
Author
Tiga hari kemudian
Sudah tiga hari satria tidak berkomunikasi, seperti pertengkaran sebelumnya mereka saling diam. Satria belum pulang ke rumah sri. Sudah tiga hari sejak pertengkaran mereka, setiap pagi sri mengalami mual muntah, serta pusing kepala. Tubuhnya juga sering merasa kelelahan setiap hari mulai gelap. Padahal sebelumnya sri merasa baik-baik saja.
"lo pucet banget sri, sakit?" novi bertanya saat mereka dikelas
"cuma masuk angin" jawab sri
"dari kemaren gue perhatiin lo lemes, kalau sakit ke dokter yuk, gue anter" novi memberi perhatian
"nggak deh, tidur aja ntar baik sendiri" sri menolak
"ijin dulu aja yuk, tinggal satu lagi kelasnya kok, gue anter pulang" ajak novi
"hemm, iya deh, gue ngantuk banget rasanya, padahal tidur cukup tadi malam" sri menerima ajakan novi
Novi mengantar sri pulang, ketika sampai rumah ternyata ibunya sri sedang pergi mengantar kue pesanan.
"minum dulu sri, gue bikinin teh anget ni" novi menghampiri sri yang merebahkan tubuhnya disofa
"makasih" sri meminum teh buatan novi
"mau ke dokter aja? kondisi lo memprihatinkan" ajak novi, sri menggeleng memejamkan mata
"lo tadi pagi makan nggak" tanya novi, sri menggeleng lagi
"apa yang lo rasain?" novi masih mengintrogasinya
"udah tiga hari ini, mual, pusing, lemes" sri menjelaskan
"kapan last period ?" novi duduk dilantai memandangi sri yang tiduran disofa depannya, novi mengangkat bahunya
"sebelum ke bidan mungkin" jawab sri dengan suara lirih
"itu udah sebulan lebih"
"hamil lo" novi menangkup pipi sri
"ish, lebay" sri mencoba melepaskan tangkupan tangan novi
novi mengambil ponselnya dan menelpon sigit
"git, udah selesai kelas belum?" telfon sudah diangkat
"udah, napa"
"ke apotek gih, beliin test pack, bawa kerumah sri" sri membuka matanya mendelik mendengar perkataan novi
"gila, ogah"
"buruan makasih ya, we love you" novi memetikan panggilannya
"novi, kok lo nyuruh sigit, sih" sri memukul lengan novi
"nggak papa, dia mau kok" novi tersenyum, meletakkan ponselnya diatas meja, sri menghela nafas.
.
.
.
Beberapa saat kemudian sigit tiba dirumah sri, tanpa salam dan mengetuk pintu dia masuk kerumah sri
"nih pesananya, nyonya" sigit menjatuhkan tubuhnya keatas sofa
"bikin malu gue aja, dikira mbak-mbaknya gue udah punya bini, banyak banget pilihannya lagi, gue beli aja semua. gantiin duit gue lo, ya nop. buat apa sih tu barang, lo nggak pakek pengaman?" sigit mengomel
"sembarangan" novi menendang kaki sigit
"aawww,, sakit" sigit mengaduh "eh lo kenapa sri, jadi kaum rebahan sekarang" tanya sigit, yang baru menyadiri posisi rebahan sri, sri tak menjawab malah menutup matanya
"itu buat sri" novi menujuk kearah test pack
"oohh" mulut sigit membentuk bulatan, lalu dia diam.
Sri berdiri beranjak dari tidurannya, mengambil satu kantong kresek pembelian sigit, lalu pergi ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, sri keluar dari kamar mandi berjalan menuju ruang tamu dimana kedua temannya menunggu.
"gimana-gimana?" novi berlari menghampiri sri, tak sabaran
Sri menunjukkan tiga benda kecil panjang ke arah novi dengan tersenyum berbinar, lalu memeluk novi
"aahhhh.... positiv nop" sri terisak, dia menangis dipelukan novi
"haaa.... selamta ya, gue seneng, banget dengernya" novi melepas pelukannya, menatap sri dengan mata berkaca-kaca juga. Sigit berdiri mematung, mulutnya terbuka terkejut juga
"gue udah duga dari kemaren, sekarang lo harus makan, gue ambilin dulu di dapur" novi mengelus perut sri dan beranjak menuju dapur
sri mengalihkan pandangannya ke arah sigit yang dari tadi diam berdiri di sampingnya
"gue hamil git" sri berhambur ke pelukan sigit sambil menangis, sigit yang terkejut karena mendapat pelukan sri yang tiba-tiba, hampir limbung, untung saja dia masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Dia diam tak membalas pelukan sri, dia takut tak bisa melepas pelukannya nanti. Merasakan dadanya basah terkena tangisa sri, sigit pun tak kuasa hingga dia membalas pelukan sri.
Tanpa ada yang tahu ternyata satria sudah berdiri di ambang pintu yang terbuka, tampak wajahnya penuh amarah dengan rahang mengeras dan tangan mengepal, dia senang mendengar ucapan kalau sri hamil, tapi tidak dengan tingkah sri yang mengahambur ke pelukan sigit
Sigit refleks melepas pelukannya pada sri
"sini, kenapa diam disitu" novi melambaikan taangan menyuruh satria masuk, dia tidak menyadari raut wajah satria yang kaku
"mas.." sri berlari ke arah satria
"stop" satria menyuruh sri berhenti, sri terkejut
"aku pulang bukan untuk melihat kamu berpelukan dengan laki-laki lain" suara satria terdengar sedang menahan amarah
"dia sigit mas, aku refl...." sri belum menyelsaikan bicaranya
"maaf aku mengganggu kalian, permisi" satria memotong ucapan sri, dia berbalik arah berjalan untuk pergi
"mas,, nggak gitu" sri menarik tangan satria sambil terisak, satria melepas pegangan tangan sri, lalu berjalan menuju mobil pick up nya
Sri berusaha mengejarnya, tapi dia merasa kakinya lemah sulit di gerakkan dan dia jatuh terduduk dilantai. Novi dan sigit menghapirinya, satria tak melihat ke arah sri dia pergi melajukan mobilnya.
