
Waktu berlalu dengan cepat, hingga sampai dihari pernikahan ku. Ibu menemani aku dirias, iya hanya aku yang dirias. Ibu hanya memakai riasan biasa, wajahnya terlihat masih sembab. Kemaren aku sempat terpikir untuk tidak mendaftar kuliah saja dan membatalkan pernikahan mendadak ini. Aku mau dihari bahagia ku semua orang juga bahagia, terutama bapak dan ibu, tidak seperti ini. Tapi ibu marah besar kepada ku, dia ingin aku tetap kuliah. Katanya dia lebih bahagia melihat aku mengejar cita-cita ku, dan dia rela jika harus berpisah dengan bapak, sampai ibu lupa bahwa kebahagianku sebenarnya adalah keutuhan keluarga ini.
"Sudah siap semua? ayo masuk mobil. Bapak udah di KUA, mempelai pria juga sudah menunggu disana" tanya mas ri yang baru masuk rumah
"sudah ini le, ayo bantu adek mu jalan" ibu menyuruh mas ri membantuku
Pernikahan ini dilakukan di KUA kecamatan desa ku, karena hanya dilakukan secara dadakan dan sederhana. Dalam perjalanan aku mulai gugup, aku takut, khawatir bagaimana aku harus menjalani masa setelah pernikahan ini, apakah ini keputusan yang terbaik atau sebaliknya. Dan pikiran-pikiran negative lainnya. Tiba-tiba ibu menggenggam tangan ku sepertinya ibu tau kegelisahan yang kurasakan
"Jangan kawatir, ibu akan selalu disampingmu. Menemani setiap langkahmu suka maupun duka, do'a ibu selalu menyertai mu" nasehat ibu seraya tersenyum dan menggenggam tanganku, aku hanya menganggukkan kepalaku
"Sebentar lagi kamu akan jadi istri, jadi istri yang baik dan patuh pada suami, jangan seperti ibu yang pembangkang. Surgamu akan berpindah dari di ibu ke suami mu. Jangan kayak anak kecil lagi, kasih ibu cucu-cucu yang lucu" sambung lagi ibu menasehati ku dan kami pun berpelukan
.
.
.
"SAH"
ucap para saksi dipernikahanku, pak penghulu menyuruh ku mencium tangan suamiku, iya dia kini jadi suamiku, aku telah menjadi seorang istri dari Mas satria. Dia mencium keningku saat aku mencium tangannya, dia melantunkan do'a di sela kecupannya, Lalu secara bersamaan mata kita saling beradu pandang, wajah dia tiba-tiba mengabur dipandanganku hingga akhirnya air mata ku lolos terjatuh dipipi ku, dia mengusap air mataku dengan jarinya
"jangan nangis, nanti bedaknya ilang dikira kamu keringetan" dia berkata lirih didepan wajahku
"nangis bukan keringat tauk,, emang aku bauk" kataku pelan menjawabnya
"Udah yuk pulang ke kamar, ga enak disini dilihatin orang" ujar lirih lagi mas tri, aku membelalakkan mataku meresponnya
"ke kamar , ke kamar, mau ke kamar yang mana lo? ini acara belom selesai kang.cilok, maen ngamar aja" mas ri menyela pembicaraan kami dari arah samping, mungkin dia mendengarkan kita dari tadi, aku jadi malu.
Setelah acara ijab, kini berganti dengan acara sungkeman, ketika aku sungkem ke bapak, aku tak dapat menahan air mataku lagi. Pertahanan ku mulai runtuh tangis ku pecah tak terbendung, menangis sejadi-jadinya. Hati ku sangat sakit teramat sakit, pada hari bahagiaku harusnya orang tuaku juga bahagia, aku tahu mereka bahagia melihat ku menikah dengan laki-laki pilihannya. Tapi kesedihan juga terpancar dimata mereka. Bagaimana aku bisa bahagia, disaat hari pernikahanku disaat itu juga jadwal sidang pertama perceraiannya. Bapak menginginkan dipercepat proses perceraianya dengan ibu.
"Ndhuk, jaga ibu mu baik-baik ya, bahagia kan dia, bapak akan bahagia. Kuliah yang bener, belajar yang rajin, raih cita-cita mu" nasehat bapak padaku sambil mengelus pundak ku
"bapak.. kenapa sih.... memilih berpisah sama ibuk" kataku terbata menahan isak tangisku
"suatu saat nanti kamu akan mengerti" jawab bapak tersenyum padaku .
.
.
.
Setelah acara akad di KUA aku dan mas tri serta keluarga mas tri pulang ke rumahnya, sedangkan ibu dan mas ri serta mbak nur pergi ke pengadilan agama. Sedangkan bapak, aku tidak tahu kemana.
