My Love From The Sky

My Love From The Sky
Hutang budi yang dibawa mati


Sebuah ruangan dengan dekorasi indah di bagian kubahnya. Lalu, disusun dengan meja dan bangku persegi panjang. Dihiasi dengan gambar-gambar di setiap kaca, juga terdapat sebuah stage di ujung dinding yang di atasnya terletak mimbar untuk dakwah. Di atas mimbar itu sendiri tergantung patung Tuhan Yang Esa menurut kepercayaan mereka. Agama ini disebut Kristiani. Seorang pemuda jakung dengan rambut yang mulai gondrong. Juga memegang kalung salib di tangan kanannya, sedang tangan kirinya terselip di balik saku celana. Waktu menunjukkan pukul 7.35, di mana setiap umat Kristiani mulai memenuhi tempat ibadah. Di samping itu, seorang pria paruh baya dengan style jas hitam tidak sengaja menyenggol bahu belakang Akbar.


“Hei, Nak, sebaiknya duduklah. Kau menghalangi jalan. Acaranya akan segera di mulai,” ujar pria itu yang langsung melenggang pergi.


Tidak habis dengan itu, Akbar masih saja menelisik seisi ruangan yang telah dipenuhi manusia itu. Kemudian seorang pria tua yang sudah renta menarik tangan Akbar. Menyuruhnya duduk di samping pria itu. Tidak punya pilihan lain, Akbar pun duduk di samping kakek tersebut. Segerombolan remaja berjenis kelamin berbeda menghiasi seisi panggung dengan nyanyian mereka yang berbasis Inggris. Alis Akbar dibuat menaut satu sama lain tatkala merasa bingung dengan arti dari lagu itu sendiri. Lepas dari itu, pria yang menabrak Akbar tadi naik ke atas mimbar dan mulai berdakwah serta memanjatkan doa. Puing-puing ingatan seketika muncul hampir serupa tapi tidak sama.


Belum lagi selesai sang serupas berdakwah, Akbar memilih pergi. Sampainya di luar, angin langsung menyapanya dengan begitu sejuk.


“Bagaimana?” tanya Cecep yang ternyata sedari tadi menunggu di luar.


“Tidak ada apa pun.”


“Tidak ingat apa pun?” tanya Cecep kembali. Akbar menggeleng.


“Ah, aku tahu sekarang. Kau dan aku tidak ada bedanya. Kita memang berandal kelas atas. Aku tidak pernah ke masjid dan kau pun begitu, tidak pernah ke gereja. Kita bukan penganut budiman, kita hanyalah seorang pengedar,” ujar Cecep to the point.


“Apa maksudmu? Jadi kau mengira aku ini orang yang jahat begitu?”


“Iya, lalu apa lagi kalau bukan begitu? Kita sama, paham?” Akbar menggeleng.


“Aku bahkan tidak percaya dengan ucapanmu. Pasti ini hanya tipuan saja, ‘kan?”


“Tipuan bagaimana? Akbar kau harus ingat! Kali ini aku tidak main-main. Agamamu adalah apa yang terlihat dalam KTPmu sedangkan agama Aisyah terlihat dari cara berpakaian serta sembahyangnya. Sebaiknya jauhi Aisyah sebelum Ayahnya tau berda kau,” saran Cecep memperingatkan.


“Aku mencintai Aisyah,” akui Akbar yang membuat Cecep tercengang.


“Lalu apa yang bisa membuat kami bersama?” lanjutnya.


“Akbar! Kau tidak serius ‘kan?”


“Apa itu salah?” tanya Akbar begitu polosnya.


Cecep menghentikan langkah Akbar.


“Tunggu! Kau sungguhan ingin dengan Aisyah?” Akbar mengangguk mantap.


“Hanya satu jalan, yaitu masuk Islam.”


“Caranya?”


“Ayo, kita pergi sekarang dan aku tunjukkan orang yang dapat membuatmu masuk Islam.”


“Baguslah! Ayo!”


Dengan semangat menggebu Akbar langsung melenggang pergi menuju gerbang gereja bersama Cecep menghampiri tempat parkir mobil. Saat hendak masuk ....


“Kau ....”


Cecep dan Akbar menoleh secara serempak ke arah orang yang tampak ingin menyeru itu. Keduanya diliputi kebingungan. Pria itu masih saja menunjuk Akbar dengan jarinya seraya mencoba berpikir.


“Kalau tidak salah, kau adalah pemilik rumah lama kami, iya’kan” terkanya. Akbar dan Cecep saling bergidik.


“Iya. Aku mengenali wajahmu. Kau pergi begitu saja meninggalkan pakaianmu yang berserakan. Juga satu lagi, waktu itu Polisi mencari keluargamu,” ucap pria itu.


“Apa?”


“Euh ... Pak! Aku rasa kau salah orang karena dia adalah anak yatim piatu,” sambung Cecep mengelakkan suasana karena takut jika sudah membahas polisi. Ternyata pria yang bertanya adalah Pendeta pengganti ayahnya.


