
Kedua pria itu saling duduk berhadapan dengan meja persegi sebagai penengah. Tali terikat dengan ketatnya di pergelangan Akbar yang membuatnya kesulitan bergerak. Sedang di depannya pria berjaskan kemewahan dengan bolpoin di tangan dan catatan di atas meja.
Brugh!
Catatan itu tercampak di depan Akbar. Irisnya melihat nama 'Muhammad Khalifah Akbar Daulay' tertulis di sana dengan hutang kontrak dan melarikan uang penjualan terakhirnya.
"Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa laporkan ini ke polisi. Karena kita akan sama-sama masuk dalam jeruji besi itu. Makanya aku cari jalan untuk membawamu langsung ke sini."
"Sekarang katakan! Sebenarnya apa maumu?" lanjut sang pemilik wirausaha barang haram itu.
"Apa itu nama lengkapku? Kau tidak salah tangkap 'kan?" tanya Akbar ragu.
"Kau pikir dirimu adalah seorang Kyai ataupun Ustad?" Vendra terkekeh.
"Berhenti berpikir bahwa kau adalah orang baik. Karena nyatanya kau adalah orang yang buruk, mengerti!?" Akbar melototi pria di hadapannya itu.
"Mendekati gadis buta dan mengaku islam. Terus sok belajar ngaji. Yang benar saja! Di mana letak jalan pikiranmu! Kau merusak agamaku dan agamamu, dasar bodoh!" Pria itu kembali tertawa.
"Tunggu! Apa mungkin ...." ucapannya terhenti sejenak.
"... kau masuk Islam?" tanya Vendra dengan serius.
"Kau, mau mengubah kepribadianmu mulai sekarang?" Akbar menatap heran. Ia tidak mengerti apa pun dengan yang dibicarakan pria itu. Dirinya hanya diam dan mencoba menyimak meski tidak dipahaminya sama sekali.
"Yah, yah, aku sudah dengar tentang kisahmu."
"Ki-kisahku?"
"Bukan. Tapi kisah Jokowi. Kau bukan orang tuli, 'kan?" Akbar menggeleng.
"Aku tahu hidupmu berat. Cukup membuatku prihatin. Seandainya aku punya Ayah seperti itu, mungkin aku bunuh diri. Kau cukup kuat hingga cara yang kau coba hanya mencoba melupakan segalanya."
"Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu." Akbar benar-benar kesal karena pria di hadapannya terlalu banyak bicara dan berputar-putar saat bicara.
"Kau mengenalku?" Pertanyaan Akbar malah membuat Vendra tertawa ria.
"Kau amnesia?" Akbar menganggukinya dengan mantap dan itu malah membuat seluruh anggota ikut tertawa, kecuali Cecep.
"Lepaskan aku! Aku harus kembali. Jika tidak, Pak Herman akan mencariku dan aku tidak ingin membuatnya khawatir," ucap Akbar meminta.
"Wow! Kau terlalu sombong, Akbar. Itu tidak akan mudah karena kau masih berhutang padaku. Ayo, semuanya pulang dan biarkan saja dia di sini," perintah Vendra karena malam sudah mulai larut.
"Apa! Kalian akan meninggalkanku di tempat gelap ini?!" Tidak ada tanggapan sama sekali.
"Hei! Aku harus pulang! Besok aku harus terapi dan jika aku tidak terapi bagaimana bisa aku mengingat semua ini," ungkap Akbar.
Vendra menghentikan semua anggota dengan tangan kanan yang diangkat tanda berhenti. Ia mengahadap kembali ke Akbar dengan tangan yang disanggahkan ke pinggiran meja. Tubuh serta kepalanya dicondongkan ke depan guna mengintimidasi Akbar.
"Terapi apa yang kau maksud?" introgasinya.
"Bukankah tadi kau sudah mengetahuinya?" tanya Akbar berbalik.
"Amnesia?" Perlahan, dengan tatapan tajam Akbar mengangguk. Kali ini tidak ada tawa karena Vendra menatap mata Akbar yang serius.
"Cecep!" panggilnya pada anggota yang dekat dengan Akbar sebelumnya.
"Iya, Boss?"
"Antar dia pulang dan introgasi orang yang bersamanya. Tanya apa benar dia amnesia, lalu tanya juga mereka siapanya," tegas Vendra.
"Ingat, Bar! Selesai terapi, kau harus kembali ke sini!"
