
Mendengar ucapan bapaknya Sri tadi membuatku syok, aku hanya diam saja mendengar semua perintahnya. Aku memang menyukai sri dan berniat menikahi dia tapi tidak secepat ini dan tidak dengan situasi begini. Aku belum mempersiapkan apa-apa. Aku ingin dihari bahagia kami semua orang juga bahagia, meminang sesuai adat istiadat kita, tidak dadakan seperti ini. Pasti akan menimbulkan banyak prasangka dari masyarakat seperti pernikahan ku yang terdahulu
Namaku Satria, aku seorang duda beranak satu statusku dimata masyarakat. Aku anak yatim piatu yang hidup dipanti asuhan jauh dari kampung ini, aku diadopsi sepasang suami istri yang sederhana dari kampung ini. Mereka tidak mempunyai keturunan sampai sekarang. Mereka mengasuhku sejak aku berumur 5tahun.
Setelah aku lulus sekolah SMA aku bekerja sebagai buruh ditoko sembako milik bapaknya ridho dan sri. Aku berteman dengan ridho sejak dibangku SMA. Dulu aku memang sudah mengenal ridho tapi tidak sampai berteman dekat, karena aku tidak berani mendekatinya untuk berteman dengannya, aku minder karena dia orang kaya dan terpandang di kampung ini. Sedangkan aku hanya anak angkat dari orang biasa-biasa saja, bapak ibu angkatku hanya buruh tani saja. Aku mulai dekat dengan ridho karena kami satu kelas dan duduk satu bangku. Waktu itu tidak mau ada yang duduk dengan ku dikelas, tapi ridho mau dekat dengan ku dan kita berteman dekat sampai sekarang.
Waktu berjalan berlalu hingga sekitar dua tahunan aku bekerja di toko bapaknya ridho. Statusku berubah dari buruh angkat jadi pengelola toko, bapaknya ridho mempunyai banyak toko, berbagai macam jenis toko dari kebutuhan pokok sampai kebutuhan non pokok lainnya dia punya. Disetiap tokonya ada orang kepercayaannya untuk menggatur semua kepentingan toko, dan aku salah satunya yang terpilih. Bukan karena aku temannya ridho, tapi karena aku benar-benar bekerja keras untuk membantu meringankan beban kebutuhan orang tuaku.
Hampir setiap minggu aku kerumah ridho, untuk memberikan laporan toko tiap sepekan kepada bapaknya. Aku mulai sering melihat sri, aku sering menggodanya dengan kata-kata rayuan ku. Dia dulu masih anak sekolah menengah pertama, wajahnya yang manis dengan mata lebar, bulu mata lentik alami, hidung mungil, pipi tembem berlesung pipit kalau tersenyum dan dagu lancip. Rambut panjang hitam sedikit bergelombang diujungnya. Kulitnya putih tidak terlalu tinggi. Mempesona dimataku, aku seperti orang gila yang jatuh cinta pada anak kecil, anak SMP.
Setiap aku menggodanya pipinya akan memerah, dan membalas perkataanku dengan bentakannya, dia cerewet sekali, tapi suara cerewet itu yang selalu ku rindukan. Aku bertekad untuk mengatakan perasaan ku padanya, tapi aku merasa rendah diri lagi apa dia mau menerima ku, dengan keadaanku yang masih miskin ini. Sedangkan dia anak saudagar terhormat dikampung ini. Aku mulai berfikir, aku harus bisa merubah keadaan ekonomi ku dulu sebelum mendekatinya. Akhirnya aku memberanikan diri membuka toko sayur mayur kecil-kecilan di depan rumahku dengan modal tabunganku yang kukumpulkan dari sisa uang yang kuberikan ibu.
Usahaku mulai beranjak pesat, muali dari sayur mayur bertambah ayam,bebek potong, ikan, serta daging potong. Sampai buah-buahan pun aku jual belikan. Dari yang hanya didepan rumah, hingga memasok kebutuhan rumah makan bahkan restaurant dikota.
Setelah usahaku berhasil dan mempunyai pundi-pundi uang yang lumayan. Aku membangun rumah baru untuk orang tuaku, dan aku mulai berani mendekati Sri. Tapi baru aku mau memuali mendekatinya, petaka pun datang.
Waktu itu aku sedang mengirim ayam dan bebek potong, ke rumah makan dikota. Pegawai yang bertugas mengirim sedang ijin menemani istrinya melahirkan. Saat aku berjalan pulang, saat ditengah jalan aku tidak sengaja menabrak seorang wanita. Kerana pulang diwaktu hampir subuh, akupun mengantuk dan tidak fokus menyetir. Untungnya wanita yang ku tabrak tidak terluka parah. Aku membawanya ke klinik terdekat, saat kutanya pada dokter yang menanganinya tentang keadaanya, dokter itu mengatakan bahwa dia sedang hamil. Kupikir dia sudah mempunyai suami, dan sedang menunggunya dirumah.
