
Akbar pulang ke rumah Herman. Si pembuka pintunya adalah Reha. Melihat Reha membuatnya merindukan ibunya dan ingin bersandar di pangkuan sang ibu. Di tengah kegundahan hati dan rasa kesalnya membuat Akbar membutuhkan sosok ibu di sampingnya.
“Bu, bolehkah Akbar memeluk ibu sebentar saja?” tanya Akbar dengan suara sendunya. Reha pun mengangguk, meski ada sesuatu yang aneh baginya melihat raut wajah letih Akbar.
“Apa ada masalah? Kau bertengkar dengan temanmu?”
“Tidak. Aku hanya sedang badmood.”
Akhirnya Akbar melepas pelukan itu dan pergi menuju kamarnya. Menyambar handuk yang tersangkut di belakang pintu untuk mandi. Sambil membiarkan air shower itu membasahi tubunya, sambil pula ia memikirkan perkataan ayahnya yang memang tidak bisa dilupakannya sedari tadi malam. Air yang mengalir membasahinya jadi tampak sia-sia karena tidak ada pergerakan lain selain diam dan mengguyur diri. Bahkan, karena terlalu banyaknya air yang membasahi kepala, wajah, hingga tubuhnya, membuat air mata itu tersamarkan.
“Kau adalah dosa terbesarku. Jadi aku ingin menghapus dosa itu dengan membuangmu.”
Kata-kata itu terngiang sampai rasanya begitu sakit di kepala dan dada. Saking tidak tahannya lagi, Akbar meluapkannya dengan menjerit dan menangis sekuat yang ia bisa. Selagi kamar mandi itu hanya ada dirinya dan kamar kosong karena dikunci.
*-*-*-*-*
Akbar tidak henti-hentinya melamun saat Hanum asik mengajaknya bicara. Membuat Hanum dan Cecep yang melihat itu saling bertanya-tanya.
“Dia kenapa?” Cecep hanya bergidik. Karena memang dirinya tidak tahu sama sekali. Hanum pun mendekati Aisyah dan membisikan sesuatu padanya.
“Ais, calon suamimu kelihatannya ada masalah. Apa kau marahi dia?”
“Apa maksud Bibi? Bibi ‘kan tahu Aisyah jarang bahkan tidak pernah berkomunikasi sejauh ini dengan Akbar,” tutur Aisyah menjelaskan.
“Iya, kau benar. Tapi wajahnya murung Bibi perhatikan. Bahkan temannya sendiri tidak tahu alasannya. Jika begitu terus bagaimana terbesarkuperhatikan kalian? Wajahnya cemberut begitu,” ketus Hanum.
“Bibi, yang namanya orang punya masalah pasti hanya akan satu hari saja murungnya. Besok juga akan berubah.”
“Eh, coba kamu sapa sana. Barangkali membantu mengobati rasa kesal di hatinya. Tanya sama dia, ada masalah apa?” saran Hanum.
“Bibi, Aisyah belum jadi istrinya. Masa iya Aisyah sok tau-tauan tentang masalah Akbar.”
“Ya udah deh, setidaknya sapa dia. Kalian ‘kan sebentar lagi akan menikah. Ayo cepat sana!” dorong si Bibi. Aisyah pun medekati Akbar dan menyapanya dengan salam dan langsung mendapat balasan.
“Mau bekerja?” tanya Aisyah gugup.
“Iya nih.”
“Kalau boleh tau, Akbar sebenarnya apa sih pekerjaannya?” kepo Aisyah, membuat Cecep yang mendengar itu sedikit jantungan. Namun pria di hadapan Aisyah ini malah tersenyum saat ditanya begitu.
“Pekerjaan aku ...,” Akbar meotong ucapannya membuat Cecep ikut gereget.
“Mencintai kamu,” goda Akbar membuat Aisyah sedikit malu untuk itu dan menundukkan pandangannya. Melihat wajah tersenyum Aisyah barusan membuat hati Akbar sedikit tentram.
“Aku nanyanya serius tau.”
“Aku lebih dari serius. Apa pun pekerjaanku, akan kupastikan kau mendapatkan yang halal.” Ungkapan itu membuat Aisyah terkesiap. Sementara Hanum yang mendengarnya senyum-senyum seolah dia iku hanyut dalam kisah romantis itu.
“Anak muda jaman sekarang. Tau saja soal merayu pasangan. Seandainya saja saat ini suamiku masih hidup, pasti kedapetan kata-kata romantis,” hayal Hanum.
“Haha! Kakak ini ada-ada saja. Sudah tua juga,” sahut Cecep menyindir.
“Ih! Aku itu masih muda, yah! Oh yah, apa kau seusia dengan Akbar juga? Tapi kelihatannya kau sudah di atas dia?”
“Usiaku 36 tahun bulan depan. Tentu saja di atas Akbar.”
