My Love From The Sky

My Love From The Sky
Dahulu jelek menjadi tampan


Cecep menghentikan langkah Akbar dengan berdiri di hadapannya. Pria itu mendongak untuk melihat pria yang lebih tinggi darinya itu.


“Kau sungguh ingin berhenti?”


“Kenapa? Cep, bukannya kamu sendiri yang bilang samaku. Kalau memang taat agama jangan ngerjain kerjaan haram. Nah, sekarang aku mau berhenti kenapa muka kamu sedih begitu?” Cecep mengubah mimik wajahnya.


“Baguslah, Sobat. Aku akan coba kembali hidup tanpamu seperti sebelumnya.” Akbar tersenyum simpul dan menepuk pundak Cecep seraya pergi. Pria ini menatap siluet Akbar yang menjauh dengan senyum sumringah.


“Pergilah! Pergilah sejauh mungkin dan bebaskan dirimu.”


Orang bilang menjadi yang disayangi boss itu enak. Namun jangan salah paham, karena sayang itu hanya sebuah ungkapan bukan perbuatan. Nyatanya jika menyiksa artinya bukan sayang melainkan dayang. Diperalat selama kau bawahan.


*-*-*-*-*


“Hanya karena ini kau mau mengorbankan nyawa anakmu sendiri?”


“Aku marah padamu. Lebih baik kau pinjam bank daripada Vendra.”


“Bank dan Vendra sama saja. Aku akan mendapat penghasilan bulan depan. Tinggal menunggu waktu saja. Berjanjilah padaku ....” perintah Akbar.


“Apa?”


“Saat aku berhenti, maka kau juga harus berhenti.”


“Kau gila?!”


“Iya, aku memang gila. Berhenti darinya dan kita akan wujudkan Wedding Organizer yang kita rencanakan.”


“Kapan kita merencanakan itu?” Cecep kelihatan bingung.


“Kau amnesia?”


“Aisyah?”


Akhirnya kini Cecep paham dan tertawa mendengarnya. Dia memang memiliki teman super. Setiap apa  yang terucap maka akan terwujud. Pemuda pintar yang selalu mendapat ide gila setelah tahu apa yang terjadi. Kemudian mencoba berputar-putar untuk terus berkarya. Sehingga akibat putaran itu kedok asli akan tertutup.


Keduanya datang ke markas seperti tanpa masalah dan tetap saling bergembira juga bercanda tawa ria. Membuat Vendra dan anggota yang lain terheran-heran.


“Woi! Kau merasa tidak bersalah?” tegur Vendra.


Akbar justru melihat sekeliling masa bodoh dengan keadaan.


“Tidak mau minta maaf setelah apa yang kau lakukan?” sindirnya.


“Aku melakukan apa, yah?” Akbar malah terkekeh. Sedangkan Vendra menghadap kepadanya dengan tatapan sinis.


“Kau menghajarku dan sekarang kau pura-pura amnesia?”


“Tidak. Kau salah! Aku tidak lupa, tapi sebaliknya kaulah yang amnesia. Aku tidak sengaja melakukannya hanya sedang tersulut emosi saja.”


“Apa!”


“Jangan membentak jika masih membutuhkanku,” kecam Akbar.


“Kau!”


“Di sini, kaulah yang butuh aku, sedangkan aku tidak membutuhkanmu.”


“Apa kau bilang!?” Cecep mencoba menghentikan Akbar karena ucapannya yang mulai ngelantur.


“Hei, ********! Aku sudah memberimu uang dan kau bilang kau tidak butuh aku?”


“Oh begitu. Jika memang seperti itu aku berhenti sekarang. Tentang uangmu, maaf aku belum bisa kembalikan.” Vendra benar-benar hampir hilang akal karena kejahilan Akbar dalam hal mencemo’ohnya.


“Dengar yah, Bar. Jika kau berhenti maka dia.” Vendra menunjuk Cecep.


“Anaknya akan mendapat masalah.”


“Kenapa! Bukankah anaknya yang memakai uang itu?” potong Vendra.


“Jika kau menyentuh anaknya sedikit saja maka aku akan melaporkanmu ke polisi!” ancam Akbar.


“Cih! Aku juga bisa menuntutmu dan menjebloskanmu ke penjara.”


“Baguslah! Jadi kita semua akan medekam di penjara bersamaan, bagaimana? Dan semua perusahaan ini akan dimusnahkan.” Akbar mulai bermain-main dengan Vendra.


“Baiklah, kalau begitu tidak perlu meminta maaf. Lakukan saja tugas kalian.”


*-*-*-*-*


Akbar pergi dengan Cecep dan mobilnya ke toko bunga untuk mengambil pesanan bunga hari ini. Di sana, Akbar langsung mendapati raut wajah Hanum yang cemberut. Pria ini datang menghampirinya dan bertanya "ada apa?". Bukannya mendapatkan apa yang dia mau, justru Hanum menyemburkan amarahnya bak naga dengan semburan api panas.


