan pegangan itu.


“Kau mau Papamu masuk penjara!” bentak Hendrik.


“Biarin! Papa jahat sama Mama!”


“Akbar! Jika Papa masuk polisi maka bagaimana nasibmu dan juga adikmu, hah! Apa kamu tidak memikirkan adikmu?”


“Akbar memikirkannya tapi Papa yang tidak memikirkannya. Papa egois!”


Plak!


Semakin mendapat tamparan, semakin pula Akbar meronta untuk dilepas. Hingga karena terlalu tidak bisa dikontrol, Hendrik pun mengambil sebuah bangku plastik lalu memukulkannya kepada Akbar.


“Papa juga tidak mau membunuhnya. Seandainya dia masih bersama Papa, maka ini tidak akan terjadi! Kau membuat Papa marah. Daripada harus membiarkanmu hidup dan membocoran ini. Lebih baik Papa juga membunuhmu.”


Hendrik memegang kursi besi miliknya dan melampiaskan kekesalannya pada Akbar. Anak itu menjerit saat kaki besi kursi itu menghantam kepalanya. Akbar menangis melihat ayahnya yang kehilangan akal.


“Papa jahat ...,’ lirinya lemas.


“Papa harus hancurkan bukti untuk tetap hidup. Kau mengerti itu?


Brak!


~Bersambung~