
Sang ayah menerima. Tinggal menunggu keputusan sang anak, yakni Aisyah. Malam ini Aisyah pulang dan langsung di hadapkan sebuah pertanyaan, membuat gadis itu termanggu bingung.
“Loh, bukannya yang suka sama Aisyah itu Kak Ahmad? Kenapa Akbar yang datang melamar?”
Justru pertanyaan Aisyah membuat heran ayah dan adiknya.
“Kak, yang datang ke sini itu Kak Akbar, bukan Kak Ahmad. Kak Ahmad itu siapa, sih? Jangan-jangan Kakak sukanya sama Kak Ahmad, yah? Jadi Kakak menolak lamaran ini?” Aisyah dibuat risau. Setahunya Ahmadlah yang akan melamar.
“Maaf, Yah, bukan Aisyah menolak jodoh. Tapi Ahmad sudah dulan bicara dengan Aisyah kalau dia akan melamar Aisyah.”
“Tapi sekarang yang lebih dulu datang pada Ayah adalah Akbar dan Ahmad yang kamu ceritakan Ayah tidak menenalnya. Bahkan pribadinya Ayah juga tidak kenal.”
“Aku mengenalnya,” sambung Hanum yang ternyata juga datang.
“Aku pikir, mungkin ada kendala makanya Ahmad tidak datang Aisyah. Kak, pria yang akan melamar Aisyah ini orang yang baik pribadinya. Dia juga ramah dan berkharisma. Pekerjaannya mendekor pelaminan di gedung-gedung. Dia mengambil kontrak dengan tokoku dan mereka sering bertemu lewat aku. Cinta pemuda itu juga tulus terhadap Aisyah.”
Yunus dibuat kalut dengan semuanya. “Baiklah, kita tunggu besok saja jika dia datang.”
*-*-*-*-*
Mentari muncul dengan semburat cahaya kuning cerah yang memukau. Menembus kelopak mata pemuda tampan yang bernaung di atas kasur tebal itu. Dengan senyuman tersirat ia membuka kelopak matanya dan bersiap memulai harinya yang bernar-benar secerah hari ini. Segelas kopi sudah terhidang menemani paginya. Enaknya hidup di rumah Herman selalu membuat Akbar bahagia. Kopi di pagi hari, dengan aroma terapi yang menguar dari mesin penghasil udara segar berbau terapi yang bagus untuk kesehatan. Hidup berkemewahan dan pengakuan sebagai anak membuatnya lupa akan masa lalu yang kelam. Sedikit musik, mungkin dapat lebih menghiasi harinya.
Tring ting ting!
Akbar mengangkat teleponnya yang berdering.
“Halo!”
“Aku membencimu!” ucap orang dari balik telepon itu.
Tut! Tut! Tut!
“Halo! Halo! Apa yang kau bicarakan!”
Akbar langsung bergegas membasuh wajah dan memakai baju serta tidak lupa parfum cassablanka miliknya. Berulang kali dia mencoba menelpon Cecep tapi tidak diangkat.
“Mau ke mana, Bar? Ayo sarapan dulu!” ajak Herman.
“Nanti saja, Pak.” Kakinya terus melangkah dengan terburu-buru.
“Ada apa dengannya?” tanya Herman yang menerima gidikan dari istri dan anaknya.
Mobil van silver itu langsung melaju dengan pesatnya ke tempat tujuan. ternyata pria itu pergi ke markas mereka dan mencari Cecep di sana.
“Mana Cecep!” tanyanya pada Deni dan Aldo. Mereka hanya menggeleng tidak tahu. Kemudian mencoba bertanya pada semua orang di sana dan jawaban mereka sama.
“Oi!” –Vendra.
“Ckck! Persahabatan yang rumit. Kalian paling rekor di sini tapi saling menutupi satu sama lain,” ucapan Vendra berbelit membuat Akbar bingung.
“Dia pergi setelah tau kau pinjam uang dariku karena dirinya.” Mendengar pengakuan itu membuat Akbar naik pitam dan langsung menyerang Vendra.
“Apa yang kau lakukan!” bentak Vendra dengan kesalnya.
“Kau seharusnya diam saja, dasar brengsek!”
“Apa kau bilang!?” Vendra benar-benar kesal begitu pula Akbar yang terus mengepalkan tangannya dan siap menerjang kapan pun.
“Seharusnya kau tahu diri! Aku sudah memberimu pinjaman tapi kau bersikap semena-mena terhadapku! Dasar tidak punya otak!” Akbar melototi Vendra tanpa berkedip. Matanya kini mulai merah dan berair karena amarah.
“Apa! Kau pikir aku takut!”
