
“Aku melihat Tuhan dalam dirimu, jadi aku mencintamu. Aku melihat Tuhan dalam diri orang lain, jadi aku mencintainya.”
Ucapan Shah Rukh Khan dari balik televisi dengan judul film “Rab ne bana di jodi” membuat beberapa penonton cukup emosional. Contohnya saja Nia, dia terbawa suasana sehingga meneteskan ai mata saat menontonnya.
“Pagi-pagi sudah Shah Rukh Khan tontonannya. Perlu ember atau tidak?” usil Akbar menggoda Nia di tengah tangisnya.
“Ini cerita yang sedih tau. Kisah cintanya yang sulit terbalas tapi dia tetap mengejar gadis itu.”
“Hweleh! Baperan!” ejek Akbar.
“Aku mau pergi kerja dulu yah, Sayang,” ujar Cecep. Akbar pun mengikuti jejak Cecep.
“Anda bilang kalau Anda melihat Tuhan dalam diriku. Makanya Anda mencintaiku. Kalau begitu, aku juga ingin melihat Tuhan dalam diri manusia. Tolong, tunjukkan siapa Anda?” Akbar menghentikan langkahnya dan ikut menonton televisi dengan mimik wajah cukup serius.
“Ayo! Kita akan ketinggalan!” seru Cecep menyadarkan Akbar dari menontonnya.
*-*-*-*-*
Akbar sedari tadi tidak bisa berkonsentrasi dalam menyetir motornya. Masih saja ada yang mengganjal dalam benaknya. Film barusan membuatnya terkesan dengan kejujuran cinta mereka. Ia pun jadi teringat akan kisah cintanya saat bersama Aisyah, walau dirinya saat itu masih polos.
Kini pemuda yang sudah menginjak usia 2 tahun ini terus memperhatikan Aisyah dari seberang jalan. Sedang di sisi lain, Hanum terus memperhatikan dan menegur dengan menjerit memarahinya.
“Hei! Apa yang kau pandang, hah!” Akbar sadar Hanum menghampirinya. Dirinya pun langsung berlalu pergi dengan cepat.
“Kurang ajar! Suka sekali sih dia memperhatikan Aisyah. Aku yakin pasti dia punya niat jahat,” kecam Hanum. Wanita itu tidak tahu kalau di balik helem itu adalah Akbar atau orang yang akrab dengannya, Ahmad.
“Aisyah, kali ini kau harus hati-hati, Nak. Satu lagi, kalau pulang itu jangan malam-malam mulai sekarang. Atau suruh ayahmu menjemput.”
“Memangnya kenapa, Bi?” tanya Aisyah dengan polosnya.
“Seorang pria tukang pizza terus memperhatikanmu. Bibi khawatir padamu, bagaimana kalau dia punya niat jahat? Dia selalu memperhatikanmu di jam yang sama setiap harinya. Bibi jadi takut.” Aisyah hanya tersenyum dengan ucapan bibinya itu.
*-*-*-*-*
Akbar sampai di markas dan mengganti pakaiannya. Kali ini dengan celana jeans, kaos putih oblong, dibalut dengan jaket li berwarna biru pudar. Gaya yang seperti anak muda jaman sekarang yang lagi tren. Dengan rambut yang sedikit diberi pomet membuat harum semerbak keluar dari rambutnya. Sambil berkaca, sambil pula dia berpikir. Kenapa setiap ingin ke toko bibi Hanum dirinya begitu senang sekali.
“Alamakjang! Harumnya udah macam orang mau malam mingguan kau kutengok. Padahal Cuma mau ke toko bunganya kita,” ujar Cecep terheran-heran.
“Anak muda itu harus tetap wangi supaya nampak kalau terurus dan kehidupannya itu lurus,” jawab Akbar.
“Bukan. Salah besar kau kalau berpikiran begitu. Kau pikir aku ini tidak pernah muda?! Jusru kalau pakaian rapi, wangi, dan ceria, itu pasti karena satu alasan. Cinta.” Akbar terdiam masih dalam tatapan diri di depan cermin.
“Eh, Cep!” serunya mendekati temannya itu.
“Kau ingat ini hari apa?” tanya Akbar basa-basi.
“Hari rabu, ada apa?” jawab Cecep dengan bodohnya.
“Tidak ada. Lupakan. Aku hanya berharap hari ini masa depanku datang.”
“Siapa? Aisyah?”
