SRI

SRI
26. Janda jomblo


Sebulan berlalu, kini aku tinggal dirumah sigit. Awalnya aku berniat untuk tinggal di kos bersama novi, tapi mama papa nya sigit memaksa ku, dan akhirnya aku mengikuti permintaan mereka. Aku sudah menggugat cerai mas satria, dan hari ini tepat aku mendapatkan surat cerainya. Aku selalu menolak jika mas tri mengajak ku bertemu, aku takut akan luluh kembali bila mendengar rayuannya. Aku tidak mencari tahu siapa wanita yang telah bersama mas tri waktu itu, dan aku tidak mau tahu apapun lagi tentang dia. Sudah cukup bagi ku tahu kalau dia telah menghianatiku dan membuat anaku meninggal karena lahir prematur. Karena aku yang sebenarnya masih mencintainya dan juga merindukannya sudah pasti kalau aku bertemu dengannya dan mendengar alasannya atau rayuannya pasti aku akan kembali kepulakannya. Sedangkan aku sudah tak ingin mengingatnya, kenangannya, dan semua hal tentangnya. Aku ingin membuka lembaran baru.


"cie yang udah jomblo lagi, sedih amat kayaknya" ledek novi, ketika kita sedang makan disebuah restoran, sepulangnya dari pengadilan


"ya sedihlah, gue jadi nggak bisa ngata-ngatain lo" balas ku


"kan udah sama-sama jomblo, buahhahaha..." lanjut novi menertawakan nasib kita


"tapi, setidaknya gue pernah laku" ucapku sombong


"janda aja bangga," sahut novi


"bangga lah, janda semakin didepan" balasku


"gadis memang menawan tapi janda lebih menantang" lanjut novi


"buahahahahaha....." kita tertawa bersama, entah menertawakan apa, mungkin menertawakan nasibku yang tragis ini


Baru aja 19 tahun, tapi sudah jadi janda. Lengkap sudah penderitaan yang ku alami, ditinggal bapak, ibu, kakak, sampai anak, sekarang ditinggal suami selingkuh. Udah kayak jatuh ketiban tangga keruntuhan tembok terlindas truk gandeng, yang ada gambarnya Ayu ting-ting bertuliskan kata-kata mutiara 'Yang Janda Lebih Menggoda'. Baiklah Tuhan aku suka skenario Mu.


"Gue udah selesai, cepetan habisin makanan lo, cuss pulang kanjeng mami udah nelfon terus nih" novi membuyarkan lamunanku, menunjukkan ponselnya yang tertera nama mama sigit dilayar sedang menelfonnya, segera ku habiskan makan ku


"udah ayok" ajak ku, berdiri dan berjalan menuju kasir.


.


.


"Assalamualaikum, anak mami yang paling cantek udah pulang..." ku buka pintu rumah orang tua sigit, lalu menghambur kepelukan mamanya sigit yang sedang duduk di sofa bersama sarah sambil menonton drama di tivi, novi segera menduduk kan diri disebelah ku dan mengambil cemilan


"apaan sih kak, mami mami... berisik tauk, teriak-teriak nggak jelas, situ lagi pusing" ocehan sarah menatap kearah ku denfan tajam


"lagian anak mama paling cantik itu sarah..." lanjutnya lagi


"itu kan dulu, sekarang udah lengser" goda ku, ku julurkan lidahku meledeknya, aku suka sekali berdebat dengannya, hobi ku sekarang menjahili sarah, menyenangkan sekali ternyata punya adik.


