SRI

SRI
35. Hati sigit


Setelah papa dan mama mempermalukannya didepan wanita yang ia sukai sigit jadi lebih dingin dan pendiam pada semua orang, bukan hanya pada sri, pada semua seisi rumah itu tepatnya.


Sigit amat sangat merasa dipermalukan. Bukan begini caranya memberi tahu isi hatinya pada sri, seseorang yang dia sukai sejak awal pertemuan mereka.


Sigit sedang menunggu waktu yang tepat, dan itu bukan sekarang. Dia tahu sri belum bisa move on dari mantan suaminya. Sri juga belum sembuh dari luka hatinya. Bisa saja sri masih trauma dengan hubungan sejenis ini. Dan sigit akan menyembuhkan luka nya dengan perlahan. Lalu dia akan merebut hati sri, menggantikan satria dengan dia.


Tapi semua rencana yang ia susun gagal ditengah jalan. Dan fatalnya hubungan kedekatannya dengan sri jadi ber imbas.


Bukan dia tidak suka mama melamar sri untuk dia, tapi saat melihat ekspresi wajah keterkejutan sri saat itu membuat dia sedikit kecewa.


Sigit melihat sorot mata sri yang seperti benar-benar tidak menginginkan itu, sri dengan sengaja meminta pertolangan papanya untuk menolak lamaran mamanya dengan kode sorot mata memelas tapi menggemaskan itu. Sama seperti tatapan matanya yang sri perlihatkan pada sigit bila sedang menginginkan sesuatu dari sigit.


Oh itu sungguh melukai hatinya, walaupun dengan jelas dia tahu kalau sri memang belum ada hati untuknya. Tapi kenapa tetap kecewa rasanya.


Hingga dia mendiamkan sri berhari-hari, bersikap acuh tak acuh pada wanita itu. Menjauh darinya, menghindar dari nya, berbicara seperlunya. Padahal itu bukan salah sri. Sri tidak pernah membuka pembahasan tentang itu. Bahkan sri pun tidak ingin pembahasan itu.


Dan sigit merasa bersalah kali ini, telah menjauhi sri. Dia resah bagaimana keadaan sri sekarang. Dengan siapa dia sekarang, ya pasti dengan novi, tapi novi pasti hanya akan memarahinya karena novi pikir sri yang menjauhi sigit. Apa dia makan dengan benar, sigit tau pasti kalau sri sedang banyak pikiran jadwal makannya juga ikut kacau, dan itu tidak baik untuk tubuh kecilnya.


SIGIT


Neng dimana?


Sigit akhirnya mengalah dengan egonya, memberanikan diri mengirim pesan pada sri, saat dia dikelas. Sigit benar-benar tidak fokus dengan materi kuliahnya.


Tidak ada balasan, jam segini sri pasti sedang ada kelas pikirnya. Jadi tidak akan bisa membuka ponselnya


SRI


di taman pinggir parkiran bang


Ponsel disakunya bergetar, lalu sigit melihat layarnya. Ada nama sri disana. Sigit tersenyum, oh dia sudah selesai kelas ternyata


SRI


ada apa?


Sri mengirim pesan lagi


SIGIT


tunggu disana dulu ya, bentar lagi abang selesai kelasnya


SRI


oi, ngawor. lagi kuliah malah main hape, gue do'ain biar ketahuan dosen


Sigit tersenyum melihat balasan pesan dari sri tanpa membalasnya lagi, lalu memasukkan ponsel dalam kantong nya, dan fokus pada dosennya kembali.


.


Sri memasukan ponselnya dalam tas usai dia membalas pesan sigit


"kenapa lo senyum, girang banget kayaknya" novi menginterupsi


"sigit tanyain gue lagi dimana" jawab sri dengan sumringah


"baikan nih" sindir novi


"kkkkk" sri terkekeh


"lo jawab apa?" tanya novi lagi


"lagi di taman"


"yaudah lo mau nungguin dia kan? gue balik duluan ya, mau mpup" novi berpamitan


"kan disini ada banyak toilet"


Sekarang sri sendiri ditaman menunggu sigit datang. Dan mereka akan pulang bersama. Sri tersenyum senang memikirkan akan segera berbaikan dengan sigit, beberapa hari tanpa sigit membuat dia uring-uringan. Dia merindukan sigit, dan dia baru menyadari ternyata sigit tidak pernah meninggalkan dia selama mereka kenal. Sigit selalu ada setiap apaun keadaannya. Dia nyaman bersama sigit, dia juga merasa aman didekat sahabatnya itu.


