My Love From The Sky

My Love From The Sky
Pria misterius


Sebuah benda berbentuk buku dengan ukiran indah di dalamnya. Setiap membuka lembaran demi lembaran, mata itu menatap huruf asing. Lidahnya melafalkan setiap huruf meski terasa sulit sebelumnya, namun seiring berjalan waktu ia terbiasa melisankan tulisan Arab itu. Yah, buku yang ada di hadapan Akbar dan Yunus adalah iqro. Akbar belajar membaca ayat suci al-quran karena tertarik dengan lantunan merdu suara Aisyah saat melafalkan.


Usai belajar dengan ayah dari gadis yang disukai. Akbar pergi menemui Aisyah ke toko bunga bibi Hanum.


"Bi, mana Aisyah?"


"Ke masjid. Oh ya, bagaimana dengan terapimu, Bar?" tanya sang bibi penasaran.


"Katanya sudah sedikit ada peningkatan untuk aliran darah ke otak. Cuma kalau untuk mengingat masih minim," jawab Akbar.


"Semoga cepat sembuh yah, Nak."


"Terima kasih, Bi. Semoga saja doamu terwujud. Ya udah, kalau begitu Akbar mau jumpai Aisyah dulu. Dah!" Akbar berlari keluar menghampiri masjid dengan pertokoan.


"Hei! Jangan terlalu lama kalau mengajak Aisyah berbincang! Dia harus bekerja!" teriak Hanum.


"Aku mengerti, Bibi! Aku tidak akan mengecewakanmu!" balas Akbar ikutan teriak karena jarak mereka yang sudah berjauhan.


Begitu sampai di sana, dilihatnya Aisyah keluar. Meraba lantai untuk mencari sandalnya yang ia letak di pinggir guna menghapal tata letak sandal miliknya. Namun ia tidak menemukan karena area sudut tempat sandal Aisyah berada, kosong. Ternyata seorang anak menyusun setiap sandal yang di sana hingga milik Aisyah bersatu dengan lainnya.


"Loh? Ke mana, yah? Perasaan tadi di sini taruhnya?" gumam Aisyah.


Akbar menghampiri anak kecil yang menyusun sandal di sisi pintu pria. Ia menghentikan aktifitas anak itu dan mengajaknya ke hadapan Aisyah.


"Katakan di mana kau menaruh sandal Kakak ini?" intro Akbar.


"Mana aku tahu, Kak. Aku hanya menyusunnya. Aku tidak tahu sandal Kakak itu yang mana?" jawab anak itu.


"Hei! Lain kali kalau mau nyusun itu lihat-lihat!" omel Akbar.


"Udah, udah, tidak apa kok. Kamu tidak salah. Nanti juga ketemu sandalnya. Sebentar lagi mereka akan keluar dan mengambil masing-masing sandal mereka."


Anak itu melepaskan pegangan Akbar dan pergi dengan rasa sedikit kesal.


"Aisyah! Mereka akan lama karena mereka akan mengaji bersama," ujar Akbar.


"Benarkah? Ya Allah, jadi bagaimana ini?"


"Ya udah biar aku masuk dan tanya mereka saja."


"Eh tunggu! Biar aku saja yang bertanya. Kamu tunggu di situ dulu. Tidak mungkin seorang pria yang bertanya pada wanita."


Akhirnya sandal itu ketemu dan keduanya berjalan beriringan. Mulut itu masih terkatup karena tiba-tiba saja Akbar merasa canggung. Ia malu untuk mengatakan bahwa dirinya sudah bisa membaca dengan pasih ayat al-quran.


"Aisyah awas!"


Akbar menarik Aisyah untuk menghindari kubangan air dalam lubang jalan. Aisyah langsung menghindar saat tahu Akbar menyentuhnya.


"Maaf, tapi itu tadi ada jalan yang becek. Aku hanya takut baju kamu kotor karena menginjaknya." Aisyah pun tersenyum dan berterima kasih.


"Aisyah, kamu jarang bicara yah? Hanya saat aku bertanya saja kau akan bicara. Selebihnya jarang bahkan hampir tidak pernah."


"Aku tidak lupa. Aku tahu jarak yang ada di antara kita. Makanya aku menghormatimu."


"Bukan. Bukan itu, tapi tentang ingatanmu. Tidak mungkin aku bertanya saat kau sendiri tidak tahu jawabannya. Satu lagi, kau tahu aku ini tidak bisa melihat apa pun. Bahkan untuk tahu keadaan saja masih terkesan rumit, apalagi mencoba menafsirkannya sendiri. Aku tidak ingin dibully hanya karena kesok-tahuanku. Jadi, untuk masalah apa aku harus berbicara denganmu?" Akbar akhirnya mengerti dan tersenyum.


