
"Tapi sri mau kuliah bapak, bukan mau nikah"
Ucapku sedikit meninggikan suara ke arah bapak.
"eh astaghfirllah... hehehe, maaf pak kekencengan ya ngomongnya" ujar ku lagi sambil mengelus tangan bapak, bapak selalu menasehatiku kalau perempuan jangan berbicara dengan nada tinggi alias bentak-bentak kalau anak sekarang bilangnya nge gas. Aku pun nurut, tapi kalau didepan bapak aja, yang lain kalau inget hehehe.
"apasih sri, mau kuliah? kayak nyampai aja otak mu, kebanyakan nonton tivi" jawab bapak santai tapi nyindir
"ye, ngatain anaknya. Gini-gini juga hasil karya bapak ibuk" sahut ku menyenderkan kepalaku di pundak bapak
"oh iya bapak lupa hehehe"
"uang bapak kan banyak, nguliahin cuma sri seorang gak akan habis cuan bapak. Bapak ini juragan terkaya dikampung ini, semua orang segan sama bapak, kalau ditambah orang-orang tau bapak nguliahin anaknya, wahh plus-plus nilainya lah" rayuan ku mulai ku keluarkan, sambil mijit-mijit kaki bapak.
"maaf ni pak, sri. aku boleh ikut ngobrol gak? kayak anak tiri nih , tak dianggap" sela mas tri, yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan aku dan bapak
"gak usah ikut campur ini masalah domestik, gara-gara anda juga masalah ini terjadi" aku menjawab dengan sewot, dibalas senyum kecut mas tri. Tapi malah kelihatan ganteng ya, ah apasih mata ku.
"jangan gitu ndhuk, bapak gak maksa kamu buat cepet-cepet nikah, tapi bapak juga gak mau kamu kuliah dikota, gak ada yang jagain. Dikota itu hidupnya keras, pergaulannya aja bebas, bapak takut kamu kebawa arus mereka, bukan masalah cuan aja cah ayu, kalau disini ada tempat buat kuliah, tak daftarkan kamu. mau sampai kamu ubanan kayak bapak gini, tak bayarin. tapi tentang keselamtan kamu sendiri. keselamatan jiwa raga dan etika mu. bapak tau kamu mau kuliah biar dibilang keren aja toh?" nasehat bapak yang panjang nan jauh. "disini aja bapak lebih tenang, jadi guru les anak-anak seperti biasanya aja. ilmu mu bermanfaat. kalau belum mau menikah, bapak akan tolak lamarannya mas tri sekarang, sebahagia mu" lanjut ceramah bapak sambil terus mengelus pundak ku.
"jangan pak, ehh" kata itu meluncur bebas dari mulutku, seketika aku menutup wajah ku dan lari masuk kekamar, samar-samar aku mendengar suara gelak tawa mas tri dan bapak bersama.
.
.
.
Keesokan harinya aku tidak ikut sarapan bersama, aku keluar kamar setelah bapak pergi untuk ke pasar. Aku beranjak mandi, dan pergi ke rumah Tika temanku sejak kecil.
"ka aku dilamar sama mas tri" ucapku pada tika saat dia asik baca novel sambil tiduran dikasurnya, setelah kita selesai mengoreksi latihan soal ujian anak-anak yang les ditempat ku dan tika. Tika dan aku mengajar les anak-anak SD dari kelas 1 sampai kelas 6. Lumayan untuk mengisi waktu ku disore hari, dan tambahan buat jajan cuannya. kalau siang terkadang aku membantu bapak jualan dipasar, kadang juga aku main-main saja dengan Tika. Tika sudah ada calon suami, mereka akan menikah setahun lagi setelah calonnya itu pulang dari kota.
"ah masak sih..." tika yang tidak percaya
"bodo amat" jawabku cuwek
"mas tri itu kan duda sri, kamu mau? udah punya anak loh" tika merubah posisinya menjadi duduk menghadapku
"iya aku tau, maulah diakan ganteng, gak kayak calonmu" jawabku lagi sambil menonyor keningnya
"biarin, yang penting masih perjaka belum punya anak" sanggah tika mengelus keningnya
"kamu kan katanya mau kuliah sri, udah berubah haluan ya?" tika bertanya lagi padaku
"ya gak lah, aku tetep mau kuliah" jawabku
"kok kamu trima lamarannya?" kini tika semakin mendekatiku
"jangan deket-deket, kamu belum mandi bauk ketekmu nyampe sini" sambil menjauhi tika "gak tau deh ka, pas bapak bilang mau nolak lamarannya mas tri, tiba-tiba aja mulut kampret ini ngomong 'jangan pak', langsung besar kepala kan tu orang" sambungku menjelaskan
"hahaha... emang deh gak ada yang bisa nolak karismanya mas tri, sampai si gendhuk ayu ku ini aja tersepona" ledek tika
"eh yang duluan kepincut itu dia ya bukan aku" jawabku tak mau kalah
"iya in aja deh, biar ditraktir bakso, hahaha" ujar tika menangkap bantal yang aku lempar ke arahnya
"terus kamu kuliahnya gimana, ini hampir jadwal penerimaan Maba loh, masak kamu mau nikah, apa mau nunggu tahun depan lagi buat daftar?" tika bertanya
"ya kalik aku langsung nikah sama dia, kita tuh belum kenal dekat tau, aku gak tau dia aslinya gimana, pendekatan dulu lah kalau cocok oke, kalau gak cocok di oke okein aja, hahaha" jawabku panjang
"bukannya dia sering kerumahmu? udah deketlah itu, apa kamu mau deket yang lain, badannya mungkin. mau tryning dulu, hahaha"
"tikaaa... bukan itu" teriak ku dan menghampiri tika dan mengelitikinya.