Benar kata novi tadi, sri harus bertanya pada hatinya sendiri, apa yang hatinya rasakan. Arti sigit dihatinya. Sri merasa harus membuka hatinya untuk sigit, mencoba mencintai sigit pelan-pelan sampai traumanya pada laki-laki yang ingin menjalin hubungan lebih padanya bisa sembuh.


Mungkin sigit bisa menjadi penyembuhnya. Mungkin bisa jadi bukannya dia belum bisa move on dari satria, tapi belum mau membuka hatinya saja untuk orang lain, untuk membantu melupakan kenangannya dengan sang mantan.


"woi..ngelamun aja" suara sigit membuyarkan lamunannya


"ngagetin, rese ih" sri terlonjak kaget, spontan dia memukul lengan sigit dengan tasnya yang sedang dipegang


"aduh.. ampun" sigit mengadu lalu terkekeh, memgang tangan sri, menarik sri dalam pelukannya


"kangen banget sama kamu" bisik lirih sigit tepat disamping telinga sri


"hemm, aku juga" gumam sri menjawab ungkapan kerinduan sigit


Mereka masih berpelukan dalam beberapa saat di kursi taman itu. Jantung mereka bedua sama berdegup kencang


Kok jadi degdegan kayak gini sih, biasanya juga nggak


batin sri bermonolog


Mereka saling melepas pelukannya, sri salah tingkah berusaha menormalkan debaran jantungnya. Ini tidak biasa, sungguh.. biasanya dia hanya merasakan kenyamanan saat dipelukan sigit, tanpa debaran. Mari diperjelas tanpa debarannya. Wajah terasa lebih panas, oh mungkin karena sinar matahari yang cerah secerah hati sri setelah mendapat pesan dari sigit


Sial, padahal baru saja sri berpikiran untuk membuka hatinya untuk sigit, kenapa respon fisiknya cepat sekali. Bukan seperti jatuh cinta lagi, atau kemungkinan lainnya dia lapar, iya sri belum makan sejak tadi malam tepatnya.


"hey.. bengong lagi" sigit membuyarkan lamunanya lagi, sri terkekeh


"kenapa?" tanya sigit memecah keheningan dan kecanggungan mereka


"laper" keluh sri dengan wajah memelas


"nggak makan dari semalem kan, pasti hari ini juga belum makan, udah hampir sore gini, kuat banget kamu lagi diet apa lagi menguji kekukuatan lambung kamu?" sigit mengemukakan hipotesanya


Lagi-lagi sri terkejut, bagaimana sigit bisa tahu, sedangakan tadi malam sigit pulang tengah malam, dan tadi pagi pergi subuh


"mau bilang aku cenayang lagi?" sigit bersuara lagi sedang sri masih terbengong


"kok tau" gumam sri lirih


"tau lah, dari dulu juga siklusnya gitu, kalau lagi ada masalah, lo jadi ngirit makanan, hahaha.." sigit menjawab sri dengan mengacak-acak rambut kepalanya


"ih jangan rese deh" keluh sri, merapikan rambutnya kembali


"ini mahal tau perawatannya, main acak-acak aja, gantiin uang kesalonnya" tambah sri dengan kesalnya


"idih matre" balas sigit, dengan sengaja menggoda sri


"nyesel gue baikan sama lo bang, tambah bawel" tuding sarkas sri, lalu bangun dari duduknya


"laper gue, mau cari makan, nggak usah ikut kalau nggak ada niat buat traktir" sri berjalan


"gue juga nyesel baikan sama lo, makin jadi-jadi matrenya" goda sigit lagi dengan tersenyum, berjalan dibelakang sri


"yaudah kalau nggak mau traktir, nggak usah ngebacot. Masih banyak cowok yang dengan suka rela ngejajanin gue" sri berhenti dan menoleh membentak sigit, dia benar-benar kesal dikatain matre


"dih makin baperan juga si nyonya, PMS nyah?" sigit semakin giat menggodanya, kesenangan tersendiri membuat sri uring-uringan, dimana sri jarang sekali terpancing emosi akhir-akhir ini


"bacot" umpat sri, sigit terkekeh


"iya deh ampun, buat neng, cuma sekedar traktir bakso mah kecil, mau minta warung bakso yang cabangnya ada diseluruh indonesia juga abang kasih, kikikik" sigit terkikik setelah menggombal i sri


"siapa juga yang mau bakso, sekarang mau naik level, makan di mekdi"


"yaudah lah kemon kita kemekdi"