“Dasar kau—katanya kamu suka sama Aisyah! Katanya mau ngelamar! Tapi tidak datang!” Akbar dan Cecep terpelongo dengan perkataan Hanum.


“Sudahlah, Bi, mungkin Kak Ahmad sedang sibuk untuk beberapa hari ini. Tidak perlu memaksa juga,” tutur Aisyah menenangkan suasana.


“Bibi tau. Sekarang biarkan Bibi nasehati orang Batak ini biar dia tahu.”


“Dengar yah, Mad. Jika kau tidak lamar Aisyah sekarang, maka kau harus siap kehilangan dia selamanya. Aisyah sudah ada yang lamar lebih dulu dan lebih cepat dari kau!” Akbar dan Cecep semakin bingung.


“Cep, ini beneran? Jadi Aisyah udah dilamar lebih dulu sama orang daripada aku? Tapi ayahnya bilang, kok baru aku yang berani?” bisik Akbar terhadap Cecep.


“Mana aku tahu. Ini urusanmu,” sahut Cecep juga berbisik.


“Hei! Malah bisik-bisikan kalian! Jangan-jangan kalian punya rencana, yah?! Uhh, tidak kusangkah kau punya niat jahat sama keponakanku!” protes Hanum.


“Haa? Tidak kok, Bi. Saya benar-benar sayang sama Aisyah. Tapi ngomong-ngomong, siapa pria yang sudah lamar Aisyah lebih dulu dari saya?” tanya Akbar ambisius.


“Namanya Akbar. Dia dulu orang yang dekat dan berteman dengan Aisyah. Yang pasti sudah lebih kenal dengan Aisyah.”


Kedua lelaki ini saling bertatapan bengong. Kemudian keduanya juga tertawa serempak seperti itu adalah lelucon, membuat Hanum menautkan alisnya bingung. Akbar pun membuka kacamata miliknya. Lalu tersenyum kepada Hanum sebagai bentuk perkenalan diri sebenarnya. Namun siapa sangkah, Hanum tidak mengenali dirinya dan masih mengira bahwa dia Ahmad. Terlebih dirinya Cuma beberapa kali saja bertemu Akbar, itu pun dengan gaya rambut gondrongnya.


“Tidak mengenaliku?”


“Kenal. Ahmad ‘kan?”


Cecep tertawa renyah mendengarnya, sementara Akbar sendiri memicingkan matanya kesal. Bagaimana bisa Hanum tidak mengenali wajahnya.


“sangkah, Akbar! Nama lengkap, Muhammad Khalifah Akbar Daulay. Jelas, Bi?”


Terkejut bukan main. Hanum sampai tidak bisa membayangkan bagaimana banyak berubahnya pemuda yang pernah dikenal dia sebelumnya. Pria hitam manis itu, kini telah menjadi pria berkulit kuning langsat, bola mata cokelat, dan style rambutnya sudah seperti aktor papan atas.


“Gila, kau makin ganteng saja yah, Bar,” kagum Hanum.


“Ke mana saja kau selama ini, Nak? Baru kutahu kalau nama lengkapmu panjang seperti itu. Kukira dulu namamu cuma Akbar Malik, atau Akbar Pratama. Ternyata panjang juga sampai ada Bataknya, hahaha!” ucap Hanum penuh gelak tawa.


• • • •


Bunga sampai ke dalam bagasi mobil dan pengemudi juga telah bersiap untuk menyalakan mesinnya. Menuju tempat tujuan dan berpamit pada sang calon bibinya. Akbar tidak henti-hentinya tersenyum membuat Cecep juga ikut senang dan sesekali berdecih karena melihat tingkah kanak-kanak temannya.


“Jadi kau akan tetap bekerja hingga uangmu terkumpul?” tanya Cecep ambil suara.


“Hmm.” Deheman adalah jawaban sempurna.


“Kau kelihatan begitu mengancam tadi. Tapi aku suka melihat wajah frustasi Vendra. Dia kelihatan stres sekali dengan ocehanmu tadi.”


“Dia itu masih anak-anak yang belum bisa berpikir. Dia hanya asal bicara tanpa memikirkannya lebih dahulu. Ingin membodohi tapi dialah yang bodoh.”


“Kau benar. Dia tidak tahu bahwa kitalah yang lebih dulu menelan pahit, asin, manisnya kehidupan ini. Dia itu masih di bawahan kita”


Keduanya tertawa renyah saat menceritakan boss mereka. Hingga tawa itu terhenti karena Akbar mendapat telepon dari nomor tidak dikenal.


~Bersambung~