My Love From The Sky

My Love From The Sky
Mawar yang mengingatkan segalanya


Ulasan senyum itu memudar tatkala ingatan masa kecilnya terngiang. Di mana seorang anak tampak memberikan sebatang mawar merah kepada ibunda tercinta. Namun saat mencoba melepas, tangan kecilnya tergores duri mawar itu sendiri.


"Kak! Sadarlah, kenapa malah melamun?"


Akbar tersadar dari lamunannya. Air mata itu keluar atas unsur ketidak-sadaran.


"Kakak menangis?"


"Haa? Tidak. Aku juga tidak tahu kenapa air mata ini keluar," ujarnya santai membuat adik Aisyah tertawa.


"Oh iya, Aisyah di mana?" tanyanya pada adik Aisyah itu.


"Kakak siapa? Eoh, jangan-jangan calon kakak ipar?" Akbar terpelongo.


"Maksudnya?"


"Oh, bukan yah?" Adik Aisyah itu membuat Akbar semakin tidak mengerti.


"Aku pikir kakak adalah calon Kak Ais," ucap Nissya.


"Nama aku Nissya."


"Akbar."


"Kakak tampan, tinggi, juga dewasa. Aku pikir calon Kak Ais. Maaf kalau salah." Akbar yang merasa dipuji itu pun tersenyum sipu.


"Jadi, di mana dia?"


"Emm ... Kak Ais lagi kerja. Dia bantu Bibi jualan bunga di pasar."


"Loh? Bukannya Aisyah ...." ucapan itu terpotong saat dia sadar bahwa Aisyah punya kemampuan luar biasa.


"Oh, begitu yah?" Nissya mengangguk.


*-*-*-*-*


Aisyah begitu teliti memilah bunga yang dipesan setiap orang. Setiap pasang mata takjub melihat kelihaian gadis satu ini. Sementara di satu sisi, bibi Hanum yang merangkainya dan menerima uang.


Kaki berbungkuskan sepatu itu melangkah masuk dan sekerjap setelahnya suara hiruk piruk hujan dan petir terngiang di gendang telinganya. Membuat tubuhnya sedikit oleng dan bersanggah pada pintu.


"Kamu kenapa, Akbar?" tanya Herman.


"Sshh ... entahlah, rasanya tempat ini begitu berisik."


"Mau cari apa, Pak? Masuk saja. Pilih mau bunga apa?" Hanum menghampiri kedua pria di depan pintu masuk itu.


"Eoh, bukankah kau pria yang sebulan lalu ke sini memesan mawar?" Akbar mengernyit dikuti Hanum yang merasa apa ia salah cakap. Pak Herman pun sedikit terkekeh guna mencairkan suasana.


"Wah! Akbar, itu artinya kau cukup terkenal di daerah ini, yah? Soalnya hanya aku yang tidak mengenalmu. Di setiap penjuru kita berhenti selalu ada yang mengenalmu. Bapak rasa kamu orang baik," ujar Herman.


"Apa Bibi mengenalku?" Hanum mengangguk.


"Kau memesan mawar porsi besar dengan 3 warna. Tapi kau minta banyakan warna merahnya. Kau juga yang menyenggol vas bunga aluminiumku, sebenarnya kau lupa atau pura-pura lupa?" ketus Hanum bertanya.


"Haha, sebenarnya anak ini sedang proses pemulihan dari amnesia. Dia mengalami kecelakaan hampir sebulan lalu," terang Herman.


"Innalillahi! Pantas saja. Maafkan Bibi, yah?"


Akbar hanya tersenyum. Kemudian pria itu masuk untuk menemui Aisyah. Hanum memperhatikan Akbar yang membuat sesuatu terganjal dalam pikirannya. Seketika ia melihat pria pengangkut beras di seberang jalan dan ia juga mengingat bahwa pertemuan dengan Akbar bukan satu kali saja.


"Tapi sepertinya aku mengenal Anak itu?" pikir Hanum.


"Ini bukan pertemuan kami yang kedua kalinya. Seperti pertemuan ke beberapa kalinya dengan tidak saling menyapa," monolog Hanum.


"Kenapa dia datang ke sini?" tanya Hanum kepada Herman.


"Ingin bertemu Aisyah."


"Tapi Akbar mengenal Aisyah. Katanya gadis manis itu begitu akrab dalam penglihatannya."


"Begini, Pak. Aisyah keponakanku dan dia jarang bergaul dengan lawan jenis. Paling jikalau pun bergaul hanya dengan Riko, tetangganya. Lagipula Aisyah bukan tipe yang banyak teman karena kekurangannya."


