SRI

SRI
16. Ngidam


"Hati-hati ya buk, salam buat mas ri dan mbak nur, bilangin maaf sri belum bisa pulang" sri memeluk ibunya yang akan pulang kampung, tiga hari setelah bu eni menceritakan masa lulanya ia akhirnya memutuskan untuk pulang kampung mengok cucunya


"iya ndhuk, kamu juga hati-hati ya disini, kalau ada apa-apa langsung telfon. ibuk cuma sebentar disananya, jaga cucu ibuk ya, cucu ibuk jangan ngrepotin mamahmu ya nak" bu eni mengelus perut sri


"titip sri dulu nov, git. maaf ya ibuk ngrepotin kalian lagi" ia berpindah ke novi dan sigit


"iya buk" novi dan sigit kompak menjawab


"udah ya sayang, mas nganter ibuk dulu, mas pasti cepat pulangnya sekarang" satria melepas pelukan sri


"titip istri sama anak gue dulu ya, jaga kepercayaan gue" satria menepuk bahu sigit


"baik bang" jawab sigit


Bu eni dan satria pun menaiki mobilnya dan meninggalkan rumah mereka.


.


"nop, laper" kata sri di dalam rumah sesaat setelah suami dan ibunya pergi


"makan lah" jawab novi cuek


"nggak ada"


"nggak ada apa? makanan? bukannya tadi ibuk udah masakin dulu sebelum pergi" novi heran


"nggak mau itu" jawab sri dengan manja


"nggak usah manja" novi mengomel


"sigit... sigit....." sri mencari sigit


"apa" sigit berdiri di depan jendela


"novi sekarang galak, hua..." sri mengadu kan novi sambil menangis


"galak gimana?" tanya sigit


"aku bilang ke novi kalau aku laper, tapi novi malah marah-marah" sri masih dengan mode manjanya


"nggak usah lebai deh sri, suara gue dari dulu emang gini, lo kata galak, nggak usah manja deh ah" novi meneriakinya karena mendengar ucapan sri yang mengadu pada sigit


"novi" tegur sigit


"ishh..." novi mencebik


"kamu mau makan apa? di dapur ada makanan kan, mau aku ambilin" ucap sigit pada sri dengan lembut


"elahh di belain" novi berteriak lagi


"aku mau pecel lele" pinta sri


"hah" sigit terkejut


"ini masih pagi sri, mana ada yang jual"


"tapi aku mau itu"


"belum ada yang buka sri"


"aku mau pecel lele pokoknya, huaaa..." sri menangis, sigit menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia bingung


"cup cup, iya nanti aku beliin, nanti sore, udah jangan nangis" sigit mengelus bahu sri


"nggak mau nanti sore, maunya sekarang" protes sri


"iya iya, ayo kita cari" sigit akhirnya mengalah dan mengajaknya mencari pecel lele


.


"lo ngidam nya ngeselin" novi menggerutu pada sri,saat mereka berada di mobil sigit yang melaju mencari penjual pecel lele pagi menjelang siang itu


"kayak orangnya" lanjut novi


"mending tadi lo di rumah aja, nggak usah ikut, bawel banget dari tadi, protes muluk" jawab sri tak mau kalah


"berisik" sigit menginterupsi, lalu suasana di mobil itu menjadi hening.


.


Sore harinya mereka berada di depan penjual pecel lele yang sedang bersiap-siap membuka jualannya, mereka menunggu disana dari siang tadi


"lama banget sih siap-siapnya, gue udah kebayang-bayang makannya sampek mau ngiler" sri memandangi warung itu dari jendela mobil


"ah elah, lebih lama kita nungguin dia dateng ketimbang siap-siapnya" novi menimpali


"elo sensi amat dari tadi perasaan, PMS lo ya" sri menoleh ke novi


"ngidam lo bikin kesel, kita nggak makan seharian gara-gara pecel lele, mana ujung-ujungnya disini juga lagi, deket kos gue" novi mengungkapkan kekesalannya


"iye, ngerti, ribuan kali lo udah ceritain ke gue" gerutu novi


"ayo keluar tuh udah buka, berantemnya ntar lagi kalau udah penuh energinya" sigit melerai keributan dua sahabatnya, lalu mereka keluar dan menuju warung pecel lele.


