SRI

SRI
9. Pertengkaran 1


"Gue Sigit, dan lo?" sang penolong mengulurkan tangannya


"Sri" jawab sri menjabat tangan yang sigit ulurkan


Mereka akhirnya berkenalan dan dilanjutkan dengan obrolan-obrolan ringan hingga selesai makan.


"makasih ya git, udah nolongin" sri bertrimakasih saat mereka sudah sampai di depan rumah sri


"sama-sama, makasih juga traktirannya, sering-sering ya" jawab sigit


"bisa diatur, masuk dulu ya, dah.." sri berpamitan dan masuk ke rumah, sigit pergi melajukan motornya


Sri dan sigit semakin hari semakin menjadi akrab, apalagi mereka ternyata satu kampus hanya saja sigit satu tingkat diatasnya. Sri memberi tahu sigit kalau dia sudah mempunyai suami, tapi itu tidak masalah untuk sigit, karena sigit dan sri mereka hanya berteman biasa saja, sigit juga sering main ke rumah sri, bu eni pun juga suka dengan kedatangan sigit membuat rumah jadi rame, dia juga sering memborong kue tradisional buatan bu eni. Sri juga menceritakan teman barunya pada satria. Satria yang jarang pulang ke rumah istrinya dan sibuk dengan bisnisnya memberikan kepercayaan penuh pada istrinya.


"Asal kamu bisa jaga diri aja sri, dan tetep belajar yang rajin. Kamu bebas mau berteman dengan siapa saja" nasehat satria pada sri saat mereka makan siang bersama di sela-sela kesibukan satria


"iya mas" jawab singkat sri masih dengan mengunyah makanannya


"sayang, kita kan udah beberapa bulan menikah, kamu belum ada tanda-tanda ya?" satria bertanya pada sri


"tanda-tanda apa mas?, hamil?" sri bertanya balik


"iya, si nur udah mau lahiran"


"kayak cepet banget sih udah mau lahiran aja"


satria mengangkat kedua bahunya "nyicil dulu kalik"


"ish... ngawur" sri memukul mencubit tangan satria


"achhh..." satria mengaduh "masih pedes aja cubitannya... cuman mengungkapkan pendapat kok, kamu udah periksa ke bidan belum?"


"udah, katanya sabar aja, yang menikah tahunan aja banyak yang belum dikasih hamil. aku yang baru beberapa bulan suruh santai aja dulu" sri menjelaskan dengan santai


"oh gitu... ada ya bidan yang ngomong kepasiennya kayak gitu"


"ada tuh, kalau gak percaya makanya anterin periksa sekalian mas diperiksa, gak cuman nyuruh aja, terus periksanya ke dokter spesialis kandungan bukan dibidan komplek, pelit amat" ujar sri sewot


"sejak kapan aku pelit sama kamu? kamu minta apapun aku turutin, aku kerja siang malam capek-capek, sampai jarang pulang juga buat siapa?" satria marah terpancing dengan perkataan sri


"aku nggak nyuruh kamu kerja siang malem mas, uang kuliahku udah ada di ibuk sampai selesai, kamu jarang pulang juga aku nggak suruh, aku maunya malah kamu tetep disini aja, kamu sendiri yang pilih bolak balik" sri membalas omelan satria dengan omelan juga


"aku kan udah bilang, aku mau semua biaya kamu dan ibuk apapun itu, sudah jadi tanggung jawabku. aku bolak balik jugakan harus ...." belum selesai kalimat satria terucap harus terpotong


"bodo amat! udah... aku bentar lagi ada kelas, assalamualaikum" sri beranjak menarik tangan satria untuk dicium lalu berlari pergi meninggalkan satria


.


.


.


Suda dua hari setelah perdebatan mereka siang itu sri maupun satria tidak saling menghubungi dan bertemu, satria memilih untuk menginap dirumah orang tuanya. Sri masih kesal kepada satria jadi dia enggan menghubungi satria terlebih dahulu, sri menunggu permintaan maaf satria yang telah memarahinya. Sedangkan satria berfikir untuk memberikan sri waktu sendiri meredakan amarahnya.


Sri menceritakan kekesalannya pada novi dan sigit dikantin kampus saat mereka sedang istirahat jeda menunggu mata kuliah berikutnya


"kesel banget, cowok emang semua sama aja, nggak peka!"


