
Sepenggalah matahari menuju barat dengan semburat kemerahan menghiasi tenggelamnya. Hamparan danau melampirkan siluet pemuda jakung ini. Berdiri di bawah pohon rindang, sementara di belakangnya berdiri seorang wanita muda dengan hijab cokelat.
“Perlu kau ketahui, Rizka. Bahwa aku bukanlah pria baik.”
“Aku pun begitu, Akbar. Aku bukanlah wanita yang baik.”
Pemuda bersurai hitam legam itu pun membalikkan badannya. Menatap lekat gadis di hadapan.
“Bukan itu maksudku,” ujarnya penuh keseriusan.
“Lalu apa?” Akbar terdiam sejenak sebelum akhirnya mengambil napas dalam dan berkata ....
“Aku adalah penjahat.”
Hening. Hanya ada hamparan angin mengisi gendang telinga keduanya. Selang beberapa detik kemudian tawa ria terdengar seolah itu adalah lelucon. Yah, Rizka menganggap Akbar sedang bercanda.
“Kau pikir itu lucu?” sindir Akbar.
Kali ini keheningan benar-benar menyapa hingga waktu yang cukup lama. Rizka seperti kehilangan kata-kata sekarang.
“Kau bohong, ‘kan?” Ulasnya.
“Itu yang sedang kucari tau,” jawab Akbar.
“Dengar! Aku tidak peduli siapa kau. Yang pasti, aku mencintaimu, Bar.” Rizka memeluk pria tingga tersebut.
“Rizka!” serunya, dan gadis itu berdehem.
“Kau sadar yang kau lakukan ini?”
“Apa?” Rizka sama sekali tidak mengerti apa maksud pemuda di hadapanya.
“Kita bukan muhrim.” Rizka langsung tersadar dan melepas pelukannya.
“Hei! Kau bilang kau penjahat. Apa penjahat takut dengan perbuatannya?” Kali ini Rizka yang menyindir.
“Aku mencari wanita terhormat, bukan wanita penjual kehormatan. Aku lebih tertarik pada wanita yang tertutup pada pria yang bukan muhrimnya daripada wanita yang rela melakukan apa pun demi cinta.” Rizka terdiam seribu bahasa.
“Aku memang penjahat, tapi aku mencari pendamping yang bisa mengubahku. Aku memang lupa apa arti cinta itu. Tapi aku rasa, cinta bukanlah obsesi, iya ‘kan?” Akbar pergi meninggalkan Rizka dengan pikiran kalutya saat ini.
*-*-*-*-*
Suara klakson kendaraan memenuhi jalan. Meski lampu pejalan telah menyala, Akbar tetap diam di tempat. Pikirannya sedang terbang melayang saat ini. Dirinya sedang berada di antara dua cinta. Satu terhadap Aisyah, kedua cintanya Rizka. Pemuda ini berdecap lesu serta kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil sedikit berteriak frustasi. Kemudian segerap ingatan muncul dengan mulusnya, membuat matanya membulat menatap zebra cross. Masih kalut dalam ingatan sepintas itu, sebuah tangan meyentuh bisepnya yang kemudian menghadapkan Akbar pada si penarik, yaitu Rizka.
“Akbar, aku seperti pernah melihatmu, tapi di mana, yah?” Rizka mencoba meningat-ingat.
“Ah, iya! Kau yang menabrakku malam itu. Waktu itu hujan deras.” Akbar mencoba mengingat hal yang sama.
“Hujan?” –Mengangguk.
“Aku menabrakmu?” Sekali lagi Rizka menganggukinya.
“Benarkah?! Lalu, apa yang kulakukan?”
“Tidak meminta maaf dan langsung kabur.”
“Lalu, apa kau terluka saat itu?”
“Aku berlari saat itu. Tidak, aku baik-baik saja. Tapi saat ini aku sakit. Kau menolak cintaku, okay tidak masalah. Sekarang katakan, sejauh apa cintamu pada Aisyah?”
Akbar hanya diam. Sebabnya ia pun kini mengingat hal yang sama. Hujan deras, polisi, sirine, kantong plastik, tong sampah, juga sebuah toko. Nama toko itu masih samar diingatan Akbar, sebisa mungkin ia coba ingat hingga kepalanya berdenyut sakit dan pusing. Rizka langsung panik seketika melihat kondisi Akbar juga semua orang yang menunggu lampu berubah warna.
