
Setelah selesai makan, mas ri meninggalkan kita berdua karena ditelpon pegawai tokonya yang kewelahan melayani pelanggan. Biasanya jam siang seperti ini pembeli sedang ramai-ramainya datang. Mas ri mengelola toko serba ada dipasar, selain itu mas ri juga mengelola toko pupuk juga berbagi kebutuhan ternak dan perkebunan. Bapak memiliki banyak toko dipasar desaku sampai desa-desa tetangga, dia juga memiliki peternakan sapi dan beberapa sawah, tapi mas ri masih mengurusi toko-tokonya saja. Kalau aku bagian foya-foyanya saja hahaha..
"ndhuk sholat dulu yok di masjid" ajak mas tri menyadarkan lamunan ku
"iya"
Jawabku singkat lalu berdiri dan berjalan meninggalkan mas tri yang sedang membayar, letak masjid yang memang dekat dengan warung bakso nya paijo membuatku cepat sampai, aku langsung mengambil wudhu dan sholat dhuhur.
Selesai sholat aku berjalan ke luar masjid, ku lihat sudah ada mas tri berdiri di depan gerbang sambil berbicara dengan seseorang, mungkin temannya.
"eh tri, pergi dulu ya, tuh pujaan hati udah keluar" kata temannya itu
"iya, cepetan" sambil menggoyang goyangkan tangan mengusir temannya
"udah selesai? ayok jalan, biar kita makin deket, kencan dulu yok" ajak mas tri dan berjalan ke parkiran motor
"eh tunggu dulu, apa maksudnya orang tadi pujaan hati? kamu udah nyebarin kemana2 kalo aku terima lamaran kamu?" aku menghentikan langkahnya
"jadi, kamu terima lamaranku kan?" berbelok ke arahku menggerakkan dua alisnya ke atas sambil tersenyum
"eh bukan begitu..." wajah ku terasa memanas, dia tertawa lepas dan ganteng, tampan sekali
"tauk ah" aku berusaha menghindarinya, berjalan ke arah parkiran, tapi dia menarik tangan ku, dah kayak film india aja
"tadi tu namanya tio dia juga temennya ridho, dia udah tau kalo aku suka kamu dari dulu" dia menjelaskan tentang temannya tadi
"yaudah, jadi pergi gak? aku ada les anak-anak nanti jam 4"
"jadi dong, yok gandengan ya, biar kayak pacaran"
Kami pun berjalan dengan bergandengan tangan menuju parkiran motor depan warung bakso paijo, ini kali pertama aku bersentuhan dengan laki-laki selain bapak dan mas ri. Wajahku rasanya memanas, iya panas jugalah kan siang bolong gini matahari udah gak menuju puncaknya lagi, tapi udah beneran dipuncak. Jantungku berasa degdegkan banget, kayak mau maju hapalan Hadist sama ustad yang killer dah ini. Oh tuhan jangan matiin aku sekarang.
"hayoh, ngelamun jorok ya, udah nyampai dimotor lo ini, gak mau naik?" ujar mas tri membuyarkan lamunanku
"ngaco, ayo naik" ajak ku
"masih sambil gandengan gitu?" mas tri menggerakkan tangan yang masih bertautan dengan tanganku, seketika aku menarik dan melepaskan tanganku darinya.
.
.
.
"mau kemana kita mas?" tanyaku pada mas tri saat sudah berada diatas motornya
"kamu maunya kemana ndhuk?" mas tri balik bertanya
"beli jus pinggir lapangan yuk, ada tempat duduknya juga kok disana, jangan jauh-jauh kelamaan dijalan nanti" aku menentukan tujuan, aku bukan tipe orang yang terserah terserah, buang buang waktu aja gak efisien
"oke, let's go" .
.
