
Keadaan rumah sakit kini penuh dengan polisi karena kehilangan seseorang. Herman dan keluarga dimintai keterangan terakhir kali melihat pria itu. Pria paruh baya itu begitu takut terjadi apa-aapa dengan Akbar, karena sudah dianggap anak sendiri. Sedangkan Rizka merasa bersalah dan berpikir karena dirinya Akbar pergi. Rizka menyarankan untuk mencari ke rumah Aisyah. Akan ada kemungkinan Akbar pergi ke sana.
“Pak! Kita coba cari di alamat ini,” unjuk Jaka pada sebuah alamat tertulis.
“Minta foto pria itu,” sahut Andi.
“Kami tidak punya.” Jawaban itu membuat Andi dan Jaka terpelongo.
“Tapi kau bilang dia anakmu. Bagaimana bisa tidak ada fotonya?” tanya Andi.
“Dia bukan anak kandung saya. Pemuda tangguh itu korban kecelakaan bulan lalu. Saya hanya menolongnya dan dia juga anak yatim piatu makanya kuanggap anakku sendiri” jelas Herman.
“Pria malang.” Jaka turut berduka.
“Namanya?” tanya Andi.
“Akbar.” Andi terdiam.
“Aku tidak tahu nama lengkapnya. Anak itu juga mengalami amnesia. Dua minggu kedepan adalah terapi terakhir dan ada kemungkinan dia ingat kembali.”
Saat masih menjelaskan, Andi langsung pergi begitu saja. Ternyata dia lansung menuju alamat bapak Yunus. Di sana ia melihat pekarangan indah dengan bunga-bunga harum semerbak. Introgasi pun terjadi, namun dia tidak menemukan pria yang dicari.
*-*-*-*-*
Seorag wanita menatapnya dari atas sampai ke bawah dan balik lagi ke atas. Wajahnya sedikit mengernyit heran dan ada juga rasa tidak suka dari wanita yang tidak lain istri temannya itu.
“Berapa lama kau akan tinggal di sini?” tanya wanita itu dengan sinisnya.
“Hanya se—“
“Kau ‘kan tahu temanmu ini penghasilanya buruk?”
“Sayang ...,” lirih Cecep.
“Kenapa? Biar temanmu tahu, kalau kita bukan orang kaya yang bisa ditumpangi,” sulut Nia.
“Aku tahu. Aku akan bayar dua kali lipat untuk per/harinya,” ujar Akbar.
“Gila! Maksudnya, kamu mau ngontrak bersama kami?” Nia begitu kagum mendengar kata dua kali lipat.
“Apa pekerjaanmu?”
“Sama seperti suamimu.”
“Tukang Bangunan?” Akbar mengangguk
“Masa iya, ganteng-ganteng kerja Bangunan, sih?” sulut Nila tidak percaya.
“Apa itu salah, Kak?” tutur Akbar lembut.
“Tidak. Siapa bilang salah?! Kalau begitu aku masak dulu. Kau mau makan apa?”
“Apa saja.”
Cecep menunjukkan kamar Akbar. Temannya itu mendudukkan diri di atas kasur satu ranjang. Cecep melihat Akbar yang melamun dan tidak ingin megganggu, jadi pergi adalah cara terbaik. Membiarkan Akbar sendiri lebih dulu.
Malam akhirnya berganti dengan pagi. Kedua pria itu pergi memulai hari mereka dengan pekerjaan lama nuansa baru bagi pria 27 tahun itu. Sedari malam Cecep ingin bertanya tapi masih ragu, ia pun memberanikan diri untuk bertanya.
“Kau ingat semuanya?” ucap sang pengemudi ini. Gugusan napas gusar pun keluar dari teman di sebelahnya.
“Yah! Semuanya! Tanpa terkecuali.”
“Menjalani peran lama untuk menghabiskan kontrakku dan hutang. Setelahnya aku akan pergi ke luar negeri. Aku rasa ini cara terbaik menghilang.” Sekarang gantian Cecep yang mendengus kecewa.
“Aku masih harus terapi dua minggu ke depan. Itu terapi akhir untuk mengetahui kondisi fisikku. Aku tidak menyangka kalau cara mengingatku bahkan juga tragis seperti cara aku melupakannya.”
Mobil berhenti tepat di depan ruko lama. Keduanya turun, memasuki ruko itu. Akbar langsung menghampiri pemuda berumur cukup jauh di atasnya itu. Ia meminta pekerjaan kembali dan akan mengganti kerugian sebelumnya juga melunasi kontraknya. Namun ia tidak bilang akan berhenti dari pekerjaan itu.