.


.


.


Malam harinya satria dan bu eni telah sampai di depan rumah ridho dan nur. Ridho yang sudah dikabari terlebih dahulu akan kedatangannya, menyambutnya di depan rumah


"ibuk.." ridho menghambur ke pelukan ibunya


"ridho,, ibuk kangen banget sama kamu" bu eni membals pelukannya dengan erat, ungkapan kerinduannya pada anak laki-lakinya


"mas, ibuknya diajak masuk dulu, kasian udah malem" teriakan nur melerai pelukan mereka


"oh iya, ayok buk masuk dulu" ridho mengajak ibunya masuk ke dalam rumah


"lo lupa sama gue dho" ucap satria menegur ridho


"oh, ada lo juga, yaudah sana pulang" jawab ridho mengejeknya


"bang ke lo, kasih air dulu kek baru diusir" gerutu satria saat mengikuti ridho masuk kedalam rumah


"ambil sendiri"


.


"aduh, cantiknya cucu ibu, udah wangi juga, sini yuk digendong yangti" bu eni menghampiri menantu dan cucu nya diteras rumah pagi itu,


"iya yangti, tia mau digendong yangti" nur menjawab dengan menirukan gaya suara anak kecil, lalu menyerahkan tia anak bayinya yang masih belum genap sebulan pada bu eni


"kamu mandi dan makan dulu sana nur, biar tia ibuk yang ajak dulu" bu eni menyuruh nur


"baik buk" nur meninggalkan bu eni dan anaknya


"ayo kita jalan-jalan kedepan sayang"bu eni mengajak bicara cucunya


Pagi ini terasa cerah, sinar matahari dari arah timur menambah kehangatan tubuh bu eni yang mengendong cucunya, dia berjalan-jalan kecil di depan rumah anaknya, tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang amat ia rindukan


"nur kasih tia ke bapak, kalau kamu mau mandi" uca pak eko dari depan rumahnya membuka gerbang, dia tertegun melihat seseorang didepan rumah anaknya yang sedang menggendong bayi kecil, tatapan mereka saling bertemu untuk beberapa saat,


"oh, udah sama yangti nya, kalau gitu saya langsung ke toko saja, permisi" pak eko menyadari tatapannya lalu memalingkan pandangannya dan berpamitan pada bu eni, saat dia akan berjalan ke arah motor diteras rumahnya bu eni memanggil


"mas"


"iya" dia menghentikan langkahnya menoleh pada bu eni


"emm, bisa ngobrol" bu eni tersenyum


.


"gimana kabar sri? terakhir dia telfon, katanya dia sedang hamil" pak eko memulai pembicaraannya saat dia dan bu eni sudah duduk didepan rumah ridho


"Alhamdulillah baik, masih sering mual-mual kalau pagi" jawab bu eni


"kamu sendiri?"


"saya?"


"kabarnya"


"nggak baik" suara bu eni terdengar lirih


"hemm gimana?" pak eko berpura-pura tak mendengar


"baik, baik kok" jawab bu eni gugup


"kamu gimana mas?" lanjutnya


"baik juga"


lalu susana menjadi hening beberapa saat


"kalau sudah tidak ada yang mau diomongin lagi, saya permisi dulu, mau ke toko" pak eko memecah keheningan,


"tunggu, mas" cegah bu eni saat pak eko hendak berdiri dari duduknya,


"hemm" pak eko menoleh


"rasanya sulit sekali hidup berpisah dengan kamu mas, bisa kah kita mulai dari awal lagi? setiap hari saya terus merindukan mu" bu eni menatap pak eko, air matanya hampir menetes


"sudah tidak bisa" jawab pak eko dengan wajah datar, kemudian dia berjalan pergi, bu eni menatap kepergian mantan suaminya dengan air mata yang sudah menetes di pipinya, hingga laki-laki itu menghilang dari pandangannya, air matanya tak juga berhenti menetes