My Love From The Sky

My Love From The Sky
Melupakan memanglah hal yang sulit


Mata di balik kacamata hitam itu tidak henti-hentinya menatap Aisyah, di saat gadis itu bersiap-siap untuk pulang dengan membereskan apa yang berserakan di atas meja.


“Kamu mau ke mana? Ini ‘kan sudah malam?” tanya Akbar saat Aisyah berpamitan pada bibinya.


“Aisyah mau pulang, Kak.”


“Eh! Jangan panggil kakak. Saya ini masih muda, kok. Ahmad aja panggilnya.”


“Pulang sendiri? Waduh, perempuan itu tidak baik pulang sendirian di malam hari begini. Nanti kalau ada penculik gimana? Kalau gitu mari aku antar,” lanjut Akbar.


Bugh!


Cecep menyikut perut Akbar tanda kurang setuju dengan ide Akbar.


“Baguslah! Tapi Tante bisa percaya sama kalian, ‘kan?”


“Tidak perlu, Bi. Aisyah bisa pulang sendiri, kok. Lagian nanti nyusahin. Aisyah pulang yah, Bi. Assalamualaikum!”


“Walaikum salam, hati-hati!”


• • •


“Ayo, kita buat kontraknya,” ajak Hanum.


Ketiganya duduk berhadapan dan Hanum kelihatan penasaran dengan wajah Akbar.


“Oh iya, kenapa dari tadi maskernya tidak dilepas? Apa tidak pengap?”


“Tidak bisa, Tante. Nanti kalau kubuka, Tante tertular,” larang Akbar.


“Iya, Tante. Dia lagi sakit soalnya, dan dia tipe yang tidak bisa nulari orang lain. Jadi dia akan seperti itu sampai sembuh.” Didukung penuh oleh Cecep.


Akhirnya usai sudah perbincangan mereka dan Akbar dapat bernapas lega dengan melepas maskernya di dalam mobil.


“Hai, Tante! Sejak kapan kau segila itu!?”


“Kenapa? Lagipula kau juga mengirim sms kalau wanita itu terus mengintrogasimu seperti polisi.”


“Aku punya ide untuk tidak lagi bersembunyi. Aku akan jadi Ahmad mulai sekarang.”


“Kau gila! Apa enaknya jadi orang lain?”


“Apa enaknya bersembunyi,” sahut Akbar sedikit kesal.


“Ingat! Setiap di luar, kau harus panggil aku Ahmad, paham?”


“Tunggu! Terus, wajah kau itu tidak kau pikirkan?”


“Wes! Bahasa Batak kau pasih juga yah, Men!” Cecep memutar bola matanya kesal.


“Itulah yang aku bingungkan juga.” Akbar tampak berpikir.


“Aha! Aku tahu caranya. Ayo pulang, dan besok bangun pagi-pagi sekali. Kita akan ubah wajahmu,” saran Cecep.


“Males ah! Kalau operasi pelastik aku tidak mau!”


“Udah ah, jangan pakai bahasa Batak lagi. Soalnya bukan bahasa sehari-hari, capek!”


*-*-*-*-*


Tangan lihai yang seperti ahlinya itu menggunting rambut dengan begitu cepatnya. Dengan sisir sebagai penyeka antara rambut yang akan dipotong dan tidak dipotong. Rambut yang tadinya gondrong sudah berubah menjadi sedikit lebih berkharisma. Wajahnya juga sedikit dipoles untuk penyamaran sempurna meski tidak sesempurna mungkin. Lensa mata juga digunakan dan matanya juga dialasi kacamata no lensa. Pemuda ini jadi semakin tampan dan rapi bak pangeran yang siap datang menemput cinderellanya. Dengan kemeja putih, ia mengambil foto untuk pembuatan KTP dan SIM baru beratas-namakan; Muhammad Khalifah Daulay. Sebelum selesai urusan KTP dan SIM-nya, Akbar akan tetap menggunakan kacamata hitam dan masker. Hingga seminggu kemudian ......


Sepatu pantofel hitam selaras dengan celana hitam dan jas hitam dalaman putih, bagaikan pria pekerja kantoran. Kacamata tidak berlensa dan kumis tipis menghiasi wajahnya. Tidak terlukiskan lagi bagaimana tampannya pangeran yang satu ini. Benar-benar bagaikan Dewa Yunani.


“Alamakjang! Tamapn juga kau ternyata kalau dipoles, bro.”


Decak kagum Cecep menuai kesombongan bagi Akbar.


“Jadi sekarang bagaimana? Apa ada yang mengenaliku?”


