
Pemuda ini menaruh kekecewaan karena salah kaprah bahwa Aisyah orang yang dikenalinya. Padahal itu hanya pemikiran saja. Akhirnya Akbar memilih pergi dari hadapan Aisyah.
"Tunggu! Tapi suaramu tidak asing bagiku." Akbar menghentikan langkahnya.
"Mungkin kita pernah bertemu tapi tidak saling mengenal? Apa kau juga buta?" tanya Aisyah.
"Ahaha, tidak. Cuma aku sedang proses mengingat kembali," jawab Akbar.
"Amnesia?" Akbar mengangguk.
"Itu pasti berat bagimu."
"Sangat berat. Aku hampir-hampir gila saat melihat dunia. Begitu asing sekali. Tapi, saat melihatmu, aku merasa telah lama mengenalmu," ucap jujur Akbar.
"Haa? Serius kamu? Tapi aku tidak kenal kamu sih." Aisyah menampilkan senyum manisnya.
"Kamu manis saat tersenyum." Pengakuan itu membuat Aisyah terkatup.
"Istighfar. Kita bukan muhrim. Jangan terlalu menatap Saya."
"Oh, begitu yah. Maaf aku masih kurang paham dengan Islam. Tapi saat lihat kamu senyum terasa nyaman. Makanya aku bilang, kita seperti telah lama mengenal." Aisyah jadi tersipu.
"Nama kamu siapa?" tanya Aisyah dengan ramahnya.
"Akbar!"
Keduanya pun sedikit berbincang karena Herman sudah mengajak Akbar pulang. Pemuda ini pamit kepada Aisyah dan mengatakan akan bertemu dengannya kembali. Senyum itu dapat membalas ucapan Akbar.
*-*-*-*-*
Mimpi indah Akbar adalah bertemu dengan Aisyah. Sejak pertemuan dan perkenalan semalam membuat tidur Akbar begitu nyenyak dan pulas hingga di pagi hari. Ulasan senyum yang muncul dan bukan lagi kegelisahan.
"Dia buta, tapi matanya seolah bening bagai cahaya. Seperti bukan orang buta. Matanya juga indah," khayal Akbar bagaikan mendapat bidadari dari langit.
"Senyumnya juga manis." Sesaat Akbar ingat ucapan Aisyah yang membuatnya sadar dari lamunan itu.
"Apa yang kau pikirkan! Pikiranmu begitu jorok. Ingat kata Aisyah, bukan muhrim."
Akbar pun bangkit dan pergi mandi. Sesaat pemuda itu sampai di dalam kamar mandi, Rizka masuk dan meletak ponsel yang telah diperbaiki di atas nakas.
"Dia sudah bangun? Kenapa begitu cepat?"
Gadis ini pun bergidik dan keluar. Usai mandi, Akbar tidak memperhatikan nakas dan langsung pakai baju, setelahnya keluar untuk sarapan pagi.
"Akbar! Bapak rasa kamu sudah mulai bisa menangkap suatu pelajaran. Bagaimana kalau mulai besok kita latih kembali fit tubuh dan jasmanimu dengan olahraga dan sembahyang?" saran Herman.
"Boleh Pak!" Akbar tersenyum manis sekali.
"Oh iya, Akbar! Apa kau sudah melihatnya?" Akbar mendelikkan matanya bingung.
"Kau tidak melihat ke atas meja dekat kasur?" tanya Rizka. Akbar lantas menggeleng.
"Aku sudah memperbaiki ponselmu. Jadi barang kali kau bisa menemukan jati dirimu di situ. Kode pinnya juga sudah aku buang tapi aku tidak berani membuka isinya. Itu 'kan privasimu."
"Oh, begitu. Terima kasih, yah." Rizka tersipu.
"Baiklah, kalau begitu Akbar akan temani Ayah mengecek pasar di Jakarta Barat."
"Baiklah, Sayang. Hati-hati yah." -Reha.
Ban mobil meluncur menuju Jakarta Barat. Tangan itu masih saja menimang-nimang ponsel itu tanpa melihatnya. Sebenarnya ia masih sedikit bingung dengan cara penggunaan benda itu. Karena takut salah, akhirnya mengantonginya kembali.
"Oh, tidak ada. Cuma menikmati pemandangan saja," kilahnya.
Sampai sudah mereka di pasar tradisional milik Herman. Dia ke sana untuk menagih sewa pedangang. Pasar itu begitu padat sehingga Akbar merasa sesak berada di dalam.
