SRI

SRI
20. Keadaan baru


Setelah mendengar kabar dari sigit yang membuat jantungku kacau tak karuan, bayangan-bayangan negative muncul bergiliran diotak ku, ku bergegas melihat jasad itu, novi dan sigit mencegah ku, tapi tak ku hiraukan, aku bertanya pada petugas dimana keberadaan jasad yang baru mereka temukan.


Ku teguhkan hatiku, ber do'a kepada Allah agar aku diberi kekuatan dan hati yang lapang, apapun yang aku lihat nanti disana harus ku hadapi dan ku terima dengan tegar.


Aku melihat mas tri disana, dia duduk terpaku menatap sederet jasad yang sudah dimasukan dalam kantong jenezah, ada banyak jenazah kulihat, semakin mendekat semakin tak karuan hatiku.


"Mas" aku memegang bahunya, dia menoleh, ternyata matanya sudah memerah


"kenapa?" tanyaku


"aku sekarang sendirian sri, ibu dan bapak sudah pergi ninggalin aku sendirian disini sri"


Deg


Keluhan mas tri, membuat hatiku semakin pilu, ku peluk dia erat


"ada aku dan anak kita mas" aku mencoba menghiburnya dalam keadaan yang aku sendiripun tak mampu menghibur diriku sendiri, terasa basah baju dipundakku, mas tri menangis, untuk pertama kalinya aku melihat dia menangis.


Ku lepaskan pelukanku pada mas tri, berlari menuju kantong jenazah yang berjejer, ku buka satu per satu, kulihat dua orang yang ku kenal yang wajahnya tak rusak, dia orang tua angkat mas tri.


Ku lihat-lihat lagi beberapa kantong, ada bayi, aku tertegun melihatnya. Baju-baju yang mereka pakai terlihat familyar dimataku, aku ingat semua baju-baju itu milik siapa walau sudah berubah menjadi lecek dan kucel.


Aku berteriak


"Ibuukk.... Bapak...." .


.


.


.


Sekarang aku sedang berada dirumah bapak, ada ibuk disana sepertinya mereka sudah berbaikan, aku tersenyum melihatnya, ada mas ri dan istrinya mbak nur serta tia keponakan ku yang lucu, tapi kenapa mereka semua melambaikan tangan padaku, ku coba memanggil mereka, tapi kenapa suara ku hilang, mereka pergi keluar rumah berjalan semakin jau, semakin jauh meninggalkan ku sendiri.


Sendiri


Sendiri


"Ibuk.... Bapak....." teriaku sekencang mungkin


"sayang, sayang.... " terdengar suara mas tri


"mas disini sayang, ada mas disini, kamu nggak sendiri, ada mas disini" pelukan mas tri, melemahkan tubuh ku yang tadi menegang


"ada mas disini" bisiknya ditelingaku


"aku mau ibuk.... hu hu hu"


"kenapa semua pergi"


"kenapa semua ninggalin aku"


"ibuk, maafin sri bukk..."


"maafin sri bapak..."


"sri belum bisa bahagiain bapak sama ibuk, kenapa kalian ninggalin sri"


"hu hu hu... hua..."


aku meracau, aku sungguh sungguh kacau, tak kuat menghadapi semua ini, kenapa aku mengalami ini ah Tuhan, sehina ini kah aku hingga semua orang pergi meninggalkan ku....


.


Apa kau melihat


Dan mendengar


Tangis kehilngan dariku


Baru saja ku ingin kau tahu perasaanku


Padamu


(BCL-Saat Kau Pergi)


Sebuah lagu terdengar dari radio mobil sigit, membuatku semakin terisak, seperti sedang menyindir apa yang ku alami sekarang.


Sekarang aku berada di mobil sigit, melaju membawaku pulang lagi kerumah. Setelah kejadian pingsannya aku disana tadi, mas tri, novi dan sigit, memaksa ku untuk kembali pulang, mereka takut terjadi sesuatu yang membahayakan ku dan kandungan ku disana. Aku menurut karena terlalu lama disana membuat ku sulit bernafas.


"tidur lagi sri, kamu butuh banyak istirahat" ucap sigit ketika mendengar suara segegukan ku dia tahu kalau aku bangun


" aku mau nemenin kamu, biar kamu nggak ngantuk juga nyetirnya" tolakku


"yaudah"


"kamu lapar?" tanya sigit lagi


"haus?" tanya nya lagi


"ini dipintu udah ada botol minum, kalau aku haus tinggal ambil" jawab ku


"oh"


"mau aku didepan?" tawarku pada sigit untuk menemaninya duduk di kursi penumpang bagian depan sampingnya, novi masih tertidur disebelah ku dikursi belakang. sedangkan mas tri tidak ikut pulang, ia mau mengurusi jenazah-jenazah keluargaku dan keluarganya. Jenazah, itu sudah seperti kata keramat bagiku sekarang, mendengar atau mengucapkannya saja membuat hatiku teriris lagi.


