
Panas terik matahari siang ini tak dirasakan sri, dia tetap berjalan dengan riang ditrotoar itu. Hatinya sedang bahagia, karena dia diterima bekerja sebagai SPG kosmetik di salah satu mol di kota itu. Setelah diberi izin untuk bekerja dari kedua orang tua angkatnya, orang tua sigit tepatnya, sri bergegas segera mencari lowongan pekerjaan.
Pelajaran hidup yang ia terima dari takdir yang tak pernah berpihak kepadanya, ditinggalkan semua orang-orang terdekatnya yang ia sayangi dan menyayanginya, membuat tekat dalam dirinya kalau dia harus bisa mandiri, bisa melakukan apapun sendiri. Pribadinya harus dirubah dari sri yang manja dan serba dilayani, kini ia harus menjadi sri yang kuat dan tegar.
"sendiri aja neng, mau dibonceng abang nggak? di depan ada dangdutan, nonton yok" suara orang dengan motornya menyapa dari samping sri
"mau deh bang, traktir bakso sekalian ya, neng laper" sri tersenyum menjawabnya
ia tahu suara familiar yang menggodanya itu suara sigit,
"siaplah, buat neng mah bakso se penggilingnya juga abang beliin" sigit menghentikan laju motornya
"idih, ogah bang, masak cantik begini mau dijadiin tukang giling daging" sri pura-pura cemberut membalas gombalan sigit tangannya mencubit perut sigit
"adaww... sakit sri" adu sigit
"ayo buruan naik, ntar lo item lagi, percuma luluran seminggu nya ntar" sigit menyuruh sri naik ke motornya, lalu ia meljukan motornya.
"gimana tadi hasinya sri, diterima?" sigit memecah keheningan diatas motornya
"Alhamdulillah bang, ketrima, besok udah mulai tryning nya. Traktir bakso ya, laper banget nih" sri menjawab dengan suka cita, ia kini memanggil sigit dengan lebih sopan 'Abang' mengikuti sarah, karena sigit lebih tua darinya dan dia sudah diangkat menjadi anak dari orangtua sigit.
"kan lo yang baru ketrima kerja, gimana ceritanya kok jadi gue yang traktir"
"kan lo abang terganteng dan terbaik"
"lo ngrayu?"
"kenyataan bang"
"iya, kan cuman gue abang lo, padahal gue maunya sebagai yang lain bukan cuman abang-abangan aja"
"apa an sih lo,ngelantur"
Ya sigit masih menyukai sri sebagai wanita, dia masih mengingikan sri menjadi miliknya, apalagi setelah perceraian sri dengan suaminya dulu. Dia berharap bisa menggantikan sosok satria dihati sri, tapi entah bagaimana sri malah diangkat menjadi anak dari orang tuanya yang secara langsung membuat sri menjadi adiknya juga selain sarah. Tapi dia malah semakin berani memperlihatkan perasaannya itu.
.
.
"Amin, selamat dari apa kak? apa selamat jalan?"
sarah mendekat pada sri saat membalas ucapan sri, kini mereka berbaring bersama ditempat tidur dikamar
"selamat dari para senior"
"cuekin aja kalau ada yang rese"
"tapi deg deg kan ih, ini pengalaman pertama kerja"
"lebay, paling juga pada iri sama lo kak, lo kan cantik banget kalau udah dandan"
"maksud lo, gue jelek aslinya?"
"dikit sih kak, hahahaha"
"bang-ke"
Sri memukul sarah dengan bantal, lalu mereka berdua saling menyerang sebelum akhirnya lelah dan tertidur.
.
Sri mulai bekerja di salah satu mol dikota itu, dia berdandan cantik dengan make up full, rambut diikat cepol, memakai baju lengan pendek yang ketat hingga lekukan tubuhnya terlihat, rok span pendek diatas lutut dengan stoking melapisi kaki jenjangnya, tak luput sepatu berhak tinggi yang awalnya membuat ia susah berjalan tapi kini sudah bisa ia kuasai. Dia SPG kosmetik yang harus tampil menawan agar menarik para calon pembelinya.
Hari itu ia lalui dengan baik, memperhatikan para seniornya bekerja, ia dengan cepat menguasainya. Hampir tanpa kendala, seniornya baik-baik, teman sejawatnya juga menyenangkan, kecuali para pembeli dari kalangan ibu-ibu yang gila diskon banyak komplain tapi sedikit membeli.
Tiga bulan lagi ia akan masuk kuliah, mas cutinya selesai, dan bertepatan dengan selesainya masa tryningnya. Setelah itu ia sudah mengajukan untuk bekerja part time dan weekend saja, walau pun gajinya tidak sebesar jika bekerja full, baginya tidak apa-apa asal masih ada uang untuknya jajan. Kuliah sambil bekerja mungkin belum pernah ia pikirkan atau bayangkan dala benaknya, tapi kini harus ia lakukan itu dengan iklas.