
Tubuh jakung itu memilih keluar dari keramaian. Meski saat hendak keluar banyak tantangan yang harus dilaluinya seperti, gadis penari bar yang menggodanya di sana. Namun Akbar bisa menolak mereka mentah-mentah, karena Akbar sejujurnya sedikit phobia terhadap keramaian. Itu mengingatkannya akan sang ibu yang meninggalkannya di keramaian pasar. Sebenarnya bukan atas unsur kesengajaan, sama halnya seperti anak yang ditolong sebelumnya. Pegangan Akbar dengan sang ibunda terlepas karena ramainya pasar minggu.
Akhirnya lepas dari ruang pengap padat manusia itu juga. Kini Akbar menghirup udara segar yang sangat dirindukannya sejak masuk ke dalam. Tangan pria ini masuk ke dalam saku dan mengeluarkan sebungkus rokok beserta mancisnya. Sebatang dikeluarkannya untuk dihisap. Setelah membuat kesalahan dengan memecahkan gelas di dalam membuat Akbar malu untuk tetap berada di sana. Namun mau bagaimana lagi, minuman keras yang memabukkan itu membuatnya trauma.
Iris Akbar melihat mobil patroli polisi berlalu-lalang. Dirinya pun langsung mengalihkan wajah membelakangi mobil itu. Setelah lewat, Akbar kembali menoleh dan melihat mobil itu sudah pergi jauh. Namun, mobil itu putar balik yang langsung membuat Akbar masuk dan mengunci pintu tersebut rapat-rapat. Pemuda ini bersembunyi di samping pintu masuk.
Yah, ternyata benar saja, salah satu polisi menghampiri ruko itu dan mencoba membuka pintu yang sudah dikunci Akbar sebelumnya.
“Terkunci! Aku yakin ada yang tersembunyi di ruko ini. Setahuku ruko ini penghuninya wanita, bukan pria. Aku kenal wanita itu karena dia sering menumpang di mobilku,” ujarnya pada sang teman.
“Tunggu, aku telepon dia dulu. Barang kali pria tadi maling.”
“Yooou, teman! Apa yang kau lakukan di sin—“
Akbar langsung membungkam mulut pria itu karena dia berteriak.
“Eh, tunggu! Seperti ada suara di dalam,” ujar Polisi tersebut.
Saat telinganya didekatkan pada pintu itu, telepon miliknya berdering.
“Halo, Nona! Apa rumahmu kedatangan seorang anak muda? Atau dia suamimu?”
Perbincangan terjadi cukup lama juga. Akbar menyuruh pria tadi masuk kembali ke dalam dan memberitahu mereka yang ada di dalam untuk kabur. Namun namanya juga sudah mabuk, tingkat kewarasannya pasti minim. Malah-malah pria itu pingsan saat hendak berjalan, membuat polisi itu terkejut mendengar suara benda jatuh yang tidak jauh dari pintu.
Akbar langsung menepuk jidatnya. Kemudian ia mendengar polisi tersebut meminta ijin memeriksa ruko tersebut. Pemuda tangkas ini langsung menyeret pria itu ke dalam ruko dan menyembunyikannya di dalam ruang kecil, setelahnya ia masuk ke ruang bawah untuk menyuruh mereka menghentikan musiknya sejenak. Akbar menarik Vendra yang masih sedikit waras untuk membuka ruko itu. Ia menjelaskan ada polisi yang curiga. Ruko tempat usaha kelontong itu tidak boleh disegel seperti ruko-ruko sebelumnya.
“Boss, bilang pada mereka kalau kau suaminya. Soalnya wanita itu juga berbohong dari telepon.”
“Kau yakin ini akan baik-baik saja? Aku sudah minum dan bagaimana kalau dia mencium bau napasku? Kenapa tidak kau saja, sih?”
“Mereka akan curiga nanti. Lagipula aku anti dengan polisi.”
Mau tidak mau Vendra harus melakukannya. Pintu terbuka dan polisi itu melihat pria berjaskan kemewahan yang membuat mereka terkejut. Sedang di balik pintu, Akbar bersembunyi untuk menguping.
“Ada apa ini, Pak? Suara sirinemu mengusik tidurku,” kesal Vendra.
“Oh, maaf, Tuan. Aku tidak tahu kalau kau sedang tidur.” Polisi itu langsung mematikan sirine mereka.
“Kenapa ke sini?”
“Tidak ada. Hanya mengecek saja, apa benar Anda suami Nona Rei?” ujar Polisi itu takut-takut.
“Iya, benar! Kenapa?” sangar Vendra.
“Oh, tidak ada.”
“Siapa yang kamu telepon itu!? Istri saya, yah?!” bentak Vendra. Polisi itu langsung ketakutan.
“Sini! Berikan ponselnya. Saya mau bicara dengan istri saya!” titahnya meminta ponsel itu. Kemudian menutup pintu mereka. Polisi tersebut bingung karena ponselnya dibawa masuk.