"ihh mama.." adunya dengan memonyongkan bibirnya tanda dia sedang kesal


"udah ih, kalian itu ribut muluk, sakit telinga mama, udah besar-besar juga masih aja suka bertengkar. Lihat tuh novi kalem, anak mama yang paling cantik novi aja deh, yang paling kalem dan penurut" mama mengomel juga gaes, novi seketika menyunggingkan senyum kemenangannya dengan tetep mengunyah cemilan


"idih... jyjik wekkk" ucapku bersamaan dengan sarah


"gimana sri? udah beres semua" tanya mama


"beres ma"


"terus sekarang apa rencana kamu kedepannya?" aku hanya mengangkat kedua bahu ku menjawab pertanyaan mama


"kakak mau kuliah lagi?" sarah juga kepo ternyata


"kamu nggak nanya sekalian nop?" ku toleh nova yang masih sibuk dengan ngemilnya


"gue nggak peduli" jawabnya acuh, masih fokus dengan ngunyahnya


"ihh.. kakak... jahat banget sih, nggak ada respek ke temen" sarah yang memang belum terlalu paham dengan kelakuan novi


"bodo amat" novi masih cuek saja, lalu ditimpuk bantal oleh sarah


"hemm, apapun nanti yang akan kamu lakukan pasti mama selalu dukung, asalkan kamu bahagia, mama sayang sama sri, semua juga sayang sama sri, ingat kamu nggak sendirian, mama bangga sama kamu, kuat sampai hari ini dan seterusnya ya, masih ada banyak hal yang belum kamu lakukan didepan sana, kamu masih muda dan cantik, kamu juga pinter. Mama yakin suatu saat nanti kamu akan sukses dan bahagia." mama kembali memelukku, matanya berkaca-kaca saat memberiku semangat, mungkin dia iba kepadaku.


Ku anggukan kepala sebagai jawaban, aku bersyukur masih ada pelukan ternyaman setelah kepergian ibu, aku juga sangat menyayanginya. Tuhan tolong jangan Kau ambil lagi orang-orang yang menyayangiku dengan tulus.


Suasana menjadi melow sekali sekarang,


"mandi dulu sana, terus istirahat, kamu pasti capek kan" mama menyuruhku, ku anggukkan lagi kepalaku,


"kalau gitu novi pulang dulu ya ma, udah abis jajannya ko"


"ih.. kak novi, itu kan kesukaan sarah, kenapa dihabisin sih.. ih sebel" omel sarah,


"sekali doang, bisi pelit banget, cantik-cantik kok medit, pundungan" balas novi. Emang semua suka sekali mengusili si cantik bawel sarah.


"udahhh... novi jangan gangguin adiknya terus, sarah..nanti mama beliin lagi se karyawan-karyawannya juga" kalau kanjeng mami sudah buka suara semua kicep deh. Dan sarah pun mengeluarkan jurus andalannya, memonyongkan bibirnya.


.


.


.


Semalam aku tak bisa tidur, aku memikirkan masa depan ku, aku harus bagaimana menjalani hidup ku. Aku harus tinggal dimana, tak mungkin aku tinggal disini selamanya, aku bukan siapa-siapa nya mereka. Aku harus bekerja dan melanjutkan kuliah ku, uang yang ibu berikan masih cukup untuk biaya kuliahku, belum ku ambil sedikit pun. Biaya rumah sakit dan perceraian ku kemarin mas tri semua yang menanggungnya. Ah aku jadi teringat lagi dengan dia, sudah sebulan lebih aku tak berkomunikasi dan bertemu dengannya tapi ternyata aku masih saja mengingatnya dan merindukannya. Aku harus bekerja dan mengontrak rumah sendiri.


"WOY BANGUN"


"banjir banjir ..." teriakku saat merasakan tetesan air di wajah ku


"buhahahahaa...."


"sigit.... syalann" kulihat sigit sedang tertawa dengan gayung berisi air di tangannya


"kebo lo"


"elo yang kebo, nggak ada kerjaan apa, gangguin gue tidur" aku menggerutu kesal


"udah jam berapa ini nyonyah?,gue bangunin baik-baik dari tadi tapi lo nggak bangun-bangun, lo ke alam mimpi apa alam kubur" mulut sigit emang dari dulu nggak pernah tobat


"ke alam mbah dukun" jawab ku jutek


"begadang lo ?"


"hemm"


"kenpa?"


"kepo"


"mchh, yaudah cuci muka, mama papa nungguin sarapan dibawah"


"iya"


"tu iler sampe dagu" sigit mengacak-acak rambutku yang memang masih acak-acakan


"bodo amat"