My Love From The Sky

My Love From The Sky
Hari yang mengejutkan


Adik Aisyah yang membuka pintu untuk pemuda ini. Alangkah terkejutnya gadis itu saat melihat orang di hadapannya adalah Akbar.


“Kakak, 'kan ....”


Sang ayah juga menghampiri pintu masuk rumahnya dan ikut terkejut melihat Akbar.


“Akbar?!”


*-*-*-*-*


Keluarga Aisyah berkumpul di hadapan Akbar yang masih bingung harus mulai dari mana? Untuk berbicara saja, lidahnya begitu kelu dan malu. Akankah dia sanggup melamar dengan cara tiba-tiba seperti ini. Terlebih, ayah Aisyah tidak tahu asal-usul dirinya. Kebingungan membuatnya gugup.


“Assalamualaikum,” tutur sapa Cecep masuk ke dalam mewakili orang tua Akbar.


“Akbar,” panggil Yunus pelan.


“Yah, Pak?”


“Kenapa kamu lari dari rumah sakit? Herman mencarimu dan polisi juga ikut campur dalam hal ini. Ke mana saja kamu, Nak?” tanya Yunus.


“Kamu tahu? Herman begitu mengkhawatirkanmu,” ujarnya menggenggam tangan Akbar.


“Euh—itu ....”


Akbar benar-benar bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, kedatangan dirinya sebenarnya adalah untuk melamar Aisyah.


“Pulanglah ke rumah Herman, Bar. Dia merindukanmu. Dia sudah menganggapmu anaknya. Dia benar-benar merasa kehilanganmu waktu itu.”


Mendengar permintaan dari mulut Yunus membuat Akbar tidak bisa menolak dan dirinya pergi ke rumah Herman yang katanya merindukannya. Awalnya Cecep bilang itu ide gila. Lebih baik pulang saja. Akan tetapi, Akbar sudah berhenti saja di rumah tujuannya. Kaki itu melangkah masuk dan coba dihalau oleh Cecep.


“Kau yakin ini ide bagus?” Akbar mengangguk pasti.


Pemuda itu memencet tombol bel pada sisi dinding. Lalu dari dalam seorang wanita menjawab panggilan bel itu. Kemudian pintu terbuka dan wanita yang tidak lain adalah Reha terkejut bukan main.


“Akbar!”


Saking senangnya dia langsung memeluk pemuda itu. Disusul oeh Herman yang tadi masih duduk di ruang tv. Reha langsung mempersilahkan Akbar dan Cecep masuk. Keduanya segera dihidangkan dengan minuman favorit Akbar yang dibuat oleh tangan Reha sendiri.


“Ke mana saja kamu selama ini, Bar?” tanya Herman dengan wajah senangnya.


“Maaf, Pak, Akbar tidak pernah bilang sama Bapak kalau Akbar sebenarnya sudah ingat siapa diri Akbar.”


“Benarkah?! Baguslah, jadi bagaimana dengan statusmu?” Akbar terdiam sejenak.


“Orang tua Akbar masih hidup. Akbar ingat kalau waktu itu jatuh dikarenakan tidak fokus berkendara,” jelas Akbar.


“Jadi, selama ini kamu tinggal di mana?”


“Di rumah teman Akbar, Cecep,” unjuk Akbar kepada Cecep yang hanya mengangguk.


“Terus kenapa tidak balik lagi ke sini?”


“Akbar malu, Pak. Masa iya Akbar udah ingat masih harus pura-pura.”


“Kamu salah. Justru kamu buat Bapak hampir jantungan karena tidak memberi kabar.”


“Iya, Bar, karena kamu pergi tanpa pamit. Bapakmu harus diinfus untuk satu hari,” sahut Reha.


“Benarkah, Bu? Kalau begitu Akbar minta maaf.”


“Sebaiknya kali ini jangan pergi lagi. Kau tahu, Rizka sudah punya pacar sekarang. Katanya selesai kuliah dia mau nikah,” ujar Herman senang.


“Baguslah.”


“Jadi, selama tinggal di rumah temanmu, apa yang kau lakukan di sana, Bar?” Akbar membisu.


“Euh ... dia kerja antar pizza, Pak,” jawab Cecep menyambar. Lalu diangguki cepat oleh Akbar.


• • •


Akbar terus bersiul tanda senang melandanya. Sementara Cecep mengerucutkan bibirnya melihat iri terhadap pria itu. Pemuda 28 tahun ini diamanahkan untuk memegang saham pasar di Jakarta Barat dan itu dihadiahkan oleh Herman kepadanya.


“Sepertinya hidupmu beruntung, yah?” iri Cecep.


“Cep! Tenanglah! Aku tidak akan melupakanmu. Oh ya, terima kasih untuk selama ini.”