"enak aja, gue nggak termasuk ya" sigit menimpali sri mendengus kesal mendengarnya


"lo juga sih sri, ngejelasinnya pakek emosi, ya lakik lo kepancing juga emosinya, mana dia capek habis kerja lagi. semuanya kan bisa diomongin baik-baik sri" nasehat novi


"lo malah ngebelain dia sih, yang temennya itu aku apa dia? jangan-jangan kamu naksir lagi sama mas tri" ucap sri bersungut-sungut


"dih... tua gitu, nggak tipe gue" novi berucap "gue kan cuman ngasih tau pendapat kalau ada diposisi dia, udah baikan aja telpon dia, pusing gue kalau lo lagi ambekan, udah berisik, belajar juga nggak fokus, nyusahin aja" gerutu novi


"aahh sigit lo kok malah makan muluk sih, gue galau nih, nggak ada kabar dari mas tri sehari aja pikirin gue udah aneh-aneh, ini dua hari malah dia nggak ngehubungin gue" ungkap sri menitih kan air mata


"udah jangan nangis, tambah jelek lo" sigit mengambil tisu mengelap air mata sri dipipi


"telpon aja suami lo" lanjut sigit


"enak aja, aku masih sebel... nggak mau telpon dulu" sri menolak anjuran sigit


"jadi aku yang salah ya.... huaaaa...." tangisan sri menjadi-jadi


"elo sih git, jadi tambah melow kan nih anak" novi melototi sigit


"kok jadi gue " sigit menggaruk tengkuknya yang tak gatal


"gini nih alesan gue ngikutin tim no nikah muda, ribet tambah labil" gumam novi yang memeluk sri


.


.


.


Malam harinya sri tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur, dia terpikirkan perkataan sigit tadi, dia membuka tutup ponselnya, ingin menghubungi satria atau tidak dia bingung, tapi dia harus segera menyelsaikan masalah yang sebenarnya sepele ini.


Akhirnya dia memutuskan menelfon satria dan meminta maaf terlebih dahulu


panggilan pertama tak diangkat


panggilan keduapun tak diangkat oleh satria


panggilan ketiga juga masih sama tak ada jawaban


sri membuang sembarang ponselnya ke atas kasur, tak berselang lama terdengar panggilan dari ponselnya ada nama satria di layar ponselnya


"assalamualaikum" sri mengangkat panggilan


"wa'alaikum salam, udah ngambeknya sayang" ucap satria ditelfonnya


"mas dimana?" sri tak menjawab pertanyaan satria


"di depan pintu kamar" suara pintu dibuka, sri menoleh kearah pintu terlihat satria tersenyum menghampirinya. Sri turun dari kasurnya berdiri dan memeluk satria, satria membalas pelukannya


" aku nggak ngambek, cuma kesel"


"mas kok nggak telfon-telfon aku"


"nggak chat aku juga"


"aku pikir mas yang marah"


"nggak pulang-pulang juga, aku nggak bisa tidur dari kemaren"


"aku jadi nggak konsentrasi belajarnya"


"huuaaaa......."


tangis sri pecah setelah mengeluarkan isi hatinya


"mas kok bisa tiba-tiba ada disini, kenapa aku telpon nggak diangkat-angkat" sri melanjutkan ucapannya ditengah tangisan


"mas... maaf... maaf" sri melepas pelukannya dan menundukkun kepalanya


"sudah?" satria menarik dagu sri membuat sri mendongakkan kepala dan menatap satria, sri hanya diam tak menjawab pertanyaan satria


"mas juga minta maaf, maaf, mas sayang kamu sri" satria memeluk sri lagi, merka pun berbaikan dan tidur tanpa membahas masalahnya.


.


.


Sementara itu ditempat lain, dirumahnya sigit sedang memukul-mukul kepala ditembok kamarnya


"ishh sialan, kenapa gue mikirin sri muluk" sigit begumam sendiri


"rasanya hati gue sakit lihat dia nangis kayak tadi" sigit menghela nafas panjang


"dia udah punya orang sigit, sadar lo sadar lo" dia masih berbicara sendiri dikamarnya, meresahkan pikirannya yang selalu terbayang sri dan tingkah-tingkah konyol sri bersamanya


"kalau tau bakal jadi begini hati ini nggak akan deh deket-deket dia, nyari masalah aja" sigit merebahkan dirinya ditempat tidur dan berusaha untuk tertidur