
Tubuh jakung itu melangkah masuk ke dalam ruko yang sudah tampak usang itu. Di dalam sana terlihat kosong di atas, akan tetapi saat masuk ke bawah, semua obat-obatan terlarang langsung terpampang di mata siapa pun yang melihatnya. Kaki itu terus melangkah melewati beberapa orang yang berlalu-lalang menyusun pemasokkan. Juga ada peti yang telah siap diantar pukul 11 tadi sejujurnya. Namun, karena pengantarnya memiliki kendala, harus tersendat dan ditunda keberangkatan peti tersebut. Waktu di jam dinding telah menunjukkan pukul 4 sore. Kemudian tubuh itu berhenti di hadapan meja pemilik usaha, Vendra Danawarto. Si pemilik meja khusus itu kini tampak sedang sibuk menelpon customer yang telah gagal pengiriman tersirat.
“Boss!”
Seruan itu membuat Vendra menoleh dan saat itu juga amarah meluap begitu saja. Seperti yang lalu, buku daftar pemasukan dan pengeluaran narkoba miliknya terlempar ke wajah tampan pemuda itu begitu saja.
“Apa kau puas!” hentaknya kesal.
“Klien marah dan hampir membatalkannya. Jika besok tidak terkirim juga maka mereka tidak akan lagi memesan ke tempat kita, apa kau tahu itu!”
“Aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Tapi keadaan membuat ...”
“Diam. Aku tidak mau mendengar alasan.”
Akbar menekuk kedua lututnya di hadapan Vendra membuat sang ketua bingung.
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku mohon maafkan aku,” pinta Akbar.
“Sampai segitunya?”
“Boss, boleh aku minta bantuanmu?” Vendra kelihatan ragu-ragu.
“Apa itu?”
“Aku pinjam uang 8 juta sebagai uang muka. Aku tidak jadi keluar selama uang itu belum lunas,” janji Akbar memohon di kaki Vendra.
“Wow! Alasan?”
“Tidak ada. Aku hanya membutuhkannya.”
*-*-*-*-*
Si jakung langsung menghampiri Cecep di bangku tunggu pasien. Dengan wajah senang dan gembira, Akbar langsung memeluk Cecep.
“Ada apa, Bar? Kenapa wajahmu senang begitu? Kau jadi melamar Aisyah?” Akbar menggeleng dan memberikan uang dalam bentuk cek sebanyak 8 lembar dengan nominal juta.
“Bar! Dari mana dapat uang sebanyak ini?!” kejut Cecep antara bahagia atau sedih.
“Udah, jangan dipikiri, obati aja Ferry dulu. Kalau mereka udah nampak segar kembali, akan aku kasih tau.”
“Bar! Kau memang teman terbaikku. Terima kasih, yah.” Cecep memeluk haru temannya itu.
Akhirnya operasi Ferry dilaksanakan. Sekali lagi, Cecep berterima kasih dan bersyukur karena Tuhan telah mengirim malaikat kepadanya. Dari yang tidak pernah menginjakkan kaki selama hampir 20 tahun terakhir. Kini pria itu datang ke rumah Allah untuk sembahyang dan berdoa. Akbar tersenyum melihat sahabatnya itu. Ia pun tidak ingin ketinggalan untuk ikut andil mengaminkan doa si teman. Selain meminta kesembuhan, Cecep juga meminta pengampunan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
“Bar, aku akan bayar hutangku padamu, tapi tidak bisa sekarang,” ujar Cecep.
“Tidak masalah. Santai saja, Teman.”
“Aku minta maaf yah, Bar. Karena aku kamu tidak jadi lamaran. Padahal uangnya ‘kan untuk itu—“
“Hei, hei, myfriend. Tidak masalah, lebih penting sahabat daripada hati. Hati urusan nanti, kalau jodoh tidak akan ke mana.”
“Ya udah, istirahatlah tepat waktu. Aku akan kembali besok. Kita harus antar paket ke pelabuhan,” sambung Akbar.
“Kau akan tidur di rumah mereka?” Akbar mengangguk.
“Baiklah, kau juga hati-hati di jalan, Teman.” Lagi-lagi Cecep memeluk Akbar tanda terharu akan kebaikan pemuda itu.
"Bar!" seru Cecep membuat pemuda itu kembali menoleh.
"Selamat ulang tahun, yah! Maaf tidak seperti biasanya." Akbar tersenyum senang sekali.
"Itu sudah cukup."
Akbar pulang ke rumah Herman dan saat itu Rizka yang membuka pintu. Sontak saja ia terkejut tidak percaya. Meski Akbar sedikit berbeda, mata jeli Rizka tetap masih menenalinya.
