
Sang ayah pulang melewati banyak tamu dan saat itu pula tamu baru masuk dan mereka bergerombol. Ada yang dengan pasangan, ada yang sendiri-sendiri. Herman yang melihat itu langsung menyapa mereka yang ternyata tamu dari Herman. Sementara Reha merangkul lengan Akbar untuk membuat senang anak angkatnya itu. Di pikirannya, mungkin akan sedikit drop saat tiba-tiba sang ayah datang. Namun kenyataannya adalah Akbar masih sedih akibat kenyataan tentang dirinya.
“Bar, aku tidak tahu kalau ternyata gadis tadi itu adikmu. Waktu memperbaiki ponselmu aku bertemu dengannya. Pantas saja waktu itu dia bertanya tentang mainan yang tersangkut di ponselmu. Ternyata kau itu kakaknya,” ujar Rizka.
“Yah, dia adikku. Satu-satunya adikku.”
“Kau salah! Kali ini aku juga akan panggil kau “Kakak”. Karena bagaimanapun kau sudah menjadi kakak angkatku dan usiamu jauh di atasku.”
“Tidak sejauh itu. Kita hanya beda 6 tahun dan itu tidak jauh.” Reha, Aisyah, dan Rizka pun tertawa mendengarnya.
“Tapi kau dan Aisyah juga seperti itu. Aisyah seusiaku tapi kok mau menikah denganmu,” ketus Rizka.
“Namanya juga jodoh,” sahut Reha dan mereka kembali tertawa ria.
“Eh, udah-udah! Sekarang ayo, mempelai harus naik ke pelaminan, dong. Masa ngurung diri saja di dalam. Yuk!”
Akbar dan Aisyah menuruti ucapan Rizka. Tangan pemuda itu menggenggam tangan mungil si istri, membuat Aisyah sedikit tersipu. Ini kali pertamanya disentuh secara langsung oleh lawan jenis yang beda mahrom. Ternyata itu dapat menimbulkan efek jantung berdetak kencang juga.
Mempelai duduk di pelaminan, para tamu mendapatkan hiburan makanan juga nyanyian. Pesta kali ini membuat Akbar merasa senang. Aisyah memegang bisep Akbar dan menariknya untuk berbisik.
“Kamu sudah shalat zuhur?”
“Belum.”
“Kalau begitu pergilah dan shalat.”
“Iya, sebentar lagi.”
“Akbar,” seru Aisyah kali ini.
“Baiklah. Ayo shalat bersama!”
Selesainya Akbar mengambil wudu, Aisyah hanya berdiam diri di kamar.
“Kau menyuruhku shalat tapi kau—“ Aisyah memberi kode bahwa dia sedang berhalangan.
“Baiklah. Aku akan shalat sendiri kali ini. Oh ya, kira-kira kapan aku bisa menjadi imammu?” Aisyah mengacungkan 5 jarinya tanda itu masa berakhirnya halangan itu. Akbar tersenyum dan melaksanakan shalat zuhurnya sendirian.
Waktu terus berlalu dan siang pun kini berganti dengan malam. Andi, Jaka, Burhan, Dalimunte, dan lain-lain, datang ke pesta itu atas undangan dari Herman. Di samping itu, Iwan dan teman-temannya juga datang ke pesta. Awalnya dihentikan petugas yang menjaga pintu masuk, namun Cecep datang dan mengatakan anak-anak itu sudah mendapat undangan secara resmi untuk masuk. Cecep membawa mereka ke tempat Akbar berada, tepatnya di atas pelaminan.
“Eh, kalian udah datang? Makan dulu sana. Nanti dapat kesempatan foto bareng Kakak, mau tidak?”
“Mau, mau!” jawab mereka semua serempak.
Usai anak-anak itu turun, seorang pemuda tampan naik ke pelaminan dan mensungkem tangan Akbar. Suami dari Aisyah ini kebingungan, namun pemuda itu mengatakan bahwa dia adalah tamu Herman dan hanya ingin memberi ucapan selamat kepada mempelai.
“Oh iya, bisa bicara berdua?” pintanya kepada Akbar.
“Dengan saya?” ulang Akbar kembali yang diangguki oleh pemuda itu.
Pria muda itu membawa Akbar ke meja tamu paling pojok dekat pelaminan dan jarang ditempati tamu lainnya. Keduanya duduk berjarak karena dihalau dengan meja bulat.
“Ada apa?” tanya Akbar mewakili perasaan bingungnya.
“Nama kamu Muhammad Khalifah Akbar, ‘kan?”