Bugh!
Tubuh Vendra terhuyung menubruk dinding.
“Seharusnya aku tidak pernah berurusan dengan orang sepertimu. Terkadang aku salah menganggapmu bossku.”
“Kenapa? Kau ingin berhenti?!” ejek Vendra.
“Selama hutangmu belum lunas maka jangan harap kau bisa lepas dariku!”
Lagi-lagi tumbukan keras diterima Vendra tanpa perlawanan karena sudah terlanjur kalah dari awal. Usai meluapkannya, Akbar pergi mencari Cecep di rumah sakit. Ternyata temannya itu berada di depan pintu ruang pasien bernama Ferry.
Flasback on.
“Cep! Akbar dan kau kena masalah apa sampai dia pinjam 8 juta samaku? Tapi ya sudahlah tidak masalah, setidaknya dia tidak jadi berhenti dari perusahan besar kita, iya ‘kan?”
“Oh iya, kau tidak ingin pinjam uang juga untuk masalahmu?”
Cecep terdiam tanpa bisa berkutik lagi.
“Kenapa diam? Apa kau butuh dana yang lebih besar?” Cecep menggeleng.
“Akbar tidak punya masalah apa pun. Dia meminjam karenaku.”
“Kenapa tidak meminjam langsung padaku? Semoga anakmu cepat sembuh, yah!”
“Aku malu, makanya aku suruh dia.”
Vendra menepuk bahu Cecep dan tersenyum, kemudian berlalu pergi. Cecep mengambil ponselnya dan menelpon Akbar.
“Aku membencimu!”
Ponsel itu langsung dimatikan dan Cecep menangis dalam diam. Tanpa disadari ternyata Vendra mengintai aktifitas Cecep dari balik dinding.
“Kenapa dia kesal begitu.” Mata Vendra melirik layar terang ponsel Cecep yang tertulis kontak Akbar di sana.
“Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Drama sahabat?” Vendra terlihat senang dan tersenyum menang.
Flashback off.
Cecep menangis mengingat kejadian itu, dirinya langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Diikuti oleh Akbar yang mengejarnya dan ikut masuk. Begitu masuk Akbar langsung dikagetkan dengan Cecep yang mencabuti kabel yang terhubung daripada Ferry. Seluruh monitor langsung mati karena tidak terhubung langsung ke sumber.
“Cecep! Apa kau gila! Apa kau ingin anakmu mati!” bentak Akbar.
“Kenapa kau muncul di hadapanku! Pergi! Kau pembohong!” Cecep mendorong Akbar.
Pemuda itu langsung membuka pintu dan memanggil dokter maupun suster yang ada di sana. Sementara Cecep menggendong tubuh Ferry untuk berniat membawanya keluar. Akan tetapi dihalau oleh Akbar.
“Cep! Apa yang kau lakukan! Ferry bisa mati jika begini?”
“Minggir!” teriak Cecep.
“Hentikan!” Kali ini Akbarlah yang berteriak membuat Cecep terdiam. Keduanya saling menatap nyalang.
“Apa yang terjadi di sini?” Dokter dan Suster segera menurunkan Ferry dari gendongan ayahnya.
“Lepaskan! Aku akan bawa anakku pulang!”
“Jangan gila! Kau mau sia-siakan perjuangan Ferry untuk hidup?”
“Lebih baik dia mati karena perjuangan seorang ayah daripada hidup karena kebohongan.”
“Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Kau sedang emosi, sebaiknya ayo bicara baik-baik. Kasihan Ferry jika kau perlakukan seperti ini.”
“Pak, jika dia tidak terhubung kepada infus maka dalam satu jam kedepan dia akan kehilangan nyawanya. Ini masih masa pemulihan, Pak,” tera sang Dokter.
Akhirnya dengan berat hati dilepas juga oleh Cecep. Kini Ferry kembali ke posisi semula dan Akbar membawa Cecep pergi dari sana. Jauh dari tempat yang ramai untuk bicara berdua.
“Aku ingin minta maaf sebelumnya, tapi aku lakukan semua demi kebaikan.”
“Aku merasa malu padamu juga Vendra. Kau bilang kau mau berhenti, sementara karenaku kau akan tetap di sana dan dimanfaatkan seperti sebelumnya.”
“Apa maksudmu?”
“Saat kau pergi dulu dan tidak pernah kembali. Vendra selalu memukul kami untuk terus mencarimu sampai dapat. Selama kontrak terikat--baginya kau adalah anjing yang bisa dimanfaatkan. Aku ingin memberitahumu, tapi aku tahu kau pasti tidak akan diam saja. Hingga saat ...”
~Bersambung~