“Ayo, Bar! Keburu siang!”


“Maaf, Pak, aku permisi pulang.” Akbar berpamitan padanya.


“Bar! Kau yakin tidak mengingat sesuatu?” intro Cecep kembali seraya menjalankan mobil.


“Sebenarnya ingat, hanya saja samar. Jadi bagiku tidak ada gunanya.”


“Kalau begitu, jadi masuk Islamnya? Kalau jadi akan aku jemput besok. Karena hari ini aku harus kerja.”


‘Baiklah!”


Cecep mengantarkan Akbar kembali pulang ke rumahnya. Namun hanya sampai di persimpangan, kini Akbar harus menyabrang.


“Maaf, yah, cuma bisa antar sampai sini. Sampaikan pamitku pada Pak Herman,” salam Cecep.


“Baiklah! Terima kasih sudah antar aku pulang.”


“Tidak masalah. Semoga kau cepat sembuh, yah,” ujar Cecep seraya menjalankan mobilnya pergi.


Sesampainya di dalam, Rizka keluar dan tidak sengaja bertatap langsung dengan Akbar. Wajahnya begitu sedih sehingga membuat pemuda tangguh ini bingung ada apa? Setelah masuk barulah ia sadar bahwa ada pertengkaran antara Rizka dan sang ayahanda. Pria paruh baya itu menghampiri Akbar dengan mimik wajah marah, membuat Akbar kebingungan. Ia berpikir ‘apa mungkin Pak Herman tau siapa dirinya?’


Herman memegang pundaknya dan kegugupan yang menyapa saat ini.


“A-a-ada apa, Pak?” ujarnya gugup.


“Nak, aku tau kau anak baik. Tapi aku juga tidak ingin meminta kembali apa yang telah kuberikan dengan menukarkan perasaanmu,” tutur Herman sambil menitikkan air mata.


“Mak-maksudnya?”


“Bapak tau kau menyukai Aisyah, Nak. Tapi ... putri kami lebih dulu mencintaimu.”


Akbar kaget bukan kepalang. Ternyata alasan di balik kemarahan Herman karena dia bingung. Pria itu menceritakan semua perdebatannya dengan Rizka tadi.


“Rizka tidak mau tahu, Yah. Pokoknya Rizka maunya Akbar, titik!”


“Iya, Ayah tahu. Tapi bagaimanapun, Akbar juga punya perasaan, bagaimana jika Ayah menyakiti perasaannya?”


“Ayah lebih mikiri perasaan Akbar yang bukan siapa-siapa daripada Rizka yang anak Ayah?!”


“Bukan begitu, Nak—“


“Yah, Rizka tau Akbar suka sama gadis buta temannya Ayah itu. Rizka juga tau Akbar tidak mungkin relakan orang yang disayanginya. Tapi, kalau Ayah bisa bujuk, pasti Akbar mau.”


“Ayah harus bujuk bagaimana lagi? Ayah sudah kehabisan kata-kata kalau di hadapan Akbar jika membahas soal ini.”


“Akbar berhutang pada kita!” senggak Rizka.


“Maksudnya.”


“Rizka mau Ayah gunakan biaya pengobatan Akbar sebagai ancaman bagi dia!”


“ya tidak bisa begitu juga, Nak,” nasihat Herman.


“Bagaimanapun caranya Rizka tidak mau tahu. Kalau Akbar tetap tidak mau, maka Rizka tidak tau apa yang akan terjadi.”


Plak!


“Apa yang mau kamu lakukan?! Kamu tidak segila itu, ‘kan?!” bentak Herman.


“Ayah berani tampar Rizka, berarti Ayah lebih pilih kebahagiaan orang lain daripada anak sendiri!” Gadis itu pergi meninggalkan sang ayah.


Setelah mendengar pernyataan itu, Akbar terdiam cukup lama, bahkan sangat lama.


“Mau ke mana kau, Akbar?”


“Aku akan cari Rizka.”


Pemuda tegap berambut gondrong ini pun pergi keluar dengan hati berat. Ia merasa bersalah kepada keluarga Herman. Ucapan Rizka tidak ada salahnya bagi pria 27 tahun ini. Dirinya berhutang banyak pada keluarga itu. Selain uang, jasa juga terhutang baginya. Namun, ia tidak ingin bersama dengan orang yang tidak disukainya hanya karena hutang.


Setelah berjumpa dengan Rizka, ia mengajak gadis itu untuk bicara empat mata. Di tempat yang sepi nan sejuk. Masih keheningan menyapa keduanya, sebelum akhirnya Akbar angkat bicara.


“Kau perlu tau, Rizka, aku bukanlah pria baik.’


“Aku tau itu. Aku juga bukan wanita yang baik—‘


“Bukan! Bukan itu! Maksudku adalah, aku seorang penjahat.” Rizka tercengang.


~Bersambung~