"Aku tidak bisa! Aku ada janji dengan seseorang besok."
"Siapa dia?"
"Dia hanya seorang gadis buta, Boss! Aisyah," sambung Cecep.
"Oh! Gadis itu."
*-*-*-*-*
Netra itu terus menatap luar jendela. Gedung-gedung tinggi menjulang dengan lampu yang hidup di setiap ruangnya, menerangi malam tanpa bintang. Lampu dan suara hiruk piruk kendaraan juga memenuhi jalan raya Jakarta. Kemacetan juga tidak luput dari itu semua.
"Apa yang terjadi padamu?" Cecep mencoba mencairkan kecanggungan.
"Apa?" Pertanyaan balik itu membuat Cecep mengelus dada.
"Kenapa kau bisa jadi seperti ini? Kau benar-benar melupakan siapa dirimu?"
"Iya."
Jawaban singkat itu langsung mennutup mulut Cecep rapat-rapat. Akhirnya pria ini memilih diam hingga sampai di tujuan. Di sana ia akan bertanya langsung saja pada pemilik rumah yang di tempati Akbar.
Di persilahkan masuk dan dihidangkan segelas minuman hangat. Cecep memulai pertanyaan yang mengganjal di pikirannya. Sedang daripada itu, Akbar langsung masuk kamar dan pergi tidur.
Di kamar, Akbar memeriksa ponsel yang ternyata sudah ada 12 panggilan tak terjawab dari Rizka. Pemuda ini hanya mengerti cara mengangkat telepon dan lupa cara menggunakan aplikasi lainnya. Bahkan tata cara menelpon ia tidak ingat.
Saat mencoba memejamkan kelopak mata. Akbar kembali mengingat pemilik usaha bernama vendra itu.
"Apa dulunya aku penjahat? Kenapa pemilik usaha tadi mengatakan hal seperti itu. Semua perkataannya juga membuatku bingung. Kyai, Ustad, masuk Islam, memangnya aku dulu seperti apa, sih? Kenapa semuanya membuatku semakin penasaran." Akbar mencoba berpikir dengan begitu kerasnya.
*-*-*-*-*
Kantor polisi juga mulai membubarkan manusia yang masih bekerja di sana. Bergerak pulang menuju rumah mereka masing-masing. Andi keluar, akan tetapi ia melihat di sudut pagar satlantas terdapat sepeda motor yang rusak parah.
"Jaka!" panggil Andi, menghentikan langkah Jaka.
"Apa, Pak?" Andi menunjuk ke arah motor yang rusak parah itu.
"Itu apa?" tanya Andi.
"Motor," jawab Jaka dengan santainya.
"Motor siapa? Apa ada kecelakaan?"
"Itu kecelakaan bulan lalu. Yang ditangani Pak Burhan," jawab Jaka.
"Oh ...,"
Saat mencoba beranjak pergi, matanya melihat plat motor yang telah reyot dan miring dari posisinya. S 1509 ZJS, membuat bola mata Andi seolah akan keluar.
"Jaka!" panggil Andi kembali.
"Apa lagi, Pak?" jawab kesal Jaka.
"Besok jam berapa jadwal Pak Burhan?"
"Dia sip sore."
"Kau punya nomornya?" -Menggeleng. Andi langsung pergi meninggalkan Jaka.
Di balik kepergian Andi, sebuah mobil berhenti di depan satlantas. Pemiliknya turun dan kelihatan mencari sesuatu. Hingga ketemulah apa yang menjadi incarnya. Dirinya langsung menghampiri motor rongsokan milik Akbar terdahulu. Memeriksa segala yang bisa diambil dan setelahnya ia masuk ke kantor polisi dan memeriksa meja seorang polisi bernama Burhan Arwana. Membuka setiap laci dan membongkarnya, lalu menemukan dompet Akbar.
Setelahnya ia keluar dengan membawa semua barang yang diambil. Sesampainya di mobil, ia menghidupkan ponsel miliknya dan menelpon nomor Akbar.
"Halo!"
"Aku mau besok siang jumpai aku di toko bunga Aisyah."
"Ini siapa?"
"Cecep! Aku tunggu. Ada barang yang harus kutunjukkan padamu."
Sambungan diputus dan Akbar begitu terkejut. Cecep menghubunginya lewat telepon. Padahal dirinya tidak mengenal pria itu sama sekali, pikirnya. Lalu apa yang akan terjadi ....
~Bersambung~