SRI

SRI
33. Curhat dong mah


"Gue kira, gue nggak akan berusrusan lagi sama dia, gue pikir perasaan gue ke dia bakal hilang sendirinya seiring waktu, dan kalau pun emang harus ketemu lagi sama dia tiba-tiba, gue baik-baik saja. Gue udah ikhlas in dia buat orang lain. Tapi, semakin gue coba buat lupain, semakin dalem juga jatuhnya. Tetep hati gue sakit kalau lihat dia sama orang lain" sri mengungkapkan isi hatinya


"ya wajar si, dia kan cinta pertama lo" novi menanggapi


"emang cinta pertama itu harus sampai mati?"


"ya nggak gitu juga, tapi yang lo alami kan beda. Cinta pertama yang sampai kepelaminan, sampai kepengadilan, hahaha..." novi terkekeh


"sialan lo"


"kenapa nggak lo coba buka hati lo buat orang lain, nggak cuma mikirin mantan lo aja. Move on dong sri, udah lama kelewat. Dan lo masih disitu aja, sendiri. Sedangkan mantan lo udah sama yang lain. Bego banget, lo tu udah cantik, pinter, seksi,.."


"janda, yatim piatu, miskin, anak pungut" sri melanjutkan ucapan novi sebelum dia menyelsaikan kalimatnya


"itu cuma faktor pendukung, nggak jadi masalah"


"mana ada yang mau sama janda"


"kata lo sekarang janda semakin didepan"


"iya juga ya. hahaha.." sri terkekeh kala diingatkan novi tentang semboyannya itu.


Novi dan sri sedang mengerjakan tugas kuliahnya bersama di dalam kos nya novi, diselingi curhatan hati seorang sri.


"kenapa lo nggak coba buka hati lo buat sigit" novi menyambung lagi ucapannya, setelah hening beberapa saat untuk fokus pada tugas-tugas mereka


"nggak"


"lo nggak nyadar?" novi menekankan lagi


"nyadarlah" sri memberi tanggapan


"sangat sadar malah, perhatiannya dia ke gue kelihatan banget kali, apa lagi setelah gue pisah. Baik banget dia" lanjut sri


"la kenapa nggak lo respon tukinahhh... lo tahu dia baik, suka sama lo, kenapa nggak coba lo bales" novi semakin gemas pada sri


"gue nggak mau nyakitin dia"


"dengan lo nggak ngrespon dia, pura-pura nggak tahu kalau dia lagi suka lo, udah nyakitin dia tahu"


"nggak lah, mending gue pura-pura nggak tahu, dari pada gue tolak setelah gue bilang tahu tentang perasaan dia"


"lo nggak bayangin gimana sakitnya dia waktu lo nangis-nangis habis ketemu mantan, kalau lo masih sama bang mantan sih gue oke-oke aja lo pura-pura begok, lah ini kan lo udah pisah dan lo masih tangisin dia dipelukan sigit" novi geleng-geleng kepala, frustasi mendengar alasan sri


"gue nggak mau persahabatan kita rusak cuma gara-gara ini nov, gue nggak bisa kalau harus pisah sama kalian kalau ntar gue putus sama sigit, lebih baik gini kan kita tetep akan sama-sama" sri menurunkan nada bicaranya, matanya berembun


"sigit mau jadi sahabat lo itu karena lo udah punya suami waktu itu, dia udah suka lo dari dulu. Dan sekarang lo udah sendiri. Emang ada persahabatan antara cowok sama cewek yang murni tanpa ada salah satu yang jatuh duluan?" novi memegang tangannya memberi tahu kenyataannya sigit memang menyukai dia sejak dulu


"terus gue harus apa? hatikan nggak bisa dipaksa nov. Cinta nggak bisa milih, kalau bisa gue akan milih sigit saja sekarang. Tapi hati gue masih di orang lain, nggak bisa" ungkapan kefrustasian sri


"bukan nggak bisa, tapi belum bisa, lo belum coba buka hati lo buat dia".


"iya mamah dedeh"