“Jadi kau akan benar-benar berhenti sekarang?” Akbar mengangguk mantap.


“Menikahi Aisyah?” mengangguk kembali.


“Benar-benar beruntung. Di hari ulang tahunnya dapat kenikmatan berliat ganda,” gerutu Cecep dalam batinnya.


Tring ting ting!


Tring ting ting!


Ponsel Cecep berdering yang ternyata panggilan dari istrinya, Nia. Begitu ponsel diangkat, Cecep terdiam tidak berkutik membuat Akbar bingung.


“Ada apa, Cep?”


“Bar! Ayo putar balik. Pulang ke rumah!” arsak Cecep.


“Kenapa, Cep? Wajahmu kenapa serius begitu?”


“Udah putar balik, cepat!”


Mobil langsung putar haluan mendadak. Awalnya tujuan rumah Aisyah untuk melamar, kini harus pulang entah karena apa. Saat sampai di sana, ternyata anak Cecep paling kecil terkena demam berdarah dan harus dibawa ke rumah sakit. Akan tetapi, gaji Cecep baru habis tiga hari lalu. Akbar pun menyodorkan uang tabungannya yang niatnya untuk biaya lamaran.


“Ini, ‘kan ....”


“Udah, pakai saja dulu. Anggap saja hutang numpang di rumahmu. Aku juga akan dapat duit bulan depan dari hasil pasar,” ujar Akbar meringankan beban Cecep.


“Terima kasih yah, Bar.”


Cecep memeluk haru temannya itu dan langsung membawa sang anak ke rumah sakit dengan mobil. Sementara dirinya tinggal dengan Ferry di rumah. Di saat itu juga Vendra menelpon.


“Kenapa belum diantar juga!” omel Vendra dari balik telepon.


“Maaf, Boss! Tapi sepertinya aku berhenti detik ini juga. Satu lagi, tangan kananmu sedang ada masalah. Anaknya kena DBD. Jadi harus segera dibawa ke rumah sakit. Tunda saja hingga besok.”


“Enak banget mulut kamu kalau bicara, yah! Klien kita akan marah besar nanti!” bentak Vendra.


“Lebih penting Klien atau Pekerja? Tanpa ada Cecep, kamu juga tidak akan berjalan, paham!” balas Akbar dengan kekesalan. Sambungan langsung diputus begitu saja.


“Uh! Dasar bengis! Kamu kira kepentingan kamu saja yang harus dituruti? Setiap orang punya kepentingan juga, Aneh!” gerutu Akbar kesal.


Selesai dari teleponnya, netra Akbar mendapati Ferry memegang dadanya dengan napas tidak stabil. Sontak saja pemuda ini langsung menghampiri dan menanyai keadaannya. Namun tidak dijawab dan Ferry terus-menerus manarik ulur napasnya. Padahal tadi kelihatan baik-baik saja saat menonton, tiba-tiba langsung begitu. Akbar dengan cepat menelpon Cecep dan pria itu langsung tembak menuju rumahnya. Selain anak keduanya, kini Ferry juga harus dilarikan ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, dokter memeriksa jenis penyakit yang diderita Ferry. Ternyata ....


“Anak Bapak mengalami penyempitan pembulu darah. Kita harus segera mengoperasinya,” saran Dokter tersebut. Cecep yang benar-benar terkejut langsung terduduk di lantai rumah sakit. Dirinya dibuat drop seketika dengan penyakit anak-anaknya.


“Sekaligus?” tanya dalam pandangan kosong. Akbar menjongkokkan diri di samping tubuh Cecep guna menenangkan pria itu.


“Kalau operasi pasti mahal,” keluh Cecep.


“Biaya operasinya 8 juta. Jika setuju langsung hubungi saya yah, Pak.” Dokter tersebut pergi dan tinggallah Akbar juga Cecep yang dalam kebingungan.


Uang gaji per-bulan tidak sampai 8 juta. Sedangkan uang dari sisa berobat anak keduanya hanya 800 ribu.  Ia akan gajian bulan depan dan dari mana dalam waktu 1 jam dapat 8 juta?


Keduanya duduk di ruang tunggu pasien. Baik Cecep ataupun Akbar, keduanya berpikir cara mendapatkan uang yang hanya bulan depan bisa didapat. Tidak mungkin mereka berhutang kepada pihak rumah sakit untuk biaya operasinya. Jika ditunda kasihan Ferry yang harus mendapat darah dan udara dari selang yang masuk ke tubuh. Itu pasti menyakitkan bagi anak seusianya. Belum lagi untuk makan dan biaya kontrak mereka yang jatuh pada lusa mendatang. Ujian seperti apa ini? Apakah mereka akan mendapatkan jalan keluar? Terus ikuti ceritanya.


~Bersambung~