SRI

SRI
34. Lamaran


Hidup kadang kala memang harus seperti itu, seperti semua ada balasannya. Yang kita lakukan dulu dimasa lampau akan ada kaitannya dengan takdir yang kita terima dimasa depan.


Mungkin itu yang sedang sri rasakan. Dulu dimasa dia masih punya orang tua, hidupnya bak putri keraton yang semua keinginannya selalu terkabulkan, kasih sayang dari kedua orang tuanya sangat terealisasikan dengan tepat dalam kehidupannya dulu, pekerjaan rumah pun hampir tak pernah ia lakukan.


Dan dia seperti harus membayar semua dengan nasibnya kini. Untung saja dia dulu selalu bersikap baik pada semua orang. Jadi kini dia pun dikelilingi orang-orang baik.


Ya walupun dia masih dimanja-manja dan mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua angkatnya, tapi tetap saja dia masih merasa bahwa hidupnya amat tragis.


Dan beruntungnya dia dianugerahi mental bagai baja, setidaknya dia tidak gila. Mungkin itu cukup, untuk menjalani sisa hidupnya.


"Apes banget nasip lo kak" sarah mengomentari nasib malangnya, setelah sri mengatakan alasan dia berhenti bekerja


"Papa sama mama kan nggak pernah nyuruh kamu kerja sri, uang tabungan mu cukup buat biaya kuliah. Udah deh nggak usah aneh-aneh buat nyari kerja lagi. Buat kamu makan dan shoping-shoping sama sarah si kecil, sisa-sisa uang kita ya pa?" mama ikut bersuara mengajak papa untuk mendukung dia dalam hal melarang sri bekerja


"iya" jawab papa singkat, masih fokus dengan ponsel ditangannya.


Mereka sedang berkumpul diruang tivi, setelah makan malam bersama. Berkumpul menonton acara tivi dan berebut remot, saling bercerita, juga sidang bila salah satu diantara mereka ada yang melakukan kesalahan. Itu menjadi salah satu cara mama agar keluarga mereka tetap kompak dan saling sapa, setalah seharian mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"sri kan harus belajar mandiri pa ma, nggak selamanya kan disini terus ngerepotin mama sama papa terus.." sri memberikan alasannya setelah diam tidak bersuara, hanya mendengarkan suara sarah dan mama yang sibuk membujuk sri untuk tidak mencari pekerjaan lagi


"nggak pernah ngerepotin" sahut mama dengan cepat


"iya makasih ma, tapi sri harus tetap mau cari kerja" sri masih tetap pada pendiriannya


Bukan apa-apa kalau dia tidak bekerja dan menikmati hidup bak putri keraton seperti dulu lagi. Keluarga sigit cukup kaya dan hartanya tidak akan habis walau menambah anak satu lagi. Hanya saja sri kurang nyaman dengan itu. Dia bukan siapa-siapa disini, tidak ada kaitan darah barang seupil pun. Atau bisa jadi paling kejamnya dengan mudah mereka menendang sri dari sana bila sudah tidak menginginkan sri. Dia cuma teman sigit yang lebih dekat dari sisi pergi bersama, bermain bersama, dan tidak ada kelebihan lainnya. Bahkan untuk membalas perasaan sigit saja dia tidak bisa. Eh belum bisa. Sri tidak enak hati pokonya.


"Apa kamu nggak nyaman sri?" kini papa yang bertanya, seakan melihat ke resahan dan kekhawatirannya, sri mengangguk.


"nggak nyaman yang mana? cintanya sigit atau sikap papa mama yang berlebihan sama kamu?" papa bertanya lagi dan membuat sigit yang sejak tadi diam sibuk dengan game diponselnya, mengangkat kepala dan melotot


"Pa" sigit menegur papanya agar tak asal bicara lagi, sigit kaget dengan ucapan papanya tadi


Dan semua orang disana beralih menatap sigit


Astaga papa


batin sigit


Sri diam membeku, kedua-duanya benar. Itu semua alasan sri ingin mandiri.


"nggak usah sok kaget deh kak, semua juga tau kakak naksir kak sri. Kelihatan banget malah bucinnya" sarah seolah menjawab pertanyaan dikepala sigit, kenapa papa bisa tahu dia suka sri


"ngaco kamu" sigit salah tingkah


"halah gaya mu git, sejak dulu juga mama udah tahu kalau kamu suka sama sri. Kamu tu ya dari dulu yang diceritain setiap hari sri muluk, sri hari ini lagi pakai baju apa, sri lagi ngidam apa, kenaikan berat badan sri waktu hamil juga kamu cerita" mama menambahi rasa malunya sigit. Sigit semakin merah kupingnya


"tu denger kak, jangan cuekin kakak lagi, jangan pura-pura nggak tahu lagi. Kita udah kasih tahu dengan jelas ini. nungguin kak sigit yang bilang sendiri mah nggak akan, sampai jadi nenek kamu kak. Dia nyalinya ciut soal hati" ujar sarah menohok dua hati sekaligus, sri dan sigit


Sri dan sigit, sama-sama diam. Dari pada salah ngomong atau salah tingkah mereka memilih jalur aman dengan diam. Untung saja mereka duduknya berjauhan sejak tadi.


