
Saat aku sampai di toilet, ku keluarkan semua air mata yang sudah tak sabar ingin mengalir, aku menagis didepan wastafel, sebagian orang melihat ke arah ku, ah bodo amat gue udah nggak kuat buat sok sok an nahan tangisan. Setelah puas menangis, kira-kira udah habis air mata ini dan tak ada yang mau keluar lagi, ku basuh wajah ku, kubersihkan ingusku, dia selalu hadir disaat aku menangis, udah segeran walaupun mata masih terlihat merah, ah biarin dah.
Aku pun keluar dari toilet, saat aku mulai mendekat ke meja ku tadi, terlihat dua sejoli yang sedang tertawa cekiki kan bersama, oh indah sekali pemandangan itu, apa yang sedang mereka bahas sampai-sampai tertawa sebahagia itu. Hatiku semakin pilu saja melihat mas tri sedekat itu dengan mantannya, dekat sekali pula duduknya. Oke aku harus terlihat tegar, biasa-biasa saja, aku tidak mau terlihat lemah dihadapan wanita itu. Akan ku ikuti permainan kalian.
Aku berjalan mendekati mereka,
"ekhemm" aku berdehem lalu duduk sikursi ku tadi, sontak mereka menghentikan tawanya, mas tri menggeser duduknya menjauh dari mantannya, mendekat ke sampingku
"say..." mas tri membuka mulutnya, saat ingin berbicara,
"aku capek, mau pulang, kalau mas masih ada yang penting untuk dibicarakan. Aku pulang sendiri aja" ku potong dulu sebelum dia bicara
"yaudah ayok pulang, aku juga udah capek" jawab mas tri
"lanjut aja sampai besok, aku pulang dulu ya. Permisi mbak" ucap ku santai, tak lupa berpamitan dengan si muantan, lalu berjalan melewatinya
"iya silahkan" jawabnya, sambil memandang ku
"tunggu sri, lin bahas aja besok di tempat kerja ya" mas tri mengejar ku, barang belanjaan aku minta pada tokonya untuk mengirimkan saja besok ke alamat rumah ku, jadi kita tidak membawa barang apapun, enaknya belanja di jaman sekarang itu begitu, nggak perlu tentang tenteng bawa barang belanjaan, tinggal tambah ongkir aja ntar juga nyampe dirumah.
Mas tri berjalan di samping ku menggandeng tangan ku, ku terima saja, emang aku udah susah jalan karena perut besar ku, apalagi ini diatambah tadi melihat adegan suamiku dengan muantannya, haduh tambah berat aja ini kaki. Tidak ada yang bicara sampai dirumah pun aku masih diam, kalau aku coba buka mulut dan bicara pada mas tri, pasti amarah ku tak kan terbendung, menangis lagi ujung-ujungnya kesenengan dia gue tangisin muluk, tambah sok ganteng dia.
Ku rebahkan tubuh lelah ku di tempat tidur yang nyaman ini setelah selesai membersihkan diri, sholat isyak, dan minum vitamin. Ku pejamkan mata ku menjoba utuk tertidur dan bermimpi indah.
Ku rasakan ada yang memijit kaki ku, aduh enak sekali, aku tahu itu pasti mas tri, ku buka mata ku melihat ke arahnya
"udah bobok aja, mas pijitin sampai kamu bobok, capek kan, muter-muterin moll?" ucapnya memandang ku, aku tak menjawab, untuk beberapa detik kami saling menatap, lalu ku pejamkan lagi mata ku, merasakan nikmatnya dipijitin, andai tiap malem dipijitin gini bukannya ditinggalin kencan sama mantan, udah gue masakin yang enak-enak dah lo.
.
Paginya aku bangun dari tidur ku, tak kulihat lagi mas tri disampingku. Aku turun dari kasur ku, sholat subuh, dan ke dapur. Ku cium bau-bau masakan, hemmm enak sekali baunya, kulihat mas tri sedang menata lauh di meja makan.
"Tumben" ucap ku, mas tri menoleh ke arah ku
"sudah bangun, sayang" dia mengecup dahi ku, dalam hatiku tumben kali ni orang, lupa belum minum obat apa habis ke seterum colokan magic kom.
