
SRI
Jemput gue bang
SIGIT
Y
SRI
jm 10
SIGIT
Y
SRI
naik motor
SIGIT
Y
SRI
💩
SIGIT
lo 💩 nya 💩
SRI
cakep
Percakapan sri dengan sigit yang absurt melalui pesan singkat terhenti ketika seorang pengunjung datang kembali. Sri disibukkan dengan transaksi jual belinya hingga tak terasa waktu bekerjanya telah usai, dia bergegas mengganti bajunya dan memasukan seragamnya yang kotor ke dalam tas.
"pulang sama siapa sri?" ucap disty bertanya pada sri saat mereka berjalan bersama ke arah lobi
"sama bang sigit, lo nggak bawa motor? kok nggak ke parkiran"
"tadi bocor ban motor gue"
"ngojol jadinya?"
"nggak, cowo gue ntar dateng"
"oh" mulut sri membentuk bulatan sempurna
"eh lo janjian ya sama pak satria? katanya lo dijemput abang lo" tanya lagi disty saat mereka telah sampai di lobi moll
"apa?" sri pura-pura bingung
"tuh" tunjuk disty pada seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi
"eh tu cowok lo udah dateng" sri mengalihkan perhatian disty
"eh iya, gue balik dulu ya, da... eh hati-hati lo, bos lo jelmaan mak lampir, kalau lo ketahuan ketemuan sama pacarnya, mati lo" disty memberi peringatan
"rese" gumamnya yang tak mungkin didengar disty
Sri melirik ke arah satria duduk, satria tidak menyadari kehadirannya. Sri mulai ragu, harus kah dia menemui satria? untuk apa juga mereka harus bertemu, nostalgia mengenang masa lalu. Buat apa pula dikenang, dia sudah mati-matian menghilangkan nama laki-laki itu dari hatinya. Lagi pula tadi memang dia tidak bilang setuju untuk bertemu. Cari perkara saja. Mana pula bang sigitnya, sri hanya sedang ber doa semoga satria tetap tidak berbalik arah kebelakang dan menemukan dia yang sedang berdiri di depan pintu masuk menunggu sigit datang.
Harap-harap agak cemas
Seperti buronan korupsi saja, menghindari kepergok aparat penegak hukum, dan cacian nitijen yang maha benar.
"neng, abang ke toilet dulu, kebelet" nah itu dia sigit datang, lalu berlari menuju toilet. Dan membuat seseorang tersadar kalau orang yang dia tunggu berada tepat dibelakangnya
"Ndhuk"
Haiss... dia mendekat dan menyapa sri.
"sejak kapan nama kamu jadi neng?"
sri memutar matanya jengah mendengar pertanyaan tak berarti dari satria. Sri diam, masih diam
"ayo mas anter pulang, mampir makan dulu mau? kamu belum makan dari sore tadi pasti kan, ndhuk" satria tetap mencoba mencairkan suasana
Sri masih diam dengan wajah datar disuasana yang mendadak dingin, oh memang dingin malam ini
"kamu nggak lupa kan, tadi sore kita sudah sepakat untuk bertemu sekarang"
"aku udah dijemput sigit mas, maaf ya, kalau pulang ke malaman nggak enak sama papa mama nya" akhirnya sri membuka suara hanya untuk menolaknya
"nanti mas ijin ke sigit, pasti dia ngerti" satria mencoba untuk memegang tangan sri
"jangan pegang" sri menghindar, menjauhkan tubuhnya dari satria
"oke" satria mengangkat tangan nya ke atas, bermaksud menyerah
"tapi mau ya, sekarang kita ngobrol dulu, sebentar aja, janji, ada yang harus mas jelaskan" satria memohon
"udah jelas semua" sri masih enggan
"aku pulang dulu, permisi" sebelum mendengar jawaban dari satria, sri pamit melangkah pergi menghampiri sigit yang berjalan dari arah toilet.
"sri, lo ketemuan lagi sama satria?" suara sigit memacah keheningan diatas motornya yang membawa sri membelah gelapnya jalan raya malam ini untuk pulang kerumah
"nggak sengaja" jawab sri singkat, enggan membahas
"oh" .
.
.
.
