
"Pelan-pelan kalau makan neng, ini sampai belepotan, caos kemana-mana" sigit mengelap pipi sri yang belepotan caos, disertai dengan omelan
"ini juga pelan, abang bawel banget dari tadi" balas sri dengan kesalnya, karena acara makan ayam gorengnya terganggu
"iya, abang diem" ujar sigit
Sri mengangkat jempolnya ke arah sigit, lalu mereka makan dengan diam sampai habis dan mencuci tanganya
"mau langsung pulang, apa jalan-jalan dulu"? sigit memberi pilihan
"pulang aja"
"ya udah ayo" sigit akan bangun dari duduknya, namun tiba-tiba tangannya ditarik sri
"jangan bangun dulu, duduk lagi" sri meminta sigit untuk duduk lagi
sigit duduk masih dengan tangan mereka yang saling bertautan "iya, kenapa?" sigit menatapnya bingung
"maaf bang" dengan penuh keyakinan sri menetapkan hatinya untuk membuka hati untuk sigit, dan dengan jantung yang berdegub dia mencoba mengatakannya
"hemm?" sigit tampak bingung dengan permintaan maaf sri
"soal reaksi aku pas denger mama nge.. la.. mar..." sri tampak ragu
"oh" sigit mulai mengerti
"nggak apa-apa, harusnya aku yang minta maaf. Mama suka ceplas-ceplos kalau ngomong emang, mungkin itu reaksi spontan aja. Nggak usah dipikirin lagi" sigit sok bijak sekali, padahal memang gara-gara reaksi itu membuat sigit kecewa, dia sedang berbohong, dan sri bisa melihatnya
"beneran nih nggak usah dipikirin?" sri mencoba menggodanya
"iya" sigit menggangguk mantap
"aku tahu, kamu belum bisa terlibat hubungan seperti itu lagi, nanti aku yang jelasin ke mama sama papa" sambung sigit lagi, kini dia tampak ragu
"aku udah move on kok dari dia, aku udah buang dia di truk sampah" sri nampak akan menjelaskan maksudnya
"iya, aku juga tahu kamu masih enggan membuka hati buat orang lain"
"emang, nggak akan kalau buat orang lain sih" sri terkekeh mngatakan itu
"kenapa?" sigit tampak bingung melihat kekehan sri
"kalau buat abang, nggak tuh" sri mengerlingkan matanya dengan genit
"maksudnya?" sigit masih bingung dengan kode yang sri tunjukan
"abang sayang nggak sama sri?" bahkan sri mengganti panggilannya sendiri dengan manja, membuat sigit keheranan
"ya sayang lah, kan udah jadi adek"
"kalau cinta?" tanya sri cepat dengan senyum-senyum, pembicaraan apa ini yang mereka lakukan
"hah" sigit semakin bingung dibuatnya dan salah tingkah
"ya .. ya gitu" jawab sigit ragu, dan malu
"ya udah abang yang nembak lah, masak aku"
"hah" sigit kaget mendengar kalimat sri barusan. Dia melongo, bingung harus apa, seperti mimpi pikirnya. Atau dia sedang di prank, iya itu pasti, dia tahu sri sedang menjahilinya
"hah heh mulu, nyebelin banget" gerutu sri karena sigit tidak kunjung menjawabnya
"masak gitu aja nggak paham" sri melanjutkan kekesalannya, sigit tidak mengerti-mengerti dengan kode yang sangat jelas ia berikan
"jangan bercanda deh lo, nggak lucu banget" sigit masih tidak percaya
"malah nggak percaya"
"ini masalah perasaan sri, lo nggak bisa becanda kalau soal gini an, ntar kalau gue beneran baper lo sendiri yang nggak enakan, bener-bener nggak lucu sri"
"siapa yang bercanda? gue emang serius buka hati buat lo, bukan buka lagi malah, tapi udah ada lo disini. Dan lo malah nyangka gue mau nge prank? cetek banget analisa lo. Nyesel gue udah balak-blakan!" ujar sri dengan tegas, dia emosi mendengar tanggapan dari sigit
Sri berdiri dari duduknya, beranjak akan meninggalkan sigit, setelah dua langkah jalannya sigit menariknya membalik tubuh sri kebelakang, dan memeluknya
"Sory" kata sigit, sri terisak dalam pelukannya
"iya, maaf. Abang salah. Abang cuma kaget aja, nggak nyangka banget kamu nembak abang" sigit meminta maaf, mengelus rambut panjang sri dengan pelan
"ABANG" protes keras sri, agar sigit meralat ucapannya
"iya iya, abang salah lagi, bukan kamu yang nembak, tapi abang" sigit terkekeh pelan
"ayo duduk lagi dulu, malu dilihatin orang dari tadi" sigit mengajak sri kembali ke kursinya.
