SRI

SRI
37. Obat sakit perut


Orang bilang cinta itu buta tak bisa memilih, ya itu buat orang yang beneran buta aja mungkin. Nyatanya beda dengan sri dulu dia dengan sadar memilih dan memutuskan untuk memberikan cintanya pada Satria yang dengan beraninya datang langsung melamar sri pada orang tua sri, ya walaupun akhirnya cinta itu juga yang membuat dia terluka karena terlalu mempercayai nya.


Dan sekarang dengan orang yang berbeda dan cara yang berbeda juga sri memilih dan memutuskan untuk jatuh cinta lagi. Walaupun dia tahu resikonya, siap jatuh cinta ber arti juga siap terluka. Cinta dan luka itu sudah seperti satu paket. Entah itu dia yang terluka atau dia yang menorehkan luka, tapi tetap saja mereka akan sama-sama akan sakit.


Namun sri tidak mau terlalu jauh memikirkan itu, sekarang dia hanya ingin bahagia. Dia sudah pernah melewati pedihnya hidup, hancur se hancurnya dan dia masih bisa bertahan dengan kewarasannya sekarang. Rintangan atau penderitaan apapun dimasa depan nanti, sri yakin pasti akan mampu melewatinya dengan santai, karena yang terburuk pun sudah pernah ia hadapi.


Kini sudah sebulan Sri menjalin hubungan dengan Sigit, keluarga dan teman-temannya pun sudah mengetahui nya. Bahkan Novi, dengan tidak terkejut sama sekali reaksi novi saat mendengar kedekataan Sri dan Sigit, membuat Sri lega. Karena setelah dua minggu berlalu Sri baru menceritakan nya pada sahabatnya itu. Mungkin Novi memang sudah menaruh curiga pada mereka berdua yang semakin lengket dan sering adu gombal, dan membuat sekeliling yang mendengarnya muak sekali. Maklum lah pasangan baru, masih mesra-mesranya.


"Kayaknya mata gue minus deh, apa harus pake kacamata aja ya" keluh sigit, ketika sedang bersama Sri dan Novi mengerjakan tugas bersama di kos milik Novi


Seketika membuat Sri agak panik "Udah nggak bisa jelas ngelihatnya ya bang?"


"Iya nggak jelas kalo lihat yang lain, cuma kamu yang paling jelas cantiknya dimata abang" sigit terkekeh, sri bersemu merah senyum malu-malu karena mendengar gombalan Sigit


"Sama dong cuma cinta nya abang yang paling jelas dihati aku, hehehe" sri membalas gombalan sigit, seperti biasa


"najis" Novi bergidik ngeri mendengarkan dua sejoli yang sedang saling gombal


"sekali lagi gue denger kalian, adu gombalan absurd, gue usir dari sini" hardik novi lagi


"dih, jomblo iri" ejek sigit


Novi meremehkan "sory , nggak akan ya"


"masak? coba lihatin gue sama sri ciuman"


Pletak


Suara pukulan dari buku yang mendarat dikepala sigit


"aduh, sakit sayang" keluh sigit, mengelus-elus kepala yang terkena pukulan sri


"sembarangn kalo ngomong" omel sri


"hahahaha... rasain" novi mengejek lagi


"cium cium, emang kalian udah sejauh mana? hemm" novi memancing sigit lagi, sri memajang wajah tegang


"cium kening lah, emang cium apa menurut lo? gue kan sayang sama dia, jadi ya gue jagain dia" sigit menyeringai tak terpancing omongan novi yang kepo. Ya memang sri dan sigit masih dalam tahap cium tangan dan kening


"jagain dari nap su lo? hahahaha" novi mengejek lagi


"itu tau"


"stop, kalian nggak jelas banget sih, ayo pulang bang, gue udah selesai" hardik sri dengan wajah sudah memerah, malu dengan bahasan sahabat dan kekasihnya