Akbar menggunakan motor pekerja untuk mengantar barang. Sebab, motornya sudah masuk kantor polisi, namun untungnya semua surat sudah tercuri dari kantor. Cecep dulunya mantan brandal kelas kakap setelah lulus SMA dan pernah mendekam di penjara selama satu setengah tahun karena kasus pencurian. Gerak-gerik pencuri handal pasti dia bisa.
“Kau mau antar itu ke mana?” tanya Cecep.
“Ke hatimu. Apa pedulimu! Susun saja barang-barang itu dengan benar!” titah Akbar mengusili temannya itu.
“Aku senang kau kembali, Bar.” Akbar terdiam. Tangannya bersanggah pada bahu Cecep.
“Jika aku diberi kesempatan sekali lagi. Maka aku ingin tidak mengingat apa pun.”
Pemuda itu memakai helm miliknya dan segera pergi. Di jalan, kedua pipi itu mengalir air asin dari mata. Angin yang menerpa bahkan tidak sejuk jika mengingat semua rasa sakit itu. Tubuhnya berlaju, akan tetapi pikirannya melayang. Karena ketidak-fokusannya, hampir saja tukang pizza antar di tubruk dari belakang. Matanya melirik sekeliling yang dipenuhi orang berkendara, baik roda dua, tiga, maupun empat, semuanya mengantri panjang.
“Pak! Ada apa ini?” tanyanya pada tukang Ojek Online di sampingnya.
“Entahlah!”
“Di depan ada pemeriksaan orang ganteng, Kak,” sahut seorang anak-anak yang biasa mengemis di lampu merah.
“Hah, mana ada razia orang ganteng! Nih anak bohong pasti!” sambung si tukang Ojol tadi.
“Beneran, Om. Di sana ada Kakak-kakak, perempuan, dia cari cowok yang katanya lari dari rumah sakit.” Penjelasan anak itu membuat Akbar terpaku.
“Anjay! Seistimewa apa sampai yang cari polisi? Apa pacar perempuan itu seorang ABRI?” sindir si tukan Ojol itu.
Akbar langsung menelpon Cecep dan dengan segera Cecep membantu temannya itu. Motor yang dikendarai Cecep melawan arus, begitu sampai langsung tukar posisi membuat beberapa orang cukup bingung dengan mereka.
“Pak! Sepertinya ada yang melawan arus.” Jaka mau menghampiri tapi dengan segera Cecep berlalu pergi.
Alih-alih Akbar kembali markas miliknya. Ia membuka helm dan bersandar pada dinding ruko.
“Ada apa ini, Bar? Kenapa polisi harus mencarimu?”
“Mana aku tahu! Yang pasti saat ini Rizka dan Pak Herman yang mencariku. Mungkin karena mereka tidak punya fotoku untuk dipampang sebagai orang hilang. Makanya aku dicari lewat beginian.”
“Lalu kenapa kau takut? Aku kira karena memang kau diincar polisi karena menipu mereka.”
“Aku rasa.”
"Apa maksudmu! Kau bilang tadi—“
“Aku malu menunjukkan wajahku pada mereka. Tidak mungkin aku katakan bahwa aku sudah mengingat semuanya dan aku adalah seorang pengedar narkoba, tidak ‘kan?”
“Iya juga, sih. Kira-kira sampai kapan itu akan terjadi? Jika begini terus bagaimana cara kau mengantar barang?” Akbar kelihatan berpikir.
“Ada satu cara. Yaitu jauhi jalan yang ada polisinya dan satu lagi adalah pakai masker.”
Tidak punya cara lain lagi, Akbar terpaksa melewati jalan tikus yang sempit guna sampai tujuan. Perjalanannya jadi panjang kali ini, rute yang melelahkan dan tidak sengaja melewati jalur pasar dan bertemu dengan toko Hanum. Ia behenti dan melihat Aisyah dari kejauhan. Dalam sekejap rasa itu luntur setelah ingatan kembali.
“Kau tahu Aisyah? Cintaku kembali kehilangan warnanya. Setelah sadar, ternyata sakit ini begitu dalam dari rasa sakit diterapi. Aku ingin kembali ke Akbar yang sebelumnya. Lebih baik melupakan segalanya daripada mengingat saat ini.”
~Bersambung~