
Akbar menatap uang itu dan melihat ke arah pengemis di sampingnya. Ia berjongkok di hadapan pengemis tersebut dan menggulung uang itu lalu memberikannya. Pengemis itu sangat berterima kasih pada Akbar. Ulasan senyum adalah jawaban kemenangan.
"Kau tidak berubah, Kak!"
Akbar bangkit dari jongkoknya dan menatap wanita yang sedari tadi terus memandang dirinya.
"Kau siapa?" Wanita itu malah terkekeh dengan buliran air mata.
"Apa ini? Kau mencoba melupakan semuanya?tersebuitu kau sudah membenciku sehingga mencoba melupakanku?"
"Maaf, apa kau mengenalku?" Alisa memeluk Akbar. Membuat kebingungan besar di hati pemuda ini.
"Alisa!"
Panggilan seseorang membuat Alisa terkesiap. Sebab, di belakang Akbar berdiri sang ayah yang menatap tajam padanya. Hendrik melangkah mendekati Alisa.
Tring ting ting!
Drett!
Akbar terkejut karena ponselnya yang berbunyi dan bergetar di dalam saku celananya. Ia pun mengambil ponsel itu dan membelakangi Alisa juga sang ayah. Akbar bingung dengan ponsel itu. Ia mencoba menekan tapi alhasil ditolaknya.
"Oh, jadi begitu cara mematikannya?" pikir Akbar.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Papa cari kamu ke mana-mana? Siapa dia, apa dia pacarmu?"
Kata-kata itu seolah pernah didengar telinga Akbar sebelumnya. Pemuda tangguh ini pun menghampiri Alisa dan ayahnya. Begitu menoleh ke arah pemuda ini, Hendrik kaget bukan kepalang. Matanya membelalak sempurna. Anak yang ia coba tinggalkan, kini menemukam keberadaannya.
"Aku seperti pernah mendengar kata-kata Bapak barusan. Tapi ... di mana, yah?" Akbar mencoba bertanya.
"Bapak?" Hendrik terheran.
"Apa yang kau lakukan di sini? Aku mencarimu ke mana-mana? Siapa dia, dan apakah dia pacarmu?" tutur Akbar mengulang ucapan Hendrik.
"Itu perkataan yang pernah kudengar sebelumnya. Sepertinya di tempat keramaian yang sama. Ada seorang anak kecil, wanita dewasa dan pria dewasa. Perkataan yang sama dan tidak berubah." Mata Akbar meneliti setiap detil pasar tersebut.
Hendrik tampak ketakutan dan langsung mengajak Alisa pergi. Alisa seperti menolak dan ia menghadap sang kakak.
"Kak, kau tidak mungkin lupa denganku 'kan? Katakan ini hanya sandiwara. Aku tahu kau mungkin marah tapi tidak mungkin seorang Kakak tega melupakan Adik apalagi Ayahnya!" ujar lantang Alisa.
"Ayah?" Akbar masih tampak bingung.
"Alisa! Ayo pulang! Dengan siapa kau bicara? Dia bukan seperti yang kau pikirkan. Lihat saja, dia bahkan tidak mengenalimu. Ayo pergi!" paksa Hendrik.
"Tidak, Pa ... kau pasti mengingatku 'kan, Kak?! Ayo katakan!" Akbar menggeleng.
"Kau siapa?" Alisa terdiam dalam tangisnya.
"Sudah?! Apa sudah dapat jawabannya? Ayo pergi!" Alisa pun dipaksa mengikuti langkah Hendrik. Sesekali wajahnya menoleh ke belakang untuk melihat Akbar. Hingga keramaian menggelapkan jalan dan siluet Akbar hilang dari pelupuk matanya.
"Sadarlah Alisa! Sudah jelas dia bukan Kakakmu. Jika dia Akbar pasti dia mengenal kita." Alisa menggeleng.
"Tidak. Itu memang Kak Akbar ...,"
"Oh, ayolah Alisa."
"Dia membenci kita. Makanya dia berpura-pura tidak mengenal kita. Aku merindukan kakakku, Pa."
"Bagus! Itu bagus jika dia melupakan kita. Jadi belajarlah untuk melupakannya juga. Dia bukan kakakmu, mengerti!"
"Dia tetap kakakku!" bentak Alisa.
"Kau!" Mata nyalak ditunjukkan oleh Hendrik.
