
Microfon hitam itu disentuh oleh tangan gadis cantik dengan dress mini yang anggun. Gadis yang tidak lain adalah adik si mempelai. Tamu undangan datang dan disuguhan dengan minuman dalam gelas bertangkai. Pesta mewah itu dipenuhi dengan lampu penerang yang mengalahkan fungsi sinar rembulan. Musik dan nyanyian gadis tadi mengisi kekosongan yang ada. Di samping itu, seorang pemuda dan pria dewasa datang dengan setelan jas sesuai tema pesta. Yah, mereka adalah Akbar dan Cecep yang mengisi tamu undangan untuk pesta pernikahan Vendra. Akbar menaiki pelaminan untuk memberi selamat kepada Vendra. Meski awalnya jabatan tangan itu tidak diterima, namun mau tidak mau harus diterima karena takut dibilang angkuh oleh pihak mertua. Senyuman itu juga terpaksa.
“Jangan dipaksa. Nanti menyakitkan,” tegur Akbar berbisik.
“Oh ya, Re, jangan lupa kalian juga harus datang ke acara pestaku,” ujar Akbar.
“Baiklah. Kami akan datang. Sebaiknya nikmati hidangannya.”
“Iya, pasti.”
*-*-*-*-*
Usai dari mengantarkan Cecep, Akbar berdiam diri di dalam mobil melamun menatap alamat rumah sang ayah yang diberikan Alisa tadi siang. Setelah cukup lama juga berdiam diri, akhirnya mobil melesat pergi mencari alamat rumah tersebut. Dari dalam mobil dia memperhatikan rumah besar milik gereja tempat ayahnya tinggali. Dari dalam seorang pria paruh baya keluar menaiki mobil keluar rumah. Akbar ini mengikutinya dari belakang tanpa sepengetahuan Hendrik. Ternyata pria paruh baya itu mencari makan malam bungkusan seperti nasi padang atau ikan mas arsik kesukaannya di warung.
Akbar menunggu Hendrik pulang dengan berdiri di depan gerbang rumahnya. Kemudian pria yang ditunggu Akbar pulang dan terkejut mendapati anaknya datang.
“Kau ...”
“Bagaimana kabarmu---Pa?”
“Untuk apa kau datang ke sini? Bukankah kau sudah mengirim pesan padaku kapan hari pernikahanmu,” ujar Hendrik membuka gerbang.
“Yah, kau benar. Tapi tidak akan sempurna jika tidak secara langsung.”
“Ya sudah, masuklah,” ajak Hendrik.
Akbar mendudukkan diri di sofa mewah rumah itu. Hendrik menghidangkan segelas teh kepadanya.
“Di mana Alisa?”
“Dia tinggal dengan temannya. Dia tidak pernah pulang.”
Keheningan menyapa keduanya saat ini sebelum akhirnya Hendrik ambil suara. “Semoga pernikahanmu langgeng.”
Ucapan itu membuat Akbar diam menatap lekat Hendrik, membuat pria itu salah tingkah.
“Kau sudah makan?” alih Hendrik.
“Aku habis dari pesta temanku. Sudah makan di sana tadi. Papa makanlah,” sarannya.
“Tidak. Tidak baik makan saat ada tamu.”
“Aku anakmu, bukan tamu.”
“Bagiku kau tamu. Kau memutuskan hubungan kita dengan cara pindah keyakinan.” Akbar terdiam sejenak.
“Sejauh ini kita memang beda keyakinan. Dulu aku tidak pernah datang ke gereja. Aku juga tidak percaya dengan Tuhan. Temanku bilang aku adalah Atheiz.”
“Terus, kenapa sekarang kau malah memilih keyakinan mereka?”
“Sejujurnya aku salah arah sedari awal itu--karena Papa. Kau kurang membimbingku seperti mereka membimbingku saat ini. Aku kehilangan ingatanku selama kurang lebih 4 bulan. Saat tersadar, ternyata selama ini aku juga amnesia untuk 21 tahun lamanya. Aku sangat terkejut saat menyadarinya, sehingga aku menjauh dari mereka karena merasa tidak pantas. Namun setelah aku sadar, Tuhan yang memberiku jalan ini, jadi aku tidak bisa lari lagi.” Penjelasan itu membuat Hendrik hanya terdiam sambil mangut-mangut seolah mengerti.
“Yah, terserah kau saja.”
“Oh iya, Papa ...,” lirih Akbar membuat Hendrik menatap mata sendu Akbar.
“Apa?”
