My Love From The Sky

My Love From The Sky
Kenangan


Kegaduhan terjadi membuat para pekerja di sana mencoba mengamankan Akbar dan Vendra. Semua dibuat bingung dengan perkelahian tanpa sebab itu.


“Kau pikir aku ini pria yang memperalat wanita untuk kesenangan, huh!” protes Akbar.


“Kenapa? Bukankah jika kau memasukkan orang Islam ke agamamu. Kau akan mendapat kemewahan, itu incaranmu, ‘kan!” Vendra semakin membuat suasana memanas.


“Heakk! Kurang ajar kau! Lepas! Biar kuhabisi dia!” erang Akbar saat seseorang mencoba menghalaunya menghajar Vendra.


“Cukup! Hentikan! Apa-apaan kalian ini! Akbar, kau tidak sadar dia siapa? Jika dia memecatmu kau akan bekerja apa?!” sambung Cecep memarahi temannya itu.


“Oh ya? Lalu beranikah pria itu memecatku! Kalau begitu pecat aku sekarang! Ayo, pecat aku!” tantang Akbar.


“Pengecut!”


Akbar melepaskan diri dari pegangan para anggota dan pergi dari sana. Yah, benar saja kata Akbar, Vendra tidak akan mampu memecat pemuda tangguh itu karena selama ini Akbar yang membantu usahanya dan hanya dia yang bisa antar barang ke pelabuhan melewati pemeriksaan polisi di jalan tol. Akbar juga yang mempunya ide cermat yang membuatnya sukses besar dalam seminggu ini.


“Panggil dia kembali!” titahnya pada Cecep.


Cecep keluar mencari Akbar tapi tidak menemukannya. Ia pun menelpon pemuda itu tapi tidak ada jawaban. Justru nomor miliknya dirijek olek Akbar. Bahkan untuk mengirim pesan saja susah. Ternyata pria yang dicari ada di samping ruko mereka, tepatnya wartek untuk sarapan pagi.


Pukul 10.00 Akbar belum juga ditemukan. Mereka menunggu-nunggu pemuda itu untuk antar barang. Vendra mengusek-usek rambutnya menyesal membuat kegaduhan itu. Kini dirinya dibuat kesal karena hilangnya Akbar.


• • •


Cecep kembali dan menggeleng karena tidak menemukan Akbar juga. Padahal sudah keliling-keliling dia mencari. Alhasil, tamparan keras yang diterimanya.


“Dilacak ponselnya! Percuma sekarang kalian pakai handphone modern kalau tidak ada juga fungsinya! Mau saya ganti lagi seperti yang lama, tulalit itu!”


“Maaf, Boss, tapi Akbar non-aktifi handphone-nya,” jawab Cecep.


“Kalian nyari aku?” tanya santai Akbar yang muncul dari belakang mereka. Semua akhirnya bernapas lega.


“Udah tau butuh. Tapi cari perkara,” sindir Akbar terhadap Vendra.


“Okay, aku minta maaf soal tadi. Tapi dari mana saja kau? Mereka mencarimu ke mana-mana.” Akhirnya Vendra mengaku salah.


“Ke mana saja? Wartek sebelah tidak diperiksa tuh. Aku ‘kan lapar, wajar aku cari sarapan pagi.”


*-*-*-*-*


Sambil menunggu transaksi selesai, seperti biasanya, Akbar menghisap seputung rokok. Saat mencampak mancis di bak mobil, ia menemukan ponsel lamanya yang masih menyimpan kenangan masa lalu juga nomor ayah dan adiknya. Di samping itu, mainan pemberian Alisa masih saja tergantung di ujung kanan ponselnya. Mainan lucu itu sontak saja membuat Akbar menangis karena merindukan adiknya. Ponsel itu dicas olehnya untuk memenuhkan batre ponsel itu sendiri.


Tok!


Tok!


Cecep mengetuk kaca mobil pengemudi. “Ambilkan kalkulator!”


“Apa masih lama?”


“Sebentar lagi, dengarkan musik saja dulu,” saran Cecep.


Akbar mulai bosan dan mencari udara segar dengan berjalan di sekitar dermaga. Di pesisir pantai itu sendiri, Akbar dibuat takjub dengan anak-anak kecil yang ceria berenang bersama. Canda tawa mereka membuat Akbar iri yang dirinya tidak pernah dapatkan dahulu. Hidup terkekang di masa kanak-kanak, membuat masa kecilnya terkesan suram. Juga banyak sepasang kekasih yang hanting di pantai itu, menuai buah kekaguman sekaligus kecemburuan. Mereka terkesan romantis padahal dari usia masih di bawah Akbar tapi sudah dipenuhi benih-benih cinta. Perihal itu sedikit membuat Akbar kecewa.


