
Semua manusia yang bekerja dengan Vendra berpikir keras cara menutupi narkoba itu. Buku yang diproduksi percetakan hanya akan selesai dicetak minggu depan. Sementara pengiriman akan berlangsung esok pagi pukul 11.00 WIB.
“Bagaimana kalau pakai kulit padi?” saran Topik.
“Ide bagus. Hanya saja kurang memenuhi standart karena bisa dicurigai,” tukas Heri.
“Aku tahu! Bagaimana kalau pakai indomie?” usul Cecep.
“Pasti akan butuh kardus indomie banyak untuk pengiriman barang. Carilah yang bisa menutupi barang ini dengan peti,” sambung Akbar menyarankan.
“Apa lagi, coba? Otakku lagi buntu saat ini,” keluh Cecep.
Akbar berpikir berulang-ulang untuk kasus ini. Kira-kira apa yang mampu menyamarkan narkoba-narkoba itu? Hingga sampai setengah hari juga mereka berpikir bersamaan sampai datangnya telepon di saat Vendra sedang pergi. Akbar mengangkatnya yang ternyata telepon dari negeri tetangga. Pria dari balik telepon itu marah dan mengancam jika besok gagal, maka mereka menuntut ganti rugi seluruhnya. Akbar hanya menyetujuinya.
“Dia akan minta ganti rugi seluruhnya jika besok pengiriman gagal kembali,” ujar Akbar kepada seluruh anggota.
“Lalu, kita harus dengan apa menutupinya?” tanya seluruh anggota.
Akbar mengajak Cecep ke pasar untuk mencari barang yang dapat menutupi barang mereka. Seluruh toko dilewati dan hanya ada kesia-sian yang mereka dapat. Semunya tidak ada yang memuaskan. Produk makanan tidaklah mungkin mereka gunakan, karena bukan prosampaian buatan mereka. Yang merupakan produk asli mereka hanya buku cerita berbasis Inggris untuk diimpor. Itu pun karya Vendra sendiri, namun produk itu saat ini sedang proses pencetakkan.
Akbar memukul steer mobil dengan begitu kerasnya. Dirinya benar-benar kehilangan ide untuk itu.
“Sekarang apa?” tanya Cecep juga gelisah.
“Ini sudah sore, Bar,” lanjutnya mengeluh.
Akbar melajukan mobilnya menuju dermaga.
“Kenapa ke sini?”
“Aku akan bertanya pada mereka, di mana pemeriksaan terjadi?”
Pemuda itu turun dan menghampiri salah satu awak kapal dan bertanya-tanya sedikit. Usai info didapat, pria ini pergi dan menjalankan mobilnya kembali pulang.
“Bagaimana? Dapat informasinya?”
“Penggeledaan biasanya saat sampai di perbatasan.”
“Aku yakin yang kemarin ketahuan karena produk aqua yang tidak layak diimpor. Selama ini baik-baik saja saat buku yang sampai di sana. Kita harus cari yang diterima di perbatasan dan tidak terjadi penggeledaan keseluruhan,” usul Akbar.
“Kalau begitu cocok indomie, dong. Mereka tidak punya produk itu?”
“Jangan! Kita akan butuh ruang yang banyak untuk pasokan indomie. Jika ditaruh pada peti akan menimbulkan kecurigaan.”
“Iya, kau benar juga. Lalu dengan apa, dong?”
*-*-*-*-*
Matahari telah meninggalkan sinarnya, digantikan oleh rembulan yang cahayanya juga berasal dari matahari itu sendiri. Akbar kembali dari shalat maghribnya.
“Maghrib, isya, tidak pernah telat. Ada apa ini? Perubahan?”
“Kau mau kali ini aku yang meninggalkanmu di jalan?”
“Eh! Janganlah begitu. Aku ‘kan hanya bingung saja denganmu. Biar pekerjaan haram asal berdoa selalu tepat waktu,” goda Cecep.
Akbar menghidupkan mesin mobilnya dan berkendara untuk kembali.
“Jadi sekarang kau menganut agama apa?”
“Atheiz.”
“Loh? Kamu ini bagaimana, sih? Masa iya kamu shalat tapi tidak percaya Tuhan itu ada?” resah Cecep.
“Aku shalat hanya buat ketenangan, itu saja.”
“Untuk ketenangan kau bilang?” Akbar mengangguk.
“Adem yah kalau siap shalat?”
“Iya. Yang penting jalaninya sungguh-sungguh dan khusuk. Pikiran harus dibawa tenang.” Cecep mangut-mangut.
