My Love From The Sky

My Love From The Sky
Cintaku dikirim dari Tuhan


Netranya melihat ke layar ponsel yang terdapat sebuah nomor tidak bernama. Sejenak tawa yang  tercipta tadinya berhenti dan tangan pemuda itu mengamit ponsel miliknya.


“Siapa yang menelpon?”


“Aku tidak tahu. Nomor baru.” Akbar menunjukkan layar ponselnya. Pemuda itu menggeser ikon hijau yang terdapat di layar ponsel. Spontan saja suara dari balik benda pipih itu terdengar. Suara boriton itu terdengar tidak asing di telinga Akbar.


“Siapa ini?”


“Temui aku di Taman Nasional, Jakarta Pusat.” Setelah itu sambungan terputus. Cecep mencoba bertanya tapi hanya sebuah gidikan yang diterima.


“Dia menyuruhku datang ke Taman Nasional di Jakarta Pusat.”


“Untuk apa?”


“Entahlah.” Akbar mencoba berpikir siapakah itu.


*-*-*-*-*


Keduanya pulang dari mengantar paket. Cecep memperhatikan Akbar yang kelihatan melamun.


“Kau akan pergi sendiri?” tanya Cecep.


“Tentu saja tidak. Aku bukan tipe orang pemberani, kau sendiri tahu itu.”


“Yah benar. Kau memang penakut.”


Cecep kembali mengingat masa dirinya hendak membawa Akbar ke hadapan Vendra beberapa bulan lalu. Wajah Akbar sangat ketaktan saat itu. Kekehan terhias di wajah Cecep membuat Akbar terkesan sinis.


“Lupakan waktu itu. Ayo temani aku!” tegas Akbar.


Akhirnya Cecep menemani temannya itu untuk menemui orang tidak diketahui rupa dan bentuknya. Saat sampai di taman, keramaian membuat keduanya bingung yang mana orang yang menelpon tadi. Akbar mengamit ponselnya dan hendak menelpon, namun seseorang meghampiri dirinya membuat raut wajah itu berubah menjadi keterkejutan. Matanya memulat sempurna dan bibirnya terkatup.


Tring ting ting!


Tring ting ting!


Ponsel orang itu berbunyi dan orang itu menunjukkan ponselnya yang tertulis nomor Akbar di sana.


“Papa? Dari mana Papa--”


“Dari pemilik rumah tempat kau tinggal.”


“Ayah mencari tahu tentangku?” mata Akbar mulai berkaca-kaca.


“Tidak. Hanya kebetulan karena menurut Papa kau sudah salah jalan.”


“Maksud Papa?” Akbar kebingungan.


“Sejak kapan kau belajar Islam? Bahkan kau tinggal dan hidup dengan orang Islam?”


Akbar memperhatikan mimik wajah marah Hendrik yang sama saat pandangan itu terhadap ibunya dulu. Ayahnya sangat marah, tapi apa daya Akbar, baginya amarah itu tidak berpengaruh untuk membuatnya takut.


“Jadi ... kau akan membunuhku juga seperti yang kau lakukan sebelumnya?” Hendrik kaget mendengar perkataan itu dan seketika raut wajahnya berubah menjadi takut.


“Kau ... k-kau ...,” ucapannya dipotong oleh Akbar.


“Papa terkejut dengan ucapanku? Yah, aku sudah ingat semuanya.” Hendrik menatap mata Akbar yang merah menyalak dan berkaca-kaca. Di samping itu, kedua tangannya mengepal erat seolah bersiap untuk memukulnya.


“Baiklah, Papa akui itu salah. Saat itu pikiran Papa kalut dan Papa—“


“Aku mengerti. Lupakan saja yang lalu dan jalani yang sekarang, iya ‘kan?”


“Euh-euh ... iya! Iya!” gugup Hendrik.


Akbar membalikkan tubuhnya dan hendak berlalu. Namun Hendrik menyerukan nama pemuda itu kembali membuat langkah besar Akbar terhenti.


“Kembalilah!” Ucapan itu membuat Akbar menegakkan tubuhnya dengan segala kebimbangan.


“Kau tidak merindukan adikmu? Kau benar. Mari lupakan semuanya dan mulai kembali dari nol,” ajak Hendrik.


“Kau serius?” tanya Akbar penuh keyakinan dan anggukan adalah jawabannya.


“Semuanya bukan karena ingin aku kembali dalam agamamu, ‘kan?”


“Maksudnya, tidak ada keinginan tersirat di hatimu, ‘kan?” Hendrik masih menautkan alisnya.


“Aku akan menikah. Itu pun dengan gadis Islam,” akui Akbar membuat Hendrik terkejut bukan main.


“Ap-apa katamu?”