“Akbar!” kejut Rizka.
“Benarkah? Selama ini kamu ke mana saja, Bar?”
“Rizka, biarin Akbar masuk dulu, di luar dingin, nanti Ibu yang jelasin sama kamu.”
Di kamar, Akbar terus termenung menatap langit-langit kamar seraya bermonolog. “Semuanya gagal. Apa sebenarnya kami memang tidak berjodo?”
“Jodoh apa?” Akbar terkesiap dan langsung terduduk di atas kasurnya. Sebab, Herman datang mengejutkannya.
“Kamu masih mencintai Aisya? Atau sudah ada wanita lain?”
“Yah, Pak, Akbar masih mencintai Aisyah. Hanya saja masalahnya ....”
Akibat curhatan semalam, Akbar dibuat senyum-senyum sendiri sambil terus berjalan di koridor rumah sakit. Tidak berapa lama, dilihatnya seorang teman keluar dari sebuah ruangan di salah satu kamar.
“Cecep!” teriaknya mengejar Cecep dan memeluk geram temannya itu. Kesenangan tiada tara membuat Akbar lupa daratan. Sang teman sendiri memberi kode diam karena teriakannya dapat membangunkan yang tidur karena jam masih menunjukkan pukul 5.15 pagi.
“Ada apa sih?!”
“Cep! Kau harus tau, perjuanganku untuk Aisyah itu tidak sia-sia.”
“Perjuangan? Perjuangan apa?” bigungnya.
“Menikahi Aisyah.”
“Hweleh. Memangnya selama ini mau menikahi Aisyah pakai perjuangan? Perasaan kisah cintamu tidak ada rintangannya.”
“Siapa bilang tidak ada rintangan. Setiap kisah cinta pasti punya rintangan. Contohnya saja saat aku harus menjauh darinya dan akhirnya dipersatukan Tuhan kembali.”
“Kau tidak pernah jauh dari Aisyah. Justru setahuku, kau selalu mencari cara agar bertemu dengannya, kau lupa!”
“Bilang saja iya kenapa sih? Tidak bisa apa buat aku senang?” kesal Akbar.
“Ya sudah ayuk. Kita harus antar barang.”
“Kau tidak penasaran?”
“Apa lagi, Bar?”
“Aku akan melamar Aisyah hari ini.” Cecep langsung membulakan matanya.
“Uangnya dari mana?”
“Aku ‘kan punya keluarga—yang dapat membantuku di saat susah. Seorang ayah yang bertanggung jawab untuk anaknya.” Cecep berdecak salut dan mengacungkan jempolnya.
“Kau memang memiliki garis keberuntungan. Tapi apa mereka tidak menanyakan di mana keluargamu?" Akbar hanya bergidiik tidak tahu
*-*-*-*-*
Usai dari mengantar paket, Akbar langsung tembak menuju rumah Yunus, ayah Aisyah. Di sana, pria paruh baya itu dibuat kaget dengan ucapan Akbar. Yunus terdiam cukup lama untuk menjawab lamaran itu. Jika iya maka Akbar akan langsung mengirim barang-barang untuk lamaran yang akan disediakan oleh Herman.
“Nak, bukan aku tidak mau. Kau tahu sendiri bagaimana kodisi fisik Aisyah, dan ....”
“Aku mencintai Aisyah bukan karena fisik, melainkan ketulusan hatinya.”
Jawaban itu cukup membuat tenang hati saat mendengarnya. Akan tetapi, tetap saja yang namanya pernikahan bukanlah hal main-main. Mungkin di awal tampak terima tapi saat menjalani bisa jadi berubah.
“Aku senang dengan ketulusan dan keberanianmu, Bar. Namun, kau benar-benar sanggup hidup dengan putriku tanpa mau memikirkannya dulu?”
“Aku mencintai Aisyah sejak pertama dia mengajarkanku arti ketulusan hidup. Dulu hidupku tidak setenang ini. Jauh sebelum aku mengenal Aisyah, aku hanyalah tubuh tanpa nyawa. Mata Aisyah, senyumnya, suaranya, semua membuat nyawaku kembali dan tidak ingin pergi saat dia ada di hadapanku. Orang bilang, jika kau ingin menikah carilah yang nyaman, aman dan tentram.” Akbar terdiam sejenak.
“Namun bagiku, menikahi Aisyah—aku terasa lebih hidup dan bebanku benar-benar hilang. Aku mencintai putrimu, Aisyah, As-syifa,” ujar Akbar beserta dengan nama lengkapnya.
Allahu Akbar! Allahu Akbar!
~Bersambung~