
"Ibukk.... bapak...., sri pulang" Aku berteriak memanggil ibu dan bapak, tak kuasa aku menahan air mata. Hingga tersedu - sedu aku menangis, sampai menjadi pusat perhatian orang-orang disana pun aku tak peduli, kakiku terasa lemas, sigit dan novi sigap memegangiku lalu mendudukan ku di atas reruntuhan bangunan
"titip sri dulu ya nov, git, aku mau lihat keadaan rumah ku dulu" mas tri minta ijin untuk pindah lokasi, matanya terlihat memerah, aku tahu dia juga merasakan amat sangat terluka
"aku ikut mas" rengek ku
"jangan sayang, kamu nanti kecapek an, jauh kalau jalan kaki, ingat kamu juga bawa anak kita, mas nggak mau lihat kamu kenapa-napa" mas tri menjelaskan dengan lembut, tangannya membelai lembut rambut ku, akhirnya aku menganggukkan kepala ku
"nanti kalau udah puas disini, langsung ke posko ya, nggak usah tungguin mas" mas tri mencium keningku, aku mengangguk lagi, lalu dia pergi.
Aku melihat semua orang sibuk berlalu lalang didepan ku, orang-orang berseragam, mahasiswa-mahasiswa yang menjadi relawan, orang-orang berbaju medis, bahkan alat-alat berat yang sedang beroprasi pun tak luput dari pandanganku, sigit pun tampak ikut membantu.
"sri" novi memegang bahuku
"hemm"
"kamu mau kembali ke posko aja? disini bahaya kayaknya" tawar novi
Aku menghela nafas, rasanya aku mau disini saja sampai ibuk bapak ditemukan, aku ingin mencari sendiri mereka,mungkin mereka sedang kesakitan menahan benda apapun yang menimpa mereka, mungkin juga sedang kelaparan dan kehausan karena lari menyelamatkan diri tanpa membawa apapun.
Aku menatap novi, air mataku sepertinya tak habis-habis stoknya, novi memelukku dia juga menangis melihatku
"nov, mereka pasti selamat kan?"
"mereka pasti bisa menyelamatkan diri kan?"
"mereka pasti sekarang sedang di suatu tempatkan?"
"mereka pasti sedang menunggu diselamatkan kan?"
"hu hu hu... huaaa"
Ku keluarkan semua prasangka positivku, dengan tangis yang masih saja tak sanggup ku tahan.
"iya iya, mereka pasti sedang menunggu kita, jadi kamu harus tetep kuat dan sehat, nanti kalau kita temukan mereka kamu masih dalam keadaan baik-baik saja, sabar dan tegar. Mereka akan bangga padamu" novi menatap ku menangkup pipi ku dengan kedua tangannya, dia menyemangati ku. Aku sangat bersyukur mengenalnya.
"ayok, sudah siang kamu harus makan, minum vitamin, biar ponakan onti nov disini tetep sehat dan kuat seperti mamanya" lagi-lagi novi membuat ku tersentuh dengan ucapannya, walau kadang hari-hari kita penuh dengan keributan dan ucapannya sering ngaco, tapi aku tahu dia mempunyai hati yang baik, dia malaikat penghiburku.
ku peluk erat lagi dia, lalu bangkit dari duduk ku, berjalan menuju posko tempat tadi aku beristirahat
"git, gue balik sana dulu ya, kasian sri kalau kelamaan disini" novi meneriaki sigit, yang hanya dibalas acungan jempol dari sigit.
.
"aghh..." aku mengaduh
"kenapa sri" novi panik
"tendangannya keras banget ponakan lu, nih lihat nih benjol" aku menunjukkan perutku yang menonjol kecil, sepertinya bayiku sedang pindah posisi
"OMG, alamak cik, perut kau" teriak novi yang takjub melihatnya
"kok bisa gini sri, dia lagi apa?"
