My Love From The Sky

My Love From The Sky
Kemesraan yang akan menjadi kenangan


Ting!


Nong!


Ceklek!


“Yah, cari siapa?”


“Hedrik Daulay?”


• • •


Ternyata setelah cukup lama mencari keberadaan keluarga Daulay itu tidak membuat Andi patah semangat. Usai pencariannya berhasil dan mendapatkan alamat pria itu dirinya langsung menanyai tentang anak pertama Hendrik. Tidak banyak juga yang didapat saat bertanya kepribadian dan pekerjaan pemuda 28 tahun itu.


“Dapat informasi apa, Ketua?” tanya Jaka.


“Akbar bukan anaknya.”


“Maksudnya?”


“Mana aku tahu. Tapi ayahnya bilang dia masih tinggal di daerah Jakarta Selatan.”


• • •


Usai ada dua minggu ke depan setelah mendapatkan alamat Daulay. Andi mengunjungi rumah sakit untuk suatu perihal. Di sana dia bertemu dengan kekacauan dalam sebuah ruangan. Sekilas mata jelinya melihat orang yang dicarinya, Akbar. Sejak saat itu, Andi menjadi penguntit tanpa diketahui oleh Akbar.


Di kafe tempat Akbar dan Alisa datangi, markas, bahkan saat Akbar mengunjungi sang ayah Andi ada di sana. Lewat penyadap yang diletaknya secara sengaja saat pesta malam itu. Berpura-pura menabrak padahal memasang alat pelacak dan penyadap. Seluruh pembicaraan Akbar dan sang Ayah pun tidak luput dari pendengarannya. Air mata juga sempat menetes saat mendengar perdebatan itu, seolah dirinya di posisi Akbar. Dari semua itulah, kini Akbar harus berjumpa dengannya di sebuah hari istimewa.


*-*-*-*-*


Fajar mulai menyingsing dan Akbar tengah melaksanakan salat subuhnya. Setelah itu ia kembali naik ke atas ranjang dan memeluk Aisyah dari belakang.


“Kamu sudah bangun?” Akbar hanya mendehem.


“Sudah shalat?” Berdehem kembali. Aisyah pun bangkit dari tidurnya.


“Mau ke mana?”


“Sudah pagi. Kenapa harus tidur lagi? Akan lebih baik saat ini kita berolahraga pagi, bagaimana?”


“Aku masih ingin tidur. Aku lelah sekali, “ tolak Akbar kembali berbaring. Aisyah kembali ke atas ranjang dan meraba kasurnya untuk mendapatkan wajah sang suami.


“Akbar, tapi ini sudah pagi, ayo bangun.” Aisyah mengajaknya dengan penuh kelembutan.


“Aisyah, sebentar lagi. Tidurlah denganku sebentar lagi,” pinta Akbar dengan suara seraknya di pagi hari.


“Kau ada masalah? Suaramu kelihatan sedih begitu.”


“Yah, makanya aku mohon tunggulah sebentar lagi.” Aisyah menurutinya dan tidur di samping Akbar sambil terus mengelus rambutnya.


“Aisyah, jika kiranya aku pergi bulan depan, kau sanggup sendirian?”


“Maksudnya? Memang, kamu mau ke mana?”


“Aku mau ke luar kota.”


“Kalau memang karena tugas, aku sanggup.”


*-*-*-*-*


Tring ting ting!


Tring ting ting!


“Halo!”


“Bar, kau harus cepat ke sini! Ke markas!” perintah Cecep.


“Tidak perlu. Temui aku di kafe Kamela saja.”


“Iya, tapi ada yang mau aku kasi—“


“Datang saja.”


Pemuda ini memakai bajunya sambil menata rapi rambutnya. Lau Aisyah datang dengan segelas teh.


“Aisyah, kenapa harus repot-repot bawa ke sini? Suruh saja Nissya taru di meja luar,” ujar Akbar.


“Tidak apa kok. Seorang istri harus melayani suaminya sebaik mungkin, iya ‘kan?” Akbar tertawa kecil yang dapat didengar Aisyah, membuat wanita ini tersenyum gembira karena dapat menyenangkan suaminya.


“Yah, baiklah. Terima kasih istriku.” Akbar mengecup kening Aisyah.


“Aku mau pergi kerja dulu, yah? Assalamu alaikum!”


“Wa’alaikum salam." Tidak lupa menyeruput teh tersebut.


“Iya, hati-hati yah.”


“Assalamu alaikum!”


“Wa’alaikm salam!” jawab ketiganya bersamaan.


• • •


Mobil itu berhenti di depan kafe Kamelia. Pemiliknya turun dan langsung masuk menuju meja di mana ada Cecep.


“Bar, kau tau—“


“Ssstt! Aku sudah tau.”


“Apanya yang kau tau?”