"Baguslah! Itu artinya tidak akan banyak pria yang bicara denganmu."


"Kenapa?"


"Ah, tidak ada. Ayo lanjut jalan. Jika terlalu lama bibi akan marah." Aisyah pun mengangguk. Sementara Akbar tersenyum senang karena merasa paling beruntung. Sesekali ia melirik Aisyah meski dirinya tahu itu dilarang. Namun apalah daya bagi pria yang sedang jatuh cinta.


Akhirnya Aisyah sampai dengan diantar oleh Akbar. Usai mengantar, Akbar pamit untuk pulang. Begitu sampai di pertengahan jalan yang tidak jauh dari toko bunga Hanum, seorang pria menjegat pemuda tinggi ini.


"Itu gadis yang membuatmu lupa? Sejak kapan kau masuk Islam?" Introgasi pria itu membingungkan Akbar.


"Apa maksudnya?"


"Oh iya! Aku lupa kalau kau sudah melupakanku."


"Maaf, tapi aku tidak mengerti maksudmu." Akbar mencoba pergi meninggalkan pria itu dengan sedikit kekhawatiran di hatinya. Ia takut pria itu macam-macam.


"Akbar! Kau mau ke mana? Kita harus kembali dan boss menyuruhku mencari dan membawamu."


Mendengar itu membuat akbar berlari menghindar. Tidak ingin kehilangan, pria itu ikut mengejar Akbar. Segala macam barang dagangan di pasar diberantaki Akbar guna melarikam diri dari kejaran orang tidak dikenalnya. Jeritan memanggil namanya pun tidak pernah hilang.


"Halo! Aku menemukan Akbar tapi pria itu mencoba melarikan diri. Bantu aku, boss!"


Di setiap gang rumah diselusuri kaki jenjangnya. Di ujung jalan tampak segerombolan berandal menunjuk diri Akbar yang lari dan mengejar mereka. Sedang di sisi belakang ada pria yang bicara dengannya barusan. Akbar yang terkepung langsung dengan siap siaga putar balik memilih menerjang pria yang sendirian itu daripada tiga yang di hadapan. Dengan sekuat tenaga ia menerkam pria yang tidak lain adalah Cecep. Keduanya terbanting ke tanah dan dengan segera Akbar bangkit mencoba kabur. Namun kakinya ditahan oleh Cecep membuat pemuda ini terbanting ke lantai kembali. Sejurus kemudian dua orang menangkapnya. Akbar mencoba meronta untuk dilepaskan.


"Boss! Akbar tidak bisa tenang di dalam mobil. Dia mencoba untuk kabur!"


"Anak itu sudah gila! Sebaiknya ringkus dia dan cepat bawa ke hadapanku!" bentak sang boss dari balik telpon genggam milik Cecep.


"Baik, Boss!"


"Oi! Ringkus dia!" perintah Cecep kepada dua rekan di samping Akbar.


"Lepas! Kalian penjahat yang tidak bermoral! Apa mau kalian! Lep--mmmpppthhh."


Ringkusan itu akhirnya membuat tingkat agresif Akbar merendah dan sedikit kehilangan kesadaran. Sebelum akhirnya mereka sampai dan mencampak tubuh tidak berdaya Akbar ke hadapan boss mereka.


Kelopak mata itu membuka dan menatap jendela dengan sinar mentari yang tertahan di balik kaca jendela itu. Suara tapakan sepatu terdengar jelas di telinganya. Namun tingkat kesadaran Akbar belum sempurna.


Sayup-sayup, sepatu pantofel berhenti di hadapannya. Kaki yang tampak setengah berjongkok. Kemudian sebuah tangan menepuk bahunya dan meremas kuat pakaian belakang Akbar. Menarik paksa pakaian itu guna membangkitkan tubuh lemah Akbar.


Akbar pun terbangkit dari tidurnya dan terduduk berlutut sementara bahunya dicengkram kuat. Pria itu menunjukkan wajahnya di depan mata Akbar dan terlihat jelaslah wajah bringas dan senyuman smirk itu.


"Kenapa kau mencoba kabur? Kau sudah menandatangi kontrak denganku dan itu masih terhutang. Jangan bilang kau ingin lari dengan uang itu. Tidak akan kubiarkan!"


~Bersambung~