Sigit menyeka air mata diwajah sri dengan tisu, memegang tangannya, lalu mengecup dahi sri dengan cepat. Mungkin hari ini adalah hari nya, sigit merasa perutnya diisi ratusan kupu-kupu berterbangan, dimatanya tampak pelangi yang indah berwarna-warni, dia bahagia. Dia sangat berjuang sejak dulu, berjuang menahan hatinya, menekan agar tidak jatuh lebih dalam lagi. Ternyata tuhan mentakdirkan hari ini untuk dia.
"kapan abang nembak aku? jangan bilang lagi kalau aku yang nembak dulu. Aku cuma kasih kode-kode!" ucap sri dengan tegas lagi, memperjelas
"astaga, iya" sigit tersenyum bahagia, siapapun yang mengatakan itu terlebih dulu tidak masalah buatnya
"aku suka sama kamu sejak dulu sri, dari awal kita bertemu, sampai sekarang, dan selamanya. Aku akan selalu ada disampingmu. Aku cinta kamu sri" sigit mulai mengungkapkan isi hatinya
"mau jadi pacar abang?" sambungnya lagi
"mau...tapi aku janda, aku miskin, aku nggak punya keluarga, dan aku cantik" sri tersenyum geli dengan kalimat terakhirnya
"iya kamu paling cantik dari dulu dimata abang" sigit juga tersenyum
"aku nggak peduli status kamu, emang aku niat tungguin kamu jadi janda, hahaha"
"ih ternyata abang yang do'ain aku jadi janda"
"bisa jadi, hahaha.... yang pasti abang nggak peduli kamu mau janda, atau yang lainnya. I love you" sigit lega sekali akhirnya dia bisa mendeklarisikan cintanya
"love you to" jawab sri malu-malu, dengan menundukan wajahnya
"jawabnya sambil lihat abang dong" pinta sigit menarik dagu sri hingga wajah sri mendongak keatas dan saling menatap
"Mungkin perasaan ku sekarang belum sebesar perasaan abang, tapi aku akan berusaha menumbuhkannya, berkembang biak sampai abang muak dengernya" ujar sri menatapnya
"bantu aku melupakan semua masa laluku dan hanya fokus dengan masa depan ku bersamamu" tambah sri lagi, sigit mengangguk. Mereka saling berpelukan lagi dan dengan cepat saling melepas, karena ini ditempat umum. Bertatapan saling memberi senyum. Oh serasa dunia hanya milik mereka, yang lain nggak tau deh ah, nggak mikirin yang lain-lain.
.
.
.
"Kalian udah baikan?" selidik mama saat melewati dua anak muda duduk berdekatan disofanya sambil cekikikan melihat satu layar ponsel bersama
"lah siapa yang sakit ma?" respon sigit dengan cueknya
"ish, kalian udah nggak berantem?" mama memperjelas lagi
"siapa yang berantem ma?" sri kini yang menjawab dengan wajah sok polosnya
"nggak tahu, laler sama nyamuk mungkin" balas mama dengan sebal, lalu meninggalkan mereka
"buahahahaha" sri dan sigit tertawa setelahnya
"apa kita bilang aja ke mama soal hubungan kita ya bang" pendapat sri
"terserah lo aja deh"
"tadi aja kamu aku, sekarang lo lo an" gerutu sri pada sigit yang merubah panggilannya
"astaga, masih kebawa kebiasaan sayang, maap dah, kamu maunya kamu aku gitu?"
"becanda abang, hehehe... kayak biasanya aja ah sesuai situasi" sri memeluk lengan sigit dan bergelendotan disana, rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakan itu lagi, disayang dan dimanja. Sigit mengelus kepala sri dengan sayang
"gimana bang kasih tau nggak?" tanya sri lagi
"se ketahuan nya aja deh"
"kalau novi?"
"sama in aja"
"lagi pesen bakso kalik, sama in aja, hahahah"