My Love From The Sky

My Love From The Sky
Drama yang terus ada


Seorang pria terperosot dari berdirinya dan bertekuk lutut di hadapan seorang anak yang terbaring dengan darah mengalir di lantai. Tangisan bayi pun meramaikan kamar itu. Tangisnya pecah begitu saja melihat tubuh anak yang terbujur lemas hampir tidak bernyawa. Dengan sigap, ia menelpon ambulan untuk menyelamatkan nyawa anak itu. Meski hatinya terasa berat menyelamatkan anak itu, tetap saja, namanya seorang ayah, pasti tidak akan tega melihat anaknya seperti itu.


“Bapak Hendrik Daulay?” panggil perawat.


Hendrik pun menghampiri perawat itu dan dipersilahkan masuk melihat keadaan anaknya. Di sana ia berjumpa dengan dokter Firmansyah.


“Pak, anak ini mengalami kelumpuhan ingatan. Luka di kepalanya begitu berat, apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia mendapat luka yang begitu serius?”


“Dia mengantukkan kepalanya ke tembok karena kehilangan ibunya. Aku tidak sadar karena aku baru pulang dari gereja,” jawabnya berbohong.


“Begitu yah, Pak?” Hendrik mengangguk dengan tangan gemetaran ketakutan.


“begini, Pak, anak Bapak mengalami amnesia berat yang dia melupakan segalanya.”


*-*-*-*-*


Allahu akbar! Allahu akbar!


Allahu akbar! Allahu akbar!


Asy-hadu anlailaha ilallah!


Asy-hadu anla ilaha ilallah!


Asy-hadu anna muhammadar rasulullah!


Asy-hadu anna muhammadar rasulullah!


Khaiyya ‘alasshalah!


Khaiyya ‘alasshalah!


Khaiyya ‘alal falah!


Khaiyya ‘alal falah!


Allahu akbar! Allahu akbar!


La... ilaha ilalah!


Mata itu berbinar mendengar lantunan adzan yang merdu. Bibirnya juga seketika memanjatkan doa setelah adzan yang pernah dipelajarinya bersama Herman. Kakinya melangkah memasuki rumah ibadah umat muslim.


“Eh, tunggu! Mau ke mana?” seru Cecep bertanya.


“Mau sembahyang.”


“Loh? Kamu lupa, yah?”


“Bukan aku yang lupa, tapi kamu. Aisyah pernah bilang katanya shalat dapat menenangkan jiwa. Itu yang pernah kurasakan saat aku lupa siapa diriku.”


“Tapi—“


Kaki itu melangkah masuk ke masjid tanpa bisa dicegah oleh Cecep. Kaki kanan mengawalinya memasuki tempat suci itu. Akbar mengambil wudu sebelum memasuki waktu shalat isya. Setelah semua telah berbaris bersaf-saf, Akbar masuk ke saf paling belakang. Lantunan ayat suci al-quran yang merdu dari lidah bapak Yunus. Seketika, entah apa yang membuat Akbar menangis tanpa sebab.


“Assalamu ‘alaikum wr. wb.”


Usai salam, Akbar langsung pergi guna menghindari ayah Aisyah. Namun saat sudah di luar dan hendak pergi, dirinya melihat siluet Aisyah dari balik kaca. Matanya langsung terpaku menatap satu tujuan. Cecep yang melihat itu pun berdehem untuk menyadarkan Akbar. Mereka akhirnya pergi.


Di perjalanan pulang dan cuaca gelap ini Cecep yang menyetir karena kemungkinan polisi keluar di malam hari begini adalah kemustahilan. Cecep melirik temannya yang melamun sedari tadi.


“Belum bisa melupakan juga?” tanyanya menyairkan suasana.


“Bukan begitu. Hanya merasa bersalah saja.”


“Jadi sekarang setelah shalat udah tenang, belom?”


“Sedikit lebih tenang. Tapi saat lihat Aisyah balik gelisah.”


“Bar! Memangnya kapan kamu masuk Islam?” intro Cecep.


“Aku berulang kali ucapkan dua kalimat syahadat. Aku juga tahu artinya lewat Pak Herman. Itu artinya aku sudah jadi muallaf sejak Pak Herman mengajarkanku.”


“Oh iya, aku lupa. Kamu ‘kan Atheiz, masa kamu lupa sih, Bar,” ketus Cecep membuat Akbar terdiam.


“Kamu bukan Kristen ataupun Islam. Kamu itu orang yang tidak punya agama, alias Atheiz!” sindir Cecep.


“Aku rasa kamu masih amnesia. Bukannya kamu yang bilang padaku kalau Tuhan itu tidak ada? Di sisi lain, dua agama itu menganut kepercayaan Tuhan itu ada,” sulut Cecep.


Akbar terdiam beribu bahasa. Ucapan Cecep benar adanya.


“Minggir! Turunkan aku di sini saja. Aku perlu berpikir,” pinta Akbar.