“Oh begitu, anak berapa?”
“Langsung anak? Tidak nanya udah nikah dulu?”
“Tidak perlu. Usia 36 tidak membutuhkan pertanyaan seperti itu,” sindir Hanum dan disahut gelak tawa oleh Cecep.
• • • • •
“Baiklah, bisa kita mulai?” ucap Bapak Penghulu.
Akbar yang duduk sendirian di hadapan penghulu itu pun mengambil napas dalam dan membuangya lewat mulut. Kemudian menjabat tangan sang penghulu dengan degupan jantung yang menggebu-gebu. Saat penghulu tersebut mulai melantunkan janji suci, Akbar kembali mengembus napas gusarnya dan setelahnya ikut menuturkan janji suci yang dicontohkan bapak penghulu barusan. Setelah berhasil mengucap, semua saksi mengucapkan kata sah. Maka saat itu juga Akbar dan Aisyah resmi menjadi pasutri.
Aisyah keluar dari kamar dan didudukkan di samping Akbar. Semua orang mengadahkan tangan dan berdoa untuk pengantin baru itu. Keduanya bersiap untuk saling menyalim orang tua keduanya. Akbar mensungkem tangan Yunus seraya pria itu mengatakan ke telinga Akbar.
“Tolong jaga putri Bapak, yah.” Akbar yang mendengarnya tersenyum mempercayakan segalanya.
Semua berkeluaran untuk langsung menuju meja undangan dan berpesta dengan lagu-lagu yang dipersembahkan. Sementara Akbar dan Aisyah masih harus berfoto dengan keluarga mereka di dalam rumah.
Di saat masih asiknya berfoto dan tersenyum gembira, Hendrik muncul bersama dengan Alisa. Herman, Reha, Rizka, Yunus, dan Nissya bingung dengan tatapan serius Akbar menatap kedua pasang manusia yang baru datang itu.
“Ibu, Rizka rasa itu mantan Akbar,” bisik Rizka. Reha dan Herman yang dengar membulatkan matanya.
“Akbar, siapa mereka?” tanya Herman dengan mimik wajah marah. Sementara Akbar sudah mulai berkaca-kaca dan mencoba sekuat tenaga untuk tidak menangis, sehingga ingin menjawab jadi terasa susah karena napasnya sudah tercekat.
“Akbar bisa jelaskan siapa mereka?!” tanya Herman, kali ini sedikit membentak. Namun lagi-lagi Akbar enggan menjawabnya.
“Kami adalah keluarga Akbar. Aku adik dan—“
“Kalian sudah datang?” sambut Akbar dengan suara tercekat dan air mata yang coba ia tahan.
Pemuda ini menghampiri Alisa dan Hendrik lalu membawanya keluar. Duduk di antara para tamu undangan. Kemudian mengambilkan dua gelas minuman dan duduk di antara mereka.
“Kenapa Kakak tidak beritahu mereka kalau—“
“Aku sudah beritahu mereka, tapi mereka tidak kenal wajah kalian.”
“Kalau agama?”
“Tidak.”
“Kenapa? Bagaimana kalau nanti mereka terkejut?” tanya Alisa.
“Alisa, biarkan hanya dia yang mengurus dirinya. Kita ke sini hanya memenuhi undangan saja,” tegas Hendrik.
“Oh iya, mana istrimu? Setidaknya dia harus mengenal ayah mertuanya, iya ‘kan?”
“Dia tidak bisa melihat.” Hendrik dan Alisa terkejut mendengarnya.
“Kau menikahi gadis buta? Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu?” heran Hendrik.
“Aku tidak butuh fisik sempurna untuk cinta. karena yang kuharapkan hanya cinta bukan fisik. Wanita itu mampu meluluh lantakkan pikiran kotorku dan menjadikannya suci kembali.”
“Yah, itu terserahmu. Kau yang akan menjalaninya. Semoga pernikahanmu langgeng dan cepatlah punya anak. Usiamu sudah pantas punya anak dua,” ucap sang Ayah.
“Kalau begitu, aku akan pergi sekarang. Ada urusan di Jakarta Pusat dan Alisa, kau juga ada tugas kelompok, ‘kan?” Alisa menganggukinya.
“Tidak mau makan dulu?” tawar Akbar.
“Tidak perlu. Kau memang benar-benar baik, Bar. Tapi kami akan makan di rumah.”
“Pa!” seru Akbar menghentikan langkah Hendrik.
“Setidaknya salam ayah Aisyah dan Pak Herman sebelum pulang.”
“Ah iya, kau benar. Untung diingatkan. Sebagai partner keluarga setidaknya harus saling menyapa.” Hendrik tersenyum dan menepuk pundak Akbar seraya berjalan menghampiri keluarga Herman dan Yunus.
~Bersambung~