"mas aku boleh pulang ke rumah ibuk gak, aku belum menyiapkan keperluanku untuk pindah, dan daftar kuliah" aku memulai percakapan saat kami sedang dikamar, aku memberasihkan riasan ku dan mas tri tiduran dikasur, dia terlihat kelelahan.
"mas juga belum siap-siap, gak tau mau siapin apa aja sebenernya" mas tri merubah posisinya jadi duduk
"ya baju-bajunya mas lah, sama dokumen-dokumen penting" aku menoleh ke arahnya
"mau dibantuin buka bajunya gak? kayaknya susah" mas tri menawarkan bantuan padaku dengan mimik wajah yang sulit ku artikan
"makasih loh, bisa sendiri aku kok" aku menolak tawarannya seraya tersenyum kepadanya
"gak papa mas, sri bisa sendiri, nanti ngrepotin, mas istirahat aja" jawabku lagi menolak bantuannya, tapi dia tetep mendekat, aku berdiri didepan cermin meja rias membelakanginya. Aku bisa melihat dia tersenyum dan memelukku dari belakang.
Hembusan nafasnya terasa dileherku, seketika bulu-bulu tanganku merinding, dia mencium leherku tangannya melepas kancing bajuku. Aku merasa seperti disetrum colokan listrik, jantungku berdegup kencang. Mas tri melepas baju kebaya dari tubuhku di membalikkan tubuh ku menghadapnya. Dia mencium keningku pipiku hidungku dan beralih ke bibirku, awalnya ciuman itu lembut mennyentuh bibirku, lama-lama dia memaksa membuka mulutku, aku melepaskan ciuman itu, nafasku hambir habis
"mas mau aku mati ya, gak bisa nafas tauk akunya, ini tuh ciuman pertama aku, harusnya mas ajarin yang pelan-pelan dulu, ini malah aku dibikin gak bisa nafas" omel ku pada mas tri
"udah jauhan ah, lepas, gerah ih... aku mau mandi" sambungku lagi mencoba melepaskan pelukaanya
"mandi bareng ya, nanti aku ajarin lagi ciuman yang enak" mas tri makin mempererat pelukannya
"lama gak? aku laper mas" aku mendongakkan kepalaku menatap wajahnya diatasku, ternyata tinggiku hanya sebahunya, ini pertama kalinya aku berada sedekat ini dengan mas tri dan dipeluknya, nyaman, nyaman, dan nyaman rasanya
Tok tok tok....
suara pintu diketuk dari luar
"le.. ndhuk... ayo makan dulu, dari tadi kalian belum sempat makan, nanti masuk angin" suara ibunya mas tri terdengar dari luar kamar
"iya bu... ini sri mau mandi dulu sebentar" jawabku berteriak, lalu meloloskan diri dari jeratan pelukannya mas tri dan masuk ke kamar mandi. Ini ternyata bedanya dirumahku dan dirumah mas tri, dirumahku kamar mandinya cuma satu untuk semua orang, kalau dirumah mas tri didalam kamar aja ada kamar mandinya. Ternyata bapak ku pelit juga ya buat kamar mandi cuma satu dirumah padahal dia kan banyak uang.
.
.
.
Saat di meja makan, aku melayani mas tri, mengambilkan nasi serata lauk pauknya, menuangkan air putih juga di gelasnya. Lalu aku mengambil makanan untuk aku sendiri
"makan yang banyak ndhuk, jangan malu-malu" ujar ibunya mas tri padaku
"tambah lagi nasinya ndhuk biar kuat, simpanan energi buat nanti malam" bapak menambahkan omongan ibu sambil tertawa.
Aku membalas dengan senyuman ku, aku tidak mengerti apa yang mereka maksud.
"Eh.. bapak, jangan aneh-aneh omongannya" ibu mengomel ke bapak
"iya nih bapak, ngaco aja, sri tuh masih polos" mas tri menimpali lagi. Aku yang tak ambil pusing dengan obrolan mereka, makanan ini lebih menyita perhatianku dan perutku.
.
.
Setelah acara makan, aku dan mas tri masuk ke kamar. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan tentang mas tri dipikirianku, aku belum tahu apapun tentang dia. Tentang bagaimana rencana kita kedepan setelah ini selain aku yang mendaftar kuliah. Kita belum membahas apapun tentang masa depan.
"mas, aku boleh nanya-nanya gak?" tanyaku pada mas tri, memecah keheningan di kamarnya
"boleh, mau langsung diajarin ciuman juga boleh" jawab mas tri, dengan senyum jahilnya
"ih mesum banget ya anda" gerutuku mendengar jawabannya
"sama istri sendiri gak papa dong" jawabnya sambil mencolek dagu ku
"anak mas tri ada dimana?"