Ternyata Vendra mencari kesempatan untuk mencatat nomor pemilik ruko itu. Lalu kembali ke luar untuk mengembalikan ponsel polisi itu.
“Ini ponselmu. Kenapa kamu bisa punya nomor istri saya?” intro Vendra.
“Istri Anda yang memberikannya kepada saya, Pak. Maaf kalau saya menganggu tidur Anda, tapi ....”
Polisi itu terdiam dan kelihatan mengendus sesuatu.
“Bau miras?” Vendra dan Akbar langsung terkejut mendengarnya.
“Haha! Siapa sih yang minum miras malam-malam begini?! Pasti tetangga, nih!” keluh Vendra mengalihkan pembicaraan.
“Ya udah, Bapak Polisi sekalian, tunggu apa lagi?”
Akhirnya polisi tersebut pun pergi dan kini Akbar juga Vendra mengembus napas lega. Mereka berdua balik ke bawah.
“Semuanya! Kasih musiknya!” teriak Vendra.
“Lolos, Boss?” tanya para anggota.
“Aman itu. Lanjutkan saja yang tertunda.”
“Boss, Saya pamit pulang duluan, boleh ‘kan?” pinta Akbar.
“Kenapa cepat sekali, Bar? Nikmatilah minumannya, atau wanitanya?”
“Ya udah pergilah!”
Akbar pergi bersama dengan Cecep menuju toko bunga Hanum dan memesan bunga yang sama. Akbar meminta Cecep memesan banyak mawar sekaligus untuk persedian. Supaya Hanum bisa mempersiapkan pesanan mereka dalam tiap harinya dan stok bunga tidak habis. Awalnya membuat Hanum bingung, tapi yang namanya rezeki tidak boleh ditolak.
“Memangnya bunganya untuk apa, Dek?” tanya Hanum.
“Untuk ....” Cecep terpaku membisu karena dia bingung harus bilang apa.
“Euh ... ini—untuk ... untuk ....”
“Untuk teman saya, Kak. Sebenarnya dia yang menyuruh saya membeli ini,” kilah Cecep.
“Oh, begitu. Masalahnya, kenapa pesan banyak sekali dan itu setiap harinya.”
“Haha! Mungkin teman saya suka koleksi mawar.”
“Temannya, apa pacarnya, Kak?” sahut Aisyah.
“Ahaha, saya sudah menikah kok, Dek. Cuma ini untuk teman cowok saya saja.”
“Cowok suka koleksi bunga?” kaget Hanum.
“Euh ... itu untuk adik sama ibunya, Kak, Dek. Soalnya teman saya sayang sama adik dan ibunya yang suka bercocok tanam, hehe.”
“Masalahnya kok tiap hari? Apa pekarangannya tidak kepenuhan mawar nanti.”
Tuntutan pertanyaan itu membuat Cecep kehabisan kata-kata. Ia pun mengeluhkan itu semua pada Akbar. Hingga tanpa diduga, Akbar muncul di hadapan mereka semua. Dengan kacamata hitam dan masker.
“Cep! Kenapa kau lama kali?” Logat batak itu membuat Cecep nyaris terkejut.
“Tante, bisa ‘kan?” Hanum tercengang dengan mulut menganga.
“Apanya itu?” tanya Hanum kembali.
“Mawarnyalah! Apa lagi?! Tak mungkin aku mau beli Bibi atau gadis manis ini, ye ‘kan?” Akbar sedikit memainkan alisnya untuk menggoda.
“Oh, bisa! Bisa! Berarti setiap jam 8 pagi datang ke mari yah untuk ambil bunga?” Akbar mengangguk.
“Ngomong-ngomong, orang Batak, yah?” tanya Hanum.
“Iya, Tante!” sahutnya meriah.
“Namanya?” Akbar terdiam. Bahkan tangan yang tadinya di pinggang langsung diturunkan perlahan.
“Nama dia ... namanya—“ Cecep juga bingung mau jawab apa.
“Perkenalkan, Tanteku yang cantik, namaku Muhammad Khalifah ....” Akbar memotong ucapannya.
“... Daulay.”
“Ohoho, Daulay! Batak betol kau, yah!” seru receh Hanum.
“Aku kalo ada orang Batak ni senang kalilah!” Akbar hanya tersenyum simpul.
“Hanum. Tante Hanum.”
Kemudian tangan Akbar hendak menjabat tangan Aisyah untuk berkenalan.
“Muhammad Khalifah Daulay. Panggil aja aku Ahmad.”
Akbar berakting seolah dia tidak tahu keadaan Aisyah.
“Aku Aisyah.” Gadis manis itu menangkup kedua tangannya di depan dada untuk menyalam pria yang tidak dikenalnya.
“Dia keponakanku. Dia tidak bisa melihat. Hehe, maaf yah?”
“Oh, nggak papa! Anggap aja kita udah kenal jaoh-jaoh hari, haha! Dia cantik juga,” puji Akbar disela kesempatan.
Sejujurnya, di balik kacamata hitam itu, Akbar terus melirik Aisyah tanpa berhenti.
~Bersambung~