Cecep mengacungkan kedua jempol tangannya.


“Ayo kerja!” ajak Akbar yang diangguki semangat oleh Cecep.


“Kak! Boleh foto bareng?” ucap salah seorang pelanggan yang sedari tadi memandang Akbar bagaikan idola.


“Boleh,” terima Akbar dengan senang hati dan berpose bak Aktor yang dimintai foto bareng.


Gadis itu tampak kegirangan. Selain keberuntungan gadis itu, banyak juga yang tergiur untuk mendapatkan kesempatan yang sama.


“Ahmad!” panggil Cecep yang sudah selesai memasukkan semua mawar pesanan ke dalam mobil.


“Tunggu!” seru Akbar yang masih menikmati ketenarannya.


“Woy! Lihat waktu dong! Udah telat ini!” teriak Cecep kembali.


“Oh iya-iya. Maaf yah guys, Saya harus pergi dulu, job udah nunggu. Bye semuanya.”


Akbar tidak henti-hentinya melambaikan tangan kepada para pengg yang seperti merasa kehilangan. Hingga Cecep yang sudah tidak sabar lagi memberi si angkuh itu klakson yang mengagetkan untuk menyadarkannya.


“Huft! Ternyata menghabiskan uang berjuta-juta tidak sia-sia, yah?”


“Jadi sekarang kamu senang?”


“Yah iyalah! Dipanggil Oppa dan dibilang mirip orang Korea.”


“Enak banget kayaknya jadi orang lain, ya ‘kan? Tapi asal kamu tau, Bar. Dari semuanya yang tidak memandangmu hanya Aisyah!” sulut Cecep.


“Kenapa memangnya? Yah, wajarlah dia tidak mandang aku. Kamu ‘kan tahu Aisyah buta.”


“Iya, tapi bukannya kau begini karena Aisyah?” ketus Cecep yang membuat Akbar terdiam.


“Tuh ‘kan, benar yang aku duga! Sejauh setelah kesembuhan kau begitu menjauhi dunia luar dan tertutup. Lalu tiba-tiba saja berubah, pasti ada keanehan. Nyatanya kau itu tidak bisa melupakan Aisyah karena dirimu sudah jatuh hati padanya,” celoteh Cecep.


Begitu sampai, Akbar hanya diam tanpa berkata-kata lagi. Vendra mendatangi kedua anak buahnya itu. Dirinya langsung dibuat kagum dengan penampilan Akbar yang menyamai dirinya.


"Akbar, hei!" Ucapan Cecep tidak digubris.


“Hei, teman! Kau sekarang sudah seperti seorang pengusaha saja. So handsome, friend,” sapa Vendra.


Tidak ada sapaan balik atau jawaban terima kasih setelah dipuji. Akbar langsung masuk dan duduk di depan meja Vendra. Pria yang merupakan pemilik usaha narkoba itu ikut duduk di hadapan Akbar dengan meja persegi miliknya yang menjadi perantara.


“Kenapa lagi, Bar?”


“Kapan kau menikah dengan Rei?”


“Haha, kau tahu darimana aku dan Rei punya rencana ke pelaminan?”


“Jadi kau sungguhan dengan pemilik diskotik itu? Aku tadi asal tebak saja karena kupikir kalian saling menelpon melebihi dosis meminum obat.”


“Hehe! Ini juga berkat kau aku mendapat jodoh juga akhirnya. Rei bilang dia akan pulang dari L.A minggu depan dan aku akan melamar seminggu setelah kepulangannya.”


“Baguslah!”


“Kau sendiri? Sudah mau 28, kapan menikah? Haha! Sejujurnya kau dan aku masih tuaan dirimu 2 tahun, tapi kenapa belum menikah juga?”


“Belum ada yang pantas.”


Akbar mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya dan membakar ujung putung rokok itu untuk dihisap. Asap mengepul dikeluarkan dari mulut juga hidungnya. Vendra menatap Akbar tanpa henti.


“Kenapa tidak menikah dengan gadis buta itu? Bukannya dia yang mengajarimu Islam?”


Akbar yang tidak senang langsung membanting asbak rokok di atas meja.


“Kenapa? Bukankah kau mencintainya?” Smirk terlihat di wajah Vendra.


“Siapa yang mengatakan itu padamu?” sulut Akbar merasa tidak senang.


“Loh? Bukannya kau sendiri yang menunjukkannya lewat perilakumu saat amnesia? Aku pikir setelah sadar ini kau malah akan bersemangat mengejar cinta gadis buta dan setelahnya kau akan bawa dia dalam agamamu.”


Bugh!


~Bersambung~