
Hari demi hari berlalu, bulan April berganti dengan Mei. Bulan yang ditunggu-tunggu oleh Akbar setelah dulu dilupakannya karena yang merayakan hanya Cecep. Namun karena ada keinginan di hati untuk berhijrah, maka semua berubah tiba-tiba. Jarinya menghitung hari yang tinggal 4 hari lagi.
“6 Mei akan hadir Akbar, sabarlah menanti.”
*-*-*-*-*
Sepeda motor itu melaju mengikuti google map. Dengan setelan pakaian pengantar pizza Akbar menyamar. Dia melamar kerja di toko Pizza Plaza sebagai penyamaran dari aksi sebenarnya. Vendra sang bos benar-benar dibuat takjub oleh pemuda cerdas itu. Akalnya selalu luar biasa. Kini ia pulang ke markas dengan sebongkah uang hasil menjual narkoba.
“Kau memang cerdas. Setelah balik dari Cina kau semakin pintar,” puji Vendra.
“Kau salah. Justru aku begini karena aku akan berhenti. Jadi sebelum aku berheti dari pekerjaan kotor ini, polisi tidak boleh tau siapa itu Muhammad Khalifah Akbar Daulay.”
“Hahaha! Sombong sekali kau!”
“Ngomong-ngomong, kau mengundangku atau tidak?” Sebuah kartu undangan dicampak Vendra di atas mejanya terseret menuju hadapan Akbar.
“Wow! Fantastic!”
“Kira-kira kapan nyusul?”
“Nanti saja. Kau juga akan tau saat undangan beratas-namakan Akbar muncul mengundangmu.”
“Baguslah, aku akan mendoakanmu.”
Akbar bangkit dari duduknya, baru dua langkah berjalan Vendra kembali berucap.
“Ngomong-ngomong kau bawa pizza? Kebetulan aku belum makan siang.”
“Maaf, Tuan, tapi aku hanya mengantar pesanan bukan pertanyaan. Kau pesan dulu baru aku antar. Mudah ‘kan.”
“Kau ini—aku bertanya serius kau jawabnya main-main”
“Dua rius.”
“Oh iya!” Lagi-lagi langkah Akbar terhenti karena pertanyaan konyol Vendra yang tiada habisnya.
“Kenapa kau ingin berhenti?”
“Kenapa? Kau takut kehilanganku?”
“Iya. Dan bisakah kau tetap tinggal? Semua pekerjaku tidak ada yang secerdas kau.”
“Aku tidak bisa. Karena aku ingin bebas setelah ini. Maaf, kalau mungkin mengecewakanmu. Aku pergi!”
“Tapi Akbar ... hei! Hei! Akbar!” Panggilannya tidak digubris pria itu.
Cecep menghentikan langkah Akbar dengan berdiri di hadapannya. Pria itu mendongak untuk melihat pria yang lebih tinggi darinya itu.
“Kau sungguh ingin berhenti?”
“Kenapa? Cep, bukannya kamu sendiri yang bilang samaku. Kalau memang taat agama jangan ngerjain kerjaan haram. Nah, sekarang aku mau berhenti kenapa muka kamu sedih begitu?” Cecep mengubah mimik wajahnya.
“Baguslah, Sobat. Aku akan coba kembali hidup tanpamu seperti sebelumnya.” Akbar tersenyum simpul dan menepuk pundak Cecep seraya pergi.
Akbar pergi karena menerima panggilan mengantar pizza. Kembali ke Pizza Plaza dan mengambil pesanan yang akan diantar ke alamat Diponegoro nomor 14. Motor pizza meluncur menuju tempat. Sesampainya di sana, Akbar dikejutkan dengan orang yang memesan pizza. Rizka dan teman-teman kuliahnya. Pemuda ini menghampiri Rizka dengan wajah tertunduk.
“Makasih ya, Kak. Ini uangnya!” serah Rizka. Akbar hanya mengangguk dan saat berbalik.
“Kak! Bisa minta nomor handphonenya? Temen aku katanya suka sama Kakak,” ujar Rizka.
“Euhh, maaf, tapi saya sudah punya istri,” bohong Akbar.
“Ops! Udah punya istri rupanya. Maaf yah, Kak.”
Akhirnya Akbar bisa pergi sekarang. Saat berkendara melewati toko Hanum. Dia berhenti sejenak untuk memperhatikan toko itu. Dengan tangan yang menjadi penopang dagunya dan wajah tertarik miliknya.
“Entahlah! Terkadang aku merasa perkataan Cecep ada benarnya. Aku belum bisa melupakan rasaku. Cinta tulus yang dulu pernah aku rasakan belum bisa sirna. Cinta pertama memang sulit dilupakan. Aku mencintaimu, Aisyah,” monolog panjang Akbar.