"tuh disuruh pulang, dah kayak laki bini aja kalian. Hati-hati sri, ntar malem-malem dia nyelinep masuk kekamar lo" nasehat Novi


"tenang aja, ada satpamnya dikamar gue"


"oh iya, lo kan sekamar sama sarah, hahahaha... nggak bisa apa-apa lo"


"otak lo " umpat sigit menonyor kening novi, sri sudah berjalan kehalaman tempat motor sigit terparkir


"gue lebih tahu otak lo, selakangan semua" novi masih saja melawannya


"kok bener si lo, kalo gitu gue cek selakangan dia dulu ya" jawab sigit, lalu pergi keluar meninggalkan novi


"Sinting" teriak novi dari dalam, sigit hanya terkekeh mendengarnya


.


.


.


"Mah, sarah kemana?" tanya sri pada mama karena tak mendapati sarah dimeja makan, saat makan malam


"nginep di rumah eyang, katanya kangen" jawab mama


Mereka makan malam dengan tenang, karena tidak ada sibawel Sarah yang selalu membuat gaduh dengan celoteh-celotehan bergunanya.


Sri paling cepat menyelesaikan makan malamnya, perutnya sedang tak karuan karena hari pertama periode menstruasinya. Sri tidur meringkuk dikasurnya menahan sakit perut, dia tidak biasa minum obat anti nyeri, lebih baik ditahan pikirnya dari pada harus minum obat.


Sigit menunggu Sri disofa ruang keluarga, tapi saat waktu sudah menunjukan jam 9 malam sri tak juga muncul, dia mencari tahu dengan bertanya pada mama, ternyata kata mama sri sedang sakit perut dan berada dikamarnya


Lalu sigit memutuskan untuk menghampiri sri dikamar, sigit melihat sri sedang berbaring meringkuk, sebuah bantal berada didekapannya, matanya terpejam tapi dahinya berkeringat.


Sigit mendekatinya, dan mengusap-usap dahi yang basah sampai rambutnya "sakit banget ya sayang, sampai keringetan begini" gumam sigit


Sri membuka matanya karena terusik dengan gerakan sigit dikepalanya "nggak banget kok, cuma sakit aja" sri tersenyum


"masak? sebelah mana yang sakit aja?"


"ini, di sini bang, dielus-elusin " sri menunjuk bagian perut yang sakit


"biasanya kalo pas sakit gini dielus-elus perutnya sama...." sri tidak meneruskan kata-katanya, membuat sigit memiringkan kepalanya menatap sri secara intens dan berdehem "ehem"


"sama ibuk, bang.. terus diolesi minyak kayu putih" sambung sri dengan terkekeh


"udah langsung dipelototi aja, cemburuan ih" goda sri


"siapa yang cemburu, sok tahu" sigit mengelak, lalu dia duduk disebalah sri membuka baju sri dibagian perut dan menciumi di semua bagian


"ini lagi diterapi, biar cepet sembuh" ujar sigit masih mencium-cium perut sri


"iya, udah.. udah.. udah langsung sembuh ini" kekehan sri makin mengeras karena ke gelian


Sigit menghentikan ciuman diperutnya "kalau disini geli nggak" sigit menatap bibir sri dengan seringainya


Sri terlihat sedikit gugup,namun tetap menganggukan kepalanya "boleh" gumam lirihnya


Melihat anggukan kepala sri, sigit semakin melebarkan senyumnya, lalu sigit mengecup bibir sri singkat tapi berkali-kali, ini pertama kalinya mereka saling menyentuhkan bibir mereka, walau hanya kecupan.


