
Di tempat lain dipagi hari yang sama, sri masih mengalami mual-mual yang akhir-akhir ini menjadi rutinitas pagi harinya, entah akan selesai dibulan keberapa pada kehamilannya, ditemani sigit dalam kamar mandi sri terus saja memuntahkan semua isi perutnya, sedangkan novi sedang membeli sarapan untuk mereka bertiga
"kamu kayak gini tiap pagi sri?" sigit memapah sri ke sofa ruang tamu, karena sri berada dikamar mandi tamu waktu muntah, sri mengangguk
"minum dulu" sigit menyodorkan teh hangat yang sudah disiapkan novi untuk sri sebelum pergi tadi
"makasih" sri meletekkan gelas dimeja lalu menyandarkan bahunya disofa
"maaf ya git, lo jadi repot gini, pagi-pagi udah dateng kesini, padahal tadi gue udah bilang ke novi nggak usah panggil lo, gue bisa sendiri, udah biasa" kalimat terpanjang sri pagi ini
"nggak papa, latihan kalau punya bini hamil" sigit tersenyum
"mama papa lo nggak marah, pagi-pagi lo udah pergi, ngurus istri orang lagi" sri tertawa canggung
"nggak lah, gue udah cerita, lagian kan mereka udah kenal lo, dan tahu kondisi lo" sigit meyakinkan sri kalao orang tuanya tidak masalah, memang tadi pagi saat dia buru-buru pergi, mama sempat meng introgasinya, akhirnya dia menceritakan kondisi sri saat ini, walaupun dengan omelan, mamahnya tetap mengerti.
"istri sendiri aja belum kelihatan hilalnya, eh ini malah ngurusin istri orang, ntar kalau anaknya udah lahir, gantian deh anaknya yang ngrepotin, baik bener anak mama" begitulah omelan mama nya sigit tadi pagi
"Kan mamanya aja baik banget, solekhah lagi, the best deh" sigit menimpali mamanya lalu mencium kening dan tangan wanita yang telah melahirkannya itu sebelum pergi dengan motornya.
.
"sory, lama" novi datang dan meletakkan bawaannya diatas meja makan
"si sri minta sarapan coto makasar yang belinya di makasar" sambungnya setelah meminum air putih
"naik apa lo kesana" sigit menimpali
"jet pribadi, tadi abis dipinjem sahrini dulu, jadi gue nungguin dia turun dulu" jawab novi sambil menyiap-nyiapkan makanannya
"lo tungguin dimana?" sigit masih merespon
"di stasiun balapan" jawab novi dengan muka datar
"sri yang muntah-muntah kok lo yang pusing ya nov" sigit dengan wajah dibuat heran
"hahahaha.... seru ya kalau pagi-pagi udah ada kalian disini" sri tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya
"iya nyonya, lo seneng gue puyeng, baru bangun tidur udah minta ini itu, lo tau kan yang jual coto makasar dari sini jauh banget, untung masih pagi nggak ada acara macet-macetan, ini baru hari pertama, nggak tau deh besok-besok, apakah aku harus melambaikan tangan oh Tuhan" novi mengomel panjang lebar
"hahahaha.... lo udah kayak ibuk gue kalau pagi-pagi udah bawel" sri tertawa mendengar omelan novi
"ishh" novi mendelik
"udah makan yuk, gue ada kelas pagi" sigit yang selalu menjadi pelerai keributan mereka berdua
"lo mau berangkat nggak sri hari ini" novi bertanya
"berangkat deh, bisa bosen gue sendirian dirumah, udah seminggu lebih juga gue nggak masuk"
"yaudah, cepetan makan, terus siap-siap" novi menyuruh sri.
.
.
.
Satu minggu berlalu, rutinitas baru mereka bertiga jalani, sigit setiap pagi selalu datang kerumah sri, menjaga sri saat ia sedang mengalami gejala kehamilannya, terkadang juga ia dibekali makanan oleh mamahnya dari rumah untuk sarapan mereka bertiga. Novi dengan siaga selalu menuruti setiap ke inginan ngidam sri muncul, walau dengan omelan-omelnnya. Sedangkan sri tampak bahagia selalu ditemani dua sahabatnya sepanjang hari. Walau setiap hari menggerutu karena ibu dan suaminya tak kunjung pulang juga, setiap jam dia selalu mengirim pesan atau menelfon suami dan ibunya.