“Wah, setelah 20 tahun terakhir aku tidak pernah shalat. Kali ini anak muda di sampingku membuatku sadar.”
Akbar tertawa mendengar pengakuan itu. Kemudian mobil milik mereka melewati toko bunga Hanum. Tawa itu pun menghilang dan yang ada hanya keseriusan melihat keramaian toko itu. Mobil itu berhenti membuat Cecep berdehem untuk menyadarkan pelamun yang tidak bisa move on itu.
“Apa lagi ini? Move on dong, Bro!”
“Bagaimana kalau pakai bunga?”
“Maksudnya?”
“Jika bunga, pasti boleh masuk negara asing. Bisa masuk dalam peti dan fungsinya bisa sama dengan buku. Juga untuk pengeluaran tidak jauh beda,” saran Akbar.
“Wah! Ide bagus! Aku suka sekali idemu itu. Tidak kusangkah setelah ingat kau semakin pintar!” puji Cecep kegirangan.
“Jelas, dong.”
Keduanya langsung mengabarkan kabar gembira itu kepada Vendra dan langsung mendapat persetujuan. Cecep masuk ke dalam toko bunga dan memilih bunga yang cocok untuk pengiriman. Akbar menyuruh Cecep yang pergi karena ia tidak ingin Hanum menandai dirinya. Anggrek, mawar, lili, krisan, dahlia, semua jenis bunga dikirim Cecep lewat whatsappnya menuju Akbar.
“Bunga apa yang cocok menurutmu?”
Dari semua bunga, hanya krisan dan mawar yang menarik minat Akbar.
“Mawar saja. Aku rasa cocok. Dari harumnya akan menyamarkan barang kita.”
Akhirnya Cecep dan Akbar sepakat bunga mawar menjadi monopoli perdagangan mereka.
Keesokan paginya . . . . .
Semua mengemas narkoba dengan mawar pesanan. Akbar menitahkan mereka cara menyusun yang benar agar tidak ada ruang sedikitpun untuk melihat barang itu. Narkoba dilcahayanymembuperdagangan yang di atas gabus itu tersusun mawar beraneka-ragam warna. Kini dua peti diantar Akbar menaiki mobil bersama dengan Cecep. Sesampainya di sana, kapten kapal menandatangani surat perjanjian.
“Tidak akan ada kendala di perbatasan seperti kapal sebelumnya?” tanya kapten kapal.
“Dijamin akan selamat sampai tujuan,” sahut Cecep dengan sombongnya.
Semuanya menunggu telepon dari pihak seberang hingga pagi datang. Sebelum akhirnya yang ditunggu-tunggu mereka datang juga. Telepon dari pihak seberang yang langsung mendapatkan bonus dan pujian kejeniusan. Selain narkoba, bunga yang sampai di sana juga bisa laku diperjual-belikan. Jadi, pihak negara tetangga membayar double untuk bunganya juga.
“Kalau begitu, kita akan ganti monopoli perdagangan kita. Buku yang selama ini kita cetak hanya sia-sia karena pembeli sedikit, tapi bunga ini—langsung terjual. Mereka suka warna bunga kita yang cerah dan subur!” teriak Vendra kegirangan. Membuat semua juga ikut bahagia. Vendra langsung menjabat tangan Akbar.
“Jika bukan karena idemu, kita akan rugi besar. Hari ini aku akan traktir minum nanti malam. Semuanya datanglah ke diskotik, apa yang kalian mau akan aku kasih, termasuk perawan cantik,” goda Vendra, menuai kehebohan dan sorak pora-poranda dari semuanya.
Sukses besar.
Hingga akhirnya malam tiba dan semua berkumpul menunggu boss mereka datang dan masuk bersama ke tempat yang dijanjikan. Di sana, semua langsung disambut lagu dj yang memekakkan telinga tapi asik untuk didengar bagi penikmat.
“Pesanlah minuman apa yang kalian mau,” titah Vendra yang pergi menikmati tarian dengan gadis malam.
“Aku pesankan wine saja,” pinta Cecep kepada Topik.
“Kau mau apa, Bar?”
“Sama saja.”
Akbar terkekeh melihat anggota mereka yang ikutan berjoget tidak karuan. Kemudian minuman itu sampai dan Cecep menyuguhkannya pada Akbar. Tangannya tergerak mengamit dan bibirnya menyentuh ujung gelas, akan tetapi pergerakan itu terhenti setelah aroma wine menguar di indera penciumannya, membuat Akbar teringat akan kecelakaan itu. Gelas langsung terlepas begitu saja dan menyentuh lantai.
Tar!
~Bersambung~