“Tentang markas ‘kan?” Cecep mengangguk mantap.


“Polisi mengelilinginya dan Vendra muncul di layar televisi. Semua anggota juga ditangkap. Alasan kita semua ketangkap karena salah seorang dari anggota ketahuan saat mengedar sabu ke masyarakat. Jasa sales jadi dicurigai mereka.”


Mendengar penjelasan Cecep membuat Akbar berpikir ulang. Apa memang karena itu makanya Andi menekan mereka? Padahal sebenarnya Andi menyidiki terlebih dahulu baru menangkap.


“Tapi ‘kan, Bar. Kita harusnya bersyukur, karena hanya kita yang selamat,” ujar Cecep tanpa tahu kenyataan.


“Dengan begini kita bisa memulai semuanya dari awal dan dari yang halal, iya ‘kan, Sobat?”


“Aku rasa kau salah. Jika ingin memulai dari awal, alangkah baiknya kita menebus dosa kita terlebih dahulu.”


“Maksudnya?”


“Lihat ke belakang,” titah Akbar.


Cecep mengikuti saran Akbar dan tepat di belakangnya seorang pria memakai baju casual dengan celana jean biru gelap duduk sambil memandanginya. Kemudian menyapa Akbar dan Cecep dengan lambaian tangan dan senyuman.


“Dia intel.” Cecep mendelik menatap Akbar saat mendengar ungkapan itu.


“Dia sudah lama mengintai kita.” Cecep tertegun saat dirinya kembali mengingat bahwa pria itu tidak lain orang yang menasehatinya saat di pesta.


“Aku meminta tempo satu bulan. Setelah itu, ayo serahkan diri kita secara baik-baik,” Ajak Akbar yang membuat Cecep tidak habis pikir.


“Jadi sudah cukup lama kita diininteorang itu?” Akbar mengangguk.


“Kenapa tidak bilang dari dulu?”


“Aku juga baru tau semalam.”


Cecep menjedutkan keningnya ke meja karena galau. Sedangkan Andi bangkit dan duduk bareng mereka dalam satu meja.


“Sudah ada kesepakatan?” sambung Andi dengan tersenyum senang. Sementara Cecep risau akan siapa yang menafkahi istri dan anaitut nanti.


“Sebulan. Bisa ‘kan?” ucap Akbar.


“Diterima! Aku menunggu kalian. Dan untukmu, Pak. Selamat atas kesembuhan anakmu.” Andi bangkit dan pergi dari sana. Dia langsung mempercayakan semua begitu saja.


“Wah, dia bahkan tau kalau anakku habis sembuh dari sakit mereka,” heran Cecep.


*-*-*-*-*


Waktu terus berlalu, kemesraan demi kemesraan tercipta oleh pasangan serasi itu. Akbar dan Aisyah pergi berbulan madu ke Paris. Di menara yang begitu tinggi bernama “Eifel”. Akbar menggantungkan sebuah gembok di sana untuk keabadian cinta mereka. Juga saling berpotret ria dan bermesraan.


“Aku ingin bisa melihat keindahan yang kau bilang itu, Akbar. Maafkan aku, jika mungkin tidak mengasikkan saat ini.”


“Tidak, Aisyah, justru aku senang kita bisa ke sini berdua dan membuat kenangan yang indah bersama.” Akbar memeluk Aisyah dengan erat sekali.


“Aku akan merindukan saat seperti ini hingga saat kepergianku minggu depan,” ujar Akbar.


“Jangan bicara begitu. Kalau kau pergi, maka kau pasti akan pulang, iya ‘kan?” Akbar hanya diam dan menangis dalam pelukan Aisyah.


“Aku akan pergi lama Aisyah. 10 tahun adalah hukumanku,” batin Akbar.


Ini adalah hari kepulangan pengantin baru ke Indonesia. Di sepanjang perjalanan yang cukup panjang, pegangan tangan itu jarang sekali dilepas. Rasanya begitu berat melepas untuk waktu yang cukup lama. Begitu sampai di rumah langsung disambut keluarga besarnya, juga ada Alisa yang datang untuk menyambut kepulangan sang kakak dan kakak iparnya.


Aisyah yang teralu lelah pun harus istirahat selesai shalat zuhur. Sementara Akbar mendatangi ruang tamu tempat keluarga berkumpul.


“Bu, Rizka, Nissya, Alisa,” serunya memanggil.


“Kalian bisa ke belakang sebentar? Ada yang harus kubicarakan dengan Pak Yunus dan Pak Herman.” Keempatnya pun menuruti dan pergi untuk memasak makan siang.


Kira-kira apa yang ingin dibicarakan Akbar dengan ayah angkat dan ayah mertuanya itu, yah? Ayo nantikan episode terakhirnya.


~Bersambung~