Dan selama itu pula sigit menikmati perannya, menjaga sri, dan semakin menumbuhkan perasaannya pada sri, terkadang dia semakin posesif dalam menjaga sri
"sri, lo nggak usah masuk kuliah dulu deh, ambil cuti sampai lo lahiran, kelas lo di lantai atas, keseringan naik turun tangga, nggak baik buat orang hamil muda, apa gue minta pindahin kelas lo di bawah ya" posesifnya sigit
"gila lo" sri menimpali
"inget sri kondisi lo itu sekarang lagi berbeda, jangan suka makan sembarangan lagi, harus makanan bergizi, jangan dekat tempat orang ngerokok, jangan loncat-loncat nggak jelas lagi, jalan aja nggak usah lari-lari an, jangan ceroboh, vitamin sama susu harus rajin diminum" sigit masih dengan kecerewetannya siang itu, di kantin kampus
"cerewet" balas sri
"posesif" sambung novi
"emak-emak komplek" balas sri lagi
"nenek-nenek cucu tiga" novi masih melanjutkan
"ini demi kebaikan lo sri, gue sayang lo makanya gue kayak gini, dan lo novi, lo kan sahabat dia juga, harus nya lo bantuin gue ngomingin dia bukannya ikut-ikutan ngeledek gue" sigit meneruskan ke bawelannya
"lo sayang gue?" sri terkejut mendengar kata-kata sigit
"hah" sigit juga terkejut, baru saja ia menyadari perkataannya
"oowh" mulut sri membentuk bulatan
"tingkat kebawelan lo udah naik ke level 1000, melebihi emak-emak geng arisan taburwer, posesif lo melebihi laki nya sendiri" novi mengingatkan sigit
"gue dititipin laki nya buat jagain dia" sigit menunjuk sri dengan jari telunjuknya
"jadi harus gue jagain dengan segenap jiwa dan raga" lanjutnya lagi
"lebay, terserah " jawab novi
"udah pulang yuk, udah selesai semua kan kuliah nya, gue ngantuk" suara sri melerai keributan novi dan sigit, mereka beranjak pergi dari kantin, saat dijalan menuju parkiran motor terdapat sekelompok mahasiswa yang sedaang menatap dengan sinis pada sri yang sedang berjalan, terdengar bisikan-bisikan di mulut mereka
"eh itukan mahasiswi baru yang katanya lagi hamil"
"iya, baru semester satu udah hamil"
"itu kan maba yang dari kampung"
"emang dia udah punya suami?"
"jangan-jangan dia sugarbaby, tapi kebobolan"
"kapan hari, gue pernah lihat dia dianterin om om loh"
"kasian orang tuanya, jauh-jauh nyekolahin, tapi anaknya malah main sama om om"
seperti itu bisikan-bisikan sekelompok mahasiswa itu yang terdengar mereka bertiga, novi dan sigit hendak menghamipiri mereka dengan wajah marah, namun di cegah sri dia menggelengkan kepala sebagai tanda dia tidak ingin terjadi keributan. Akhirnya mereka tetap berjalan dan mengambil motor lalu pergi meninggalkan kampus.
Sesampainya dirumah, sri langsung berlari kedalam rumah
"sri jangan lari-lari, ingat, kamu hamil" sigit berteriak mengingatkan, tapi tak didengar oleh sri
saat membuka pintu kamar sri terkejut melihat satria berdiri di depan kamar mandi hanya menggunakan handuk, ia langsung menutup pintu dengan kasar lalu berlari menubruk satria dan memeluknya
"huaaaa....." tangis sri pecah dipelukan satria setelah ia tahan dari kampus tadi
"kenapa sayang, kok nangis, kangen banget ya" satria membalas pelukan sri
"bu..bu kan itu, huaa..." sri masih terisak
"lalu apa?"
"tadi ada yang omongin aku, hu..." adu sri masih dengan tangisannya
"ngomongin gimana?" tanya satria, lalu sri menceritakan kejadian tadi dikampusnya, semua ucapan sekelompok mahasiswa tadi.
"sabar sayang, jangan didengerin, nanti mereka juga akan tahu sendiri kebenarannya, tadi kamu udah bener nggak menanggapi mereka, diem in aja, kalau kamu balas malah nanti dikirinya itu emang bener, jangan dipikirin lagi ya, ingat ibu hamil nggak boleh sters, nanti bayinya ikut sters, kamu mau anak kita udah banyak pikiran dari perut, botak dia dong" hibur satria, ia masih memeluk sri
"ih masa... kan bayi emang botak"
"kan dari perut udah tumbuh rambut dulu, nah kalau udah lahir baru di botakin, kamu mau bayi kita nggak tumbuh rambut"
"nggak mau" sri mendongakan kepalanya menatap satria
"makanya mamanya jangan banyak pikiran" satria mencubit hidung sri dengan gemas
"ish"
"udah, lepas dulu, mas mau pakai baju dulu, terus mau makan, laper.." satria melepas pelukannya
"yah,, nggak ada makanan mas, tadi sri udah makan dulu di kantin sama novi sigit, aku pesenin dulu ya" sri mencari ponselnya ditas untuk memesan makanan di aplikasi
"nggak usah, ibuk tadi udah bawain bekal dari rumah, mas makan itu aja" jawab satria yang masih mamakai pakaiannya
"loh ibuk nggak ikut pulang kesini"
"nggak, seminggu lagi katanya, masih mau sama cucunya" satria mendekati sri
"nanti lagi tanya-tanya nya, kasih obat rindu dulu, mas udah nahan seminggu loh" satria memeluk sri dengan tatapan seringai diwajahnya
"katanya laper, aku siapin dulu makananya kalau gitu, mas taro mana makanannya tadi" sri mengerti maksud dari tatapan satria
"nanti aja" satria mulai mencium tengkuknya
"mas, ada novi dan sigit diluar" sri mengingatkan
"biarin"