My Love From The Sky

My Love From The Sky
Teman lama


Tatapan itu kosong sedari tadi. Entah apa yang di pikirannya, bahkan untuk bertanya saja membuat Herman segan. Mungkin ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Akbar, makanya dia terus melamun.


"Kita ke tempat Aisyah?" Akbar mengangguk.


"Lagipula aku sudah janji semalam."


Herman pun mengerti dan melaju ke rumah Aisyah. Di sana, Akbar melihat gadis itu menata rapi pekarangan rumahnya. Si pecinta bunga itu tidak sadar kalau Akbar sudah di hadapannya yang sedang menikmati pegangan pada kuntum mawar itu. Aisyah menutup matanya dan bersholawat dengan lantunan merdu membuat Akbar tersenyum, akan tetapi sesaat semua senyumnya hilang. Segerap ingatan muncul tanpa diminta dan itu sangat jelas dalam matanya.


Seorang wanita yang mengelus kepala anak kecil. Dengan lantunan indah yang keluar dari mulutnya. Menidurkan anak umur 6 tahun ini dengan cinta yang tulus dari seorang ibu.


"Akbar! Aisyah!" Panggilan itu menyadarkan Akbar.


"Ayo masuk dan makan siang!" panggil Yunus, ayah Aisyah.


"Akbar sudah datang?" tanya Aisyah.


"Iya, Nak, dia di hadapanmu!" teriak sang ayah karena jarak yang cukup jauh.


Aisyah kelihatan terkejut mendengarnya dan tersipu malu.


"Kau sudah lama di depanku?" tanya Aisyah.


"Aisyah! Bisa bernyanyi seperti tadi lagi?" Aisyah mengernyit heran.


"Menyanyi? Itu sholawat," perjelas Aisyah.


"Iya. Begitulah. Bisa tidak?"


Aisyah tersenyum dan menuruti kemauan Akbar. Begitu mendengar itu sekali lagi, jantung Akbar berdegup kencang menatap Aisyah.


"Aku mencintaimu, Aisyah." Ungkapnya yang membuat Aisyah terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya. Keheningan menyapa keduanya dan hanya ada sepoian angin yang masuk ke telinga.


*-*-*-*-*


Mobil itu berhenti di halaman rumah aslinya. Yah, mobil milik Herman dan dari dalamnya keluar sang pemilik dan pemuda tangguh, Akbar. Begitu turun, Herman disapa oleh Cecep.


"Eoh? Kamu lagi," ujar Herman kaget.


"Selamat siang, Pak," ucap Cecep.


"Akbar," sapanya juga.


"Mau apa ke sini? Kalau begitu masuk dulu, ayo," tawar Herman menyuguhkan.


Cecep pun menerima suguhan itu dan segelas teh terhidang di atas meja.


"Begini, Pak ... saya mau mengajak Akbar jalan-jalan sebentar dan mencari sedikit tentang ingatannya. Aku mengenal Akbar, jadi ada kemungkinan aku bisa membantu," pinta Cecep.


"Oh begitu. Bagus dong, pergilah. Aku juga berpikir membuat Akbar cepat mengingat dengan sering mengantarnya ke rumah temanku. Soalnya Akbar bilang dia mengenal anak dari temanku itu. Demi kebaikan Akbar, lakukanlah, Nak," tutur Herman senang.


Akbar masuk ke dalam mobil bersama dengan Cecep. Ternyata pria ini mengajak Akbar ke ruko tempat mereka bekerja. Di sana, mata jeli Akbar dapat melihat obat-obatan terlarang dan sabu-sabu tertata rapi di rak.


"Ini pekerjaan kita. Apa kau ingat?" Sekilas Akbar teringat dengan barang-barang itu.


"Kita adalah penjual obat-obatan terlarang. Kita penjual barang haram. Cobalah untuk mengingatnya--"


"Aku baru saja mengingat seorang ibu bersholawat untuk menidurkan anaknya. Aku merasa, aku berasal dari keluarga baik-baik. Jadi bagaimana mungkin ini adalah pekerjaanku."


"Sholawat?" Cecep menyatukan kedua alisnya.


"Kau sedang hilang ingatan. Bisa jadi ingatan saat kau sedang mengintip di rumah seseorang."


"Tidak. Itu begitu jelas dalam ingatanku. Aku dapat merasakan elusan lembut tangan seorang wanita."


"Tidak mungkin. Bagaimana bisa Kristen menjadi Islam. Kau mengatakan padaku, sejak lahir kau seorang Nasrani."


"Maksudnya?" Kali ini Akbar bingung.