"Apa karena anak di luar nikah, kau jadikan kak Akbar bukan anakmu? Bagaimana jika nyatanya aku yang di posisinya? Itu artinya kau juga akan melakukan hal sama, iya!?" Hendrik terdiam.
"Papa yang buat kesalahan tapi kenapa harus Kak Akbar yang menerima resikonya?! Ini tidak adil, Pa. Tidak adil! Tuhan akan murka dengan Papa, karena menelantarkan Anak sendiri!"
Alisa pergi dari hadapan sang ayah dan kembali ke tempat pertemuan mereka tadi. Namun sang kakak sudah tidak ada. Alisa menangis sejadi-jadinya membuat semua pasang mata melihatnya.
*-*-*-*-*
"Kau darimana saja tadi? Katanya malas masuk karena ramai?" tanya Herman kepada Akbar.
"Tadi ada seorang anak kecil mencari ibunya. Jadi aku bantu dia menemukanya."
"Jadi ditemukan?"
"Tentu saja."
Mobil itu melaju pergi menyisahkan Alisa yang lelah berlari. Dari spion kiri, Akbar melihat gadis bernama Alisa tampak mengejar kendaraannya. Namun mata itu hanya bisa melihat karena ia tidak mengenal.
"Pak!" seru Akbar. Herman berdehem tanda dia siap mendengarkan perkataan Akbar.
"Apa aku punya Adik?"
"Kenapa bertanya begitu?"
"Entahlah. Tadi ada seorang wanita datang padaku mengatakan bahwa dia adikku." Mobil dihentikan mendadak oleh pak Herman.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?! Sebaiknya kita kembali dan cari wanita itu. Kau akan menemukan keluargamu tapi malah diam saja. Kau ini!" ujar Herman sedikit kesal sambil mencoba putar balik.
"Tapi seorang pria datang dan mengatakan aku bukanlah kakaknya."
"Apa?!"
"Wanita itu meyebut dia 'Pa'. Sepertinya itu ayahnya. Jika memang mereka keluargaku, kenapa Ayahku sendiri mengatakan tidak mengenalku. Aku rasa pria itu benar, aku hanya mirip dengan Kakak wanita itu," ujarnya menerangkan kejadian.
"Lagipula pria yang bertemu denganku di rumah sakit bilang, ayahku meninggalkanku. Tidak mungkin juga 'kan ada seorang ayah yang tidak mengakui anaknya?" Ucapan santai itu membuat mata Herman berkaca-kaca. Ia membawa Akbar ke pelukannya.
"Mulai sekarang kau adalah anakku. Anggaplah aku ayahmu."
"Benarkah? Apa itu boleh?" Herman mengangguk. Akbar pun yang sangat senang memeluk erat pria paruh baya itu. Kemudian sebuah klakson mobil di belakang mereka berbunyi. Ternyata lampu merah sudah berganti. Menyadarkan kedua pria berbeda umur itu.
"Aku senang mempunyai ayah kembali," akui Akbar.
"Kita mampir tempat Aisyah?" tawar herman.
"Wah! Aku rasa itu ide bagus!"
"Kau tampak senang sekali. Sepertinya kau ingin cepat ingat, yah?" Akbar mengangguk cepat dengan penuh senang.
Sesampainya di depan rumah Aisyah. Akbar langsung turun dan mendapati taman bunga di halaman rumah gadis itu. Sementara Herman menyapa temannya, Akbar asik menelisik tiap bunga yang ditanam adik Aisyah. Ia pun berjongkok di samping gadis itu.
"Apa namanya ini?" tanya Akbar begitu polosnya menunjuk sebuah mawar.
"Maksudnya?"
"Aku lupa dengan namanya. Tapi aku seperti menyukai makhluk hidup yang satu ini. Dari semua yang ada, hanya ini yang memikatku."
"Oh, itu. Namanya bunga mawar. Ini jenis tumbuhan, Kak." Gadis itu memperhatikan wajah Akbar.
"Kakak sedang sakit atau memang lupa?"
"Aku sedang sakit yang sering lupa itu ... apa namanya?"
"Itu bukan penyakit sering lupa, Kak--tapi memang penyakit lupa." Akbar pun tersenyum kikuk.
"Kenapa Kakak suka mawar?" tanya gadis itu kepadanya.
"Karena mawar ini kesukaan ibuku."
Ulasan senyum merebak itu seketika memudar tatkala . . . .
~Bersambung~