"Ayo, mau jalan-jalan dulu muter gang? biar lahirannya gampang kan kata dokter kalau sering jalan-jalan pagi" ajaknya, yah bener kesambet jin mantan nih, pasti ada apa-apa nih sampai sok perhatian gini, dulu-dulu juga nggak pernah baik bener setelah bencana besar itu, masakin juga lagi, makin curiga, hemm, gue ikutin dulu kemauannya, ntar gue nyari bukti, lo ada apa-apanya pasti.
"Hei, kok bengong"
"eh.. hem, iya, ayok" aku berjalan mendahuluinya.
.
.
.
Beberapa hari mas tri bersikap manis, aku tetap beraikap biasa tapi sedikit berbicara padanya, aku bicara hanya saat dia bertanya saja. Aku menceritakan kejadian di moll dan perubahan sikap mas tri yang manis ini pada novi dan sigit. Sigit sudah diperbolehkan datang ke rumah dengan novi walau dibatasi hanya sampai jam sembilan saja, tapi aku tetap curiga dan makin curiga, karena mas tri sangat tidak suka sigit tapi ini kok mudah sekali dia mengijin kan sigit datang, kemaren aja sampai ribut gegara sigit. hemm aneh.
"ah elah lo sri, laki lo cuek bebek, emosian lo ngeluh. giliran di manis-manisin lo curiga. nggak ada bersyukurnya lo" ucap sigit menanggapi cerita ku
"eh elu tuh nggak akan tau ya, firasat istri itu tajem, apalagi dia lagi hamil, bukan curigaan, tapi waspada" novi membelaku, aku hanya mengangguk angukka kepalaku sambil mengunyah, enak banget dah empek-empek bikinan mamahnya sigit.
"cari bukti dulu, jangan asal nuduh" nasehat sigit
"lah ini makanya gue cerita, bantuin gue buat nyari buktinya" pinta ku dengan wajah memelas
"lo buka aja HPnya, pasti disana ada banyak chat nya dia sama mbak mantan" ide dari novi
"ogah, nanti dia marah, gue dulu pernah marahin dia gegara buka-buka HP gue, baca chat-chat gue" tolak ku, novi ber oh ria
"lo sadap aja" ide sigit
"dia udah sadap duluan HP gue" jawab ku
"kok lo tau?" tanya novi
"dia bilang sendiri"
"lo mau intai dia? mau ngikutin?" sekarang sigit yang bertanya pada ku
"ya kelihatan lah, be go! lo nggak lihat bawaan gue segede ember" ucap ku
"heh, ibu hamil di jaga omongannya, nggak boleh ngumpat sembarangan" tegur sigit, mengacak-acak rambut ku
"bodo amat" jawab ku
"gue nggak ikutan deh ah, urusan rumah tangga lo, gue nggak ikut campur, ntar gue lagi yang kena, salah lagi" keluh sigit
"ah nggak setia kawan banget sih lo" novi menimpali
"bodo amat, setia kawin gue mah" sanggah sigit
"yaudah gue aja, yang mata-matain laki lo sri, gue kok penasaran juga sama si muantannya" novi bersemangat, atau kepo ya,
"jangan, nggak usah nop. kan lo yang bilang suami itu kalau nggak diambil yang tuhan ya diambil yang mantan" tolakku dengan bercanda novi pun tertawa
"ah iya ya, gue yang ngajarin lo,, hahahah..."
"terus apa rencana lo jadinya" tanya sigit kepo
"kepo lo, katanya nggak mau ikut campur urusan rumah tangga orang" jawabku membalikkan omongannya tadi
"syalan lo" dia melempar kulit kacang ke arah ku
"gue udah nggak kepikiran lagi deh, gue mau fokus persiapan buat lahiran aja, gue deg deg kan. Yang penting kalian jangan berpaling dari ku ya, jangan ninggalin gue" ucap ku sendu,
Akhirnya ku pasrah kan saja takdirku pada sang ilahi, apapun yang terjadi akan ku lalui denfan iklas. Adanya mereka cukup membuat ku bahagia dan masa bodoh ah dengan laki-laki itu, sebentar lagi aku juga akan punya, malaikat kecil pengobat lara ku.
"kita akan selalu ada buat lo" kami bertiga pun berpelukan, lalu aku dan novi sama-sama mendorong sigit keluar dari pelukan
"kam pret... kok gue di jorogkin" umpat sigit, lalu kita tertawa bersama