SRI

SRI
12. Sahabat


sri


"maaf, sayang nggak ngabarin kamu dulu, tadi tiba-tiba ada telfon dari ibu, katanya bapak sakit lagi, aku panik langsung pergi pulang, sampai lupa ngabarin kamu, maaf" ucap mas tri dalam telponnya


Tut tut tut


Aku mematikan panggilannya tanpa membalas ucapannya sedikitpun. Rasanya kesal sekali pada diriku sendiri, harusnya aku nggak usah cerita ke novi tadi kalau aku ada rencana pergi dengan mas tri hari ini, jadi dia nggak akan menebak-nebak. Hah, padahal kan mas tri pergi gara-gara bapaknya sakit, mertuaku sendiri, kenapa rasanya menyesakkan sekali. Kalau dia tadi ingat untuk mengabari ku mungkin nggak sekecewa ini aku. Benar ya kata orang, jangan terlalu ber ekspektasi nanti terlalu kecewa.


Kruyuk kruyuk


Suara perutku meminta di isi, mau berjalan pulang rasanya kaki ini nggak kuat diajak melangkah, aku berjongkok kembali dipinggir jalan, ku tundukkan wajah ku dia atas kaki, aku pun menangis tersedu-sedu, rasa kesal, kecewa, sebel, dan lapar menjadi satu. Dilihat orang-orang yang lewatpun aku tak peduli, ku terus kan tangisan ku, ingus juga ikut keluar, ku elap dengan baju dan rok ku.


"udahan jaga lilinnya neng? dapet banyak nggak? buat karokean sama abang yuk" tiba-tiba ada suara yang menghapiri ku, aku terkejut ku dongakkan wajahku untuk melihatnya, ternyata sigit yang datang


"nggak dapet apa-apa, sekarang masih tanggal tua, belum pada gajian" ku jawab ledekannya lalu naik membonceng kemotornya, dia tertawa


"nih, lap dulu ingusnya, jorok banget kamu" sigit memberiku saputangannya, aku menerimanya, ku keluarkan ingusku hingga berbunyi "shorrt" lalu ku kembalikan lagi padanya "nih... makasih"


"hiii, bawa kamu aja, jorok, cuci dulu baru dikembaliin" dia mendorong tangan ku


"hemmm" aku bergumam menjawabnya


"mau langsung pulang apa kemana dulu? kamu laper kan" sigit menanyai ku


"kamu... kamu, gue lagi galau, ntar baper gue sama lo" aku mengoreksi panggilannya padaku yang berubah jadi 'kamu'


"terserah" jawabnya


"udah bilang mau kemana?" sigit bertanya lagi


"mau makan" jawabku


"makan dimana?" tanyanya lagi


"mi ayam bakso" jawab ku "tapi lo yang traktir" lanjutku lagi


"nyesel gue nanya" dengusnya lalu menjalakan motornya.


.


.


.


Sesampainya di warung bakso aku memesan mi ayam dengan bakso jumbo, ku tambahkan sambel dan caos yang banyak. Ingin ku luapkan emosi ku dengan makan yang banyak dan pedes. Kulihat sigit sedang menelfon seseorang, sejak tadi di motor dia tidak banyak bicara dan tidak bertanya apapun padaku.


"jangan banyak-banyak sambelnya" ucapnya menegurku


"halo, nop.. gue sama sri di warung bakso deket kos an lo, cepet sini" ucap sigit lagi, ternyata dia sedang menelfon novi, menyuruhnya kesini, ku dengar jawaban novi tapi tidak jelas


"nggak usah dandan, nggak cocok, buruan jalan" sigit berbicara lagi dengan novi, lalu mematikan panggilannya


"terus gue mau panggil siapa? lolita?" jawabnya, lolita itu cewek paling hits dikampusku dia seangkatan dengan ku


"gue cuman mau sama lo aja, gue sebel banget sama novi" aku memberi alasan, dia yang sedang minum tiba-tiba tersedak


"hati-hati dong" aku menepuk-nepuk bahunya, dia tiba-tiba diam menatap ku, tatapan itu berbeda, seperti tatapan mas tri padaku, tidak seperti biasanya dia memandangku seperti itu. Segera ku alihkan wajahku kesamping


