SRI

SRI
10. Perasaan yang salah


Sigit


Malam itu aku baru selesai bermain futsal dengan teman-teman ku, karena sudah lelah dan perut keroncongan aku memutuskan untuk pulang lebih dulu. Aku mengambil motor ku di parkiran, melajukan motorku ke depan gang, karena gedung futsal letakknya tidak dipinggir jalan raya. Saat aku sampai didepan gang ku lihat ada dua orang yang bertindak aneh, seperti seorang wanita dan laki-laki yang akan bertindak asusila dipinggir jalan, aku mendekatinya niat awal untuk menegurnya agar pindah tempat ke yang lebih privasi bukan di jalan umum.


Tapi, saat aku mulai dekat ternyata si wanita tadi sedang menjadi korban tindakan asusila dari preman wilayah ini, aku sering melihat preman itu didekat sini. Reflek aku memukulnya hingga babak belur, dan dia kabur, batin ku nanti aku akan menjadi targetnya balas dendam dengan kawananya, ah bodo amat yang penting aku harus menyelamatkan gadis ini.


Aku melihat ke arahnya setelah preman tadi pergi, dia sedang berjongkok disebelah motornya wajahnya masih terlihat ketakutan, aku mendekati dan mengajaknya berbicara santai agar dia tidak ketakutan lagi. Waktu itu aku masih biasa saja melihatnya, saat ku ajak ngobrol ternyata dia orang yang asik, kita nyambung, jarang aku bisa se akrab ini dengan cewek yang baru aku kenal dan bawel sekali, dia tidak pernah basa basi, ceplas ceplos dan cuek. Ku ajak makan saja dia sekalian. Dan kita berkenalan.


Namanya ternyata Sri, ya sri saja, simpel sekali seperti dengan orangnya, aku masih biasa-biasa saja ketika dia bilang kalau dia sudah punya suami. Aku sering ke rumahnya, ibunya juga baik sekali hanngat dan tidak bawel dengan ini itu. Aku menganggap sri seperti adik ku. Tapi belakangan ini aku selalu terbayang dia, wajahnya yang manis dan tingkahnya yang unik. Dia bukan tipe ku sekali, wajahnya memang cantik alami, dia hampir tidak pernah memakai make up, penampilannya biasa-biasa aja sebenarnya, hanya kemeja dan kaos serta celana yang kegedean atau rok lebar, itulah pakaian sehari-harinya. Hampir aku tidak pernah melihat dia memakai pakaian yang mepet badan dan minim bahan. Rambut panjangnya selalu ia gerai.


Tingkahnya juga cuek tidak feminim sama sekali tapi sedikit manja kalau dengan orang-orang yang sudah dekat dengannya, misalnya dengan aku. Tidak ada yang istimewa darinya. Sedangkan tipe ku yang feminim, modis, ****, seperti cewek-cewek yang sering kulihat disekitarku dan memanjakanku bukan manja denganku.


Aku jadi teringat kejadian saat kita nonton bareng tentu saja bersama novi juga, kita sering jalan bertiga aku seperti mempunyai dua istri, hahaha... semua iri melihatku yang selalu diapit dua cewek. Saat menunggu jam film yang mau kita tonton diputar, kita bertiga duduk disofa tempat tunggu, tiba-tiba ada segerombolan cewek-cewek **** dan cantik tentunya, mereka melirik-lirik ke arahku, lalu berbisik yang bisa terdengar, apa ya namanya ah pokoknya kita bertiga bisa mendengar bisik-bisiknya karena mereka berdiri tepat didepan kita


"eh gais liat tuh, cowok ganteng diantara gadis culun, hihihi" bisik si cewek berambut panjang blonde, aku menahan senyumku dengan gaya sok cool


" iya ih, kasihan..ajakin bareng kita aja yuk" lanjut cewek berambut pendek hitam kayak polwan, dan sri menyikutku, aku pura-pura nggak berasa


" nanti kita ajak jalan habis nonton" ucap cewek rambut panjang merah kayak trio macan, novi dan sri menegakan posisi duduknya aku jadi ikutan ikutan


" nggak ah, takut, tuh dua herdernya udah bangun, matanya serem" kata siblonde


" nggak usah takut mbak, nih kita kasih cuma-cuma" novi tiba-tiba menyahut obrolan cewek-cewek **** tadi


"kita udah nyesel jalan bareng dia, udah nggak modal, makannya banyak, minta bonceng lagi" sri malah menambah-nambahi, aku hanya bisa garuk-garuk kepala, padahal nggak gatel


Pandangan ketiga cewek **** tadi berubah menjadi kayak jijik " nggak ngomongin kalian kok" kata mereka dan cepat-cepat berjalan menjauh, sri dan novi menahan senyum


"sana kejar, mayan, cantik, ****, tajir juga tuh kelihatannya. tipe lo banget kan" novi memegang bahu ku


"sia lan emang kalian, puas puas?" aku ber pura-pura marah


"turun sudah pasaran gue, salah gue emang, milih jalan sama kalian" aku menggerutu lagi


"awas ya kalau sampai tua geu nggak laku-laku, kalian gue san tet" akupun mengancam


"idih... maennya du kun, tinggal nikah aja sama novi kalau belum laku" sri memberi saran


"ogah.... lu aja jadi in dia suami ke dua" novi menjawab


"ya kalau dia mau, hayuhh" ucap sri dan mereka berdua tertawa lepas, bahagia sekali kelihatannya, tanpa terasa aku pun sudah ikut tertawa dengan mereka.


Tambah satu lagi indikator kebahagiaan ku, melihat sri tertawa bahagia. Sedangkan hatiku biar aku saja yang tau. Karena sampai kapan pun perasaan ku tidak akan pernah terbalas, aku yang memang sudah salah memeliki dan membiarkan rasa ini tumbuh menjadi-jadi. Aku akan menikmati rasa cinta ini sendiri, menikmati luka yang kubuat sendiri. Memendam perasaan ini sendiri. Melihat dia bahagia walaupun tidak bersamaku, aku sudah bahagia. Aku akan menyembuhkan luka ku sendiri. Bukan kah cinta tak harus memiliki.


Aku semakin terluka ketika melihat sri menangis, dia menangis karena suaminya tidak juga menghubunginya. Aku pura-pura cuek. Melihat air matanya menetes dipipinya, hatiku semakin panas, rasanya ingin ku pukul suami bang sat itu, apa dia sudah bosan hingga malas memberi kabar pada istrinya. Tapi lagi-lagi aku harus bersikap bijak dan menasehatinya. Aku tidak ingin dia mengetahui perasaanku padanya, aku takut dia akan menjauhiku, bahkan dia akan terluka karena perasaanku. Walau sebenarnya ini sungguh menyiksa ku.


"Kak sigit, keluar kak, waktunya sarapan, mama papa udah nunggu" teriakan sarah adik ku satu-satunya membuyarkan lamunanku tentang sri dari tadi malam dan membuatku tidak bisa tidu


"iya" jawabku balik berteriak