Pemuda yang kelihatan seusia dengan Akbar itu merogo kantong jas dalam miliknya dan menunjukkan sebuah kartu nama yang tertulis “Andi Permana”, seorang Polisi. Akbar yang melihat itu masih terdiam membisu dengan pandangan masih menatap identitas Andi.
“Mmm ... jadi begini Akbar, saya ke mari memenuhi undangan ayah angkatmu. Sekaligus berniat meringkusmu dan temanmu,” ujar Andi.
“Maaf, tapi atas dasar apa, yah? Memangnya saya dan teman saya salah apa?” tanya Akbar bingung. Andi mengeluarkan sebuah foto.
“Kenal orang ini? Terus juga gadis ini? Atau pria-pria ini?”
Alangkah terkejutnya Akbar begitu yang diletak di atas meja ternyata foto-foto teman kerja dan Vendra. Bibir Akbar bergetar, lidahnya kelu, jantungnya berdebar-debar, dan pikirannya kalut saat ini.
“Mereka sudah kami grebek dan kami tahan dengan hukuman 12 tahun penjara. Karena kau orang yang spesial bagiku, maka aku kasih kau keringanan dengan datang sendiri kepadaku dan mengakui kesalahanmu.”
Hening sejenak.
“Bagaimana jika aku tidak mau?” tantang Akbar dengan keberanian yang cukup miris.
“Yah, kalau tidak mau, maka kau harus menanggung malu seumur hidup. Karena kami pihak kepolisian akan menggrebekmu seperti pria ini,” unjuk Andi kepada foto Vendra.
“Aku masih mau menghargaimu karena mertua dan orang tua angkatmu. Jika tidak, nasibmu akan seperti penjahat lainnya. Satu lagi, jika menyerahkan diri, ajak temanmu sekalian,” titah Andi.
“Tunggu! Bisa biarkan aku menjalani kehidupanku selama sebulan ini. Setelah itu aku janji akan menyerahkan diriku. Kau sendiri tahu aku baru—“
“Aku mengerti. Baiklah, kuberi kau waktu.” Andi melihat ke pelaminan di mana Aisyah duduk di sana
“Kau beruntung. Kau tahu, sejujurnya aku juga mencintai wanita itu,” ungkap Andi.
“Apa maksudmu!” Akbar bangkit dari duduknya memukul meja karena geram.
“Serius. Dulu aku sering perhatikan dia saat lewat dari kantor. Aku tidak menyangka kedulu kau dari aku. Oh ya, kau tidak penasaran siapa aku sebenarnya?” Akbar menggeleng.
“Hujan deras? Polisi? Minuman keras? Kecelakaan? Pencurian? Kau tidak ingat?”Akbar mencoba mengingat yang dikatakan oleh Andi.
“Kau ingat waktu seorang polisi bertanya padamu apa yang ada di kantong plastik saat itu? Lalu seseorang berteriak “Pengedar narkoba!”. Saat itu aku yang menyetir mobil. Lalu pasca penggrebekan di diskotik yang kau kabur menggunakan motor dengan plat S 1509 ZS. Kemudian karena sebuah kelalaian dan mabuk saat itu, terjadi kecelakaan. Setelahnya ada kurang lebih sebulan, tindakan kriminal seperti pencurian terjadi. Identitas, plat nomor, segala sesuatu tentang dirimu menghilang dari kantor kepolisian. Lalu seseorang dilaporkan hilang, namun sebenarnya bukan hilang melainkan melarikan diri.”
“Aku tidak melarikan diri. Saat itu aku mengingat semuanya dan merasa malu untuk hidup dengan mereka lagi.” Jelas Akbar.
“Terus kenapa sekarang kembali lagi?”
“Aku berniat berhenti dari pekerjaan kotor itu?”
“Tanpa membersihkan diri”
“Maksudnya?”
“Seharusnya serahkan dulu dirimu, baru cari kerjaan halal. Diibaratkan sebuah dosa yang harus ditebus agar bersih, mengerti?”
Andi meninggalkan Akbar di tengah pikiran kalutnya. Pemuda ini tersenyum miring karena berhasil menangkap buronan yang sudah lama dicarinya. Kini pria ini menghampiri Cecep yang bersama istri dan anaknya. Tangan itu menepuk pundak Cecep membuat pria itu terkejut. Kemudian ia menyapanya dengan senyuman dan sedikit teguran hangat.
“Nikmati makanannya, yah. Juga sekalian banyakin bersama keluarga. Terus selamat juga untuk kesembuhan anak-anakmu.”
“Sayang, siapa dia?” Cecep bergidik, karena memang dia tidak tahu. Andi pergi dengan senyuman kemenangan kali ini. Pencarian buronan akhirnya tamat juga.
~Bersambung~