"Pak, aku akan menunggu di mobil saja, yah. Di sini ramai sekali," pinta Akbar yang diangguki.
Pemuda ini keluar dari kerumunan dan menunggu di depan mobil Herman. Ketepatan di sebelah mobil yang berjarak satu mobil dengan Akbar terdapat seorang anak kecil menangis.
"Hei, kamu kenapa?" tanyanya lembut guna menghibur anak tersebut. Namun dengan takut-takut anak itu menggeleng dan menjauh.
"Katakan kamu kenapa? Biar Kakak bantu kamu. Kamu mau es krim?" tawar Akbar.
"Tidak mau. Mama bilang jangan mau kalau dibeliin es krim sama orang asing. Apa Kakak penculik? Aku mohon jangan culik aku," pinta anak itu sambil terisak. Akbar lantas terkekeh.
"Kakak bukan penculik. Kakak temanmu, jadi sekarang katakan apa masalahmu?" Masih sedikit takut akhirnya anak itu menjawab pertanyaan Akbar.
"Aku kehilangan Ibuku."
"Benarkah? Di mana? Ibumu sudah pergi atau masih di dalam pasar?" Anak itu menunjuk dalam pasar.
"Aku tadi masih menggenggam baju Ibu. Tapi karena ramai orang dan mereka tampak terburu-buru. Jadinya peganganku terlepas dari Ibu."
"Ayo, ikut Kakak. Kita cari Ibumu di dalam." Anak itu menggeleng.
"Aku takut. Mereka banyak sekali. Nanti peganganku terlepas lagi."
"Kalau begitu, Kakak yang pegang kamu, oke?" Anak itu mengangguk.
Akbar masuk ke kerumunan dengan menggenggam pergelangan kecil anak itu. Sudah cukup lelah juga berkeliling tapi tidak membuahkan hasil. Tidak punya pilihan lagi, Akbar berhenti dan duduk di pinggir parit bersama anak itu.
"Aku mau ketemu Ibu!"
Anak itu terus menangis. Sedangkan Akbar sudah kehilangan akal sekarang. Saat menatap bebatuan di hadapannya ia teringat sesuatu, seperti seorang anak kecil yang menangis dan diangkat pria paruh baya. Diletakkan di atas pundaknya demi sang ibu melihat wajah anak tersebut. Ingatan itu begitu jelas tapi siapa anak itu?
Secara tidak langsung Akbar mendapat ide dari situ. Ia pun menggendong anak berumur 5 tahun itu dengan tangannya setinggi yang dia bisa di deretan manusia yang berlalu-lalang. Matanya terus celingukan ke sana kemari. Berputar di tempat demi mendapatkan ibu dari anak ini. Kemudian seorang wanita mendekati dirinya dengan mata berbinar. Kedua mata mereka saling menatap satu sama lain. Wanita itu berhenti di hadapan Akbar dan tangannya mengadah hendak menyentuh wajah Akbar. Melihat itu akhirnya Akbar menurunkan anak tersebut.
"Kau Ibu dari anak ini?" Wanita itu terkejut sekaligus bingung.
"Ibu!" teriak anak itu berlari ke arah sang ibu. Melewati wanita di hadapan Akbar ini.
"Oh, maaf, aku kira kau Ibunya." Akbar melangkah pergi. Tangan wanita itu seolah mencoba menghentikan tapi lidahnya seakan kelu untuk mengucapkan kata 'berhenti'. Benar-benar kehilangan kata-kata.
"Tunggu!"
Ucapan itu membuat Akbar menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke belakang. Wanita paruh baya itu menghampiri Akbar beserta anaknya.
"Aku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih padamu, tapi sebaiknya terimalah ini," ujar ibu itu.
"Ah, tidak usah, Bu. Saya nolong karena kasihan sama anak Ibu. Tidak mengharatidaTidak, kok."
"Ibu mohon terima saja. Terima kasih!" Ibu itu tetap memaksa dan pergi setelah akhirnya Akbar tidak bisa berkata lagi. Uang 100 ribu diterimanya.
Akbar menatap uang itu dan melihat ke arah pengemis di sampingnya. Ia berjongkok di hadapan pengemis tersebut dan menggulung uang itu lalu memberikannya. Pengemis tua itu sangat berterima kasih pada Akbar. Ulasan senyum adalah jawaban kemenangan.
"Kau tidak berubah, Kak!"
~Bersambung~