
So Eun tidak melanjutkan pelajaran berikutnya karena ia langsung ijin pulang. So Eun masih mencoba mencari bulu dari sayap milik Kim Bum. Ia masuk kekamarnya dengan tergesa gesa dan mulai mencari dari sudut ke sudut hingga seluruh ruangan.
“ Hei! Kau mencari apa So Eun? Bukankah kau seharusnya sekolah hari ini.”
“ Eomma,apa kau tau sehelai bulu putih dikamarku??”
“ Apa? Bulu putih??? Sepertinya tadi aku melihatnya, aku kira itu salah satu bulu dibantalmu jadi aku memasukannya lagi.”
“ Kenapa kau memasukannya lagi,ah eomma???bagaimana ini?”
“ Memangya itu bulu apa??? Apa penting, eoh??”
“ Eomma, Bantal yang mana yang tadi kau masukan bulu itu?” tanya So Eun ia melihat satu persatu bantal di atas tempat tidurnya.
“ Tentu saja aku lupa, kau bisa mencarinya dari keempat bantal tersebut.” ibu So Eun menunjuk empat bantal yang ada di tempat tidur So Eun.
“ Ah...bagaimana ini???”
So Eun lalu membuka bantal satu persatu dan dilihatnya bulu bulu itu terlihat sama.
“ Apakah aku harus melakukannya satu persatu.” gumam So Eun memegangi bulu tersebut satu persatu.
So Eun lalu mencoba mengenggam bulu tersebut dan menyebut nama Kim Bum dan begitu seterusnya.
❣️
Seorang dokter membuka perban dimata Seol Hyun, dengan perlahan ia membuka matanya. Seol Hyun melihat sekelilingnya, dan sudah bisa melihat meskipun belum sempurna
“ Apa kau sudah bisa melihat?” tanya seorang dokter yang baru saja membuka perbannya.
“ Iya,,tapi aku tidak melihat seorang pria yang dari kemarin menemaniku? Apa kau melihatnya dokter?” Seol Hyun mengedarkan pandangannya diseluruh ruangan.
“ Aku tidak tau jika ada seorang pria yang menemanimu disini?” dokter itu menepuk pundak Seol Hyun lalu pergi keluar.
Setelah seorang perawat membereskan perkakas di meja samping tempat tidur Seol Hyun, ia kemudian keluar.
“ Apa kau juga tidak melihatnya?” tanya Seol Hyun dan suster itu menggeleng lemah.
“ Dimana dia??? Bukankah ia sudah berjanji akan menemaniku hari ini?”gumam Seol Hyun.
Ia lalu mengambil sebuah foto dilaci, ia mengamati wajah pria tersebut yang tidak lain adalah kakak Seol Hyun.
“ Oppa.aku sudah bisa melihatmu sekarang? Ternyata kita sangat mirip, dan kau sangat tampan. Andai kau masih hidup kau pasti senang karena aku sekarang sudah bisa melihat.” Seol Hyun membelai lembut foto tersebut.
Terdengar suara pintu terbuka, Seol Hyun lalu menoleh kearah pintu. Ia melihat seorang pria dengan kaos putih membawa sebuah botol berwarna oranye.
“ Apakah kau....?” tanya Seol Hyun heran.
“ Iya,,,aku adalah orang yang pernah
mengaku menjadi kakakmu, apakah aku terlihat berbeda dari yang kau bayangkan?”Kim Bum mendekati Seol Hyun.
Seol Hyun tersenyum dan mengacungi jempol pada Kim Bum.
“ Darimana kau...?”
“ Ah,,aku membeli jus wortel untukmu.ini sangat bagus untuk matamu bukan?” Kim Bum menyodorkan sebuah botol yang berisi jus wortel tersebut.
“ Ah ku kira kau tak akan datang.” Seol Hyun menerima jus wortel tersebut.
“ Aku tak pernah mengingkari janjiku.”
“ Baiklah...”gumam Seol Hyun.
“ Apa kau senang?” tanya Kim Bum.
“ Tentu saja, dan sekarang aku bisa melihatmu. Itu sudah sangat cukup menyenangkan bagiku. Dan,,,apakah aku boleh memanggilmu oppa, lalu kau tak usah berpura pura menjadi ia lagi.”
Kim Bum diam dan melihat Seol Hyun sedih. Ia tak tau harus menjawab apa. Bukan karena tak mau dipanggil oppa dan menjadi kakaknya. Tapi karena waktu untuknya dibumi tak akan lama lagi.
“ Hei! Apa tak boleh?”
“ Boleh. Tentu saja boleh.”Kim Bum tersenyum.
Seol Hyun lalu memeluk tubuh Kim Bum sangat erat, begitu pula Kim Bum.
“ Jangan pergi, aku ingin selalu melihatmu setiap hari.” ucap Seol Hyun lirih.
Kim Bum melepaskan pelukan Seol Hyun pelan.
“ Maafkan aku Seol Hyun ah...”
“ Kenapa ...”
“ Ah, Tidak.. Aku hanya harus pergi. Ada sedikit urusan sebentar.” ucap Kim Bum lalu keluar dari kamar Seol Hyun.
Seol Hyun hanya memandangi Kim Bum yang berlalu darinya.