"Kamu tadi ya yang nyuruh mas ri jemput aku terus ngajakin makan, pas banget si aku ada banyak yang mau diomongin ke kamu, kamu juga pasti ada kan, jangan ngomong ngaco lagi, aku mau bahas serius tentang kedepannya, kamu mau ngomong duluan apa aku?" ucapku setelah sampai dipinggir lapangan, sambil meminum jus strowberi dan duduk dibangku untuk para pembeli yang mau sambil nongkrong disana
"ish" aku mencibirnya
"baik, kamu duluan aja, apa yang mau dibahas" mas tri merubah suaranya menjadi lebih serius, terdengar suara besar itu lebih tegas tapi lembut ditelingaku, akupun makin degdegkan aja
"aku mau kuliah mas, anterin aku daftar di kampus... (menyebut nama kampus) di kota, aku gak mungkin minta antar ibuk, nanti bapak bisa tambah marah, apalagi mas ri dia harus jaga kesetabilan toko-toko bapak" ujarku memulai pembahasan, aku tidak berani menatap matanya, menunduk melihat ke arah jus yang aku mainkan sedotannya
"emang kamu udah dibolehin buat kuliah sama bapak?"
"gak tau, tapi ibuk udah ngebolehin, seminggu lagi pendaftarannya dibuka mas,
ya mau ya?
aku kan udah terima lamarannya kamu mas"
kini aku berani menatap matanya yang juga menatapku
Ini adalah ide yang muncul setelah makan bakso tadi, caraku agar bisa tetap mendaftar kuliah walau sudah menerima lamarannya mas tri, toh kuliah dengan status menikah gak apa-apa juga. Biar nanti juga ada yang menjagaku disana saat aku sudah mulai kuliah.
"aku sih mau mau aja ndhuk, tapi kalo bapakmu udah kasih ijin. apa kamu masih mau kuliah, setelah kita menikah?"
"iya mau, bolehkan? aku bisa kok bagi waktu buat keluarga sama kuliah"
"kuliah sambil ngurus keluarga itu berat sri, apalagi nanti kalau sudah ada anak, kamu gak bisa fokus ke dua-duanya. kegiatan dikampusmu banyak belum lagi kalau kamu masih mau nongkrong-nongkrong sama temen kuliah kamu, apa kamu bisa langsung pulang setelah selesai jam kuliah?"
"dicoba dulu aku pasti bisa, bisakan jangan punya anak dulu, aku masih kecil mas, masak udah harus ngurus anak kecil juga"
"masalah anak belakangan deh, itukan sesuai kehendak Tuhan. tapi juga ni sri aku kerjanya kan disini, kamu juga tau itu sri, kalau kita pindah ke kota, terus aku kerjanya gimana? "
Mas tri menyenderkan badannya ke kursi menghela napas dengan keras, jus yang dia pesan tidak disentuh sejak tadi.
Aku menunduk lagi, aku berfikir rencana ini tidak berhasil dan memikirkan cara lain.
"Mas nanti cari kerja lagi dikota" ide konyolku terucap
"kamu kira cari kerja dikota gampang cah ayu, aku aja disini merintis usaha dari nol, dari jadi babu bapak kamu sampai aku punya warung sendiri itu gak mudah sri" mas tri dulu mantan pegawai salah satu toko bapak , dan sekarang sudah punya toko sayur mayur dan toko buah-buahan sendiri.
"Bisa jadi buruh pabrik, di kota kan banyak pabrik, atau mas jualan sayur sama buah aja disana, keliling-keliling dulu"
"Jadi buruh upah nya kecil ndhuk, jadi tukang sayur yang masih baru jarang pembelinya belum ada pelanggannya, susah dapet duitnya, nggak cukup untuk biaya hidup, apalagi bayar kuliah kamu"
"Biaya kuliah nanti ibuk yang bayar, ibuk udah ada tabungan sampai aku lulus katanya, uang saku juga udah disiapin, tinggal biaya hidup sehari-hari kita sama ngontrak rumah" aku berkata lirih sambil menahan air mataku yang sudah ingin ikut tampil, ini sih pasti gagal aku gak bisa kuliah
"Aku nggak mau,
ketika aku sudah menikahi mu berarti semua hal yang menyangkut kamu sudah menjadi tanggung jawab ku" mas tri menegakkan badannya dan sedikit meninggikan suaranya
"kamu benar-benar masih bocah ya sri" sambungnya lagi
"Aku kira kalau sudah ada hati diantara kita, mudah juga menyatukan pemikiran" aku berdiri mengambil tas dimeja dan berjalan menuju parkiran
"Mau pulang, udah sore mau ngajar, aku gak mau anak-anak menungguku" sambungku lagi.