"Emm ... mungkin pertemuan di jalan dan mereka saling membantu. Terkadang kita tidak tahu cara bagaimana bisa kenal dengan orang. Padahal sangat asing sekali, hanya sang Maha Kuasa yang mengetahui itu."


Hanum akhirnya mau mengerti dan ia mempersilahkan Herman untuk duduk sembari menunggu dan bertanya sedikit tentang Akbar. Dia siapanya dan kenapa bisa penyakit itu ada pada pemuda tangguh itu.


"Hai Aisyah," sapanya.


"Yah?"


"Aku Akbar."


"Oh, Akbar. Ada apa?"


"Tidak ada. Hanya ingin menemuimu saja. Sekalian melihat bakatmu yang kata adikmu begitu lihai memilih bunga. Bisakah kau bawakan aku bunga mawar merah?" Aisyah tersenyum dan berjalan mengambilnya untuk Akbar. Kemudian membungkusnya dengan rapi dan memberikannya pada pemuda yang terkagum itu.


"Wah! Dari mana kau bisa tahu semua letak bunga ini?"


"Aku mempelajarinya terlebih dahulu. Lebih tepatnya menghapal tata letaknya."


"Benarkah? Kalau begitu, sekiranya tata letaknya berubah?"


"Aku akan mengenalinya dari harum bunga itu sendiri."


"Bukankah ada juga bunga yang tidak berbau?"


"Aku akan lihat dari bentuknya."


"Kalau warnanya?"


"Aku ...." Ucapan itu tergantung.


"Bukankah pandanganmu gelap dan pastinya untuk membedakan warna sangatlah sulit."


Pernyataan yang sekaligus pertanyaan itu menutup mulut Aisyah rapat-rapat. Hal itu mengingatkannya pada seseorang yang juga pernah mengatakan itu sebelumnya. Meski kosa-kata dan tutur bahasanya berbeda tapi memiliki makna sama.


"Apa kau pria yang bersembunyi di dalam toko ini sebulan lalu?" ketus Aisyah


Akbar, Hanum, Herman, terkejut bersamaan dengan ucapan Aisyah.


"Kau pria yang memesan mawar dengan tiga warna dan lebih dominan pada warna merah, iya 'kan?" tebak aisyah.


"Dari mana kau tahu, Aisyah?" sambung Hanum bertanya. Akbar semakin kebingungan.


"Suaramu sangat khas saat bertanya hal itu. Suara boritonmu sangat kukenali dan tidak akan pernah aku lupakan," ujar Aisyah.


"Kau pasti juga pria yang diincar po--" Aisyah menghentikan ucapannya saat ia sadar sedang bicara dengan pemuda yang hilang ingatan. Meski hatinya sedikit ragu itu benar anmesia atau hanya tipuan belaka demi keselamatan.


"Maaf, sepertinya aku salah sangkah tadi. Tapi sepertinya itu bukan kau. Aku rasa aku salah, Bi."


"Tidak, Aisyah, Akbar ini memang pria yang memesan bunga mawar waktu itu. Hanya dia sedang terkena amnesia sementara karena sebuah kecelakaan, iya 'kan Akbar?"


"Iya, Bi."


*-*-*-*-*


Ingatan yang terlupa, bagaikan puingan puzzle yang ingin segera disusun oleh Akbar. Kehidupan masa lalu dan pertemuan yang membuat dirinya serasa mengenal Aisyah begitu membuat penasaran. Bagai di ujung tombak yang akan siap menerjang. Seperti itulah Akbar bersemangat mengingat. Dirinya tidak tahu akan apa yang terjadi saat mengingat semuanya kembali.


Tanpa disadari sudah 2 minggu berlalu dan Akbar semakin akrab dengan Aisyah. Gadis tuna-netra itu mencoba melupakan siapa Akbar sebelumnya. Karena saat dengannya pria itu baik, memang sedari awal pun Akbar tidak menakutkan.


Kedua insan polos itu masih belum tahu status tersembunyi dari balik diri Akbar sendiri. Keduanya menjalani persahabatan karena sebuah ketertarikan. Yah, pemuda 27 tahun itu tertarik dengan gadis buta yang cerdas itu. Terkadang kecantikan dan kepintaran Aisyah menutupi kebutaan pada matanya. Membuat Akbar merasa takjub dan tersentuh dengan gadis kekurangan tapi punya kelebihan itu. Kini keduanya saling bertukar ilmu bagaikan murid dan guru. Akbar menimbah ilmu dari Aisyah, juga dari ayah Aisyah dan Herman.


~Bersambung~