"hahaha... ampun ampun sri, hahaha" adu tika kegelian
"udah udah, kalian ini kayak anak kecil aja, ayo bangun! didepan ada ridho nyariin kamu sri" tiba-tiba ibunya tika datang dan melerai kami
"ngarang aja kamu, dikira ibu lagi jadiin kamu pembantu, udah sana keluar, mau dikutuk?" ancam ibunya tika
"ya gak mempan juga kutukannya, salah anak nyonya" sanggah ku
"bodo amat, sana cepet keluar" perintah ibunya tika lagi
"iya iya ibu tiri, bawel" gumamku yang masih didengar ibunya tuka, keluarganya tika sudah seperti kelurgaku sendiri karena rumah kita dekat dan juga orang tua kita berteman sejak dulu, dan kini aku dan tika pun bersahabat dekat.
.
.
.
"apa mas?" sapa ku ketika melihat mas ri didepan rumah tika
"ayo ikut mas" jawab mas ri langsung menarik tanganku menuju motornya
"apaan sih digeret kayak kambing, bisa jalan sendiri kalik, mau kemana sih! aku mau pulang, laper, belum makan dari pagi, dirumah tika juga gak dikasih makan" gerutuku saat mas ri menggeretku
"rasain, siapa suruh gak makan tadi pagi, dimasakin ibuk tuh dimakan bukannya dikasih ke laler, kenapa, ngambek?" kata mas ri yang sudah menjalankan motornya
"siapa yang ngambek? aku tuh lupa belum ngoreksi latihan ujiannya anak-anak tadi malam, nanti sore harus dibagiin dan dibahas, jadi gak sempet makan" jelasku panjang ke mas ri
"mikirin lamarannya si satria ya jadi lupa gitu sama PR nya?" goda mas ri ketika berhenti menunggu anak-anak sekolah menyebrang jalan
"gak juga, sok tempe" elak ku
"emang mas suka tempe, kata bapak, kamu terima lamaran satria?" mas ri melajukan motornya lagi
"Diam" bentak ku ke mas ri,dan dibalas kekehan dari mulut mas ri.
.
.
.
Sejujurnya aku bingung, aku mau kuliah walaupun bapak tidak mengijinkan ku untuk kuliah tapi ibu mendukungku untuk itu, semalam setelah kepulangan mas tri ibu menemui ku dikamar dan bercerita. Kata ibu dia sudah menabung diam-diam dari sisa uang belanja yang bapak berikan dan hasil panen sawah warisan dari orang tua ibu sejak aku masih SD, uang itu dia tabung dikoprasi desa. Untuk biaya kuliah ku dikota, dia juga ingin anaknya meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dulu mas ri juga ditawari untuk kuliah oleh ibu tapi mas ri menolak, katanya mas ri mau berjualan saja membantu bapak dia tidak mau menentang bapak, uang yang ibu tabung untuk kuliah mas ri di kembalikan lagi ke ibu untuk tambahan biaya kuliah ku kelak.
Ibu akan menemaniku ke kota dan tinggal disana meninggalkan bapak disini kalau bapak tidak mengijinkannya tabungan ibu sudah cukup banyak untuk biayaku dan bisa nyari kerja serabutan untuk tambahan keperluan sehari-hari itu rencana ibu. Ibu memang mencintai bapak, tapi ambisinya untuk menguliahkan anaknya juga sama besarnya. Kata ibu, dulu dia ingin sekolah tapi tidak diperbolehkan oleh orang tuanya, ibu hanya sekolah sampai SD dan langsung disuruh menikah. Kini aku merasakan apa yang ibu rasakan dulu, ibu tidak ingin itu terjadi padaku. Dan ibu sedikit kecewa ketika mendengar aku menerima malarannya mas satria.
Sebenarnya juga aku sudah menyukai mas tri, sedikit tapi atau mungkin. Setiap mas tri datang kerumah untuk menemui mas ri, dia selalu menyempatkan menyapaku dengan kata-kata rayuannya yang aneh-aneh. Aku pikir aku aja yang baper kalau kata orang-orang ditivi, pipiku akan memanas saat mas tri berucap aneh-aneh. kayak gini nih...
"eh ri, boleh juga ni warung bakso pilihan mu, adem kayak ada ACnya, eehh ada cah ayu juga ternyata pantes aja sejuk, adem hati mas" gombalan mas tri ketika kita bertemu dan seketika aku menyembunyikan wajah ku dibelakang badan mas ri.
Ternyata mas ri ngajakin ke warung bakso yang ada mas tri nya, ah ini sih ada maksud lain . Bodo amat lah perut keronconganku meminta perhatian lebih sekarang.
"jijik gue dengernya, kayak pernah cium bau AC aja gaya lo, inget ya lo itu duda jangan belagak perjaka" semprot mas ri dan duduk disebelah mas tri
"sirik aja lo" balas mas tri
"DIAM" hanya itu yang keluar dari mulutku dan memanggil mas mas tukang bakso dan memasan
"teh anget tawar aja gue minumnya jo" pesan mas tri pada paijo mas mas tukang bakso
"tumben" ujar paijo
"depan gue udah adem sama manis" jawab mas tri tersenyum memandangku, aku memalingkan wajah ku yang kubuat sejutek mungkin kesamping
"gendeng" balas paijo lagi dan meninggalkan meja kita
"sumpah enek gue, pedofil lo ya, orang tua naksir anak TK" sahut mas ri
"Diam" kataku sedikit menurunkan nada ku dari yang pertama tadi dan serentak mereka berdua menngerakkan tangan mengunci dimulut.