Cecep mengambil semua yang ia curi dari kantor polisi. Termasuk kalung salib yang dia dapat dalam bagasi motor dan sekantung plastik uang, juga dompet.


"Lihat KTP milikmu dan kalung itu."


Akbar memeriksa dompet miliknya dan menemukan kartu nama kependudukannya. Di sana memang tertulis bahwa agamanya Kristen.


"Lalu apa maksudnya ini semua?" Akbar meminta kejelasan.


"Agama Kristen dan Islam itu berbeda, Akbar. Oke, tidak masalah kalau kau melakukan tindakan aneh sebelumnya. Aku maklum karena kau amnesia. Tapi setelah ini, jangan lagi. Kau dan Aisyah beda agama. Kecuali, kau ingin masuk islam dan meminta Aisyah mengajari akan kuperbolehkan. Tapi untuk saat ini, aku akan meluruskan yang salah. Kau seharusnya tidak ke masjid, tapi gereja," jelas Cecep panjang lebar.


"Tidak mungkin. Bagaimana ceritanya bisa seperti ini? Aku--aku merasa bahwa yang barusan muncul dalam ingatan memanglah aku dan ibuku--"


"Akbar, aku tahu hidupmu sulit. Jangan membebaninya lagi," potong Cecep menepuk pundak Akbar.


"Tidak! Tidak mungkin! Tidak!"


"Bar! Sadarlah! Hei!"


Akbar menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua telapak tangannya dan berteriak histeris membuat Cecep sebisa mungkin menenangkannya.


"Tidak mungin!"


"Akbar tenanglah! Mungkin ini berat, tapi setelah kau ingat kembali semua akan jadi jelas dan aman. Ini hanya prosesnya, jangan histeris! Tetap tenang! Tidak akan ada yang berubah."


"Antar aku pulang!" pinta Akbar memaksa.


"Antar aku pulang!" bentaknya sekali lagi.


"Baiklah, akan aku antar!"


Mobil itu pun melaju untuk mengantarkan Akbar pulang. Pemuda malang ini seperti orang gila yang ketakutan. Dia menggigiti ujung kuku ibu jarinya seraya menatap kosong luar jendela. Sedang di balik kemacetan lampu lalu lintas, polisi mulai berbondong-bondong masuk ke jalanan dan merazia siapa pun yang tidak membawa surat berkendara.


"Sial! Aku tidak punya SIM," umpat Cecep.


Cecep tersadar bahwa Akbar memiliki SIM dan beruntung SIM itu baru diambilnya kemarin malam. Jika tidak, pasti akan ditilang.


"Akbar!" serunya. Saat polisi mulai memeriksa bagian mobil-mobil.


"Ayo tukar posisi," ajaknya.


"Untuk apa? Aku 'kan tidak bisa nyetir?"


"Aku tidak menyuruhmu nyetir. Hanya tukar posisi sebentar. Aku tidak punya SIM tapi kau punya. Lihat ini, berikan surat ini, ini, dan ini pada mereka," terang Cecep menunjukkan surat-surat yang diperintahkannya untuk diberikan. Setelahnya mereka bertukar posisi.


Cecep lupa, bahwa setiap pukul 3 siang, polisi mulai merajai lalu lintas. Mungkin ini juga karena Akbar yang tiba-tiba minta pulang dan seperti orang ketakutan. Setelah pemeriksaan selesai, mereka kembali ke posisi awal. Mobil melaju dengan santai kembali.


"Apa aku pernah mengendarai benda ini?" tanya Akbar.


"Kenapa?"


"Aku merasa sepert tidak asing duduk di bangku kemudi."


"Yah, kau adalah kaki tangan mobil ini. Mobil ini adalah mobil perusahaan kita yang sering dikemudikan olehmu. Aku meminjamnya selama proses mengawasimu. Aku jarang tertangkap basah polisi di jalan, tapi karena kau aku ceroboh tadi. Tapi untunglah ada kau," jelas Cecep.


"Kenapa begitu?"


"Karena hanya kau yang punya SIM dan bisa mengendarai mobil. Aku juga tidak pernah naik mobil setelah 10 tahun lalu."


"Aku mau ke tempat ibadahku," ucap Akbar.


"Apa! Tapi kenapa? Untuk apa?!"


"Aku berharap aku juga merasakan hal sama seperti mobil dan semua kartu pengenal ini. Aku ingin tahu semua tentangku di sana. Barangkali ada yang bisa kutanyai di sana."


"Jangan sekarang. Karena pasti sudah tidak ada. Minggu depan saja. Seharusnya jika ingin pergi, pagi tadi. Karena gereja akan dibuka saat minggu saja, itu adalah hari besar kalian."


~Bersambung~