“Aku akan tetap menganggapmu keluarga dan Alisa tetaplah adikku. Tapi maaf, aku tidak akan pernah bisa menuruti kemauanmu lagi. Karena sedari dulu kau tidak pernah menganggapku ada dan hari ini sampai besok pun tetaplah seperti itu. Dulu aku tidak bisa meninggalkanmu karena sebuah rasa cinta. Cinta yang kurasa berasal dari Tuhan. Sekarang pun begitu, aku sudah menemukan cinta yang diturunkan Tuhan lewat gadis itu. Papa mungkin pernah dengar kata-kata seperti ini ‘Kau mungkin bisa meninggalkan manusia. Tapi tidak dengan Tuhan'. Bagiku, gadis itu adalah orang yang akan dapat membimbingku menunu jalan kebenaran.”


“Kau tidak sungguhan, ‘kan? Bagaimana bisa kau bilang jalan yang benar—“


“Dulu waktu aku mengharapkan cintamu, ke mana saja kau? Aku tidak berpaling saat ini, hanya saja aku sedang istirahat. Maafkan aku, tapi kepercayaan setiap orang itu berbeda-beda. Termasuk pendapatku. Kita hidup di Indonesia yang saling menghargai meski beda keyakinan. Jadi aku mohon, hargai keyakinanku.”


Hendrik sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Mulutnya terkatup rapat serapat-rapatnya. Bahkan kepergian Akbar pun tidak bisa lagi dicegahnya. Namun entah apa yang membuat langkah pemuda itu berbalik arah. Kini dia berhenti tepat di hadapan ayahnya sendiri.


“Jangan lupa datang ke pesta pernikahanku nanti. Akan kukonfirmasi tanggal dan bulannya  lewat nomor telepon milikmu, Papa.”


*-*-*-*-*


Kedua keluarga berkumpul di rumah kecil Yunus untuk sebuah acara lamaran atau biasa disebut tunangan. Para calon mempelai saling tersenyum bahagia dan malu-malu. Walau Aisyah tidak bisa melihat rupa sang pangeran yang meminangnya, akan tetapi keberanian sudah menunjukkan wajah asli yang rupawan. Bagi Aisyah tidak perlu tampan, melainkan ketulusan hati mau menerimanya, itu lebih dari cukup.


Meski banyak yang berkata calon suaminya tampan, namun itu tidak membuatnya sombong dan angkuh. Tidak banyak juga mulut manusia yang senang dengan lamaran itu, karena merasa iri. Namun banyak juga yang mendukung keputusannya untuk menikah karena usia yang sudah pantas.


Akbar pergi ke tempat yang sepi seperti belakang rumah Aisyah. Di sana dirinya mengirimkan pesan kepada Hendrik tanggal pernikahan yang akan terlaksana 20 oktober mendatang. Tepatnya dua minggu kedepan. Usai mengirimkannya, sedikit ada rasa khawatir dan takut. Namun coba ia taklukkan dengan menatap keindahan belakang rumah Aisyah yang masih sejuk dan asri. Dengan pohon kelapa yang bernaung di atasnya juga ada beberapa pohon rindang.


Tring!


Cecep, 13.45 wib.


“Udah diputuskan?”


Akbar, 13.49 wib.


“Iya. Tanggal 10 oktober.”


Cecep, 13.53 wib.


“Aku tidak sabar menunggu calon pengantin naik ke pelaminan.”


Akbar, 13.55 wib.


“Datanglah. Aku perlu supir untuk jalan-jalan.”


Cecep, 13.57 wib.


“Naik apa? Mobil ‘kan ada padamu.”


Akbar, 13.59 wib.


“Naik becak motor. Cepatlah!”


Cecep, 14.02 wib.


“Siap boss!”


Akbar tersenyum melihat pesan terakhir Cecep dan berdecap. “Dasar aneh! Bukannya nelpon, malah kirim pesan hingga banyak, ceh.”


Tidak berapa lama akhirnya muncul juga yang ditunggu-tunggu Akbar, yakni Cecep. Ia pun berpamitan kepada keluarga Aisyah dan Herman untuk pergi dengan alasan suatu pekerjaan.


• • • •


“Herman, apa pekerjaan Akbar?” tanya Yunus.


“Katanya tukang antar pizza waktu itu. Tapi sudah kusuruh berhenti dan beralih ke bidang bisnis untuk mengurus sewa pasar di Jakarta Barat,” jelas Herman.


“Loh, bukannya Akbar itu seorang Wedding Orginizer yah, Paman?” Kali ini Aisyah yang bertanya.


“Tidak tuh. Katanya dia pengantar pizza,” tukas Herman.


“Tapi dia bilang sama bibi Hanum seorang pendekor gedung pernikahan. Dia juga mengajukan kontrak dengan bibi dalam hal pesan bunga yang akan digunakan untuk dekorasinya,” perjelas Aisyah membuat Herman dan Yunus saling bertanya-tanya dan menatap curiga.


~Bersambung~