Hanum Bunga.
Akbar langsung terdiam saat sadar. Kini ia ingat malam itu, juga pertemuan dengan Aisyah. Akbar sangat terkejut sekali hingga kehilangan kewarasannya, ia mulai tampak stress dengan keadaan.
“Tidak! Ini tidak mungkin! Aku bukan penyusup! Tidak!” teriaknya frustasi.
Brak!
Liu!
Liu!
Liu!
Rizka begitu ketakutan dan langsung menelpon ayahnya. Mengabarkan keadaan buruk itu. Sang ayah pun kaget bukan kepalang. Sedang, di tempat kejadian polisi berdatangan mengindeksi awal mula kejadian
“Pak, aku berkata benar. Dia yang salah menyebrang sebelum waktunya. Aku saat itu sedang terburu-buru. Rapat soreku harus terlaksana, jadi saat tinggal 10 detik lagi aku tancap gas. Aku juga kaget saat dia muncul tiba-tiba, remku bahkan sampai lengket karena tekanan spontan, Pak. Aku mohon biarkan aku selesaikan rapatku, Pak."
“Nama?”
Seolah tidak peduli, polisi itu tetap mendenda si pengendara dan pejalan kaki. Akbar pun tidak luput dari pertanyaan, tapi saat mau dimintai keterangan ....
“Suster, di mana pasien ruang 07 VIP?” tanya Jaka.
“Apa tidak ada di dalam?” Jaka menggeleng.
“Euhh—saya rasa mungkin ke kamar mandi. Tunggu sebentar yah, Pak.”
“Tunggu! Di mana keluarganya?”
“Mengurus administrasi.”
Jaka pun hendak pergi, tapi saat baru melangkah, dirinya di hadapkan seorang gadis yang mau membuka pintu kamar. Tangannya langsung tergerak menghentikan gadis yang tidak lain adalah Rizka.
“Apa kau istri pria itu?” tanyanya.
“Istri? Eum ... aku rasa kau salah paham, Pak. Dia hanya sepupuku,” jawab Rizka.
“Oh begitu. Lalu di mana sepupumu berada?”
“Kenapa malah bertanya? Saya juga baru kembali dari shalat maghrib. Anda kira saya tahu dia ke mana? Memangnya tidak ada di dalam?” Jaka menggeleng.
“Mungkin di toilet?"
“Pak! Pasien tidak ditemukan!” Lapor sang Suster yang mulai membuat polisi itu juga Rizka terkejut.
Kini rumah sakit digegerkan dengan kehilangan pasien mereka. Sedang di tempat lain, pemuda dengan tinggi berkisar 185 itu berjalan dengan kondisi kaki sedikit buruk. Tangannya juga terdapat luka memar. Kepalanya ditutupi dengan topi jaket itu sendiri. Berjalan menyusuri jalan yang mulai dingin karena angin malam mulai menusuk tulang. Dirinya berhenti di depan sebuah ruko tidak terpakai yang mulai tampak reyot. Tangan Akbar mengamit ponsel miliknya dan menelpon seseorang. Dari balik telpon terdengar suara seseorang memanggilnya.
“Akbar?!”
Cecep terpelongo saat Akbar menelpon. Padahal cukup sekian lama tidak ada telepon dari temannya itu. Namun jawaban aneh terdengar dari Akbarnya sendiri.
“Lama tidak saling mengenal, Temanku.”
Cukup menyengangkan dan membuat Cecep terpelongo. Namun setelahnya pria ini malah tertawa dan menjawab ...
“Tentu saja. Bahkan lama sekali,” jawab Cecep dengan gelak tawa candaan.
“Kau percaya Tuhan itu ada?” Tawa itu memudar setelah datang pertanyaan tidak terduga.
“Jika Tuhan ada, apa yang dia lakukan saat aku sakit selama ini?” Pertanyaan itu malah mengubah tawa tadinya menjadi tangis.
“Katakan, Teman? Bahkan saat sakit pun—seorang ayah masih mampu melupakan anaknya. Justru malah semakin senang. Apa salahku, Cep? Ayo katakan! Apa salahku sehingga dunia menjauhiku?” Cecep benar-benar tidak kuasa menahan tangisnya hingga harus menutup mulut rapat-rapat.
“Apa karena Ibuku masuk Islam, juga diriku?” Cecep terdiam.
“Apa maksudmu?”
~Bersambung~