“Hei, jangan masukkan ke hati ucapanku. Aku hanya mau menjelaskan padamu saja. Lagipula—“


"Berhenti saja!” bentak Akbar memotong ucapan Cecep, sehingga secara spontan pria itu mengerem mendadak.


“Aku mohon jangan marah begitu, Bar. Yang tadi hanya main-main saja, kok. Jangan dianggap serius—“


“Pulanglah! Aku perlu waktu untuk berpikir.”


Pemuda jakung itu pergi meninggalkan Cecep dengan sejuta kekesalannya. Pria 8 tahun di atas Akbar itu menggerutu kesal dan mengusek-usek kepalanya. Sedang, tidak ada kepedulian dari pemuda itu. Akbar terus berjalan seraya berpikir dengan apa yang dikatakan Cecep.


*-*-*-*-*


Suara adzan masuk ke dalam telinga Akbar. Pria ini bangkit dan segera membasuh wajahnya. Lagi-lagi ucapan Cecep terngiang darinya. Membuatnya jadi gelisah seketika.


Ceklek!


Seseorang masuk dan juga ikut mengambil wudu bersama dengan Akbar.


“Kakak mushafir juga, yah?” tanya pemuda yang kelihatan di bawahnya.


“Tidak, kenapa?”


“Oh, tidak apa-apa, Cuma tanya doang. Soalnya aku biasa shalat di setiap masjid yang berbeda tiap harinya. Yang sering ambil wudhu di masjid saat subuh hanya orang dari perjalanan jauh. Kayak sales, atau orang yang pergi-pulang kampung. Soalnya kalau kampung sendiri pastinya sudah wudhu di rumah, ya ‘kan?”


Akbar hanya tersenyum dan segera pergi meninggalkan orang itu. Ia berniat pulang, tapi sesaat hatinya sedikit tidak ikhlas akan sesuatu. Seperti merasa kehilangan untuk satu perihal, tapi apa?


“Kak! Ayo shalat!?” ajak orang yang sama.


Akbar kembali ke ruang wudhu dan melakukan apa yang tidak ia lakukan tadi. Setelahnya masuk untuk sembahyang berjama’ah. Usai salam, Akbar ikut berdoa di pojok sambil menunggu mentari datang. Dirinya memakai masker dan menjauh dari keramaian. Imam yang tidak lain adalah Yunus memanggil Akbar karena hanya dia yang di pojok. Mengajaknya bersalaman setelah usai shalat dan berdoa.


“Ada apa, Nak? Kau sakit?” Akbar menganggukinya dan terbatuk-batuk seolah beneran sakit.


“Kalau begitu cepat sembuhnya. Seringlah baca al-quran. Insha Allah akan membantu kesembuhanmu,” saran Yunus.


Akbar melangkah hendak pergi tapi dirinya menerima telepon dari temannya. Pria ini masih merasa kesal sehingga membiarkan telepon itu. Dirinya memilih berjalan menuju tempat kerja seraya menghindari polisi. Karena dengan jalan kaki dirinya bisa menghitung jarak untuk melewati polisi. Namun yah itu masalahnya, waktunya jadi sedikit terbuang untuk sampai.


Sesampainya di sana, keadaan begitu menegangkan, membuat Akbar bingung akan apa yang terjadi.


“Di mana Akbar?! Apa dia masih lama lagi!?” bentak Vendra.


“Ada apa, Boss?” tanya Akbar dengan polosnya.


“Sini! Mendekatlah,” panggilnya.


Plak!


Tamparan bagai tumbukan itu diterima wajah tampannya.


“Ada yang bisa jelaskan padanya?! Aku benci pekerja yang telat!” sindir Vendra.


“Perusahaan seberang meminta ganti rugi separuh harga. Karena barang mereka tidak sampai ke sana dan sudah kena geleda di perbatasan. Mereka menyalahkan kita yang tidak baik dalam penyamarannya,” jelas Cecep.


“Memangnya apa yang digunakan untuk penyamaran?” tanya Akbar.


“Botol aqua!” sambung Vendra.


“Hebat, ‘kan? Dengan bodohnya mereka melakukan itu hanya karena pasokan buku-buku kita habis. Karena kebodohan kalian kita rugi besar. Pihak seberang tidak bodoh! Dia hanya menandatangani perjanjian untuk tidak saling melibatkan ke pihak berwajib tapi bukan soal ganti rugi. Jika begini, kita dapat apa dan kalian mau dipotong gaji untuk itu!”


“Botol aqua ditaruh secara horizontal, polisi mana yang tidak curiga, dasar bodoh!” makinya pada seluruh anggota.


“Jadi, pasokan buku kita juga belum dicetak?”


“Kamu kira mencetak buku itu bisa satu hari! Minggu depan baru bisa diselesaikan!” seru Vendra kesal.


“Ingat! Besok ada kapal berlayar yang dikirimnya. Cari cara agar barang ini tidak ketahuan. Jika terulang kembali, aku pecat kalian semua dan aku minta ganti ruginya, mengerti!?”


~Bersambung~