"Sri" sigit menyadarkanku


"hemm"


"katanya mau pindah depan, ini udah aku pinggirin mobilnya nih, buruan pindah" sigit mengingatkan permintaanku


"oh iya ya, lupa, hehehe" aku bergegas turun lalu memutari mobil, pindah duduk disamping sigit.


Sigit melajukan lagi mobilnya dengan kecepatan sedang


"git" aku memanggilnya


"hemm" dia hanya bergumam


"git"


"hem"


"gita, ih" aku mulai kesel dengan jawabannya


"apa" dia menoleh ke arah ku


"dipanggil ham hem ham hem aja, nyebelin banget" aku menggerutu


"yaelah gitu doang ambekan, sensi amat, PMS lo?"


"gue lagi hami dodol, nggak bisa alesan PMS kalau lagi sebel"


"oh iya, gue lupa, maklum udah mau jadi om om, hahaha"


"apaan sih, berisik gue masih ngantuk" novi menginterupsi kami


"eh udah bangun nyonya kita, molor mulu lo tiap nyium bau mobil" ucap sigit menyindir


"serahhh"


"udah biarin dia istirahat git, dari kemaren gue rengek in terus kasihan" bela ku


"iye...iye..."


"git, aku mau makan sate" entah mengapa tiba-tiba aku terbayang makan sate ayam pakei lontong didaun, beli di abang-abang pinggir jalan yang bentuk gerobaknya kayak perahu.


"oke, kita cari tukang sate perahu" sigit dengan semangat menuruti permintaan ku.


.


.


.


Sebulan berlalu setelah bencana itu, aku mencoba menjalini hari-hariku dengan biasa, walaupun berat bayang-bayang ibuk masih saja terasa jelas seakan dia masih ada disini bersamaku.


Keadaan mas tri jauh lebih buruk dari ku, dia menjadi pendiam, murung, dan mudah tersulut emosinya. mungkin karena semua usuahanya juga hancur bersama bencana itu, dia kini menetap dikota bersamaku, mencoba berbagai usaha, berjualan ini itu tapi selalu gagal, sering rugi, mobil pick upnya pun terjual untuk modal usahanya, melamar kerja kesana kemari tak ada satupu yang diterima. Hidup dikota memang sulit, semuanya serba membutuhkan uang, ditambah usia kandunganku yang sudah memasuki usia delapan bulan mendekati bulan melahirkan, sedangkan kita belum membeli satupun perlengkapan bayi.


Aku sebenarnya masih ada tabungan, uang ibu yang dia sediakan untuk aku kuliah, tapi mas tri selalu menolak jika aku menawarkan bantuan dengan uang itu


"itu uang buat kuliah kamu sri, nanti kamu nggak bisa lanjut, kalau aku pakai sekarang, belum tentu nanti aku bisa mengembalikan" itu terus yang menjadi jawaban mas tri setiap aku menyodorkan buku tabunganku


Ku pikir pakai uang tabungan ku dulu untuk modal usahanya dan keperluan ku melahirkan, tidak apa-apa, urusan nanti ya dipikir nanti aja, misalkan nggak bisa ngembaliin ya nggak apa-apa, aku masih bisa membantunya bekerja untuk kuliahku nanti dan memenuhi kebutuhan keluarga. Aku itu simpel nggak rumit orangnya. Tapi mas tri sendiri yang membuat semakin ruwet.


Aku heran, kenapa dulu mas tri mudah sekali memulai usahanya. Tapi sekarang kok ada saja hambatannya. Rumah tangga yang dulunya adem ayem nggak pernah ribut tentang uang, kini dengan mudahnya sering terjadi percekcokan masalah ekonomi, mood ku yang sering buruk kalau mendengar ocehan mas tri tentang menghemat, beli ini beli itu harus dibatasi, aku pun belajar memasak walau kadang menunya hanya 3T tahu tempe telur. Mas tri yang sensitiv kalau kita membahas uang. Uang lagi uang lagi, aku tak penah membayangkan akan sangat terpusingkan dengan masalah uang. Sejak kecil hidupku selalu mudah, apalgi kalau soal uang


"mas, kapan belanja nya" rengek ku ketika sarapan, meminta belanja perlengkapan bayi


"bentar, mas lagi usaha" jawabnya


"keburu anaknya lahir" gerutuku


"iya nggak papa, malah yang kebeli yang penting-penting, kalau belanja sekarang kan semua kamu beli, nggak mikirin kegunaannya, jadi boros" jawabnya panjang kali lebar


"baru aja sebulan ditinggal ibuk, tapi rasanya udah berat banget hidup" keluh ku


"hidup emang berat, apalagi cari uang, nggak semudah chatingan kamu sama sigit kalau minta ini itu, dengan alasn ngidam"


Deg


Kok aku kayak yang ketahuan selingkuh