Satria terpuruk setelah perceraiannya dengan sri, dia juga sama patah hatinya. Mengetahui sri yang telah memergokinya berjalan dengan tante yang memeliharanya dia sudah amat takut. Apalagi melihat sri jatuh pingsan seketika disana dan harus segera melahirkan anaknya malam itu juga, semakin membuat dia merasa takut dan khawatir.
Ya kekhawatiran nya menjadi nyata, sri istrinya tak bangun-bangun pasca oprasi, dia koma berhari-hari, dan anaknya tak mampu bertahan. Dia juga amat terguncang dan sangat kecewa ketika istrinya bangun dia malah memusuhinya, dan tak mau bertemu dengan nya.
Orang-orang pikir dia laki-laki paling bajingan di dunia. Iya orang-orang itu memang benar, dia memang bajingan, dia berkhianat hingga membuat istri dan anaknya menderita. Dia begitu keras menyalahkan dirinya. Andai dia tak begitu tak begini, mungkin ini itu tak akan terjadi. Mungkin sri masih tetap menjadi istrinya. Mungkin sekarang sedang bermain dengan anaknya. Hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
Tapi itu sudah berlalu, tidak ada gunanya menyesali. Harta memang mampu membuat seseorang melakukan hal-hal gila, seperti dia.
Tidak ada yang mengerti, sekarang dia pun juga sendiri. Sendiri dalam arti semu hal. Sebenar-benarnya sendiri. Dia sudah tak punya siapa-siapa lagi. Orangtua, istri, bahkan anaknya.
Mungkin dia juga pernah hampir gila sama seperti sri. Tapi dia seorang laki-laki, harus lebih kuat. Dia harus bangkit, dia harus tetap bekerja. Walaupun masih di tempat haram ini. Hanya orang-orang ditempat itu yang masih ia miliki.
Walaupun ditolak sri setiap ia ingin menemuinya, tetapi dia masih saja berusaha untuk menemuinya. Dia tetap datang kerumah sakit saat sri masih disana, saat masih menjadi istrinya, melihatnya dari celah jendela, memastikan dia baik-baik saja.
Mengikuti kemanapun dia pergi, walau diam-diam bak penguntit. Walau semua akses untuk bertemu sri sudah ditutup dari siapapun, dari teman-temannya, bahkan dari orangtua angkatnya, satria tetap diam-diam mencari tahu keadaan mantan istri yang masih sangat ia cintai.
Hingga kemurkaan dari wanita yang menyewanya meledak, cemburu atau apalah namanya, membuat dia berhenti mencari tahu atau memantau keadaan sri. Hingga akhirnya dipertemukan sendiri oleh takdir, disini tempat usaha dari kekasihnya saat ini.
Dan dia harus menelan kekecewaan lagi, di abaikan oleh dia lagi.
"aku memang pantas diperlakukan seperti itu. Lakukan apapun yang kamu mau ndhuk, hukum mas, seberat-beratnya" suara kepasrahan dari satria terdengar memilukan ditelinga sri
Satria menumpahkan isi hatinya, kesedihan hatinya selama ini pada sri, siang ini. Disaat jam makan siang sri, pada weekend sri bekerja mulai pagi hingga sore, kadang juga ia mengambil lembur hingga malam hari. Lumayan uangnya bisa buat perawatan dia kesalon.
"kenapa mas kerja kayak gitu?" wajah sri tetap datar dan dingin, walaupun telah mendengar cerita pilu satria
"terpaksa" satria menunduk
"sekarang masih kan?" tatapan sri mengintimadasi, satria mengangguk lemah tanpa bersuara. Sri terkekeh
"yaudah, jam istirahat ku hampir selesai. aku dulu ya" sri berbicara dengan melihat jam dipergelangan tangannya, dan akan beranjak berdiri
"mas masih sayang kamu, ndhuk. masih cinta" sri mengurungkan rencana berdirinya, menyandarkan tubuhnya pada bahu kursi dengan malas, malas mendengarka satria yang masih saja menggunakan kata mas dalam panggilannya
"apa nggak ada kesempatan buat kita bersama lagi?" satria meng iba lagi
"mas, nanti yang mulia ratu murka, kalau dia tahu kita makan siang bareng" sri menghindari pembahasan krisial itu
"dia sedang keluar negri, lusa baru pulang" alasnnya
"oh.. pantes, ngotot ngajak ketemuan" gumaman sri yang masih bisa didengar satria
"apa masih ada mas dihatimu, ndhuk?"