"kalau mau nyaman dan udah nggak ngerasa nggak enakan lagi buat tinggal disini selmanya, ya kamu tinggal jadi mantu mama aja sri" celetuk mama memberi ide


"hah" sri dan sigit kompak kagetnya


"nikah sama sigit" tambah mama lagi


Sri dan sigit saling menoleh dan saling bertatapan, lalu menolah lagi kearah mama bersamaan


"gimana, mau nggak?" mama menunggu jawaban


"mama ngelamar aku?" sri sontak bertanya tanpa pikir


"he'em" mama mengangguk


"ma udah deh" sigit menegur sang mama


"terima aja kak, nggak usah nunggu kak sigit yang ngelamar dulu, bisa-bisa sampai menapause kami" sarah memberi dukungannya


Sri semakin pusing dibuatnya. Apa-apaan ini, lamaran mendadak lagi? Oh puja kerang ajaib, sepertinya kecantikan sri setara denga Ken dedes. Sampai-sampai dia dilamar mendadak dan mungkin akan dinikahkan mendadak lagi. Apa? mendadak menikah lagi, oh jangan, sri sedang tidak mau berurusan dengan hati lagi.


Sri menatap ke arah papa, mencari pertolangan disana beeharap papa akan menjadi dewa penolongnya saat ini. Bahkan dia berharap papa tidak merestui dia dan sigit saat ini. Kalau dimasa depan ya nggak tahu ya, hati manusia kan bisa berubah-ubah.


Papa mengalihkan pandangannya dari ponsel, merasakan ada yang sedang menatapnya, sri sedang menatapnya denga iba


"kalau papa sih terserah kalian, yang menjalani kan kalian, bukan papa. Menurut papa ya, baiknya kalian selesaikan dulu kuliahnya, sigit kerja dulu lah yang mapan" papa benar-benar menolongnya kali ini, sepertinya papa tahu kode mata yang diberikan sri.


Sri bisa bernafas lega, pendapat papa semoga mampu menyangkal ide gilanya mama


"kalau gitu, tunangan dulu aja" wah kali ini ide sarah benar-benar tidak membantunya. Sri berjanji nanti dia akan menyembunyikan bantal guling dan selimutnya.


.


.


.


Beberapa hari berlalu setelah perbincangan mencekam dirumah kelurga sigit malam itu, yang tidak terjadi kesepakatan apa-apa karena sigit mengancam akan mogok bicara pada siapapun kalau masih membahas itu. Dan sepertinya membuat sri lega.


Semua masih bersikap biasa-biasa saja seperti sebelum adanya lamaran yang tak jelas jadinya itu.


Kecuali sikap sigit dan sri, sigit jadi terlihat lebih canggung dan sedikit menjauh dengan sri, obrolan mereka pun hanya seperlunya saja. Sri pun juga terlihat sama.


"lo ada apa sih sama sigit sri? jadi jauhan gini. Saling menghindar. Nggak asik banget kalian" novi memprotes perilaku dua sahabatnya yang akhir-akhir ini menjengkelkan.


Gimana novi tidak jengkel, setiap dia sedang bersama sri, sigit selalu pergi atau menghidar. Begitu sebaliknya


"dia yang jauhin gue" ujar sri pada sahabatnya itu di taman kampusnya, usai kelas mereka selesai.


"halah, lo juga sama aja. Kalo gue lagi sama sigit, gue panggil lo pura-pura budeg, gue ajak makan bareng lo tolak, banyak kali alasan kau bubuhkan" ujar novi dengan nada kesal


"gue nggak akan gitu kalau dia nggak mulai duluan kayak gitu" balas sri tak kalah kesal


"la iya apa alsean kalian begitu?"


"gue dilamar mama, buat jadi mantunya?"


"hah! alamak, gercep si mamak dari pada anak, gimana ceritanya?" novi benar-benar kepo


Lalu sri menceritakan kejadian lamaran mendadaknya itu dengan detail. Novi mendengarkannya dengan seksama.


"hahahaha...ada-ada aja ya si mama idenya" novi terkekeh setelah mendengar cerita sri


"gimana menurut lo nop?" tanya sri meminta pendapat


"menurut apa? nggak paham gue" jawab novi


"ya itu, lamaran nya mama, gue terima apa tolak?" sri menjelaskan pertanyaannya


"ya gue nggak tahu, kan lo yang jalani, lo yang ngerasain, tanya sama diri lo sendiri, hati lo gimana" novi mengangkat bahunya tanda dia tidak tahu jawabannya


"kok gitu sih, biasanya kan lo punya wejangan, eh lo kan cenayang, terewang deh gimananya gue sama sigit dimasa depan"


"sinting" novi mengumpat


"hahaha.." sri terkekeh mendengar umpatan novi


"lo baikan aja dulu sama sigit deh" saran novi


"gimana caranya? dia ngehindar mulu kalo gue deketin, ngomong aja seperlunya. Hampir nggak ngomong malah" keluh sri putus asa


"ya apa kek gitu, masuk nyelonong ke kamarnya kek, pura-pura butuh bantuannya kek, mikir lah sri pakai otaknya jangan buat isian kepala aja tu otak. Kalian tu serumah bisanya malah diem-dieman berhari-hari" novi memberi masukan dengan sarkasme


"iya iya ntar gue cari cara buat baikan, bawel"