“Apa anak di luar nikah itu buruk?” Hendrik terpaku membisu. Saat sadar bahwa ucapan itu merujuk dirinya sendiri. Keheningan menyapa mereka cukup lama.
“Kau tahu jalan keluar, ‘kan? Pulanglah, sudah malam.”
“Halo!”
“ .... “
“Aku akan pulang besok, Bu, hari ini aku tidur di rumah temanku.”
Hendrik kembali dari dapur dan berjalan keluar rumah untuk memasukkan mobilnya ke bagasi. Setelahnya ia kembali ke dalam, melihat Akbar yang masih setia duduk di tempat yang sama.
“Pulanglah! Mereka, keluarga barumu akan mencarimu nanti. Jika pulang jangan lupa tutup pagarnya!” seru Hendrik.
“Kenapa Papa melakukan ini?” tanya Akbar masih dengan posisi duduk menatap meja.
“Apanya?!”
“Kenapa Papa harus membenciku dengan alasan aku anak di luar nikah?!” Hendrik terdiam saat Akbar membentaknya.
“Apa itu masuk akal?” tanyanya dengan wajah sedih menghadap sang ayah yang berdiri di sampingnya.
“Katakan padaku, Pa, apa itu masuk akal!” bibirnya gemetar menahan tangis yang rasanya akan pecah sebentar lagi.
“Tentu saja masuk akal! Kau adalah anak di luar nikah!” sahut Hendrik ikut membentak. Akbar memukul meja dan bangkit dari duduknya.
“Tapi aku tetap hasil dari perbuatan kalian juga! Aku bukan anak pria lain, lalu kenapa kau sangat membenciku!” wajah Akbar benar-benar marah sekali. Saat itu, ternyata Alisa pulang ke rumah dan mendengar kontroversi itu dari balik pintu masuk.
“Aku tidak membencimu. Aku hanya membenci diriku sendiri. Aku sudah berjanji pada Tuhan, aku akan menebus dosaku dengan membuangmu.” Akbar terdiam dengan mata merah menyalak dan pelupuk mata yang menampung buliran air.
“Aku sudah membuangmu tapi ibumu mengambilmu kembali ke rumah ini. Selama kau ada, bagiku dosa yang meliliti jiwa ini tidak pernah diampuni, makanya aku membencimu.” unjuk Hendrik dengan jarinya karena ikut kesal.
“Karena itu?” suara Akbar tercekat karena rasa sedih yang kian mendalam dan air mata itu tidak bisa lagi ditahannya.
“Kau adalah dosa terbesarku. Aku tidak bisa berbuat apa pun. Maafkan aku.” Hendrik juga ikut menangis.
“Aku pikir, jika aku membuangmu dan orang lain merawatmu maka dosaku bisa diampuni. Namun—“
“Dia mengirimku kembali padamu untuk menyadarkanmu. Bahwa caramu adalah salah!” tepis Akbar.
“Apa maksudmu?”
“Istrimu, dia membawaku kembali karena memang Tuhan yang menginginkannya. Jika kau sadar, dengan cara menikahi ibuku saja sudah cukup untuk menebus dosamu karena kau bertanggung jawab. Tidak perlu sampai kau membuangku dan membenciku seperti ini. Kau salah! Kau salah besar!”
Akbar pergi dari hadapan sang ayah. Saat membuka pintu untuk keluar, akbar mendapati Alisa juga ikut menangis.
“Kak!”
“Kenapa kau meninggalkan Papa?” omel Akbar.
“Alisa hanya—“
“Bukankah sudah aku katakan! Jangan tinggalkan Papa sendirian. Dia bahkan harus keluar sendirian untuk membeli makanan. Kau anak perempuan tapi tidak mau mengurus ayahmu?” protes Akbar membuat Alisa menunduk salah.
Pemuda itu pergi meninggalkan keduanya dan pulang ke rumah Cecep. Namun karena tidak mau mengganggu, ia memilih tidur di dalam mobil saja hingga pagi tiba. Saat Cecep keluar dan melihat mobil Akbar yang berhenti di depan rumahnya. Pria itu mengintip si pemilik mobil masih tertidur. Ia mengetuk kaca mobil itu menyadarkan si teman dari tidur nyenyaknya. Tangannya memberi kode turunkan kaca mobilsinya langsung dituruti oleh Akbar.
“Kenapa tidur di sini?”
“Aku tidak mau menganggumu.”
“Kau baru datang atau sudah dari tadi malam di sini?” kaget Cecep saat diperhatikannya baju Akbar tidak berganti. Pemuda itu malah tersenyum kikuk. Sementara Cecep menggeleng dan berdecap.
~Bersambung~