"pegel kalik, pengen slonjoran"
"baru ini gue lihat, dari kapan dia bisa gini" novi semakin penasaran
"udah lama, laper banget kalik ni, kodenya keras banget" aku sudah mulai sangat lapar, menangis ternyata butuh energi
"yaudah, makan dulu yuk, tadi pagi aku sempet bantuin masak di dapur umum,jadi kita kebagian jatahnya nggak perlu sungkan-sungkan, hahaha" novi tertawa dengan tingkahnya sendiri
"siap onti pi jeyek" ledekku dengan menirukan suara anak kecil
"masih diperut lo udah ajarin dia menistakan gue, awas ya kalau udah lahir gue sabotase anak lo biar mirip gue semua tingkahnya" novi menjitak keningku
"ish... awas kalau berani sabotase anak gue, gue kutuk lo jadi petrick"
"nggak mempan kutukan lo digue" novi menjulurkan lidahnya, lalu kita tertawa bersama, lagi lagi dan lagi aku bersyukur memiliki sahabat soarang novi.
"eh nop lo kan cenayang, cari in ortu gue dong, guna in keahlian lo dengan hal-hal yang bermafaat" suatu ide muncul ketika aku sedang makan
novi menghela nafas
"ngadi-ngadi lo ya, lo pikir gue dukun, mana bisa kayak gitu" novi mengomeli ku
"omongan lo kan suka bener nop, kali aja bisa menerawang keberadaan bapak ibuk"
"La nggak ada guna orang-orang itu disi...ni... omo omo aigo aigo... ganteng banget sri" ucap novi yang matanya berbinar dan tangannya menunjuk sekolompok orang berseragam, tampaknya dia sedang terpesona oleh seseorang
"apaan, kebanyakan nonton drakor lo " ku ikuti arah pandangan novi dan...
"oh neptunus... itu sigit nyak, ganteng dari mana, naksir lo sama dia?" ku timpuk dia pakai kerupuk, yang kulihat disana adalah sigit yang sedang berbicara dengan...
"oh.. oh... Ya Allah jadikan anak ku seganteng dan sekece dia, kali ini saja kabulkanlah do'a a'im ya Allah" refleks aku mengelus perutku saat melihat lawan bicara sigit, ganteng pisan kalau orang bandung bilang mah
"ye... tu produknya si bang sat ya, nggak akan jadi macam tu cogan" kini novi yang melampar balik krupuk pada ku
"eh, lo kok maki bapaknya anak gue sih" aku langsung naik pitam dia ngehina suami ku
" bagian mana yang maki, mak nya otong?"
"itu lo tadi bilang bang sat, lo tuh yang bang ke" ku lipat tangan ku didepan dada, tanda emosi level tinggi
"laki lo namanya kan satria, gue panggilnya abang, kalau digabung kan jadi abang satria, tapi kepanjangan, gue singkat jadi bang sat, nggak ada yang salah kan?" novi dengan ringannya menjelaskan
"kalau orang denger kan jadi salah paham, maemunah!"
"bodo amat,, eh jadi ilang kan cogan gue" eluh novi
"cogan? gue maksudnya? emang udah ganteng dari lahir gue?" sigit yang baru datang tiba-tiba menimpali ucapan novi dengan sombonya, aku dan novi memutar bola mata, jengah mendengar sigit berbicara
"iya elo emang ganteng, banget malah,, kenalin dong sama cowok yang lo ajak ngobrol tadi disana, yang lebih ganteng jauhh dari lo, hihihi" novi cekikikan merayu sigit
"oh Dokter aris, setipe lah dia sama gue, sebelas duabelas, beda tipis, lebihan dikit gue gantengnya" sigit sombong lagi, minta ditimpuk sendal nih anak
"mabok kayaknya lo git" aku pun tak tahan mengomentari sigit
"oh jadi dia dokter, aduhhh makin nambah karisma deh dia" novi senyum-senyum nggak jelas, kesemsem sama si dokter tamvan itu kayaknya
"oi... sampe lupa, gara-gara lo nop" sigit menginterupsi
"kok gue sih"
"tadi ada yang nemuin jasad di sekitaran rumah kamu sri, se keluarga kayaknya, tapi bagian tubuhnya semua udah nggak utuh wajahnya juga rusak semua, lagi mau diidentivikasi kamu bisa kasih sampel rambut atau apa, buat cek DNA nya"
Deg
Deg
Sigit membawa kabar yang membuat jantungku terpacu kacau lagi