SRI

SRI
1. Gadis 18 tahun


"Gendhuk ayo bangun, subuhan dulu”


alarm pagi ku yang syahdu suara ibu ku yang amat aku sayangi


entah mengapa aku selalu bisa langsung bangun ketika suara itu terdengar hanya satu kali


“iya buk ini udah melek kok” kataku menjawabnya dan langsung berjalan menuju kamar mandi sederhana dirumah ku


"Sri sekarang umur kamu berapa toh?” kata bapak yang tiba-tiba memecah keheningan saat sarapan bersama


“lah piye toh bapak itu masak ya lupa umur anak sendiri, hayo berapa coba” jawabku dengan bercanda


“kamu ini, bapak kan udah tua umur bapak sendiri aja lupa hahaha, udah kasih tau berapa?” kata bapak lagi beralasan


“18pak” jawab ku singkat


“ada apa toh pak? Mau kasih hadiah buat sri? Tumben” aku yang bertanya karena heran


“ itu lo kemaren ada yang nanyain kamu udah baligh belum” kata ibu ku yang tiba-tiba datang membawa kerupuk


“ish ibuk main nimbrung aja yang ditanya bapak juga, emang iya gitu pak?” tanyaku lagi pada bapak


“ iya, temen mas mu” jawab bapak yang sudah selelsai makan dan langsung pergi untuk jualan.


.


.


.


Inilah hidupku yang bahagia selama ini, namaku Sri.


Sri kata bapak berarti padi entah apa maksud bapak memberi nama anak perempuan satu-satunya ini, setiap aku menanyakan itu bapak hanya menjawab itu namanya yang bagus dan mudah diingat untuk bapak yang memang pelupa dan aku meng iya kan saja suka-suka bapak aja pikirku toh gak akan masuk disoalnya malaikat Nakir.


Aku anak kedua dari dua bersaudara, kakakku bernama Ridho aku biasa memanggilnya mas ri dia baru saja menikah dan istrinya sedang hamil muda, dia juga bejualan dipasar seperti bapak tapi berbeda toko atau warung kita menyebutnya. Aku sudah hidup 18tahun dan aku selalu merasa bahagia selalu, tidak pernah kekurangan apapun. Keluarga yang perhatian dan hangat serta materi yang berkecukupan eh gak cukup-cukup banget sih hampir semua yang aku minta dituruti sama bapak asal bapak pas ada uangnya, kalau belum ada ya jawabnya paling banter "gampang, besok beli sepabrik-pabriknya".


Dan setelah pertanyaan bapak yang aneh tadi pagi itu serta ditambah pemberitahuan ibu yang mengherankan aku jadi gelisah memikirkan itu sehari. Bagaimana kalau aku dilamar, bagaimana jika bapak menerima lamaran orang itu yang akupun tak tau siapa teman mas ri kan banyak, bagaimana kalau aku disuruh menikah sekarang, dan pertanyaan lainnya yang muncul diotak ku yang sedikit ini, hah aku pusing.


Di kampungku ini memang kebanyakan mereka sekolah hanya sampai SMA dan akupun begitu, karna memang disini jarang ada yang kuliah dikota masalah biayalah alasan utamanya. Kalau kata teman-teman ku sih buat apa kuliah capek-capek sampe habisin warisan orang tua ntar jatuh cinta blo'on juga. Hahahaha.. itu si emang semua teman sekampungku males aja sekolah.


Sekolah SMA pun diniatkan buat nyari jodoh, emang kampung ku orangnya aneh-aneh.


Kebanyakan dikampungku ini perempuan akan menikah disaat usia 17tahun kalau lebih dan belum menikah akan dianggap perawan tua atau gak laku.


Tapi diusiaku ini aku sepertinya belum kepikiran untuk menikah seperti teman-temanku yang lain, aku hanya ingin kuliah meneruskan pendidikan ku dikota, kayak ditivi-tivi itu. Dan cita-cita ku ini mau jadi orang pertama dikampungku yang kuliah, kayaknya keren banget ya..


Malamnya saat aku akan menata makanan diatas meja untuk makan malam tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara laki-laki yang sering aku dengar


“wangi banget sih, ini dari makanannya apa dari yang bawa?”


“opo sih, ngagetin orang dateng tu salam ngerti gak salamnya gimana? Main mepet aja emang lagi dipasar malem!!” omel ku panjang


“eh mau diajak ke pasar malem ya” jawab orang itu


“salam dulu” omel ku lagi


“iya iya galak, samlekum” kata orang itu dengan santai


“salam tuh yang bener, ngaji gak sih, wong ediyan” balasku dengan kesal.


Bisa-bisanya dia datang dijam makan malam begini mau minta makan pasti ini, dia adalah teman mas ri, dia sering kesini dan aku sering melihatnya dirumah mas ri sebelah rumah bapak yang aku tempati.


Mas ri sudah hidup mandiri dan tinggal terpisah sejak menikah, nama teman mas ri itu Satria aku biasa memanggilnya mas tri. Eh dia kok malah kesini bukannya kerumah mas ri jangan jangan.


“udah udah jangan berantem, ambilin priring lagi biat mas tri ndhuk" ibu yang melerai keributan kami


"iya, lagian kenapa sih orang itu kesini kan rumah mas ri disebelah" sambil berjalan menuju rak aku terus berbicara


"mau namu lah" sahut mas tri


"alah mau namu kok pas jam makan, bilang aja mau minta makan, makanya punya istri biar ada yang ngurusin" kataku yang sudah duduk dikursi disamping ibu


"ini lagi nyari istri kok" jawab mas tri lagi sambil menatap ku. Kok aku jadi salting gini ya ditatapnya.


"jangan berantem didepan makanan" kata bapak tiba-tiba sudah duduk aja dikursi depan ibu, aku jadi gak fokus dilihatin orang itu


"ayo makan dulu, ayo mas tri makan gak usah diladenin si sri sampe besok juga gak selesai-selesai kalau ditanggepin dia" nasehat ibu yang mengabilkan nasi dan lauk kepiring bapak


"ish.. lebai" gumam ku ke ibu.


.


.


.


Mas tri ini seorang duda anak satu info dari mas ri dulu pernah bercerita padahal aku gak pernah tanya dan gak mau tahu sebenarnya, dia seumuran mas ri sepertinya. Bedanya mas tri ini lebih kelihatan muda dari mas ri dan lebih ganteng si, kulit putih, hidung mancung, mata gak sipit banget tapi juga gak besar banget, bulu mata lentik, dan kalau senyum ada leseng pipitnya badannya juga kayak cowok-cowok ditivi yang rajin olahraga, tingginya melebihi mas ri, ahh kenapa aku jadi mikirin dia, jangan jangan dia lagi yang tadi dimaksud ibu temennya mas ri itu.


Setelah membereskan meja makan awalnya aku berniat masuk ke kamar untuk melipat baju yang kucuci tadi pagi sebelum bapak memanggil dan menyuruhku membuatkan kopi untuk bapak dan mas ri.


"sini duduk sini ndhug, ada yang mau bapak bahas sama kamu" suruh bapak ketika aku selesai meletakkan kopi dimeja tamu


"nggih, pak" aku menurut


"kemaren waktu kamu menginap di rumah bulek kamu, mas tri kesini bersama orang tuanya, mau menayakan apa kamu sudah lulus sekolah dan juga melamar kamu untuk jadi istrinya mas tri, benar begitu mas" seketika aku ber hah ria setelah mendengar ucapan bapak yang panjang itu


"tapi sri mau kuliah bapak, bukan mau nikah"