Hatinya berniat menghampiri toko tersebut, akan tetapi terhenti di kala ia ingat bahwa waktu itu ia mengakui pada bibi Hanum bahwa dirinya seorang Wedding Organizer (WO). Tidak mungkin sekarang dia datang dengan profesi sebagai kurir pizza. Napas kesal pun keluar dari mulutnya bagaikan semburan napas panas seekor naga. Saat kembali melihat ke arah toko, ia dikagetkan dengan Hanum yang terus menatapnya. Akbar langsung menghidupkan mesin motornya dan pergi bagaikan kilat.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore dan Akbar pulang dari sipnya bekerja. Ia kembali ke markas utama untuk mengambil pesanan dan kali ini ia menggunakan pakaian anak kuliahan dengan membawa ransel di punggungnya. Dengan kacamata dan model rambut seperti gaya anak kuliah kekinian. Saat malam pria ini kembali berubah menjadi Sales kosmetik. Itu juga yang diajarkan Akbar kepada anggota yang lain.
“Jadi sebelum aku berhenti. Aku akan membuat kalian tidak ketahuan seperti teman-teman kita terdahulu,” ujar Akbar.
“Wah, kayaknya udah pengalaman lolos dari kejaran nih Kak Akbar,” puji Dimas.
“Haha! Kau masih ingat saja. Padahal udah lama banget itu.”
“Oke! Jadi gini, kalian akan tampil di siang hari jadi anak kuliah dan malam hari jadi Sales kosmetik.”
“Tunggu, Kak. Masa iya malam-malam jadi Sales, nanti dicurigai polisi lagi kitanya,” protes Deni.
“Tidak mungkin kusarankan kalian kuliah malam dan jadi Sales siang, itu lebih tidak masuk akal dan dicurigai,” tukas Akbar.
“Maksudnya?”
“Jadi begini yah, Deni. Kalau sekiranya saat malam kalian ditanyai polisi, kenapa jual kosmetik malam-malam begini? Kalian tinggal jawab satu jawaban, yaitu panas dan kami harus kuliah di siang hari. Sementara kalian bekerja di malam hari untuk memenuhi uang kuliah. Anggaplah kalian orang yang benar-benar tidak mampu dan harus bekerja. Satu lagi, jika mereka bertanya kuliah di mana? Jawabannya satu, yaitu UJS (Universitas Jakarta Selatan). Sekarang jelas?”
Semua mengangguk menyetujui dan bersorak senang dengan ide Akbar. Sementara Cecep yang hanya bertugas menghitung pemasokan, pengeluaran, pengiriman eksternal, dan pembayaran lewat ATM ataupun COD, hanya bisa tersenyum.
“Terus, untuk masalah pengantaran eksternal bagaimana? Siapa temanku untuk mengantar barang-barang itu? Juga bagaimana jika toko Hanum bertanya tentangmu? Soalnya kau begitu dekat dengannya,” ulas Cecep.
“Masalah itu aman. Aku akan ada bersamamu setiap pembelian bunga. Jadi jangan khawatir, semua akan baik-baik saja dan berjalan seperti garis edarnya tanpaku.”
“Kau gila, Bar—“
“Yah! Aku memang gila.”
Malam penuh bintang ini tampak indah di mata Akbar. Dirinya sengaja mematikan lampu depan hanya untuk dapat melihat bintang. Besok adalah hari besar yang ditunggu-tunggunya dan ia berharap akan mendapatkan jodoh saat itu juga. Isya tadi dia berdoa agar doanya dikabulkan esok pagi dan akan memenuhi janjinya.
“Eh, tunggu! Bagaimana kalau gadis yang kulihat beragama Kristen?” tanyanya pada diri sendiri.
Ia kembali dibuat berpikir.
“Ah, yang penting cari jalan amannya saja,” ucapnya seolah semua tampak biasa saja.
“Tapi aku mencinta Aisyah.”
Akbar kelihatan murung. Sejujurnya dia hanya mengharapkan Aisyah dan mencoba berubah baik demi Aisyah. Namun dirinya juga sadar dengan kebohongannya yang tidak pantas bagi Aisyah.
“Wanita baik haruslah dengan pria baik. Aku mengerti. Yah, dia bukan jodohku dan jangan berharap, Bar. Takutnya hanya penyesalan saat harapanmu sia-sia.” Lagi-lagi Akbar bermonolog. Membuat beberapa orang yang lewat depan rumah Cecep bergeleng ragu terhadap Akbar. Ganteng-ganteng tapi ....
~Bersambung~