“Eih, kau ini! Tidak mungkinlah Aisyah. Kau pikir Aisyah akan mau dengan pria brengsek sepertiku.”
“Kenapa tidak?! Aisyah buta dan dia tidak melihat prilaku juga pekerjaanmu. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin dan jika kau percaya dia jodohmu. Maka bagaimanpun Tuhan akan mempersatukan kalian.”
Bugh!
Hingga saat Cecep memukul kap depan mobil yang langsung menyadarkan pemuda tampan ini. Pria itu masuk dan Akbar dengan raut gelisah mengendarai mobil itu. Dengan musik seadanya mereka kembali ke markas. Lagi-lagi, Akbar hanya berdiam diri di mobil, membiarkan Cecep bekerja sendirian.
“Woi! Bantuin!”
Teriakan itu bahkan tidak digubris dan benar-benar bagaikan angin lalu. Akbar menghidupkan mobil tiba-tiba dan melaju tanpa kap belakang mobil yang tertutup. Cecep yang melihat itu mencoba menghentikan Akbar. Namun semua sia-sia karena Akbar sudah melaju cepat.
“Hei, Deni! Keluarkan motormu cepat!” titah Cecep.
Cecep mengejar mobil mereka yang ternyata berhenti di toko bunga Hanum. Pria itu turun dan menutup belakang mobil mereka yang masih terdapat bunga-bunga.
“Aku rasa anak ini memang gila!” protes Cecep segera masuk.
“Bi, aku ingin melamar Aisyah untuk menjadi pendamping hidupku.”
Ucapan itu membuat langkah Cecep terhenti di depan pintu masuk dan Hanum juga Aisyah terkejut tidak bisa berkata-kata lagi.
“Se—secepat itu, Nak?” Hanum kelihatan bimbang.
“Jika ingin melamar Aisyah, lebih baik langsung ke rumahnya. Lamar di hadapan ayahnya,” saran Hanum sedikit gugup.
“Baiklah!”
Akbar langsung keluar dan berhadapan dengan Cecep di depan mobilnya. Pemuda itu menghampiri temannya dan Cecep langsung mengacungkan dua jempol kepadanya. Di dalam mobil keduanya berkendara menuju rumah Aisyah.
“Kenapa berpikiran sejauh itu?” tanya Cecep.
“Kalau jodoh, makan Tuhan akan terus mempersatukan. Begitulah aku dan Aisyah yang selalu bertemu sejauh sebelum ini. Tiga kali pertemuan tidak disengaja mengubah segalanya hingga saat ini. Aku dari tadi memikirkan itu. Mungkin ini alasan Tuhan mengirim Aisyah untukku.”
“Apa?”
“Meringankan bebanku. Setiap memandang Aisyah atau membayangkannya--gadis baik itu membuat semua masalahku seolah menghindar untuk datang. Setiap melihat Aisyah tersenyum, bernyanyi, mengaji, atau bahkan melihat wajahnya saja bisa tenang. Seperti ada surga di wajahnya.”
“Wow! Temanku sekarang percaya surga itu ada?”
“Bagaimana bisa tidak? Saat aku percaya Tuhan itu ada dan aku menemukannya dalam diri Aisyah. Seolah dirinya berasal dari langit yang dikirim Tuhan untukku. Orang bilang cinta sejati itu adalah kenyamanan dan ketenangan. Bagiku itu semua adalah Aisyah.”
“Yah, kau benar juga. Aisyah gadis manis juga cantik. Baik hati maupun parasnya. Walau terdapat kekurangan, tapi bisa ditutupi dengan akhlaknya,” puji Cecep.
Akbar sampai di depan rumah orang yang dulu sempat menjadi tempatnya bernaung hidup. Pemuda ini membuka kacamata itu dan memberikannya pada Cecep.
“Loh, kenapa dibuka?”
“Aku akan datang seperti pertama kali datang ke hadapannya.”
Cecep membulatkan matanya hampir tidak percaya. Dalam hati dia mengatakan, “Apa gunanya dia mengubah diri dan nama selama ini. Jika nyatanya akan mengungkap identitas yang sama?”
Kaki itu memasuki teras dibarengi dengan ucapan salam. Kemudian dari arah dalam seorang gadis menjawabnya dan membuka pintu tersebut. Alangkah terkejutnya ia begitu melihat pria yang datang ke rumah mereka.
“Kakak ‘kan ....”
~Bersambung~