Sigit mengangkat tubuh sri, merebahkan ke atas sofa
Satria melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia marah dan geram mengingat kejadian tadi, melihat istrinya berpelukan dengan pria lain membuat darahnya naik, emosinya tak terbendung, dia memuku-mukul stir.
Niatnya pulang dan bertemu dengan istrinya ingin meminta maaf dan mengajaknya pergi jalan-jalan berdua hari ini, rasa rindu yang menggebu-gebu sejak kemaren ia pendam karena beberapa hari tidak melihat wajah istrinya serta mendengar suaranya menguap sudah. Berganti menjadi ledakan emosi cemburu.
"argh.... breng sek" satria mengumpat
Satria mau menjelaskan keadaan bapaknya yang terjatuh dikamar mandi hingga mengakibatkan bapaknya Stroke, dan di bawa ke rumah sakit. Dia mencoba menghubungi sri berkali-kali dan mengirim puluhan pesan pada sri namun tak dijawab oleh sri. Ke esokan harinya dia menunggui bapaknya di rumah sakit dan ponselnya tertinggal di rumah ibunya. Kini bapaknya sedang ditemani ibu dan saudaranya, dan dia bisa pergi menemui istrinya. Tapi malah emosi yang dia dapat.
.
.
.
Sedangkan ditempat lain, sri sedang tersedu-sedu menangis di kamarnya
"sudah sri, satria cuma salah paham, dia akan menenangkan diri sebentar lalu pulang lagi" bu eni mengelus rambut sri perlahan menengkannya
beberapa saat setelah satria pergi bu eni pulang dari perginya, ia terkejut melihat kondisi sri yang berada diatas sofa
"mas tri, marah buk" sri masih menangis di atas tempat tidur
"iya nggak papa, wajar dia marah" bu eni menghembuskn nafasnya
"sekarang makan ya, habis ini kita ke dokter priksa cucu ibuk dulu, ibuk temani, novi sama sigit juga masih nunggu diluar" bu eni mengambil piring berisi nasi dan lauk dari meja
"ibuk nggak marah?" sri menatap ibunya
"buat apa marah, ibuk tau kamu dan sigit, ibuk percaya" ucap bu eni, lalu menyuapkan makanan pada mulut sri, karena merasa sangat lapar dan kehabisan energi sri pun memakannya.
Di ruang tamu novi dan sigit masih mengobrol sambil makan cemilan yang salalu tersedia di meja ruang tamu
"lo mau ikut nganterin sri ke dokter nggak?" tanya novi sambil mengunyah
"nggak deh, ntar kalau laki nya dateng, kena tampol gue" jawab sigit
"elo sih, main peluk peluk aja bini orang" novi melempari sigit dengan bantal sofa
"mchh... kan gue udah bilang, sri duluan yang meluk gue tiba-tiba, nggak percaya juga lo, selama ini emang lo pernah lihat gue kontak fisik se intim itu ke dia, hah?" sigit menekankan ucapannya
" sering lah, lo usap rambutnya" novi membalas
"itu ngacak - ngacak, lo juga sering gue gitu in, nih" sigit mengacak-acak rambut novi
"ihh...." novi menangkis tangan sigit
"lo elapin air mata sampe ingus kalau sri lagi nangis"
"eh gue nggak pernah se jorok itu ya"
"lo elus-elus punggung sri, kalau dia lagi galau" novi masih terus menimpali ucapan sigit "lo suka kan sama dia, perhatian lo tu beda, tatapan lo ke dia aja beda, kelihatan banget, be go"
sigit salah tingkah, dahinya mengkerut, lalu melempar bantal ke arah novi "ngaco" ucapnya
"kalau gue pikir-pikir lagi si, suaminya sri berlebihan banget" novi menghentikan kunyahannya, sigit mengangkat bahunya
"bisa kan tanya dulu, ada gue juga disini, nggak main pergi aja, salah dia juga kan, udah hilang gitu aja, nggak ngasih kabar, eh tiba-tiba datang bawa emosi. pantes aja sri kurus gitu, laki nya sensian" ucap novi
"tauk ah gelap, gue cabut dulu, salamin buat ibuk sama sri" sigit berdiri mengacak-acak rambut novi dan pergi
"aissh, rese" gumam novi.
.
.
.
Satria berjalan menyusuri koridor rumah sakit, mencari ruangan praktek dokter kandungan malam ini. Bu eni tadi memberi tahunya lewat pesan, malam ini bu eni akan mengantarkan sri priksa kandungannya di sebuah rumah sakit. Satria masih dalam perjalanan ke arah rumah sakit bapaknya dirawat tadi, melihat pesan itu dia langsung membelokkan mobilnya ke arah kota lagi. Dia menukarkan mobil pick up nya dengan minibus milik temannya, lalu melaju ke rumah sakit tempat sri memeriksakan kandungannya.
Satria melihat sosok perempuan yang sangat ia kenali dari belakang, tepat saat nama sri dipanggil untuk masuk ke ruang praktek dokter, bu eni yang melihat satria datang, mengisyaratkan agar satria masuk menemani sri ke dalam
"Selamat malam ibu sri dan pak satria" dokter menyapa, sri menoleh ke samping, satria sedang menjatuhkan tubuhnya duduk dikursi samping sri dengan tersenyum, dia terbelalak terkejut melihat kehadiran suaminya