"kan satria yang nggak nepatin janji, kenapa sebelnya sama novi?" dia mulai bicara " lagian nih kalau kita cuman berdua an aja, nggak baiklah nanti timbul fitnah, ya gue ajak novi lah buat jadi yang ketiga" sigit menjelaskan


"sia lan, lo anggep gue se tan" sembur novi yang baru datang


"dia itu muridnya ki joko bodo sama mama laurent, omongannya selalu aja bener, lo nggak inget, waktu mau ketemuan sama cewek gebetan lo. Nah siang nya tuh dia ngomong kalau ntar cewek lo gak akan dateng, dia ngajakin ngikutin lo, biar dapet makan gratis. Kan bener gebetan lo nggak dateng" aku menjelaskan kekesalan ku " nih, salah gue tadi bilang juga kalau ada rencana jalan sama mas tri, eh dia malah bilang, ntar paling nggak jadi" ku teruskan ucapan ku menggebu-gebu dengan mengikuti nada bicara novi


" udah neng ceramahnya?, nih minum dulu, biar nggak keselek" novi memeberi ku minum, aku meminumnya


"oohhh" sigit hanya ber oh ria


"hahahaha..." novi tertawa "itu cuma kebetulan sri, lo lagi nyari tempat pelampiasan? mau nyalahin laki lo tapi sayang... hahaha.... nggak apa-apa gue mah dijadiin kambing hitam, gua kan sahabat yang baik hati, iklas, tidak sombong, rajin menabung, selalu ada buat lo" novi melanjutkan


"iya, kan lo yang paling item disini" balasku


"serah lo deh, gue mau pesen bakso, butuh banyak energi buat jadi sasaran emosi emak-emak" ujar novi lagi


"huuuaaaaa...." aku menangis lagi, kupikir kata-kata novi emang benar, aku hanya mencari orang lain buat disalahin dan tempat ku untuk meluapkan amarah ku. Sigit mengelus-elus punggungku tanpa berkata apa-apa, mengambil tisu dan mengusap air mataku, novi memelukku. Lalu kuceritakan alasan mas tri membatalkan rencana perginya denganku.


"udah, makan ya, kamu kan belum makan dari tadi. udah mau dingin ni mie nya" sigit menyuruhku makan


Saat ku makan mie ayam baksonya terasa ada yang aneh "aneh deh, perasaan tadi gue kasih sambel banyak, tapi ini kok nggak pedes sama sekali ya"


"gita yang nuker" novi yang menjawab


"kok gituh sih git, itu kan pedes banget, tukeran lagi, nih" aku mendorong mie ayam bakso ku ke arah sigit, ternyata sigit yang menukarnya saat aku menangis tadi, buat apa coba, ntar dia malah sakit perut


"dah makan aja, nggak gue bayarin nih" ancam sigit, wah kalau ancaman nya itu, aku makan aja, lumayankan dapat gratisan


"makasih ya, kalian emang sahabat ter the best" aku mengangkat dua jempol ku ke arah mereka


"hemmm" jawab mereka kompak sambil mengunyah makanannya.


.


.


.


Seharian aku tidak membuka ponsel ku. Sejak pulang tadi aku sibuk membantu ibu membuat kue-kue pesanan untuk besok, dagangan ibu mulai dikenal orang-orang komplek, orang-orang bilang kue buatan ibu enak dan belum ada yang jualan di dekat sini jadi cepat dikenal orang-orang.


sehabis mandi dan sholat isya' aku merebahkan diri ku diatas kasurku untuk istirahat, ku ambil ponselku yang sejak tadi sore tersimpan di tas. Ku buka ternyata ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari mas tri, pesan-pesan masuk dari mas tri pun banyak. Tak ku hiraukan pesannya, kulewati saja dan tak ku buka. Aku hanya membalas pesan dari novi dan sigit. Aku masih kesel sama dia, kalu ku balas pesannya nanti dia langsung menelfon ku, nanti malah jadi tambah salah paham kalau dia mendengar ucapanku yang masih sewot. Ku letakkan ponselku di meja nakas dan ku isi daya batrainya.


Lalu aku beranjak untuk tidur, hari ini ku lalui dengan terasa lebih panjang, aku bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang sangat baik dan tulus menyayangiku, selalu ada disaat aku membutuhkan. Ku berdo'a semoga mereka selalu diberikan kesehatan dan rejeki yang banyak agar sering-sering mentraktir ku....