Plak


"aduh" sigit meng aduh, setelah sri memukul pungungnya


"abang nggak niat ciumnya, kecil-kecil" keluh sri


Sigit terkekeh "kamu masih kecil, ciumnya keci-kecil dulu"


"ish, bikin anak kecil aja aku udah bisa, kalau abang lupa" ujar sri menantangnya


Kemudian dia menarik sigit hingga laki-laki itu berada diatasnya, menindih sebagian tubuhnya yang atas, menekan tengkuk sigit dan meraih bibir sigit untuk dici umnya. Sri me lum at bibir sigit, ci uman itu semakin mendalam, sigit membalasnya dengan menggebu. Jantung mereka saling bersautan degubannya. Mereka saling merasakan debaran masing-masing dalam ciu man panasnya. Ini pertama kalinya, tapi memabukan, tak ada yang ingin menyudahinya. Hingga mereka berdua kehabisan nafas


"hahahaha" mereka berdua tertawa setelah saling melepaskan pangutannya, merubah posisi menjadi duduk bersampingan


"napas dulu bang" sri mengerlingkan mata mengejek sigit


Sigit menyipitkan mata mendengar sri "hampir mati abang, kamu nyium apa mau ngebunuh" balasnya


"ck" sri mendecak jengah


"Agresif banget ternyata pacar abang" sigit mencubit hidung sri, menggodanya


"abang harus sering-sering olah raga berarti" tambahnya lagi


"hah? kenapa?"


"biar staminanya selalu oke, kamu ciuman aja nggak mau kalah, apalagi yang lebih" sigit mengedipkan sebeleh matanya, lalu menoel dagu sri


"sialan" sri memekul lengan sigit, malu mendengarnya


"perutnya masih sakit?" tanya sigit, tangannya terulur mengelus perut sri, sri menggeleng


"wah, emejing ya ciuman abang, bisa nyembuhin sakit perut kamu" katanya lagi dengan bangga. Sri memutar mata jengah.


"Sana keluar, nanti ketahuan mama" usir sri, mendorong tubuh sigit yang masih disampingnya


"nggak mau, abang tidur sini aja ya sayang" sigit tiduran dikasur dan menarik tubuh sri untuk dipeluk


"plis deh bang" gerutu sri, mencoba melepaskan dekapan sigit


"perut kamu kan lagi sakit, biar abang elus-elus semaleman" sigit memberi alasan lagi


"udah disembuhin sama bibir abang"


"abang bangun sebelum subuh deh, nggak akan ada yang lihat pas abang keluar dari sini" sigit masih membujuk sri, posisi mereka masih saling berpelukan


"nggak akan terjadi apa-apa, abang janji" bujuk rayunya seperti anak kecil sedang meminta mainan baru


"ya aku juga lagi dapet"


"la emang kalau nggak lagi dapet kenapa?"


"astaga abang, nanti keburu ketahuan mama"


"nggak, mama lagi kelonan juga sama papa"


Sri menepuk jidatnya, sigit benar seperti anak kecil sekarang, tidak tahukah dia sri sedang menahan resah kalau ketahuan orang tuanya


Sebuah ide muncul "abang kalau mau bobok sini, garukin pantat sri sampai pagi ya, jangan berhenti, sri suka digarukin disitu" sri dengan nada manjanya


"oh siap" jawab sigit dengan mantap


"tapi nggak diluar celana, masuk didalem can cud ya, langsung kekulit, tangan abang langsung sentuh, garukin disini" sri mengambil tangan sigit memasukannya kedalam celananya meletakkan diatas kulit berisinya


"astaga" sigit tersentak, dengan cepat dia menarik tangannya keluar lagi


"kamu lagi pakai pempres neng, nanti abang kena darahnya"


"hahahaha" sri tertawa melihat respon sigit


"ya pinter-pinternya abang, cari yang nggak ada darahnya lah"


"mana bisa"


"katanya mau disini sampai besok" goda sri


"nggak, makasih" sigit buru-buru bangkit dari samping sri dan beranjak keluar.


Setelah dia membuka pintu, sigit malah dibuat kaget lagi, didepan pintu sudah berdiri dengan kokohnya seorang wanita hampir paruh baya yang masih cantik dengan membawa botol kaca berisi air dan selembar koyo paintkiller ditangannya


"mama"