“Ahmad!”


Seruan itu membuat Akbar menoleh. Ternyata Cecep yang memberi kode pergi karena telah selesai dari tugas. Sontak saja menikmati pemandangannya jadi terhenti.


“Setir, yah?” pinta Akbar.


“Kok aku?!”


“Aku lelah. Gantian dong, mau bosi juga.”


“Bosi, apa itu?”


Mobil hendak memasuki jalan tol Jakarta Selatan. Di sana mereka barter tempat kembali karena ada razia. Polisi tersebut meminta surat berkendara milik mobil plat S 8809 ZL. Polisi itu menelisik isi surat mobil, KTP, dan SIM.


“Kalian dari mana?” tanya polisi tersebut.


“Kenapa, Pak?” tanya Akbar kembali.


“Dari mana?”


“Jakarta Utara. Memangnya kenapa, Pak?”


“Ngapai ke Jakarta Utara?”


“Apa itu penting bagi Bapak saat ini?”


“Jawab saja!” tegas polisi itu kembali.


“Melayat! Nenek saya meninggal.”


“Melayat pakai jas? Turun kalian berdua!” bentak polisi tersebut.


“Apa lagi sih maunya Bapak ini?” gerutu Akbar kesal dan turun dari motornya.


Begitu keluar dari mobil seluruh tubuh Akbar diperiksa dari atas sampai paha atas. Memeriksa adakah benda tajam yang terselip.


“Bapak ngapai, sih?” tanya Akbar kesal.


“Jika layat kenapa pakai jas? Kamu kira ini budaya barat? Agama islam tapi melayat pakai jas hitam. Ini pemalsuan KTP, yah?” tebak Polisi itu. Akbar langsung terkesiap mendengar pertanyaan itu.


“Itu asli, Pak. Itu memang nama, tanggal lahir, serta agamanya.” Cecep ingin membuat polisi tersebut percaya.


“Terus kenapa melayat harus pakai jas?” tanya PakPol tersebut kembali.


“Begini yah, Pak! Saya ini pekerja kantoran yang bekerja dalam bidang usaha percetakan buku. Saya tadi pagi masih bekera tapi dapat informasi kalau nenek saya meninggal. Saya tidak sempat ganti baju dan langsung tembak pergi. Apa itu jelas?!” ujar Akbar sedikit menggeram kesal.


“Oh begitu, baiklah kalian boleh pergi. Maaf kalau saya salah prediksi.”


Akbar langsung merampas seluruh surat di tangan polisi dan menyegerakan pergi dari sana. Polisi tersebut mendatangi rekannya yang satu lagi. Menepuk pundak pria itu.


“Kemarin Andi cari anak muda bernama Akbar, ‘kan?”


Ternyata polisi yang memeriksa Akbar tadi adalah Burhan. Polisi yang menangani kasus tabrak lari dan juga kehilangan formulir serta bukti identitas korban. Namun dia masih mengingat nama lengkap korban. Mendengar itu, Jaka langsung menelpon Andi.


“Pak! Pria yang kau cari sudah ditemukan—“


“Eh, tunggu. Nama lengkapnya beda. Tidak ada nama Akbar tertera di sana,” seru Burhan plin-plan.


“Alah, Pak, bagaimana sih? Kasih informasinya yang benar dong. Jadi itu pria yang dicari Pak Andi, bukan?”


“Entahlah. Dari wajah udah beda. Tapi nama hampir sama, ada Daulay-nya.”


“Ehm, Bapak! Daulay di mana-mana memang banyak! Herk!” kesal Jaka.


“Tidak jadi, Pak. Laporan batal karena tidak jelas kebenarannya,” lapor Jaka kepada Andi.


Sedang dari balik telepon Andi kelihatan berpikir. Ia pun menyuruh Burhan pulang ke kantor untuk ditanyai olehnya. Soalnya dari penelitian, ada keganjalan pada semua itu.


“Menghilangnya berkas tabrak lari bulan lalu, identitas, juga plat nomor motor. Bisa jadi dia menyamar saat ini.” Terka Andi diambang kepastian.


Ia benar-benar yakin itu adanya. Identitas palsu untuk kehidupan baru. Seluruh data Akbar tersimpan dalam memori ingatannya. Namun dalam kasus ini tidak ada pihak kedua yang tahu, selain Andi seorang.


“Sebelum kuketahui kepastian dirimu. Aku masih akan menjaga identitas aslimu. Tapi ingatlah! Waktu bersembunyimu akan segera berakhir,” gumam Andi.


~Bersambung~