Lalu ku antar dia kerumahnya, sesampainya dirumahnya aku dipukuli bapak dan kakak laki-lakinya.
"sialan lo ya, elo yang hamilin adek gue?" ucap kakak wanita itu terus memukiliku
"tanggung jawab lo"
Aku sudah tidak punya tenaga lagi, aku tidak membalas pukulan mereka, dan aku pun tidak menjawab pertanyaan mereka. Percuma saja mereka sedang emosi pasti tidak akan mendengar pembelaanku.
Siangnya mereka semua menyuruhku mengantarkan mereka kerumah ku untuk menemui orang tuaku. Aku diam saja dan menurutinya. Wanita itu pun tidak membelaku, namanya pun aku tidak tau, dan aku tidak mau menanyakannya. Sampai saat aku sedang makan siang sendiri dirumahnya, wanita itu mendekatiku
"Aku Linda mas, maaf ya sudah membuatmu masuk dalam masalah ku" ucapnya sambil mengusap air matanya. Aku diam tak menjawab dan meneruskan makan ku
Sampai dirumah kedua orang tuaku terkejut karena aku pulang dengan rombongan orang-orang, orang tua linda menceritakan bahwa aku telah menghamili anaknya, aku tetap diam saja, aku benar-benar tidak tau harus apa, membela diripun rasanya sudah tidak akan mungkin mereka semua pasti tidak percaya, ditambah linda yang juga diam.
Malamnya acara pernikahan kami pun terjadi, rasanya seperti mimpi buruk, aku menikahi wanita yang tak ku kenal dan harus menjadi ayah dari anak orang lain. Setelah acara selesai aku masuk kekamar dan disana sudah ada linda duduk dikasur, dia memberi tahuku bahwa ayah dari anak yang ia kandung adalah kekasihnya yang sudah berangkat keluar negri untuk kuliah, dan mereka melakukan hubungan terlarang sebelum berpisah. Dia tidak memberi tahu kehamilannya pada kekasihnya, karena sejak kekasihnya berangkat susah dihubungi dan hilang kontak.
Waktu berlalu aku menjalani pernikahanku dengan biasa, biasa terpisah aku menjalani usahaku dikampungku dan dia meneruskan kuliahnya dikota, kami jarang bertemu, aku hanya memberinya status agar kehamilannya tidak menjadi gunjingan orang lain, dan anaknya tidak dicap anak haram. Aku tidak pernah tidur sekamar dengannya, tidak pernah ada rasa yang tumbuh diantara kita, dihatiku tetap ada Sri, dan dia tetap mencintai kekasihnya.
Waktu berlalu, anak itupun lahir, seorang anak laki-laki yang dia beri nama Dipa prasetya. Setelah anak itu berusia beberapa bulan, aku melakukan tes DNA dengan anak itu. Dan hasilnya memang aku terbukti bukan ayah biologisnya, dan keluarga linda pun mengakuinya dan meminta maaf padaku. Seminggu sekali aku datang menengoknya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk berhenti kuliah karena kerepotan mengurus anaknya. Itu mengapa kemaren aku mengatakan pada sri kalau mengurus keluarga dengan kuliah itu repot sekali. Aku melihat linda sendiri bagaimana dia menjalaninya.
Setelah linda berhenti kuliah, dia menggugat cerai aku dan akan merawat anaknya sendiri.
"kamu orang baik, kamu pantas bahagia. maafkan aku membuat mu begini. akan ku ingat janjiku, membalas kebaikan mu saat kamu membutuhkannya, aku akan menjalani hidupku sendiri. pergilah dan kejar kebahagiaanmu" ucap linda saat mengatakan ingin berpisah denganku. Aku meng iyakan pintanya, bercerai dari nya dan mengejar cintaku lagi pada Sri. Tapi statusku pun berubah menjadi duda anak satu, orang-orang tidak tahu kisah ku yang sebenarnya hanya aku, orang tuaku, linda dan keluarga linda yang tahu.
.
.
.
"ya Allah Le, ibu ini mau lihat kamu dipelaminan, ibu disalami tamu sambil nerima amplop, gak gini nikah dadakan ke dua kalinya lagi. Dosa apa ibu dulu sampai gak pernah mantu" kata ibu dirumah setelah aku menceritakan kejadian tadi di rumah sri
"ya gimana lagi bu, udah takdir aku begini" jawabku yang tiduran dipangkuan ibu
"yasudah persiapkan pernikahan mu, tanya bapaknya sri, mau hari apa kita ke KUA nya. biar bapak ibu bisa siap-siap beli mahar dan bawaan lainnya" ujar bapak sambil makan singkong rebus
"iya pak, do'a in satriya ya pak, bu" aku meminta restu orang tua ku
"semoga pernikahan kamu diberkahi ya le, sakinah mawadah warohmah, yang sabar sama istri, baik-baik dikota jagain keluarga, jangan lupakan ibu dan bapak disini" nasehat ibu yang terlihat mengusap ujung matanya.